Seorang ayah duduk di bangku plastik ruang tunggu ICU dengan ponsel di tangan. Ia menunggu kabar yang tak juga datang. Ribuan tahun lalu, seorang Nabi duduk di “ruang tunggu” yang sama. Bedanya, ia menunggu bertahun-tahun tanpa kabar dan tanpa kepastian. Saat berita buruk itu sampai, kalimat pertama yang ia ucapkan hanya dua kata.
Ujian hari ini datang dalam bentuk yang sangat kita kenal. Ada surat PHK yang masuk lewat email jam empat sore. Ada cicilan yang jatuh tempo saat tabungan tinggal sisa. Ada anak yang pelan-pelan menjauh, atau hasil laboratorium yang dibaca berulang kali dengan tangan gemetar. Yang paling melelahkan sering bukan musibahnya, tetapi pertanyaan yang tak terjawab: sampai kapan? Diam-diam muncul pula rasa bersalah. Kita merasa kurang beriman karena masih menangis, masih cemas, dan masih ingin menyerah di tengah malam.
Banyak orang mengira sabar berarti tidak boleh terlihat hancur. Akhirnya mereka memikul semuanya sendirian. Di grup keluarga mereka tetap tersenyum, lalu runtuh di kamar mandi. Kisah Nabi Ya'qub 'alaihissalam dalam Surah Yusuf menggambarkan sabar dengan cara yang jauh lebih jujur dan manusiawi.
Nabi Ya'qub: Sabar yang Tetap Boleh Menangis
Anak-anaknya pulang membawa gamis Yusuf yang berlumur darah palsu. Nabi Ya'qub tahu ada yang tidak beres. Beliau tidak membentak, tidak membalas dengan kekerasan, dan tidak pura-pura percaya. Beliau mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi nama bagi salah satu tingkat sabar tertinggi:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
Terjemah makna: Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan hanya Allah yang dimohon pertolongan-Nya atas apa yang kamu ceritakan. (QS. Yusuf: 18)
Ada satu hal yang jarang direnungkan: sabar itu tidak menghapus dukanya. Bertahun-tahun kemudian, putranya yang lain, Bunyamin, tertahan di Mesir, dan luka lama itu terbuka kembali. Al-Qur'an menggambarkan beliau berpaling dari anak-anaknya sambil berkata, “Aduhai dukaku terhadap Yusuf.” Kedua matanya memutih karena sedih, sementara beliau menahan perasaannya (QS. Yusuf: 84). Seorang Nabi, kekasih Allah, menangis sampai penglihatannya terganggu. Al-Qur'an tidak menyebutnya kurang sabar.
Anak-anaknya lalu menegur, khawatir beliau binasa karena terus mengingat Yusuf. Jawaban beliau memisahkan keluh yang merusak dari keluh yang menyembuhkan:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Terjemah makna: Dia (Ya'qub) menjawab, hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Yusuf: 86)
Di sinilah kuncinya. Sabar yang indah (shabrun jamil) bukan berarti tanpa air mata. Yang menentukan adalah ke mana air mata itu dibawa. Nabi Ya'qub tidak mengubah kepedihannya menjadi umpatan kepada takdir. Beliau juga tidak menjadikannya bahan keluhan kepada setiap orang. Beliau membawanya pulang kepada Allah SWT. Perhatikan ujung kalimatnya: “aku mengetahui dari Allah SWT apa yang tidak kamu ketahui.” Dalam gelap yang panjang, beliau tetap berprasangka baik. Harapannya tidak bersandar pada kabar yang pasti, tetapi pada pengenalan kepada Rabb-nya.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sabar sebagai Keteguhan Batin
Dalam Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr (Ihya' Ulumuddin, Juz 4, Rubu' Al-Munjiyat), Imam Al-Ghazali menjelaskan sabar dengan gambaran yang jernih. Di dalam diri manusia ada dua dorongan yang saling tarik. Yang pertama dorongan agama (ba'its ad-din), yang kedua dorongan hawa nafsu (ba'its al-hawa). Sabar adalah ketika dorongan agama tetap tegak dan tidak dikalahkan hawa nafsu. Jadi sabar bukan soal perasaan yang mati rasa. Sabar adalah soal siapa yang memegang kemudi saat badai datang.
