Dalam hadits paling masyhur tentang Islam, Iman, dan Ihsan, ada satu detail yang hampir selalu dilewati orang. Sebelum bertanya sepatah kata pun, tamu berbaju putih itu lebih dulu merapatkan lututnya ke lutut Rasulullah SAW dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha. Pelajaran pertama hari itu ternyata bukan tentang rukun apa pun.
Jam sepuluh malam, piring di bak cuci belum selesai, dan sebuah video kajian diputar dengan kecepatan 1,5 kali. Bagian yang menarik di-screenshot, sisanya dilewati. Besok pagi giliran potongan ceramah lain di beranda, lalu debat panjang di kolom komentar soal ustadz mana yang paling benar. Dalam setahun, ratusan jam kajian sudah ditonton. Tapi waktu sendirian, saat utang belum lunas, anak susah diatur, dan pekerjaan menekan dari segala arah, hati tetap terasa kosong, seperti tidak pernah belajar apa-apa.
Barangkali masalahnya bukan kurang materi. Kita hidup di masa yang paling mudah mendapat ilmu, tapi paling susah merasakan manfaatnya. Rasa lelah semacam ini sering tidak terucap. Ada rasa bersalah karena sudah banyak tahu tapi tidak berubah, dan diam-diam muncul curiga jangan-jangan agama memang tidak bisa menenangkan. Sebelum terburu-buru mencari jawaban, ada baiknya kita duduk sebentar di majelis yang dulu sudah menjawab kegelisahan ini.
Majelis yang Hening: Membaca Ulang Hadits Jibril
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bercerita bahwa suatu hari, saat para sahabat duduk bersama Rasulullah SAW, datang seorang laki-laki dengan pakaian sangat putih dan rambut sangat hitam. Tidak tampak bekas perjalanan padanya, dan tidak seorang pun dari mereka mengenalnya. Lalu Umar menyebut gerakan yang jarang kita renungkan:
فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ
Terjemah makna: Lalu ia menyandarkan kedua lututnya ke kedua lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. (HR. Muslim)
Setelah tamu itu pergi, Rasulullah menjelaskan kepada Umar:
فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
Terjemah makna: Sesungguhnya dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian. (HR. Muslim)Coba perhatikan urutannya. Malaikat yang membawa wahyu, yang tentu sudah tahu jawaban setiap pertanyaannya, datang dengan pakaian bersih, duduk sedekat mungkin, bersikap sopan, lalu bertanya satu per satu dan membenarkan jawaban yang didengarnya. Ia tidak memotong, tidak berdebat, dan tidak memamerkan pengetahuannya. Para ulama memahami bahwa adegan ini memang sengaja diperlihatkan kepada para sahabat. Sebelum ada ilmu tentang agama, ada lebih dulu ilmu tentang cara menerima agama.
Al-Qur'an mengulang pelajaran yang sama lewat kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Beliau nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah SWT, pemimpin Bani Israil, tapi saat bertemu hamba saleh yang diberi ilmu khusus, beliau tidak datang menuntut. Beliau meminta izin:
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Terjemah makna: Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu? (QS. Al-Kahf: 66)
Kalimatnya berbentuk pertanyaan, bukan permintaan yang mendesak. Kata yang dipakai adalah mengikuti, bukan sekadar mendengar. Yang diminta pun hanya sebagian dari ilmu gurunya. Seorang nabi besar menempatkan dirinya sebagai murid. Dari situ terasa bahwa hati yang merasa sudah cukup tahu sebenarnya sedang menutup pintunya sendiri.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Ilmu adalah Ibadahnya Hati
Dalam Kitab Al-'Ilm, bagian pertama Ihya' Ulumuddin (Juz 1), Imam Al-Ghazali membuat satu bab khusus tentang adab murid dan guru. Tugas pertama murid yang beliau sebut bukan menghafal atau membaca banyak buku, melainkan membersihkan jiwa dari akhlak yang buruk sebelum mulai belajar. Alasannya, ilmu adalah ibadahnya hati, shalat batin, dan cara hati mendekat kepada Allah SWT. Shalat lahir tidak sah tanpa membersihkan anggota badan dari hadats. Begitu pula ibadah batin ini tidak akan sampai kalau hati masih penuh kotoran sifat buruk.
Baca Juga
Ketika Amal Mencari Penonton: Membaca Riya Lewat Kacamata Al-Ghazali
Di bab yang sama, Al-Ghazali memakai perumpamaan yang sangat manusiawi. Murid sebaiknya menerima nasihat gurunya seperti orang sakit yang awam menerima arahan dokter yang ahli dan sayang kepadanya. Orang sakit tidak berdebat soal dosis obat, karena ia sadar dirinya datang untuk sembuh, bukan untuk menang.
