Hari ini, seseorang dihujat di kolom komentar lalu begadang sampai jam dua pagi menyusun balasan yang tak pernah selesai. Empat belas abad lalu, Rasulullah SAW juga diolok kaumnya. Yang turun dari langit bukan perintah membalas, melainkan perintah tentang matahari: sebelum ia terbit, dan sebelum ia terbenam.
Coba lihat pagi kita. Mata belum benar-benar terbuka, tangan sudah meraih HP. Grup kantor menagih laporan, notifikasi cicilan muncul, ada pesan dari keluarga yang belum sanggup dibalas. Belum juga kaki menyentuh lantai, hati sudah penuh oleh suara orang lain. Lalu petang datang: jalanan macet, badan remuk, pikiran masih tertinggal di meja kerja. Kita pulang membawa sisa amarah, sisa cemas, dan rasa bersalah karena tidak cukup hadir untuk anak dan pasangan.
Banyak dari kita tidak sedang kekurangan informasi. Yang kurang adalah tempat berpijak. Hari kita dibuka dan ditutup oleh hal-hal yang menuntut, menakutkan, dan membandingkan. Wajar kalau hati terasa compang-camping, dan wajar kalau ada malam ketika kita bertanya pelan: sampai kapan harus begini?
Perintah yang Turun di Tengah Ejekan
Dalam Surah Qaf, setelah Allah SWT menyebut bagaimana orang-orang mengingkari hari kebangkitan dan meremehkan risalah, perintah kepada Rasulullah SAW berbunyi:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
Terjemah makna: Maka bersabarlah engkau terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam. (QS. Qaf: 39)
Ada detail yang jarang kita renungkan. Allah SWT tidak menyuruh Nabi menjelaskan diri panjang lebar kepada para pencela, dan tidak pula menyuruh beliau menarik diri dari dunia. Obat bagi luka akibat ucapan manusia justru diletakkan pada dua ujung hari. Kata sabar dan kata tasbih berada dalam satu napas, seakan-akan sabar butuh bahan bakar, dan bahan bakarnya adalah memuji Allah SWT tepat ketika hari dimulai dan ketika hari berakhir.
Pesan yang sama diulang dalam Surah Al-Ahzab yang turun di Madinah, kepada seluruh orang beriman: perbanyaklah mengingat Allah, dan bertasbihlah kepada-Nya bukratan wa ashila, pada waktu pagi dan petang (QS. Al-Ahzab: 41-42). Jadi dzikir pagi dan petang bukan amalan pinggiran. Al-Qur'an menyebutnya sebagai cara orang beriman menjaga diri ketika dunia sedang tidak ramah.
Apa Sebenarnya Dzikir Pagi dan Petang?
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah rangkaian bacaan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk diucapkan pada dua waktu itu: tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, permohonan perlindungan, dan pengakuan sebagai hamba. Ibadah ini bersifat sunnah. Ia tidak berdiri di atas rasa takut akan hukuman, tetapi di atas undangan untuk mendekat.
Salah satu hadits paling jelas tentang keutamaannya diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
Terjemah makna: Barangsiapa ketika pagi dan petang mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi seratus kali, tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama daripada yang ia bawa, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan atau lebih dari itu. (HR. Muslim)
Perhatikan bahwa yang dijanjikan bukan harta atau popularitas, melainkan kemuliaan di hadapan Allah SWT. Bilangan dalam hadits ini adalah tuntunan Nabi, bukan papan skor untuk dibandingkan dengan orang lain. Di sinilah dzikir menjadi pembinaan hati: kalimat yang sama diulang setiap hari agar pada akhirnya kalimat itu meresap sampai ke hati, bukan supaya kita bisa mengumumkan sudah sampai hitungan berapa.
Lalu ada Sayyidul Istighfar, penghulu istighfar. Rasulullah menyebut bahwa siapa yang mengucapkannya di siang hari dengan yakin lalu wafat sebelum petang, ia termasuk ahli surga, demikian pula siapa yang membacanya di malam hari lalu wafat sebelum pagi (HR. Bukhari, dari Syaddad bin Aus). Di dalamnya ada satu kalimat yang terasa sangat dekat dengan orang yang sedang kelelahan:
وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ
Baca Juga
Mengapa Doa yang Paling Jujur Justru Dimulai dengan Memuji, Bukan Meminta?
Terjemah makna: Dan aku tetap berada di atas janji-Mu dan ikatan-Mu sesuai kemampuanku.
Mastatha'tu, semampuku. Itu bukan pengakuan seorang hamba yang sempurna, melainkan seorang hamba yang jujur. Untuk Anda yang pagi ini merasa gagal sebagai orang tua, sebagai karyawan, atau sebagai anak, doa ini tidak meminta Anda menjadi kuat. Doa ini hanya meminta Anda mengaku: aku masih di sini, ya Allah, dengan sisa tenagaku.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Waktu Adalah Modal Hati
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 1, pada Kitab Tartib al-Awrad (Kitab Penyusunan Wirid), Imam Al-Ghazali membagi siang dan malam menjadi beberapa wirid, yaitu porsi amalan pada waktu tertentu. Wirid pertama ia letakkan pada rentang antara terbit fajar dan terbit matahari. Baginya, waktu adalah modal seorang hamba. Siapa yang menyerahkan awal harinya kepada Allah SWT, sisa harinya akan mengikuti arah yang sama.
