Dalam satu surah yang sama, Al-Qur'an memuji dua manusia dengan kalimat yang persis sama, kata demi kata. Yang satu raja dengan kerajaan yang tak tertandingi sepanjang sejarah. Yang satu lagi lelaki yang kehilangan hampir segalanya, sampai kesehatannya sendiri.
Bayangkan sebuah sore di lorong rumah sakit. Notifikasi masuk: bonus akhir tahun cair, jumlahnya lebih besar dari yang pernah kamu terima. Kamu belum sempat tersenyum, karena dua meter dari tempatmu berdiri, ayahmu terbaring dengan selang oksigen, dan dokter baru saja bilang perlu tindakan lanjutan. Dalam satu tarikan napas, hidup memberimu nikmat dan luka sekaligus. Hatimu bingung harus bersyukur atau bersabar, dan diam-diam ada rasa bersalah: pantaskah aku lega karena uang, ketika ayah sedang kesakitan?
Kebingungan semacam ini jarang dibicarakan. Kita diajari bahwa hidup terbagi rapi: ada musim senang yang menuntut syukur, ada musim susah yang menuntut sabar. Kenyataannya, keduanya hampir selalu datang bersamaan. Gaji naik, tapi rumah tangga retak. Anak lulus dengan baik, tapi utang belum lunas. Usaha mulai jalan, tapi badan mulai rapuh. Yang membuat lelah sering bukan beratnya ujian, melainkan hati yang tak tahu harus berdiri di mana.
Dua Hamba, Satu Pujian
Kedua tokoh itu adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub ‘alaihimas salam. Tentang Sulaiman, Allah SWT berfirman:
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Terjemah makna: Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman; dialah sebaik-baik hamba, sungguh dia sangat taat (selalu kembali kepada Allah). (QS. Shad: 30)
Empat belas ayat kemudian, tentang Ayyub, kalimat pujiannya diulang:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Terjemah makna: Sungguh, Kami dapati dia seorang yang sabar; dialah sebaik-baik hamba, sungguh dia sangat taat (selalu kembali kepada Allah). (QS. Shad: 44)
Yang dipuji bukan kekayaan Sulaiman dan bukan penderitaan Ayyub. Yang dipuji adalah sifat yang sama: awwab, orang yang selalu kembali kepada Allah SWT. Sulaiman kembali lewat pintu syukur. Ayyub kembali lewat pintu sabar. Jalannya berbeda, arahnya satu.
Ada detail dalam kisah Sulaiman yang jarang direnungkan. Ketika singgasana Ratu Saba' hadir di hadapannya dalam sekejap, puncak kemegahan yang tak terbayangkan siapa pun, ucapan pertamanya bukan pamer kuasa, tetapi kecemasan seorang hamba:
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Terjemah makna: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). (QS. An-Naml: 40)
Sulaiman melihat nikmat sebagai ujian. Sebaliknya, Ayyub dalam sakitnya yang panjang tidak menyalahkan siapa pun. Doanya justru sangat beradab:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Terjemah makna: (Ya Tuhanku), sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. (QS. Al-Anbiya: 83)
Para mufassir menyoroti kehalusan doa ini: Ayyub tidak menuntut, tidak mendikte, bahkan tidak menyebut kata “sembuhkan”. Ia hanya menceritakan keadaannya, lalu menyebut sifat kasih Allah SWT. Ia mengadu kepada Allah SWT, bukan mengadu tentang Allah SWT. Di situlah beda antara keluhan yang merusak iman dan rintihan yang justru mendekatkan.
Maka paradoksnya terbalik dari dugaan kita: raja yang bergelimang nikmat merasa sedang diuji, dan hamba yang sedang diuji merasa masih dikasihi. Keduanya sampai pada pujian yang sama.
Baca Juga
Kenapa Nabi Tenang di Atas Tikar Kasar, Sementara Kita Gelisah di Kasur Empuk?
Perspektif Imam Al-Ghazali: Syukur dan Sabar sebagai Dua Paruh Iman
Imam Al-Ghazali mengkhususkan satu kitab penuh untuk tema ini, yaitu Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr dalam Rub' Al-Munjiyat (bagian tentang hal-hal yang menyelamatkan), Ihya' Ulumuddin Juz 4. Beliau membuka pembahasan dengan ungkapan yang masyhur di kalangan salaf bahwa iman itu terdiri dari dua paruh: separuh sabar dan separuh syukur. Penempatannya di bagian Al-Munjiyat bukan kebetulan; Al-Ghazali memandang keduanya sebagai jalan keselamatan hati, bukan sekadar akhlak tambahan.
Yang membuat uraian beliau dalam adalah strukturnya. Menurut Al-Ghazali, maqam (kedudukan ruhani) seperti syukur tersusun dari tiga lapis: ilmu (menyadari bahwa nikmat datang dari Allah SWT), hal (gembira hati karena Sang Pemberi, bukan semata karena pemberiannya), dan amal (memakai nikmat itu di jalan yang Dia ridhai). Sabar pun demikian: bermula dari kesadaran, tumbuh menjadi keteguhan batin, lalu tampak dalam tindakan yang tidak melampaui batas.
Dari sini terang mengapa kita sering gagal. Kita bersyukur hanya di lisan, tanpa lapis ilmu dan hal; kita bersabar hanya dengan menahan mulut, sementara hati mendidih. Bagi Al-Ghazali, orang yang menerima bonus di lorong rumah sakit tadi tidak perlu memilih. Ia bisa bersyukur atas rezeki yang memudahkan biaya pengobatan ayahnya, sekaligus bersabar atas sakit yang belum reda, karena keduanya bersumber dari Tangan yang sama.
