Yang jarang ditanyakan tentang riya bukan bagaimana ia menggugurkan pahala. Yang jarang ditanyakan justru ini: apa yang sebenarnya sedang kita cari ketika diam-diam berharap ada yang melihat? Dan kenapa, setelah dilihat dan dipuji pun, hati tetap terasa kosong?
Coba ingat lagi malam ketika jari Anda sudah siap menekan tombol unggah. Fotonya sederhana: puluhan bungkus nasi untuk tetangga, atau tangkapan layar transfer ke panti asuhan, lengkap dengan keterangan “Alhamdulillah, semoga berkah.” Ada jeda sebentar. Ada suara kecil di dada yang bertanya: ini untuk siapa? Lalu foto tetap terunggah, notifikasi suka mulai berdatangan, dan anehnya ada rasa haus yang ikut tumbuh. Setiap beberapa menit Anda membuka lagi, menghitung siapa saja yang sudah melihat, dan agak kecewa karena orang yang paling ingin Anda buat terkesan ternyata diam saja.
Rasa haus itu bukan monopoli media sosial. Ia juga ada pada karyawan yang bekerja paling keras justru saat atasan lewat, lalu merasa habis tenaga karena terus memerankan versi dirinya yang lebih baik. Ia ada pada seorang ibu yang bertahun-tahun memikul rumah tangga tanpa pernah mendengar ucapan terima kasih, lalu hatinya pelan-pelan mengeras dan diam-diam ia menghitung semua pengorbanannya. Di balik itu sering ada luka lama: pernah merasa tidak dianggap, tidak cukup, tidak berharga kalau tidak terlihat. Riya jarang lahir dari kesombongan yang terang-terangan. Lebih sering ia lahir dari hati yang lapar akan pengakuan, dan lapar itu tidak pernah benar-benar kenyang.
Apa yang Dimaksud Para Ulama dengan Riya?
Al-Qur'an menutup Surah Al-Kahfi, surah yang dibaca banyak orang setiap Jumat, dengan satu pesan yang sangat padat tentang hal ini:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Terjemah makna: Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi: 110)
Para mufassir menjelaskan bahwa syarat diterimanya amal tersirat dalam ayat ini: amal itu benar caranya (saleh) dan bersih tujuannya (tidak menyekutukan Allah SWT). Riya disebut para ulama sebagai syirik kecil (asy-syirk al-ashghar). Ia tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi diam-diam menghadirkan “sekutu” di dalam ibadah, yaitu pandangan manusia. Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah SAW menyampaikan firman Allah SWT:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Terjemah makna: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya. (HR. Muslim)
Kalimat ini terasa berat, tetapi kalau direnungkan, di dalamnya ada kelembutan. Allah SWT tidak sedang menghukum dengan amarah. Ia hanya “membiarkan” kita mendapatkan apa yang kita cari. Kalau yang dicari adalah tepuk tangan manusia, tepuk tangan itulah upahnya, dan kita semua tahu betapa cepat tepuk tangan itu reda.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Riya sebagai Penyakit Hati yang Halus
Imam Al-Ghazali membahas soal ini dengan sangat rinci dalam Kitab Dzamm al-Jah wa ar-Riya' (Kitab Celaan terhadap Cinta Kedudukan dan Riya), bagian dari Rubu' al-Muhlikat (perkara-perkara yang membinasakan) dalam Ihya' Ulumiddin Juz 3. Menariknya, ia tidak memulai dari riya, tetapi dari hubbul jah, yaitu cinta kedudukan di hati manusia. Menurut Al-Ghazali, riya hanyalah cabang. Akarnya adalah keinginan untuk menempati ruang di hati orang lain: ingin dianggap saleh, dermawan, alim, atau tekun.
Diagnosis ini menjawab pertanyaan di awal tulisan. Yang kita kejar saat berharap dilihat sebenarnya bukan pujian itu sendiri, melainkan rasa aman karena merasa “berarti” di mata orang. Al-Ghazali mengingatkan bahwa kedudukan di hati manusia itu rapuh. Hati manusia berbolak-balik, dan siapa yang menggantungkan nilai dirinya pada sesuatu yang berbolak-balik akan terus gelisah. Inilah kenapa orang yang paling sibuk menjaga citra sering menjadi orang yang paling lelah.
