Kita sering berpikir harta yang aman adalah angka yang masih tersisa di rekening. Tapi suatu hari di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah SAW menghitung harta dengan cara yang sepenuhnya terbalik.
Tanggal 25 gaji masuk. Tanggal 3, sebagian besar sudah berpindah tangan: cicilan motor, uang kontrakan, SPP anak, tagihan paylater yang dulu terasa ringan saat diklik. Lalu malam itu sebuah pesan masuk dari kawan lama: anaknya dirawat, ia butuh bantuan. Hati ingin menolong, tapi kepala langsung menghitung. Aku sendiri masih kurang. Kalau aku bantu, bulan ini bagaimana? Pesan itu akhirnya hanya dibaca, tidak dibalas. Dan yang tersisa setelahnya bukan rasa lega karena uang selamat, melainkan rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Rasa takut itu manusiawi, dan tidak perlu disangkal. Al-Qur'an sendiri mengakui bahwa ketakutan akan kemiskinan adalah salah satu bisikan paling halus yang menjerat manusia: setan menjanjikan kefakiran dan menyuruh kepada kekikiran, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia (QS. Al-Baqarah: 268). Ayat ini tidak menghakimi orang yang takut. Ia justru menunjukkan dari mana rasa takut itu datang, dan ke mana hati seharusnya kembali bersandar.
Seekor Kambing dan Satu Pundak yang Tersisa
Dalam sebuah riwayat yang dicatat Imam At-Tirmidzi dan dinilainya shahih, keluarga Rasulullah SAW pernah menyembelih seekor kambing. Dagingnya dibagi-bagikan kepada orang lain. Ketika Nabi SAW bertanya apa yang masih tersisa, Aisyah menjawab bahwa yang tersisa hanya bagian pundaknya. Beliau lalu bersabda bahwa justru seluruhnya tersisa, kecuali pundaknya. Artinya, yang sudah diberikan itulah yang kekal di sisi Allah SWT, sedangkan yang disimpan untuk diri sendiri akan habis dimakan.
Hitungan ini menjadi semakin menyentuh bila kita ingat kondisi rumah itu. Aisyah sendiri menuturkan bahwa pernah berlalu tiga kali hilal dalam dua bulan tanpa api dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah; mereka bertahan dengan kurma dan air (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi kedermawanan beliau tidak lahir dari lumbung yang penuh. Ia lahir dari hati yang tidak menggantungkan rasa aman pada apa yang digenggam. Ibnu Abbas menggambarkan bahwa Rasulullah adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya memuncak di bulan Ramadhan, lebih cepat dalam kebaikan daripada angin yang berembus (HR. Bukhari dan Muslim).
Di sinilah janji Nabi SAW terasa sebagai penghiburan, bukan tuntutan:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Terjemah makna: Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. (HR. Muslim)
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sedekah sebagai Obat Hati
Dalam Kitab Asrar az-Zakah (Rahasia-Rahasia Zakat) pada Ihya' Ulumuddin Juz 1, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kewajiban dan anjuran memberi menyimpan beberapa hikmah batin. Pertama, ujian cinta: harta adalah sesuatu yang dicintai manusia, dan kesediaan melepaskannya menjadi bukti apakah cinta kepada Allah SWT benar-benar lebih besar. Kedua, penyucian dari sifat bakhil: kikir adalah penyakit hati yang membinasakan, dan obatnya adalah membiasakan diri memberi hingga hati tidak lagi terikat. Ketiga, syukur nikmat: setiap harta adalah titipan, dan memberi adalah cara hati mengakui dari siapa titipan itu berasal.
Cara pandang ini mengubah letak persoalan. Orang yang merasa sesak setelah menahan bantuan sebenarnya sedang merasakan gejala, bukan sekadar kehilangan kesempatan beramal. Al-Ghazali mengingatkan bahwa sedekah pertama-tama menyembuhkan pemberinya, baru kemudian menolong penerimanya. Karena itu pula ia menekankan adab memberi: merahasiakannya bila memungkinkan, tidak menyebut-nyebut pemberian, dan tidak merendahkan penerima. Hal ini sejalan dengan peringatan Al-Qur'an agar sedekah tidak dibatalkan dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima (QS. Al-Baqarah: 264).
Puncak dari penyembuhan itu tergambar dalam ucapan orang-orang saleh yang diabadikan Al-Qur'an:
Baca Juga
Tetangga yang Tak Pernah Mengganggu: Mengapa Itu Belum Cukup Menurut Al-Ghazali?
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Terjemah makna: Sesungguhnya kami memberi makan kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah; kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih. (QS. Al-Insan: 9)
Inilah memberi tanpa syarat: bukan transaksi untuk memancing rezeki, bukan pula panggung untuk dipuji. Ia adalah cinta yang dilepaskan tanpa menuntut kembali.