Hikmah ini bergema dalam kalimat Ibnu 'Athaillah As-Sakandari di Al-Hikam, yang maknanya: terkadang Allah SWT memberimu, padahal sejatinya Dia sedang menahan sesuatu darimu; dan terkadang Dia menahan darimu, padahal sejatinya Dia sedang memberimu. Nikmat dan musibah tidak selalu seperti yang tampak di permukaan.
Perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Dua Sayap untuk Terbang
Jika Al-Ghazali menggali dimensi batin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah membawa tema ini ke wilayah amal dan kehidupan nyata. Dalam 'Uddat Ash-Shabirin wa Dzakhirat Asy-Syakirin (Bekal Orang-orang Sabar dan Simpanan Orang-orang Bersyukur), beliau mengurai panjang perdebatan klasik para ulama: mana yang lebih utama, orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur?
Setelah menimbang berbagai pendapat dengan adab, arah kesimpulan beliau sangat menenangkan: keutamaan tidak terletak pada kaya atau miskinnya, melainkan pada siapa yang lebih bertakwa dan lebih sempurna menunaikan hak keadaannya. Orang kaya punya kewajiban syukur berupa menunaikan zakat, menolong, dan tidak sombong. Orang miskin punya kewajiban sabar berupa menjaga kehormatan diri, tidak putus asa, dan tetap berikhtiar. Masing-masing diuji di medannya sendiri.
Inilah dimensi amal yang melengkapi Al-Ghazali. Sabar bukan diam pasrah; ia adalah keteguhan menjalankan kewajiban di tengah kesulitan. Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah; ia adalah tanggung jawab atas setiap nikmat. Ibnu Qayyim menggambarkan seorang mukmin yang berjalan menuju Allah SWT dengan dua sayap; patah salah satunya, ia tak akan bisa terbang dengan seimbang.
Semua uraian ini bermuara pada sabda Rasulullah SAW yang menjadi poros tema:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang beriman. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim, dari Shuhaib bin Sinan)
Imam An-Nawawi menempatkan hadits ini dalam Bab Ash-Shabr di Riyadhus Shalihin, seakan mengisyaratkan bahwa sabar dan syukur sejatinya satu bangunan. Kata kuncinya adalah kulluhu khair: seluruhnya baik. Bukan karena semua kejadian terasa enak, tetapi karena seorang mukmin punya cara merespons yang mengubah apa pun menjadi kebaikan.
Relevansinya Hari Ini
Hidup modern membuat kita mahir di salah satu sayap saja. Sebagian dari kita kuat menghadapi kesulitan, tapi kikuk saat diberi kelapangan: begitu rezeki datang, langsung habis untuk gengsi, lalu kembali cemas. Sebagian lain pandai menikmati nikmat, tapi runtuh begitu ujian datang: satu masalah kantor, dan seluruh hidup terasa gagal.
Al-Qur'an menyebut sosok ideal dengan gabungan dua kata: shabbar syakur.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Terjemah makna: Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim: 5)
Keduanya hadir dalam bentuk yang menunjukkan kesungguhan dan keberlanjutan. Artinya, ini bukan sikap sesekali, melainkan watak yang dilatih. Beberapa latihan sederhana bisa dimulai hari ini:
- Pisahkan pemberian dari Pemberi. Saat nikmat datang, sebut dulu nama-Nya sebelum menyebut rencanamu atas nikmat itu, seperti Sulaiman: “ini dari karunia Tuhanku.”
- Adukan, jangan keluhkan. Saat sakit atau sempit, tiru adab doa Ayyub: ceritakan keadaanmu kepada Allah SWT, lalu sebut kasih sayang-Nya.
- Cari nikmat di dalam musibah, dan ujian di dalam nikmat. Biaya rumah sakit tertutup bonus adalah nikmat di tengah ujian; bonus besar itu sendiri adalah ujian di tengah nikmat.
- Tunaikan hak setiap keadaan. Lapang: bersedekah dan menolong. Sempit: menjaga lisan dan terus berikhtiar.
Di antara amalan yang menjaga dua sayap ini tetap mengepak adalah bersholawat kepada Rasulullah SAW. Beliau sendiri adalah teladan paling sempurna: tidak sombong ketika Makkah ditaklukkan, tidak putus asa ketika dilempari batu di Thaif. Mengingat beliau berulang-ulang melatih hati untuk menimbang setiap keadaan dengan neraca beliau.
Kembali ke lorong rumah sakit itu. Notifikasi bonus masih terbuka di layar, dan ayahmu masih terbaring di sana. Barangkali pertanyaannya bukan lagi “aku harus bersyukur atau bersabar?”, melainkan sesuatu yang lebih jujur: selama ini, lewat pintu mana aku paling jarang kembali kepada-Nya?
Belajar menjadi shabbar syakur adalah perjalanan seumur hidup, dan tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang melatih hal yang sama dengan langkah kecil yang konsisten: bersholawat setiap hari, tanpa syarat, tanpa hitung-hitungan, murni untuk melunakkan hati. Jika hatimu ingin ikut berlatih kembali kepada-Nya, mulailah setor sholawat bersama di sini.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Shad: 30 dan 44; QS. An-Naml: 40; QS. Al-Anbiya: 83; QS. Ibrahim: 5.
- Hadis: HR. Muslim dari Shuhaib bin Sinan tentang menakjubkannya urusan orang beriman; dimuat Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4 (Rub' Al-Munjiyat, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 'Uddat Ash-Shabirin wa Dzakhirat Asy-Syakirin; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.