Kita sering berpikir bakti kepada ayah dan ibu berakhir di hari kain kafan menutup wajah mereka. Tapi Rasulullah SAW justru menyebut satu pintu yang tetap terbuka setelah semua pintu lain tertutup rapat. Pintu itu tidak ada di makam. Pintunya ada di dada anak-anak yang mereka tinggalkan.
Malam itu kamu membuka HP dan mengetik di kolom pencarian: doa untuk orang tua yang sudah meninggal latin. Bukan karena tidak pernah belajar mengaji. Kamu mencarinya karena lidah mendadak kelu, hafalan buyar, dan yang tersisa cuma satu keinginan: semoga ada kata-kata yang benar untuk dikirim kepada orang yang sudah tidak bisa lagi kamu telepon. Di galeri masih ada foto Ibu memegang rantang. Di WhatsApp masih ada pesan suara Bapak yang belum sanggup kamu putar ulang.
Luka yang Tidak Ikut Dikubur
Duka atas orang tua jarang datang sebagai tangis panjang. Ia datang sebagai serpihan: saat gajian dan sadar tidak ada lagi yang bisa ditransferi, saat anak bertanya “Mbah ke mana?”, saat masakan di warung rasanya mirip masakan rumah. Lalu menyusul yang paling berat, yaitu penyesalan. Telepon yang dulu diabaikan karena rapat. Kunjungan Lebaran yang dipersingkat karena macet. Nada bicara yang terlalu keras di hari-hari terakhir mereka sakit.
Penyesalan itu tidak perlu buru-buru ditepis dengan kalimat “sudahlah, ikhlaskan”. Penyesalan adalah tanda bahwa cinta itu nyata. Hanya saja, cinta yang tidak diberi jalan keluar akan berubah menjadi beban yang menumpuk di dada. Di titik inilah Islam tidak menyuruh kita melupakan, melainkan memberi cinta itu sebuah saluran. Cinta yang dulu berupa uang belanja, oleh-oleh, dan obat dari apotek, kini dialihkan menjadi doa.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Terjemah makna: Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)
Coba perhatikan susunannya. Dari semua hal yang ditinggalkan seorang ayah dan ibu, rumah, tabungan, nama baik, Nabi SAW menyebut anak yang mendoakan sebagai salah satu aliran yang tidak putus. Artinya, kamu yang malam ini mengetik doa di mesin pencari bukan sedang melakukan hal kecil. Kamu sedang menjadi bagian dari amal orang tuamu yang masih terus mengalir.
Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal: Arab, Latin, dan Maknanya
Doa paling utama adalah yang lafaznya diajarkan langsung oleh Al-Qur'an. Allah SWT memerintahkan seorang anak untuk merendahkan diri di hadapan orang tua sekaligus mendoakan mereka:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Latin: Wakhfidh lahumā janāhadz-dzulli minar-rahmati wa qur rabbirhamhumā kamā rabbayānī shaghīrā.
Terjemah makna: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil. (QS. Al-Isra: 24)
Frasa kamā rabbayānī shaghīrā, sebagaimana mereka mendidikku waktu kecil, adalah pengakuan yang paling jujur. Kita memohon kepada Allah SWT agar membalas mereka dengan ukuran kasih sayang yang tidak sanggup kita balas sendiri. Kita tidak ingat malam-malam ketika Ibu terjaga karena kita demam. Allah SWT mengingatnya.
Doa kedua adalah doa Nabi Ibrahim AS yang diabadikan Al-Qur'an:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Baca Juga
Ucapkanlah Perkataan yang Benar: Ketika Menutupi Salah Teman Justru Melukainya
Latin: Rabbanaghfir lī wa liwālidayya wa lil-mu'minīna yauma yaqūmul-hisāb.
Terjemah makna: Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua ibu bapakku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan. (QS. Ibrahim: 41)
Masyarakat juga akrab dengan rangkaian ringkas yang memadukan dua ayat tersebut: Rabbighfir lī wa liwālidayya warhamhumā kamā rabbayānī shaghīrā, artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku waktu kecil. Rangkaian ini bukan satu ayat utuh, tetapi gabungan makna dari ayat-ayat di atas, dan boleh dipakai sebagai doa harian.
Doa ketiga diambil dari doa Rasulullah SAW ketika menyalatkan jenazah, yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat 'Auf bin Malik. Lafaz aslinya untuk satu jenazah. Para ulama membolehkan kata gantinya disesuaikan, sehingga untuk kedua orang tua menjadi:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمَا وَارْحَمْهُمَا وَعَافِهِمَا وَاعْفُ عَنْهُمَا
Latin: Allāhummaghfir lahumā warhamhumā wa 'āfihimā wa'fu 'anhumā.
Terjemah makna: Ya Allah, ampunilah keduanya, rahmatilah keduanya, selamatkanlah keduanya, dan maafkanlah keduanya.
Jika yang wafat hanya ayah, ucapkan Allāhummaghfir lahu warhamhu wa 'āfihi wa'fu 'anhu. Jika hanya ibu, ucapkan Allāhummaghfir lahā warhamhā wa 'āfihā wa'fu 'anhā. Satu catatan penting: tulisan latin hanyalah jembatan. Sebisa mungkin pelajari bacaan Arabnya dari guru ngaji, karena huruf seperti ha, 'ain, dan dzal tidak bisa diwakili huruf latin dengan sempurna. Namun jangan tunda berdoa hanya karena lafaz belum fasih. Doa dalam bahasa Indonesia yang lahir dari hati yang hancur tetap didengar oleh Allah SWT Yang Maha Mendengar.