Al-Ghazali juga memetakan pintu-pintu riya: lewat penampilan tubuh, pakaian, ucapan, amal, sampai pergaulan, yaitu ingin dikenal dekat dengan orang-orang terpandang. Ia menyebut adanya riya yang samar, yang bahkan tidak disadari pelakunya. Salah satu tandanya adalah ketika seseorang tetap beramal secara sembunyi-sembunyi, tetapi hatinya merasa senang berlebihan jika amal itu akhirnya ketahuan, atau merasa ada yang kurang jika orang tidak menghormatinya sebagaimana yang ia harapkan.
Al-Ghazali tidak membiarkan pembacanya tenggelam dalam rasa curiga terhadap diri sendiri. Ia membedakan dengan jelas: rasa senang ketika amal diketahui orang tidak otomatis riya. Jika seseorang senang karena melihat Allah SWT menutupi aibnya dan menampakkan kebaikannya, atau berharap orang lain terdorong meniru, itu termasuk gembira yang terpuji. Yang tercela adalah senang karena kedudukannya naik di mata manusia. Pembedaan ini sejalan dengan sebuah hadits yang sangat menenangkan. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang seseorang yang mengerjakan kebaikan lalu orang-orang memujinya. Beliau menjawab:
تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
Baca Juga
Raja Terkaya dan Hamba Paling Diuji: Mengapa Allah SWT Memuji Keduanya Sama?
Terjemah makna: Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin. (HR. Muslim)
Jadi pujian yang datang tanpa dicari bukan musibah. Ia hadiah. Yang menjadi penyakit adalah ketika pujian itu berubah menjadi tujuan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Niat sebagai Pintu Setiap Amal
Kalau Al-Ghazali membedah penyakitnya dari dalam, Imam An-Nawawi menata jalan amalnya. Bukan kebetulan bahwa Riyadhus Shalihin, kitab yang dikaji di banyak majelis di negeri ini, dibuka dengan Bab al-Ikhlas wa Ihdhar an-Niyyah (Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat). Di bab pertama itu An-Nawawi meletakkan hadits yang oleh para ulama disebut sebagai salah satu poros agama:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Terjemah makna: Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan susunan kitab itu jelas: sebelum belajar adab, zikir, atau muamalah, luruskan dulu arah hati. Dalam bab yang sama, An-Nawawi juga memuat hadits bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi melihat hati dan amal (HR. Muslim). Ini meringankan beban kita. Tidak ada yang perlu dipoles demi Allah, karena Ia memandang ke tempat yang tidak bisa dipoles.
An-Nawawi juga menukil ucapan Al-Fudhail bin 'Iyadh dalam Al-Adzkar, yang menjadi kunci keseimbangan: meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah SWT menyelamatkanmu dari keduanya. Kalimat ini menolong orang yang terlalu takut riya sampai berhenti bersedekah, berhenti mengajar ngaji, atau enggan shalat berjamaah karena takut terlihat. Ketakutan berlebihan seperti itu ternyata juga masih berporos pada manusia. Al-Ghazali sendiri dalam pembahasannya menegaskan bahwa amal tidak boleh ditinggalkan hanya karena khawatir riya. Tetaplah beramal, lalu terus perbaiki niatnya.
Kedua ulama ini saling melengkapi. Al-Ghazali mengajak kita jujur melihat ke dalam hati. An-Nawawi mengajak kita terus melangkah dengan niat yang diperbarui. Diagnosis tanpa amal bisa berujung putus asa. Amal tanpa diagnosis bisa berujung tertipu oleh diri sendiri.
Relevansinya Hari Ini: Ikhlas di Zaman Story dan Jumlah Penonton
Hari ini kita hidup di tengah angka: jumlah penonton, suka, pengikut. Tanpa disadari, angka-angka itu ikut masuk ke ruang ibadah. Ada yang merasa tilawahnya belum “sah” kalau belum diunggah, atau sedekahnya kurang bermakna kalau tidak ada yang tahu. Membagikan kebaikan dengan niat mengajak orang lain tetap dibolehkan, dan para ulama mengakui amal terang-terangan punya tempatnya bila niatnya mengajak dan menguatkan. Yang perlu dijaga adalah kejujuran batin: apakah saya tetap akan melakukannya kalau tidak ada satu pun yang tahu?
