Para sahabat hidup paling dekat dengan turunnya wahyu. Bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, dan hafalan mereka terkenal kuat. Namun Abdullah bin Mas'ud menuturkan satu kebiasaan mereka yang terdengar janggal untuk ukuran hari ini: belajar sepuluh ayat, lalu berhenti. Mereka berhenti bukan karena tak sanggup melanjutkan.
Jam delapan malam, seorang ayah baru tiba dari kantor dengan kemeja yang masih bau keringat dan kepala yang penuh angka target. Anaknya menyodorkan lembar tugas sekolah. Di bagian atasnya tertulis kalimat yang tampak sederhana: peserta didik dapat menghafal ayat tematik dari alquran dan mampu menjelaskannya. Temanya sabar. Sang ayah hafal Al-Fatihah dan beberapa surat pendek. Ia membacanya hampir setiap hari dalam shalat. Tetapi ketika anaknya bertanya, “Yah, maksud ayat ini apa?”, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Diam semacam itu meninggalkan rasa yang sulit diberi nama: campuran malu, lelah, dan rasa bersalah yang lama dipendam. Bertahun-tahun ia akrab dengan bunyi Al-Qur'an, tetapi asing dengan pesannya. Ayat-ayat yang ia ulang dalam shalat ternyata tidak pernah ikut menemaninya saat cicilan menumpuk, saat atasan membentak, atau saat rumah terasa dingin. Banyak orang menyimpan luka ini diam-diam. Mereka tidak jauh dari Al-Qur'an, tetapi merasa Al-Qur'an belum pernah benar-benar bicara kepada mereka.
Kalimat di lembar tugas itu ternyata sangat dekat dengan cara para sahabat belajar. Imam Ath-Thabari dalam mukadimah tafsirnya menukil penuturan Ibnu Mas'ud: bila salah seorang dari mereka mempelajari sepuluh ayat, ia tidak melampauinya sampai memahami maknanya dan mengamalkannya. Bagi mereka, hafalan, pemahaman, dan amal adalah satu tarikan napas. Allah SWT sendiri menyebut tujuan diturunkannya Kitab ini:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Terjemah makna: Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran. (QS. Shad: 29)
Kata yaddabbaru berakar dari dubur, yang artinya bagian belakang atau ujung sesuatu. Jadi tadabbur berarti merenungi sebuah ayat sampai ke ujung maknanya dan ke akibatnya bagi hidup. Menghafal ayat secara tematik, yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang membahas satu tema seperti sabar, syukur, atau rezeki, adalah salah satu pintu menuju tadabbur itu. Ibnu Katsir dalam mukadimah tafsirnya menegaskan bahwa cara terbaik menafsirkan Al-Qur'an adalah dengan Al-Qur'an itu sendiri, karena apa yang ringkas di satu tempat diuraikan di tempat lain. Dalam tradisi keilmuan Islam, cara membaca ayat per tema ini kemudian dikenal sebagai tafsir maudhu'i (tafsir tematik).
Perspektif Imam Al-Ghazali: Ayat yang Merasa Dialamatkan
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 1, pada Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an, Imam Al-Ghazali membahas amalan batin ketika membaca Al-Qur'an. Ia menyebut sepuluh: memahami keagungan Kalam, mengagungkan Yang Berfirman, menghadirkan hati, tadabbur, berusaha memahami (tafahhum), menyingkirkan penghalang pemahaman, takhshish, terpengaruh oleh ayat (ta'atstsur), naik ke tingkat yang lebih tinggi (taraqqi), dan berlepas dari rasa bangga diri (tabarri).
Yang paling menyentuh adalah takhshish, yaitu merasa bahwa setiap ayat ditujukan kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain atau umat terdahulu. Bila konsep ini dibawa ke ruang kerja yang menekan, ayat tentang sabar tidak lagi terasa sebagai teori. Ia menjadi surat pribadi bagi seseorang yang besok pagi harus kembali menghadapi rapat yang menyesakkan. Al-Ghazali juga mengingatkan adanya mawani' al-fahm, penghalang-penghalang pemahaman. Salah satunya hati yang terus bergelimang dosa tanpa penyesalan, salah satunya lagi merasa cukup dengan lafaz. Karena itu menjelaskan ayat bukan hanya kerja otak. Hati juga perlu dijernihkan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Ilmu yang Diteruskan dengan Adab
Kalau Al-Ghazali menerangi sisi batinnya, Imam An-Nawawi memberi pijakan amalnya. Dalam At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, pada pembahasan adab pengajar dan pelajar Al-Qur'an, beliau menekankan niat yang ikhlas. Belajar dan mengajarkan Al-Qur'an bukan untuk dipuji atau merasa lebih tinggi dari orang lain. Beliau juga menganjurkan agar Al-Qur'an diajarkan dengan lemah lembut dan penuh kasih kepada yang belajar. Landasannya adalah sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Baca Juga
Ayat Tematik dari Al-Qur'an Pendek: Mengapa Hiburan Allah SWT Begitu Singkat?