Perspektif Imam An-Nawawi: Memberi dengan Tertib dan Bijak
Jika Al-Ghazali menyelami batinnya, Imam An-Nawawi menata amalnya. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun satu bab khusus berjudul Bab Kedermawanan dan Berinfak di Jalan Kebaikan karena Percaya kepada Allah SWT. Judul itu sendiri sudah mengandung pelajaran: dasar sedekah adalah kepercayaan kepada Allah SWT, bukan kelebihan harta. Dalam syarahnya atas Shahih Muslim, An-Nawawi juga menjelaskan makna sedekah tidak mengurangi harta dalam dua sisi: harta itu diberkahi sehingga kekurangannya tertutup, dan pahala yang diterima jauh melampaui jumlah yang dikeluarkan.
Namun tradisi fiqih Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan kedermawanan yang membabi buta. Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari kecukupan, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu (HR. Bukhari). Beliau juga menegaskan bahwa nafkah seseorang kepada keluarganya, bila diniatkan karena Allah, terhitung sebagai sedekah (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi yang sedang terhimpit utang dan kebutuhan keluarga, ini adalah kabar yang melapangkan: melunasi kewajiban dan menafkahi anak-istri bukan penghalang kedermawanan, melainkan bagian darinya.
Pintu sedekah pun tidak terbatas pada uang. Nabi SAW bersabda bahwa setiap kebaikan adalah sedekah (HR. Bukhari dan Muslim), dan senyummu di hadapan saudaramu pun bernilai sedekah (HR. At-Tirmidzi). Membalas pesan kawan yang sedang susah dengan doa tulus dan kalimat yang menguatkan, ketika memang tidak ada uang untuk dikirim, juga termasuk kebaikan itu. Rasulullah bahkan bersabda: jagalah diri kalian dari neraka walau hanya dengan separuh butir kurma (HR. Bukhari dan Muslim). Tidak ada pemberian yang terlalu kecil di hadapan Allah.
Relevansinya Hari Ini
Saat ini berbagi semakin mudah: cukup pindai kode QR, transfer, lalu selesai. Tetapi kemudahan itu juga membawa godaan baru, yaitu mengunggah bukti donasi demi citra diri. Rasulullah menyebut salah satu golongan yang dinaungi Allah pada hari tanpa naungan adalah orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Bukhari dan Muslim). Ada kalanya menampakkan sedekah bermanfaat untuk memberi teladan, dan para ulama mengakui hal itu. Namun hati yang jujur tahu kapan ia sedang mengajak orang lain dan kapan ia sedang mencari tepuk tangan.
Pelajaran kedua lebih sunyi. Banyak orang menunda berbagi sampai merasa cukup, padahal rasa cukup jarang datang dengan sendirinya. Kisah kambing dan pundak itu mengajarkan bahwa rasa cukup justru dilatih dengan memberi. Sedikit tetapi rutin, misalnya menyisihkan seribu atau dua ribu rupiah setiap hari, sepiring nasi untuk tetangga, atau waktu untuk mendengarkan kawan, lebih mendidik hati daripada satu pemberian besar yang lahir dari rasa bersalah. Nabi SAW bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedekah bukan jaminan bahwa tagihan akan lenyap besok pagi. Namun ia menjanjikan sesuatu yang lebih dalam: hati yang tidak lagi diperbudak oleh angka, dan keyakinan bahwa apa yang dilepaskan karena Allah tidak pernah benar-benar hilang. Allah menggambarkan infak di jalan-Nya seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai ada seratus biji (QS. Al-Baqarah: 261).
Maka kembalilah pada pesan yang belum sempat dibalas itu, pada wajah tetangga yang jarang ditanyai kabarnya, pada kotak amal kecil di musholla dekat kantor. Jika hari ini Rasulullah SAW bertanya kepada kita apa yang masih tersisa, jawaban apa yang ingin kita berikan?
Belajar memberi tanpa syarat adalah perjalanan panjang, dan tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang melatih hati yang sama: pelan-pelan, istiqomah, dan saling menguatkan tanpa ajang pamer. Jika hatimu tergerak, mari belajar istiqomah bersama di sini, dengan sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Insan: 9; QS. Al-Baqarah: 261, 264, dan 268.
- Hadis: HR. Muslim (sedekah tidak mengurangi harta); HR. Bukhari dan Muslim (separuh butir kurma, setiap kebaikan adalah sedekah, sedekah secara sembunyi-sembunyi, amal yang konsisten); HR. Bukhari (mulai dari tanggungan); HR. At-Tirmidzi (kisah kambing dan pundak, senyum sebagai sedekah).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Asrar az-Zakah; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab Kedermawanan dan Berinfak di Jalan Kebaikan) serta Syarh Shahih Muslim.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.