Di sinilah jawaban untuk rasa hampa tadi mulai terlihat. Kalau ilmu hanya kita kumpulkan sebagai informasi, ia akan menumpuk seperti file di galeri HP. Ada, tapi tidak pernah dibuka lagi. Kalau ilmu kita terima sebagai obat, kita akan menelannya pelan-pelan, mengamalkannya sedikit demi sedikit, dan membiarkannya bekerja di dalam diri. Dari Al-Ghazali kita belajar bahwa sumber masalahnya sering ada pada wadah yang belum siap, bukan pada isinya yang kurang.
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab yang Bisa Dikerjakan
Al-Ghazali menyentuh sisi batin. Imam An-Nawawi melengkapinya dengan sisi amal yang konkret. Dalam muqaddimah Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, pada bagian adab penuntut ilmu, beliau merinci sikap-sikap yang bisa langsung dipraktikkan: merendah kepada ilmu dan kepada orang yang mengajarkannya, memandang guru dengan rasa hormat, mendoakannya, bersabar ketika guru sedang lelah atau tidak berkenan, dan tidak tergesa-gesa memamerkan pengetahuan sebelum benar-benar menguasainya.
Jadi adab dalam pandangan An-Nawawi tidak berhenti di perasaan. Ia terlihat dari cara duduk, cara bertanya, cara menyebut nama guru, dan kesabaran menunggu penjelasan selesai. Itu persis gambaran duduknya Jibril di hadapan Rasulullah SAW. Kedua imam ini saling melengkapi. Satu menunjukkan bahwa hati harus dibersihkan, yang lain menunjukkan cara membersihkannya lewat kebiasaan sehari-hari. Hati yang lembut akan melahirkan sikap yang santun, dan sikap santun yang dijaga terus akan ikut melembutkan hati.
Bait syair yang masyhur dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi'i menyampaikan hal serupa. Ketika beliau mengadu kepada gurunya tentang hafalan yang lemah, nasihat yang beliau terima adalah meninggalkan maksiat, karena ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat. Ternyata hafalan pun ada kaitannya dengan keadaan hati.
Relevansinya Hari Ini
Memutar kajian dengan kecepatan 1,5 kali tidak salah. Banyak orang hanya punya waktu sambil menyetir atau mencuci piring, dan niat belajar di sela kesibukan itu sudah mulia. Yang perlu kita jaga adalah sikapnya. Apakah kita mendengar untuk berubah, atau mendengar untuk mencari bahan menyalahkan orang lain? Kolom komentar yang panas sering menunjukkan bahwa yang tersampaikan baru informasinya, sedangkan adabnya belum.
Bagi pekerja yang lelah, orang tua yang hampir menyerah, atau siapa pun yang sedang dililit tagihan, kabar ini menenangkan. Menuntut ilmu tidak harus dimulai dengan target besar. Ia bisa dimulai dari satu majelis kecil yang kita datangi dengan hati yang bersih, satu guru yang kita hormati, dan satu nasihat yang benar-benar kita amalkan minggu ini. Rasulullah SAW menjanjikan:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Terjemah makna: Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)
Yang disebut dalam hadits ini adalah menempuh jalan, bukan sudah sampai. Artinya, langkah yang pelan pun sudah dihitung. Beberapa langkah kecil bisa dicoba:
- Luruskan niat sebelum menekan tombol putar. Ucapkan dalam hati bahwa kita belajar untuk memperbaiki diri, bukan untuk membantah orang lain.
- Pilih satu guru yang jelas sanad keilmuannya dan dengarkan kajiannya sampai selesai, bukan hanya potongan-potongannya.
- Amalkan satu hal dulu sebelum mencari materi baru, supaya ilmu tidak menumpuk tanpa pernah dipakai.
- Doakan guru kita, termasuk guru yang hanya kita kenal lewat layar.
- Tutup dengan doa yang diajarkan Al-Qur'an:
Terjemah makna: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu. (QS. Thaha: 114)وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Tulisan ini hanya pengantar renungan. Rincian adab dan ilmu sebaiknya terus dipelajari langsung dari guru dan ustadz yang terpercaya.
Jibril bisa saja menyampaikan semua jawaban sambil berdiri dari kejauhan. Ia memilih merapatkan lututnya. Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: selama ini kita duduk sedekat apa dengan ilmu yang kita cari, dan seberapa jauh hati kita darinya meski telinga sudah sering mendengar?
Belajar dengan adab memang lebih ringan kalau dijalani bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang melatih diri pelan-pelan: bersholawat setiap hari, menyempatkan tadarus Al-Qur'an, dan saling mengingatkan tanpa tekanan atau pamer jumlah. Kalau hati terpanggil, mari belajar istiqomah bersama di sini. Sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Kahf: 66 (adab Nabi Musa kepada gurunya) dan QS. Thaha: 114 (doa memohon tambahan ilmu).
- Hadis: Hadits Jibril dari Umar bin Khattab (HR. Muslim) dan hadits menempuh jalan mencari ilmu (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Al-'Ilm, bab adab murid dan guru; Imam An-Nawawi, muqaddimah Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, bagian adab penuntut ilmu.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.