Nabi Dawud 'alaihissalam adalah seorang raja. Ia punya kerajaan, punya perbendaharaan, dan punya alasan yang sah untuk tidak bekerja dengan tangannya sendiri. Namun ia tetap duduk menganyam lingkaran-lingkaran besi, satu per satu. Yang jarang ditanyakan: apa yang ia rasakan setiap kali satu baju besi selesai dibuat?
Senin pagi, pukul 06.40. Seorang karyawan berdiri di KRL yang padat, tasnya menekan dada, dan di kepalanya hanya ada satu kalimat: untuk apa semua ini? Gajinya habis sebelum tanggal dua puluh. Atasannya hanya menghitung target. Rekan kerjanya saling sikut demi promosi. Sore nanti ia pulang dengan badan remuk, lalu mengulanginya lagi esok hari, dan esoknya lagi. Ia tidak malas. Ia hanya lelah bekerja tanpa tahu sedang bekerja untuk siapa.
Kelelahan semacam ini bukan sekadar urusan otot. Ini lelahnya jiwa yang merasa dirinya hanya roda kecil dalam mesin besar yang tidak peduli. Banyak orang mengira obatnya adalah gaji yang lebih besar atau pekerjaan yang lebih bergengsi. Padahal ada orang bergaji besar yang tetap hampa, dan ada tukang sederhana yang pulang dengan hati lapang. Bedanya tidak terletak pada slip gaji, tetapi pada arah hati ketika tangan sedang bekerja. Di sinilah kisah Nabi Dawud menjadi cermin yang jernih.
Seorang Raja dan Lingkaran-Lingkaran Besi
Al-Qur'an tidak menggambarkan Nabi Dawud hanya sebagai raja dan nabi yang dikaruniai suara merdu. Al-Qur'an juga merekamnya sebagai seorang pengrajin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemah makna: Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya. Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya dengan tepat, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Saba': 10-11)
Perhatikan tiga hal yang sering terlewat dari ayat ini. Pertama, perintah wa qaddir fis-sard, ukurlah anyamannya dengan tepat. Para mufassir menjelaskan maknanya sebagai ketepatan ukuran mata rantai: tidak terlalu longgar hingga mudah tembus, tidak terlalu rapat hingga berat dipakai. Allah SWT sendiri memerintahkan mutu dan ketelitian dalam sebuah pekerjaan tangan. Kedua, perintah teknis itu langsung disambung dengan wa'malu shalihan, kerjakanlah amal saleh, seolah menegaskan bahwa menganyam besi dengan benar dan beramal saleh berada dalam satu tarikan napas. Ketiga, ayat ditutup dengan innii bima ta'maluna bashir, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Pekerjaan tidak pernah luput dari pandangan-Nya, sekecil apa pun.
Di surah lain, Allah menyebut tujuan sosial dari keterampilan itu: wa 'allamnahu shan'ata labusin lakum lituhshinakum min ba'sikum, fahal antum syakirun, Kami ajarkan kepadanya membuat baju besi untuk kalian, guna melindungi kalian dalam peperangan; maka apakah kalian bersyukur? (QS. Al-Anbiya': 80). Pekerjaan Nabi Dawud bukan sekadar mata pencaharian. Ia melindungi nyawa orang lain. Kerjanya adalah bentuk kasih sayang.
Rasulullah SAW kemudian mengangkat teladan ini secara khusus. Dari Al-Miqdam radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Terjemah makna: Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud 'alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri. (HR. Al-Bukhari)
Dari sini pertanyaan pembuka tadi menemukan arah jawabannya. Seorang raja yang memilih makan dari keringatnya tidak sedang mencari uang; ia sedang mencari sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Setiap lingkaran besi yang ia sambung adalah percakapan sunyi dengan Tuhannya: Engkau melihat, dan aku ingin Engkau ridha.
Baca Juga
Ketika Kerabat Melukai: Mengapa Silaturahmi Justru Diuji di Sana?
