Kita sering mengira tetangga yang baik adalah tetangga yang tidak pernah mengganggu: tidak berisik, tidak parkir sembarangan, tidak ikut campur. Tapi para ulama justru menyebut sikap itu baru setengah jalan. Setengah sisanya jauh lebih berat, dan hampir tidak pernah dibicarakan.
Coba bayangkan sebuah perumahan klaster di pinggiran kota. Pagarnya tinggi, pintunya selalu tertutup, dan grup WhatsApp RT hanya ramai saat tagihan iuran keamanan datang. Seorang ibu lanjut usia di ujung gang demam tiga hari. Tidak ada yang tahu sampai anaknya datang dari luar kota. Di rumah sebelahnya ada pasangan muda yang tiap malam pulang jam sembilan dengan badan remuk, lalu memilih langsung masuk kamar daripada menyapa siapa pun. Mereka bukan orang jahat. Mereka hanya lelah, dan tanpa sadar sudah lama tidak benar-benar punya tetangga.
Ada juga luka yang lebih tajam: tetangga yang dulu akrab lalu renggang karena urusan batas tanah, utang yang tak kunjung dibayar, atau omongan yang sampai ke telinga lewat orang ketiga. Tiap kali berpapasan, dada terasa sesak. Rumah yang seharusnya jadi tempat pulang malah terasa seperti medan perang yang sunyi. Kalau Anda pernah mengalami ini, Anda tidak sendirian. Kelelahan semacam ini nyata, dan Islam tidak menutup mata terhadapnya.
Tetangga dalam Pandangan Wahyu: Lebih Dekat dari yang Kita Kira
Al-Qur'an menempatkan tetangga dalam satu rangkaian dengan perintah paling mendasar, yaitu tauhid. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Terjemah makna: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. An-Nisa': 36)
Susunan ayat ini patut direnungkan. Setelah larangan syirik, berbuat baik kepada tetangga disebut dalam napas yang sama dengan berbakti kepada orang tua. Para mufassir menjelaskan bahwa al-jar dzil qurba adalah tetangga yang dekat, baik dekat rumahnya maupun dekat hubungan kerabatnya. Adapun al-jar al-junub adalah tetangga yang jauh, atau yang bukan kerabat, termasuk yang berbeda keyakinan. Ayat ini juga ditutup dengan celaan terhadap orang yang sombong dan membanggakan diri. Seolah-olah Al-Qur'an ingin mengatakan bahwa akar retaknya hubungan bertetangga sering kali adalah ego yang merasa tidak butuh orang lain.
Rasulullah SAW kemudian menegaskan betapa beratnya hak ini dengan kalimat yang menggetarkan:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Terjemah makna: Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira ia akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris. (HR. Bukhari dan Muslim)
Wasiat itu datang dari langit, bukan sekali tetapi berulang-ulang, sampai Rasulullah SAW mengira tetangga akan diberi bagian warisan. Warisan adalah hak yang biasanya hanya dimiliki keluarga sedarah. Artinya, dalam pandangan wahyu, tetangga hampir disamakan dengan keluarga sendiri.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Menanggung, Bukan Sekadar Menahan
Di sinilah jawaban atas pertanyaan di awal tulisan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (Juz 2, Kitab Adab al-Ulfah wa al-Ukhuwwah wa ash-Shuhbah, pada pembahasan hak-hak tetangga) memberi catatan yang sangat halus. Beliau menjelaskan bahwa hak bertetangga tidak berhenti pada kaffu al-adza, yaitu menahan diri agar tidak menyakiti. Hak itu juga menuntut ihtimalu al-adza, yaitu kesediaan untuk bersabar dan menanggung ketika tetangga menyakiti kita. Setelah itu masih ada tingkatan berikutnya: bersikap lembut, lebih dulu berbuat baik, dan menunjukkan kepedulian.
Baca Juga
Kenapa Hati Justru Lapang Saat Memberi di Waktu Paling Sempit?
Inilah dimensi batin yang sering luput. Tidak mengganggu memang mudah, cukup menutup pintu. Tetapi bersabar saat musik tetangga terlalu keras, saat anaknya mencoret pagar, atau saat omongannya melukai, membutuhkan hati yang sudah dilatih. Menurut Al-Ghazali, di situlah akhlak diuji. Akhlak tidak diuji ketika semuanya berjalan nyaman, tetapi ketika ego kita terusik.