Dua Cermin Ulama: Ibnu Qayyim dan Imam An-Nawawi
Pertanyaan yang paling menghantui orang yang berduka biasanya sederhana: apakah doa ini benar-benar sampai? Dua ulama besar Ahlus Sunnah menjawabnya dari dua sisi yang saling melengkapi.
Dari sisi batin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Kitab Ar-Ruh, pada pembahasan tentang apakah amal orang yang masih hidup bermanfaat bagi orang yang telah wafat, menjelaskan bahwa ruh tidak lenyap bersama jasad. Ia hidup di alam barzakh, alam perantara antara dunia dan akhirat, dan di sana ruh dapat menerima manfaat dari doa, istighfar, dan sedekah yang diniatkan untuknya. Bagi hati yang berduka, penjelasan ini mengubah cara pandang. Hubungan dengan orang tua tidak terputus; bentuknya saja yang berganti. Dulu kita berbicara dengan mereka, kini kita berbicara kepada Allah SWT tentang mereka.
Dari sisi fiqih dan amal, Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar, pada bab tentang apa yang bermanfaat bagi mayit dari ucapan orang lain, menukil kesepakatan para ulama bahwa doa untuk orang yang telah wafat bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka. Ketegasan ini menenangkan, karena perkara doa bukan wilayah tebak-tebakan. Hal ini juga diperkuat hadits yang disepakati Imam Bukhari dan Imam Muslim dari 'Aisyah RA tentang seorang lelaki yang ibunya wafat mendadak. Ia bertanya kepada Nabi SAW apakah ibunya mendapat pahala bila ia bersedekah atas namanya, dan Nabi SAW menjawab: ya.
Perlu disampaikan dengan adab: tentang sampainya pahala bacaan Al-Qur'an yang dihadiahkan kepada mayit, para ulama mazhab memiliki pandangan yang beragam. Perbedaan ini berada di wilayah furu', yaitu cabang teknis amalan, bukan inti akidah. Setiap muslim yang mengikuti bimbingan ulama dan guru keilmuannya patut dihargai. Adapun doa dan sedekah, para ulama sepakat keduanya bermanfaat.
Adab Mendoakan: Langkah Kecil yang Tidak Putus
Doa bukan mantra yang cukup dibaca sekali saat tahlil hari ketujuh lalu dilupakan. Ia adalah hubungan yang dirawat. Beberapa adab berikut membantu menjaganya tetap hidup:
- Awali dengan pujian kepada Allah SWT dan sholawat kepada Nabi SAW. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Fadhalah bin 'Ubaid bahwa Nabi SAW menegur seseorang yang berdoa tanpa memuji Allah SWT dan bersholawat lebih dulu, lalu mengajarkan urutan yang benar.
- Tautkan pada waktu yang tetap. Misalnya setiap selesai sholat Subuh, atau sebelum tidur. Satu menit yang rutin lebih menghidupkan daripada satu jam yang hanya datang saat rindu memuncak.
- Sertai dengan amal. Sedekah atas nama mereka, meski seribu rupiah di kotak masjid. Menyambung silaturahim dengan sahabat-sahabat almarhum dan almarhumah. Melunasi janji atau utang mereka yang belum tertunaikan.
- Jadilah anak saleh yang dimaksud hadits. Doa “anak saleh” akan makin bermakna ketika hidup kita sendiri menjadi kebanggaan bagi mereka di sisi Allah SWT.
Untuk penyesalan yang masih mengganjal, ada kabar yang menyejukkan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan, dengan sanad yang dinilai hasan oleh sebagian ahli hadits, bahwa seorang hamba diangkat derajatnya di surga lalu bertanya dari mana kemuliaan itu datang. Dijawab: dari istighfar anakmu untukmu. Bakti yang dulu kurang di dunia masih bisa disusul. Tidak dengan memutar waktu, tetapi dengan mengetuk pintu langit.
Mungkin malam ini kamu belum sanggup memutar pesan suara itu. Tidak apa-apa. Tapi barangkali ada satu pertanyaan yang layak dibawa tidur: jika esok hari orang tuamu bisa melihat dari mana kebaikan yang terus mengalir kepada mereka, apakah mereka akan menemukan namamu di sana?
Kerinduan kepada ayah dan ibu, pada akhirnya, adalah latihan mencintai yang tidak menuntut balasan, persis seperti cinta kepada Rasulullah SAW yang kita kirim lewat sholawat tanpa pernah bertemu beliau. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar merawat cinta semacam ini bersama-sama, pelan-pelan dan tanpa pamer jumlah: bersholawat setiap hari, lalu menyelipkan doa untuk orang tua di sela tadarus. Kalau ingin ditemani, kamu bisa mulai setor sholawat di sini atau ikut membaca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Isra: 24 dan QS. Ibrahim: 41.
- Hadis: HR. Muslim (terputusnya amal kecuali tiga perkara; doa jenazah riwayat 'Auf bin Malik); HR. Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah RA (sedekah atas nama ibu yang wafat); HR. At-Tirmidzi dari Fadhalah bin 'Ubaid (adab berdoa).
- Imam An-Nawawi, Al-Adzkar (bab yang bermanfaat bagi mayit); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Kitab Ar-Ruh (pembahasan sampainya amal orang hidup kepada mayit).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.