Nabi Dawud adalah seorang raja yang diberi Allah SWT kerajaan dan hikmah. Dengan kedudukan setinggi itu, ia tetap makan dari hasil kerja tangannya sendiri: menganyam baju besi, cincin demi cincin. Yang jarang ditanya: apa yang ada di hatinya setiap kali tangannya menyambung satu cincin besi ke cincin berikutnya?
Coba bayangkan Senin pagi di KRL yang penuh sesak, atau jam tujuh malam di jalan tol yang macet. Badan masih bekerja, tetapi hati sudah lama berhenti. Gaji masuk tanggal 25, cicilan keluar tanggal 26, dan di sela-selanya ada pertanyaan yang tidak berani diucapkan keras-keras: untuk apa semua ini? Banyak orang yang tidak malas. Mereka bekerja keras dan jujur, dan justru karena itu mereka bingung kenapa hatinya makin kering padahal tenaganya terus diperas.
Lelah seperti ini tidak sembuh dengan cuti tiga hari. Akarnya ada pada arah, bukan pada beratnya beban. Pekerjaan yang hanya diarahkan ke angka akan terus menuntut angka berikutnya, dan angka tidak pernah berkata “cukup”. Di titik inilah kisah seorang nabi yang menempa besi menjadi cermin yang sangat dekat dengan meja kerja kita.
Besi yang Dilunakkan, Hati yang Diarahkan
Al-Qur'an tidak menggambarkan Nabi Dawud hanya sebagai raja dan pemilik suara yang merdu. Allah SWT juga menyebutnya sebagai pekerja yang diajari sebuah keahlian. Ada satu detail yang sering terlewat: perintah bekerja itu disandingkan langsung dengan perintah beramal saleh.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemah makna: Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (seraya berfirman): buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amal saleh. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Saba': 10-11)
Perhatikan urutannya. Ada keahlian teknis: anyaman diminta diukur, presisi, tidak asal jadi. Lalu tanpa jeda datang perintah “kerjakanlah amal saleh”, ditutup dengan pengingat bahwa Allah SWT Maha Melihat. Keahlian dan ibadah tidak diletakkan di dua ruangan yang terpisah. Ketelitian menyambung cincin besi itu sendiri sudah termasuk wilayah yang dilihat Allah SWT.
Di surah lain Allah menyebut tujuan keahlian itu: untuk melindungi kalian dari bahaya peperangan (QS. Al-Anbiya': 80). Jadi pekerjaan Nabi Dawud punya arah yang jelas, yaitu menjaga nyawa orang lain. Beberapa ayat setelah kisah besi di Surah Saba', Allah menyampaikan kalimat yang sangat dalam: bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur, dan sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur (QS. Saba': 13). Dalam ayat ini bekerja menjadi bahasa syukur, bukan sekadar jalan mencari makan.
Rasulullah SAW kemudian mengangkat teladan ini sebagai ukuran kemuliaan nafkah:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Terjemah makna: Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud 'alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya. (HR. Bukhari)
Seorang raja yang memilih makan dari hasil tangannya sendiri seakan ingin menunjukkan sesuatu: kemuliaan kerja tidak diukur dari jabatan, tetapi dari kejujuran keringat dan ke mana keringat itu dipersembahkan.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Niat yang Mengubah Pasar Menjadi Mihrab
Imam Al-Ghazali menulis satu kitab khusus tentang urusan ini, yaitu Kitab Adab al-Kasb wa al-Ma'asy (Adab Mencari Penghasilan dan Penghidupan) dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 2, bagian Rubu' al-'Adat. Di sana ia menjelaskan bahwa bekerja mencari nafkah bukan hal yang merendahkan derajat spiritual. Bekerja justru bernilai ibadah ketika diniatkan untuk menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia, mencukupi keluarga, dan memberi manfaat kepada sesama.
Baca Juga
Kenapa Khadijah Menenangkan Nabi dengan Daftar Orang yang Pernah Ditolong?
Al-Ghazali juga memberi peringatan halus yang terasa relevan sampai sekarang. Pasar dan urusan dunia jangan sampai melalaikan “pasar akhirat”. Menurutnya, orang yang berdagang dengan benar tetap menjaga hatinya terpaut kepada Allah SWT, tidak meninggalkan kewajiban karena kesibukan, dan tidak menjadikan laba sebagai satu-satunya kompas. Dalam bahasa kita, laptop boleh terbuka sepanjang hari, tetapi hati jangan ikut tertutup.
Inti tawarannya adalah soal niat, yang ia bahas lebih jauh dalam Kitab an-Niyyah wa al-Ikhlash wa ash-Shidq (Ihya', Juz 4). Satu perbuatan yang sama bisa melahirkan nilai yang sangat berbeda bergantung pada apa yang dituju hati. Dua orang bisa duduk di kubikel yang sama dan mengetik laporan yang sama. Yang satu hanya menukar waktu dengan uang, yang lain sedang menunaikan amanah dan menafkahi keluarga karena Allah SWT. Dari luar keduanya terlihat sama, tetapi di sisi Allah SWT nilainya bisa sangat jauh berbeda.