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam memberi gambaran yang indah: amal adalah bentuk-bentuk yang tegak, sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia ikhlas di dalamnya. Amal tanpa ikhlas ibarat tubuh tanpa nyawa. Bentuknya ada, tetapi tidak hidup. Mungkin inilah penjelasan kenapa sebagian dari kita rajin beribadah tetapi tetap merasa hampa. Bentuknya lengkap, ruhnya yang sedang tercecer di kolom komentar.
Bagi Anda yang lelah karena merasa tidak pernah dilihat, entah pengorbanan di rumah, kerja keras di kantor, atau doa-doa panjang di sepertiga malam, ikhlas tidak meminta Anda berhenti ingin dihargai. Ikhlas memindahkan alamat penghargaan itu. Ada Dzat yang melihat setiap bungkus nasi yang Anda bagikan diam-diam, setiap air mata yang Anda tahan demi keluarga, setiap kebaikan yang tidak pernah dicatat siapa pun. Saat itu disadari, rasa haus akan pengakuan pelan-pelan mereda, karena kebutuhan untuk dilihat sudah terpenuhi oleh Yang Maha Melihat.
Langkah Kecil Menjaga Keikhlasan
Para ulama tidak menawarkan resep instan, hanya latihan yang dijalani terus-menerus. Beberapa langkah yang bisa dimulai dari sekarang:
- Simpan satu amal rahasia. Al-Ghazali menganjurkan untuk menyembunyikan kebaikan sebagaimana kita menyembunyikan aib. Pilih satu amal rutin, misalnya sedekah kecil atau dua rakaat malam, yang hanya Anda dan Allah SWT yang tahu.
- Perbarui niat sebelum, saat, dan sesudah beramal. Ikhlas bukan sekali jadi. Ketika ada rasa ingin dipuji yang muncul, jangan berhenti beramal. Cukup kembalikan arah hati, sebagaimana pesan Al-Fudhail.
- Ingat bahwa manusia tidak memegang rezeki dan nasib. Al-Ghazali menyebut ini sebagai obat ilmu bagi riya: menyadari bahwa pujian makhluk tidak menambah rezeki, dan celaan mereka tidak mengurangi takdir.
- Biasakan zikir dan sholawat tanpa hitungan untuk dipamerkan. Bersholawat kepada Rasulullah SAW tanpa syarat dan tanpa kalkulasi adalah latihan halus untuk beribadah karena cinta, bukan karena ingin dinilai.
Pada akhirnya, ikhlas mungkin bukan soal berhasil menyembunyikan amal dari manusia. Ikhlas adalah kemerdekaan hati dari kebutuhan untuk disaksikan. Pertanyaannya, kalau malam ini Anda melakukan satu kebaikan dan tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan tidak juga orang yang paling Anda harapkan, apakah hati Anda akan tetap merasa cukup?
Jalan menuju hati yang merasa cukup itu panjang, dan tidak perlu ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, para sahabat belajar istiqomah bersholawat setiap hari tanpa ajang pamer jumlah, pelan-pelan, tanpa tekanan, sebagai latihan bersama untuk membersihkan niat. Jika hati Anda ingin mulai berlatih, mari setor sholawat bersama di sini. Tanpa syarat, dan cukup Allah SWT saja yang menyaksikan.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Kahfi: 110 tentang amal saleh dan larangan menyekutukan Allah SWT dalam ibadah.
- Hadis: hadits qudsi tentang Allah SWT meninggalkan amal yang disekutukan (HR. Muslim); hadits niat (HR. Bukhari dan Muslim); hadits pujian sebagai kabar gembira yang disegerakan bagi mukmin (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin Juz 3, Kitab Dzamm al-Jah wa ar-Riya'; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab al-Ikhlas wa Ihdhar an-Niyyah) dan Al-Adzkar; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.