Menanggung bukan berarti membiarkan kezaliman atau diam terhadap hak yang dilanggar. Dalam tradisi keilmuan Islam, menegur dengan cara yang baik dan menempuh penyelesaian yang adil tetap dibenarkan. Yang ditekankan Al-Ghazali adalah kualitas hati di baliknya: tidak menyimpan dendam, tidak membalas luka dengan luka, dan tidak menjadikan rumah sebagai benteng permusuhan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab yang Bisa Dikerjakan Hari Ini
Kalau Al-Ghazali menyentuh kedalaman hati, Imam An-Nawawi memberi pijakan amal yang konkret. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun satu bab khusus, Bab Haqq al-Jar wa al-Washiyyah bihi (Bab Hak Tetangga dan Wasiat untuk Memperhatikannya), yang berisi hadits-hadits pilihan. Salah satunya adalah pesan Rasulullah SAW kepada Abu Dzar:
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
Terjemah makna: Jika engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya, lalu perhatikanlah tetangga-tetanggamu. (HR. Muslim)
Pesan ini sangat sederhana. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Cukup tambahkan sedikit air ke sayur yang sedang dimasak, lalu antarkan semangkuk ke sebelah rumah. Islam memindahkan ukuran kebaikan dari besarnya pemberian ke hadirnya perhatian. Dalam riwayat lain yang juga dimuat di bab tersebut, Rasulullah berpesan agar seorang perempuan tidak meremehkan hadiah untuk tetangganya walaupun hanya kaki kambing (HR. Bukhari dan Muslim). Hadiah kecil sama sekali tidak memalukan. Yang memalukan justru hati yang sudah lama berhenti peduli.
Bab itu juga memuat hadits yang menjadi ukuran iman: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya (HR. Bukhari dan Muslim). Ada pula peringatan keras yang diulang tiga kali oleh Rasulullah, yaitu bahwa tidak sempurna iman seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya (HR. Bukhari). Kedua hadits ini saling melengkapi. Yang pertama mengajak kita memberi, sedangkan yang kedua mengingatkan kita agar tidak menjadi sumber rasa takut.
Soal urutan prioritas, Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah tentang dua tetangga, siapa yang lebih dulu diberi hadiah. Beliau menjawab: yang pintunya paling dekat denganmu (HR. Bukhari). Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari, saat mensyarah Kitab Al-Adab, menjelaskan bahwa kata tetangga mencakup Muslim maupun non-Muslim, orang yang taat maupun yang lalai, kawan maupun lawan, kerabat maupun orang asing. Kedudukan mereka memang bertingkat, tetapi semuanya memiliki hak.
Relevansinya Hari Ini: Menyembuhkan Kesepian di Balik Pagar Tinggi
Banyak keresahan modern ternyata berakar pada hilangnya tetangga. Stres kerja terasa lebih berat karena tidak ada tempat singgah di luar kantor dan rumah. Masalah rumah tangga membesar karena tidak ada lingkungan yang ikut menjaga. Orang tua yang anak-anaknya merantau menua dalam sunyi. Bahkan saat terhimpit utang, orang lebih memilih pinjaman daring berbunga mencekik daripada mengetuk pintu sebelah, karena sudah lama tidak saling kenal.
Adab bertetangga yang diajarkan Islam menjawab semua itu tanpa menunggu program besar. Beberapa langkahnya bisa dimulai minggu ini:
- Sapa lebih dulu. Salam di depan pagar adalah pintu pertama dari ihtimalu al-adza. Hati yang terbiasa menyapa akan lebih mudah memaafkan.
- Perbanyak kuah. Semangkuk sayur, sepotong kue, atau sekadar menanyakan kabar saat tetangga tidak terlihat beberapa hari.
- Jaga lisan di grup warga. Rasa aman tetangga juga mencakup aman dari gunjingan dan tangkapan layar yang disebar ke mana-mana.
- Selesaikan sengketa dengan adab. Bicarakan langsung dan tenang, libatkan tokoh yang dipercaya bila perlu, dan jangan jadikan media sosial sebagai ruang sidang.
- Doakan diam-diam. Terutama tetangga yang pernah menyakiti. Di sinilah hati benar-benar dilatih.
Semua ini mengalir dari mahabbah kepada Rasulullah SAW. Kita mencintai beliau, dan beliau mencintai umatnya dengan sangat detail, sampai urusan kuah sayur pun beliau wasiatkan. Mencintai Rasulullah SAW berarti ikut menjaga apa yang beliau jaga: adab, lalu ilmu, lalu amal kecil yang terus dilakukan, dan dari sanalah peradaban dibangun, satu gang demi satu gang.
Jadi, siapa sebenarnya yang tinggal di balik pintu terdekat dari rumah Anda? Kapan terakhir kali Anda tahu kabarnya? Dan kalau suatu hari Anda yang jatuh sakit sendirian, pintu siapa yang Anda harap akan terbuka lebih dulu?
Menjadi tetangga yang baik adalah latihan hati seumur hidup, dan latihan seperti ini lebih ringan bila dijalani bersama orang-orang yang sedang belajar hal yang sama. Di komunitas AlFatihRPS, para sahabat pejuang saling menguatkan untuk istiqomah dalam langkah-langkah kecil, tanpa paksaan dan tanpa ajang pamer. Kalau hati Anda tergerak, mari belajar bersama di member.alfatihrps.com, dengan sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. An-Nisa': 36 tentang perintah berbuat baik kepada tetangga dekat dan jauh.
- Hadis: wasiat Jibril tentang tetangga (HR. Bukhari dan Muslim); perintah memuliakan tetangga (HR. Bukhari dan Muslim); pesan memperbanyak kuah untuk tetangga (HR. Muslim); tetangga yang pintunya paling dekat (HR. Bukhari).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 2 (Kitab Adab al-Ulfah wa al-Ukhuwwah, pembahasan hak tetangga); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab Haqq al-Jar); Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Fathul Bari (syarah Kitab Al-Adab).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.