Dari sinilah kekosongan yang dirasakan banyak pekerja bisa dipahami. Kekosongan itu sering bukan tanda pekerjaannya salah. Bisa jadi pekerjaannya belum pernah diberi tujuan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Perspektif Imam An-Nawawi: Ridha Allah SWT dalam Suapan Paling Sederhana
Kalau Al-Ghazali membahas batin, Imam An-Nawawi memberi pijakan amal yang sangat konkret. Ia membuka Riyadhus Shalihin dengan Bab al-Ikhlash wa Ihdhar an-Niyyah (Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat) dalam semua perbuatan, baik ucapan maupun keadaan yang tampak maupun tersembunyi. Di bab itu ia mencantumkan nasihat Rasulullah SAW kepada Sa'ad bin Abi Waqqash:
وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ
Terjemah makna: Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala karenanya, bahkan sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini sangat menenangkan. Ridha Allah SWT tidak hanya ada di sajadah. Ridha Allah SWT juga bisa ditemukan di uang belanja dapur, di biaya SPP anak, di pulsa yang dibelikan untuk orang tua di kampung. Syaratnya satu, dan Nabi SAW menyebutnya dengan jelas: tabtaghi biha wajhallah, dilakukan dengan mengharap wajah Allah SWT.
Dengan memilih ikhlas dan niat sebagai bab pembuka kitabnya, Imam An-Nawawi seolah berpesan bahwa semua amal sesudahnya, termasuk bekerja, berdagang, dan menafkahi, berdiri di atas fondasi itu. Al-Ghazali menunjukkan mengapa niat mengubah nilai amal. An-Nawawi menunjukkan di mana niat itu bekerja, yaitu dalam keseharian yang paling biasa. Kedua penjelasan ini saling melengkapi.
Relevansinya Hari Ini
Mengejar ridha Allah SWT dalam bekerja bukan berarti berhenti mengejar target, menolak naik jabatan, atau pura-pura tidak butuh uang. Nabi Dawud tetap mengukur anyamannya dengan teliti. Para ulama menjelaskan bahwa bersungguh-sungguh dan profesional adalah bagian dari amanah. Yang berubah adalah pusat gravitasinya. Gaji tetap dicari, tetapi tidak lagi menjadi tuhan kecil yang menentukan tenang atau gelisahnya hati.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam memberi isyarat yang tajam. Kurang lebih maknanya: kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu, sementara engkau lalai terhadap apa yang dituntut darimu, adalah tanda tertutupnya mata hati. Rezeki sudah dijamin. Yang dituntut dari kita adalah cara menjemputnya: jujur, amanah, tidak menzalimi, dan hati yang tetap terhubung kepada Allah SWT. Banyak orang lelah bukan karena kurang bekerja, tetapi karena menanggung kecemasan yang bukan bagiannya.
Dari sini beberapa langkah kecil bisa dicoba:
- Perbarui niat sebelum mulai bekerja. Cukup satu kalimat dalam hati sebelum menyalakan motor atau membuka laptop: “Ya Allah, aku bekerja untuk menafkahi keluargaku dan menjaga diriku dari meminta-minta, karena-Mu.”
- Kerjakan dengan teliti seperti anyaman besi yang diukur, karena Allah SWT Maha Melihat apa yang dikerjakan, termasuk saat atasan tidak melihat.
- Temukan siapa yang terlindungi oleh kerjamu. Baju besi Nabi Dawud menjaga nyawa orang. Pekerjaanmu barangkali menjaga dapur seseorang, keselamatan pelanggan, atau masa depan anakmu.
- Akhiri hari dengan syukur, bukan hanya dengan menghitung. I'malu ali Dawuda syukra: bekerjalah sebagai wujud syukur.
Pada akhirnya, pertanyaan di awal tulisan ini kembali lagi, kali ini kepada kita sendiri. Kalau besok pagi kita berangkat ke tempat kerja yang sama, dengan gaji dan macet yang sama, untuk siapa sebenarnya kita menyambung “cincin-cincin besi” kita hari itu?
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab hari ini, dan tidak perlu dijawab sendirian. Hati yang mulai belajar meluruskan niat biasanya lebih kuat bila ditemani, lewat sholawat yang menghidupkan cinta kepada Rasulullah SAW dan sahabat-sahabat yang saling mengingatkan dengan lembut. Di komunitas AlFatihRPS, para pejuang belajar istiqomah dengan langkah kecil, tanpa tekanan dan tanpa ajang pamer jumlah. Kalau berkenan, mari belajar bersama di member.alfatihrps.com: sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Saba': 10-11 dan 13; QS. Al-Anbiya': 80.
- Hadis: keutamaan makan dari hasil kerja tangan sendiri (HR. Bukhari); nafkah yang diniatkan mengharap wajah Allah SWT (HR. Bukhari dan Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin: Kitab Adab al-Kasb wa al-Ma'asy (Juz 2) dan Kitab an-Niyyah wa al-Ikhlash (Juz 4); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab al-Ikhlash wa Ihdhar an-Niyyah; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.