Perspektif Imam Al-Ghazali: Dua Pasar dalam Satu Langkah
Imam Al-Ghazali menulis satu kitab khusus tentang etika bekerja, yaitu Kitab Adab Al-Kasb wa Al-Ma'asy (Adab Mencari Nafkah dan Penghidupan) dalam Ihya' 'Ulumiddin, Juz 2, bagian Rub' Al-'Adat. Di sana ia menggambarkan manusia sebagai orang yang berdiri di antara dua pasar: pasar dunia tempat ia berdagang dan bekerja, dan pasar akhirat tempat amalnya dinilai. Celakanya bukan ketika seseorang sibuk di pasar dunia, melainkan ketika kesibukan itu membuatnya lupa bahwa pasar akhirat sedang dibuka di saat yang sama.
Al-Ghazali menekankan bahwa pekerjaan yang sama persis bisa bernilai sangat berbeda tergantung niat yang menyertainya. Orang yang bekerja agar tidak menjadi beban orang lain, agar mampu menafkahi keluarga, dan agar bisa menolong sesama, sedang beribadah meskipun tangannya memegang kunci inggris atau papan ketik. Pandangan ini berakar pada sabda Rasulullah yang masyhur, innamal a'malu bin-niyyat, sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya (HR. Al-Bukhari dan Muslim), yang juga diurai panjang oleh Al-Ghazali dalam Kitab An-Niyyah wal-Ikhlas wash-Shidq di Juz 4 Ihya'.
Inilah dimensi batin yang menjawab kelelahan si karyawan di KRL tadi. Ia lelah bukan karena pekerjaannya terlalu berat, tetapi karena pekerjaannya terasa tak bertuan. Ketika niat diluruskan kepada ridha Allah SWT, atasan yang tidak menghargai tetap ada, target yang menekan tetap ada, tetapi ada satu Saksi yang tidak pernah lupa mencatat. Kerja yang tadinya terasa sia-sia mendapat makna yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam, pada hikmah kedua, menambahkan nuansa yang menyejukkan: keinginanmu untuk lepas dari urusan sebab-akibat padahal Allah SWT menempatkanmu di sana termasuk syahwat yang tersembunyi. Artinya, bagi orang yang memang ditempatkan Allah SWT di dunia kerja, ruang kantornya, bengkelnya, lapaknya, adalah mihrab tempat ia diuji dan didekatkan. Tidak perlu merasa ibadahnya kalah dari orang yang lebih lama di masjid; yang dituntut adalah kehadiran hati di tempat Allah SWT meletakkannya.
Perspektif Imam An-Nawawi: Menjaga Kehormatan Lewat Kerja
Jika Al-Ghazali menggarap dimensi batin, Imam An-Nawawi menghadirkan dimensi amal yang membumi. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun satu bab berjudul Bab Al-Hatstsi 'ala Al-Akli min 'Amali Yadihi wat-Ta'affufi bihi 'anis-Su'al, yakni bab anjuran makan dari hasil kerja tangan sendiri dan menjaga kehormatan diri dari meminta-minta. Di bab inilah hadits tentang Nabi Dawud tadi dicantumkan, berdampingan dengan riwayat-riwayat lain yang memuliakan orang yang bekerja keras demi tidak menggantungkan diri kepada belas kasihan orang.
Menarik bahwa An-Nawawi membuka seluruh Riyadhus Shalihin dengan Bab Al-Ikhlas wa Ihdhar An-Niyyah, bab tentang ikhlas dan menghadirkan niat. Susunan ini seperti pesan diam: sebelum bicara tentang kerja, sedekah, atau adab, luruskan dulu untuk siapa semua itu dilakukan. Maka bab tentang kerja tangan bukan berdiri sendiri; ia berpijak pada fondasi ikhlas yang diletakkan di halaman pertama.
Dari sudut fiqih dan amal, para ulama menegaskan beberapa ukuran praktis bagi orang yang ingin pekerjaannya diridhai: penghasilan berasal dari sumber yang halal, akad dan janji ditunaikan dengan jujur, hak orang lain tidak dikurangi, dan pekerjaan dikerjakan sebaik kemampuan. Ini sejalan dengan perintah wa qaddir fis-sard tadi. Ridha Allah SWT tidak dicari dengan kata-kata indah di status media sosial, tetapi dengan laporan yang tidak dimanipulasi, timbangan yang tidak dikurangi, dan jam kerja yang tidak dicuri.