Terjemah makna: Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)
Kalimat “mampu menjelaskannya” di lembar tugas itu ternyata adalah bagian kedua dari hadis ini, yaitu mengajarkan. Ukurannya tidak harus mimbar besar. Menjelaskan satu ayat kepada seorang anak di meja makan sudah termasuk di dalamnya. Kedua imam ini saling melengkapi. Al-Ghazali menjaga agar hafalan tidak berhenti di lidah, sementara An-Nawawi menjaga agar pemahaman tidak berhenti di diri sendiri dan tetap diteruskan dengan adab. Keduanya juga tidak meremehkan hafalan lafaz, karena membaca dan menghafal Al-Qur'an tetap bernilai ibadah sejak huruf pertamanya.
Relevansinya Hari Ini
Setiap hari kita menghafal banyak hal tanpa sadar: potongan video yang lewat di layar, harga promo, kata-kata pedas di kolom komentar. Semua itu ikut membentuk suasana hati. Ayat tematik bisa menjadi tandingannya, yaitu sekumpulan kecil ayat yang sudah dipahami dan siap hadir saat dibutuhkan. Saat rezeki terasa sempit, ia mengingat janji kelapangan dalam QS. Al-Insyirah: 5–6. Saat pikiran kalut, ia teringat bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra'd: 28).
Inilah yang digambarkan Sayyidah Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW:
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ
Terjemah makna: Sesungguhnya akhlak Nabi Allah SAW adalah Al-Qur'an. (HR. Muslim)
Rasulullah SAW tidak sekadar membawa Al-Qur'an. Beliau menjadi tafsirnya yang hidup. Kecintaan kepada beliau menemukan bentuknya yang paling jujur di sini: berusaha agar satu-dua ayat yang kita pahami pelan-pelan tampak dalam cara kita menahan marah, menenangkan pasangan, dan memperlakukan anak. Jalurnya memang begitu: mahabbah melahirkan adab, adab membuka ilmu, ilmu menumbuhkan hikmah, hikmah berbuah amal, dan dari amal-amal kecil yang terus dijaga, lahirlah keluarga dan masyarakat yang lebih beradab.
Langkah Kecil yang Konsisten
Satu hal perlu diluruskan dengan adab. Bagi kita yang awam, “menjelaskan” ayat berarti menyampaikan makna sebagaimana diterangkan para ulama tafsir, bukan menafsirkan sendiri dengan selera. Dengan pagar itu, langkah-langkah berikut bisa ditempuh tanpa beban:
- Satu tema untuk satu bulan. Misalnya sabar, dan cukup tiga ayat saja, seperti QS. Al-Baqarah: 153, QS. Al-Insyirah: 5–6, dan QS. Az-Zumar: 10.
- Baca terjemah dan tafsir ringkas yang resmi. Misalnya di Qur'an Kemenag, sebelum mulai menghafal.
- Tulis satu kalimat dengan bahasa sendiri tentang pesan ayat itu, lalu kaitkan dengan satu persoalan nyata yang sedang dihadapi.
- Ceritakan kepada satu orang. Anak, pasangan, atau sahabat. Mengajarkan adalah cara paling ampuh untuk menguatkan hafalan.
- Cocokkan dengan guru atau ustadz yang dipercaya, supaya pemahaman tetap lurus.
Ayah di awal tulisan ini tidak perlu menjadi ahli tafsir dalam semalam. Cukup duduk bersama anaknya, membuka terjemah, dan berkata jujur: “Ayah juga sedang belajar. Kita pahami bareng, ya.” Bisa jadi itulah penjelasan paling berharga yang pernah didengar anak itu.
Para sahabat berhenti di sepuluh ayat bukan karena lambat, tetapi karena mereka tidak mau ada satu ayat pun yang hanya singgah di lidah. Malam ini, kalau seseorang yang Anda cintai bertanya tentang satu ayat, ayat mana yang ingin Anda jelaskan, bukan dari kertas, melainkan dari hidup Anda sendiri?
Belajar seperti ini lebih ringan bila dijalani bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang menempuh jalan yang sama: membaca sedikit demi sedikit, merenunginya, dan saling menguatkan tanpa adu banyak-banyakan khataman. Bila hati Anda tergerak, mari ambil bagian membaca Al-Qur'an bersama di sini, pelan-pelan dan istiqomah.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Shad: 29; QS. Al-Baqarah: 153; QS. Al-Insyirah: 5–6; QS. Ar-Ra'd: 28; QS. Az-Zumar: 10.
- Hadis: Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya (HR. Bukhari); Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur'an (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an; Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an; mukadimah Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.