Al-Ghazali juga memahami tabiat jiwa yang mudah bosan. Karena itu ia menganjurkan agar amalan dalam wirid divariasikan, ada bacaan, ada dzikir, ada tafakur, supaya hati tidak jenuh. Ini wawasan yang sangat manusiawi. Ia tidak menuntut hamba menjadi mesin ibadah. Ia mengajarkan cara merawat hati agar tetap hidup.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menambahkan peneguhan yang menenangkan: jangan tinggalkan dzikir karena hatimu belum hadir bersama Allah SWT di dalamnya, sebab lalaimu ketika tidak berdzikir sama sekali lebih berat daripada lalaimu ketika masih berdzikir. Semoga Allah SWT mengangkatmu dari dzikir yang disertai lalai menuju dzikir yang disertai kesadaran, lalu menuju dzikir yang disertai kehadiran hati. Hikmah ini sangat cocok bagi orang yang membaca dzikir pagi di kereta sambil masih memikirkan target kerja. Tidak apa-apa. Lisan yang basah oleh dzikir adalah pintu, dan hati akan menyusul.
Perspektif Imam An-Nawawi: Amal yang Ditata dan Dijaga
Jika Al-Ghazali memberi ruh, Imam An-Nawawi memberi tatanan. Dalam Al-Adzkar, ia menyediakan bab khusus dzikir pagi dan petang, dan dalam Riyadhus Shalihin ia menghimpun hadits-hadits tentangnya dalam Bab Dzikir ketika Pagi dan Petang. Ia menjelaskan bahwa waktu paling utama berdzikir di siang hari adalah setelah shalat Subuh, dan para ulama menjelaskan bahwa dzikir petang dibaca pada rentang setelah Ashar hingga terbenam matahari.
Ada satu pesan An-Nawawi dalam Al-Adzkar yang patut dipeluk oleh orang sibuk: siapa yang punya wirid dzikir pada waktu tertentu lalu terlewat, hendaknya ia menggantinya ketika mampu dan tidak meninggalkannya begitu saja, agar kebiasaan meninggalkannya tidak menjadi tabiat. Inilah dimensi amalnya. Istiqomah tidak berarti tidak pernah bolong. Istiqomah berarti selalu kembali.
Dua ulama ini saling melengkapi. Al-Ghazali menjelaskan mengapa hati butuh dzikir, sedangkan An-Nawawi menunjukkan bagaimana amalan itu dijaga secara teratur. Keduanya berdiri di atas satu sumber: tuntunan Rasulullah SAW.
Relevansinya Hari Ini
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوBُ
Terjemah makna: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenteraman yang dijanjikan bukan berarti tagihan hilang atau atasan tiba-tiba ramah. Ketenteraman itu adalah pergeseran pusat: hari tidak lagi dibuka oleh suara yang menuntut, tetapi oleh pengakuan bahwa Allah SWT Maha Suci dan Maha Terpuji, sehingga persoalan apa pun yang datang sesudahnya tidak lagi menjadi yang terbesar. Begitu juga di petang hari. Sebelum membawa pulang lelah ke rumah, kita menyerahkannya dulu kepada Dzat yang tidak pernah lelah.
Langkah kecil yang bisa dimulai:
- Tunda HP lima menit setelah Subuh. Isi lima menit itu dengan satu atau dua bacaan dzikir pagi yang Anda hafal.
- Jadikan perjalanan pulang sebagai waktu dzikir petang, di motor, di kereta, atau di angkot, dengan lisan yang lirih.
- Kalau terlewat, ganti sebagaimana pesan Imam An-Nawawi, tanpa menghakimi diri sendiri.
- Belajar bacaannya dari guru atau kitab dzikir yang muktabar agar lafaz dan maknanya terjaga.
Rasulullah SAW dicaci, lalu diperintahkan bertasbih pada dua ujung hari. Barangkali itu sebabnya beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, karena setiap pagi dan petang hatinya telah lebih dulu kembali kepada Allah SWT. Pertanyaannya tinggal satu, dan biarlah Anda sendiri yang menjawabnya: suara siapa yang selama ini paling dulu menyapa hati Anda di pagi hari, dan suara siapa yang Anda bawa tidur di malam hari?
Jalan kembali ini tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: menjaga dzikir dan sholawat setiap hari, pelan-pelan, semampunya, tanpa perlu memamerkan hitungan. Jika ingin mulai bersama, bergabunglah di sini dan mulai setor sholawat harian, sebagai langkah kecil merawat hati dengan cinta kepada Rasulullah SAW.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Qaf: 39, QS. Al-Ahzab: 41-42, QS. Ar-Ra'd: 28.
- Hadis: HR. Muslim (tasbih pagi dan petang, dari Abu Hurairah); HR. Bukhari (Sayyidul Istighfar, dari Syaddad bin Aus).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1 (Kitab Tartib al-Awrad); Imam An-Nawawi, Al-Adzkar dan Riyadhus Shalihin (Bab Dzikir Pagi dan Petang); Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.