Dua perspektif ini saling mengisi. Al-Ghazali mengajarkan agar hati menghadap kepada Allah SWT saat bekerja; An-Nawawi mengingatkan agar tangan tetap jujur dan tekun di atas jalan yang halal. Niat tanpa kejujuran amal akan rapuh, dan kerja keras tanpa niat akan melelahkan tanpa ujung.
Relevansinya Hari Ini
Dunia kerja modern sering mengukur manusia dengan angka: KPI, omzet, jumlah pengikut, rating aplikasi. Angka-angka itu tidak salah, tetapi bila ia menjadi satu-satunya ukuran, manusia akan terus merasa kurang. Hari ini mencapai target, besok target dinaikkan. Pengemudi ojek daring yang mengejar bonus harian, pedagang daring yang begadang demi kampanye tanggal kembar, pegawai yang takut tersingkir oleh efisiensi, semuanya sedang berlari di lintasan yang garis finisnya terus dipindahkan.
Menuntut ridha Allah SWT dalam bekerja memberi garis finis yang tidak bergeser. Ketika pekerjaan diniatkan untuk-Nya, dikerjakan dengan jujur, dan dipersembahkan sebaik mungkin, maka pada titik itu seseorang sudah berhasil, apa pun hasil angkanya. Hasil tetap diusahakan, target tetap dikejar, tetapi harga diri dan ketenangan tidak lagi digadaikan kepada angka.
Ada pula kesembuhan bagi luka yang lebih dalam: perasaan tidak dihargai. Banyak orang bekerja bertahun-tahun tanpa pernah mendengar ucapan terima kasih. Ayat innii bima ta'maluna bashir menjadi pelipur yang tidak tertandingi. Lembur yang tak dilihat atasan, kesabaran menghadapi pelanggan kasar, kejujuran saat ada kesempatan curang, semuanya dilihat oleh Dzat yang tidak pernah lalai. Dan Rasulullah SAW, yang memuji kerja tangan Nabi Dawud, mengajarkan bahwa pekerjaan sederhana yang halal adalah kemuliaan, bukan kehinaan.
Langkah Kecil untuk Memulai Esok Pagi
- Satu kalimat niat sebelum berangkat. Sebelum menyalakan motor atau membuka laptop, bisikkan dalam hati: aku bekerja untuk menjaga kehormatan diri, menafkahi keluarga, dan mencari ridha-Mu.
- Satu bagian pekerjaan yang dikerjakan paling rapi. Pilih satu tugas hari ini dan kerjakan dengan ketelitian ala qaddir fis-sard, meski tidak ada yang memeriksa.
- Satu kejujuran yang dijaga. Entah jam kerja, laporan, atau janji kepada pelanggan, jadikan satu hal itu amanah yang tidak ditawar.
- Satu jeda untuk mengingat Rasulullah SAW. Di sela pekerjaan, sholawat beberapa kali dapat menjadi cara hati kembali pulang, bukan sebagai syarat rezeki, tetapi sebagai ungkapan cinta kepada teladan yang mengajarkan mulianya kerja.
Nabi Dawud bisa saja hidup dari perbendaharaan kerajaan, tetapi ia memilih jalan yang membuat tangannya lelah dan hatinya dekat. Lalu bagaimana dengan pekerjaan yang esok pagi akan kita jalani lagi: apakah ia hanya akan menjadi rutinitas yang menguras, atau anyaman-anyaman kecil yang kita persembahkan kepada Dzat Yang Maha Melihat?
Pertanyaan itu tidak harus dijawab sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat yang juga pekerja biasa sedang belajar meluruskan niat, menjaga sholawat harian, dan membaca Al-Qur'an bersama, pelan-pelan dan tanpa saling membandingkan jumlah. Jika hati tergerak untuk menempuhnya bersama, pintunya terbuka di member.alfatihrps.com, tempat belajar istiqomah dengan sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Saba': 10-11 dan QS. Al-Anbiya': 80 tentang keterampilan Nabi Dawud membuat baju besi.
- Hadis: HR. Al-Bukhari tentang keutamaan makan dari hasil kerja tangan sendiri dan teladan Nabi Dawud; HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang amal tergantung niat.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin (Juz 2, Kitab Adab Al-Kasb wa Al-Ma'asy; Juz 4, Kitab An-Niyyah wal-Ikhlas wash-Shidq); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab Ikhlas dan Bab anjuran makan dari hasil kerja tangan sendiri); Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.