Penjelasan ini melegakan banyak hati yang lelah. Sedih, takut, dan kecewa adalah tabiat manusia. Yang diuji bukan munculnya rasa itu. Yang diuji adalah apakah kita membiarkannya menyeret kita ke keputusasaan, ke kata-kata yang menyalahkan takdir, atau ke pelarian yang merusak. Al-Ghazali juga menukil bahwa sabar adalah separuh iman. Iman tegak di atas dua sayap: sabar ketika diuji dan syukur ketika diberi. Dua sayap ini dirumuskan oleh Rasulullah SAW:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Baca Juga
Lutut yang Bersentuhan: Adab Menuntut Ilmu yang Hilang di Era Video Pendek
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya baik baginya, dan itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim)
Dimensi batin ini juga disentuh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam. Salah satu hikmahnya mengingatkan: orang yang mengira kelembutan Allah SWT terpisah dari takdir-Nya, itu karena pandangannya pendek. Ujian dan kasih sayang tidak berjalan di dua jalur yang berbeda. Sering keduanya datang bersamaan, hanya saja hikmahnya baru terbaca belakangan. Begitulah Nabi Ya'qub baru memahami seluruh alur takdirnya ketika gamis Yusuf yang kedua datang dan membawa kesembuhan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Sabar yang Diwujudkan dalam Amal
Al-Ghazali membedah sabar dari dalam. Imam An-Nawawi menghadirkannya sebagai amal yang terlihat. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau meletakkan Bab Ash-Shabr di antara bab-bab awal. Di sana beliau menghimpun ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa sabar punya bentuk lahir yang nyata. Bentuknya antara lain lisan yang terjaga, istirja' (ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), dan sikap yang tidak melampaui batas ketika musibah datang.
Salah satu hadits dalam bab itu mengisahkan Rasulullah SAW yang melewati seorang perempuan sedang menangis di sisi kubur. Beliau menasihatinya untuk bertakwa dan bersabar. Perempuan itu tidak mengenali beliau dan menolak dengan kasar. Setelah tahu bahwa yang menasihatinya Rasulullah SAW, ia datang meminta maaf. Rasulullah SAW tidak memarahinya. Beliau hanya bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
Terjemah makna: Sesungguhnya kesabaran yang sempurna itu ada pada saat benturan pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)
Benturan pertama adalah detik ketika kabar buruk tiba: notifikasi penolakan, telepon dari rumah sakit, atau angka minus di aplikasi bank. Di detik itulah amal sabar diuji. Apakah lisan memilih istirja' dan doa, atau umpatan dan keputusasaan? Kelembutan Rasulullah SAW dalam kisah ini juga mengajarkan hal lain: beliau tidak menghakimi orang yang sedang berduka. Ketika putranya, Ibrahim, wafat, beliau sendiri meneteskan air mata dan bersabda:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
Terjemah makna: Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih karena berpisah denganmu, wahai Ibrahim. (HR. Bukhari)
Hadits ini adalah tafsir hidup atas sabarnya Nabi Ya'qub. Air mata dibolehkan dan kesedihan diakui, tetapi lisan dijaga dalam batas ridha Allah SWT. Sisi batin dari Al-Ghazali dan sisi amal dari An-Nawawi bertemu pada pribadi Rasulullah SAW. Kita mencintai beliau bukan karena beliau tak pernah bersedih. Kita mencintai beliau karena cara beliau bersedih begitu indah.
Relevansinya Hari Ini
Hari ini kita sering terdorong ke salah satu dari dua ujung. Ada yang memendam segalanya agar terlihat kuat. Ada yang menumpahkan semuanya di media sosial agar merasa didengar. Kisah Nabi Ya'qub menunjukkan jalan ketiga: jujur pada luka, lalu mengadukannya kepada Yang Maha Mendengar. Ini tidak berarti kita dilarang bercerita kepada pasangan, sahabat, atau tenaga profesional. Para ulama memahami bahwa mencari pertolongan dan nasihat termasuk ikhtiar. Yang dijaga adalah arah hati: bercerita untuk mencari jalan keluar, bukan untuk menggugat takdir.
Bagi yang terhimpit utang, sabar berarti tetap jujur kepada pemberi pinjaman dan menyusun langkah pelunasan. Bukan lari, bukan pula gali lubang tutup lubang. Bagi yang rumah tangganya retak, sabar berarti menahan kata-kata yang tak bisa ditarik kembali, sambil terus mencari jalan perbaikan. Bagi yang kehilangan pekerjaan, sabar berarti bangun esok pagi dan mengirim lamaran lagi, meski hati masih perih. Sabar tidak sama dengan pasrah tanpa usaha. Nabi Ya'qub sendiri berpesan kepada anak-anaknya agar pergi mencari kabar Yusuf dan saudaranya, dan agar tidak berputus asa dari rahmat Allah (QS. Yusuf: 87). Di tengah dukanya, beliau tetap menggerakkan ikhtiar.
Langkah kecilnya bisa sederhana. Di malam yang berat, sebelum membuka media sosial, ambil wudhu dan bisikkan keluhmu dalam sujud. Ucapkan istirja' di benturan pertama. Bacalah Surah Yusuf pelan-pelan, ayat demi ayat, dan biarkan kisah ayah yang menunggu itu menemanimu menunggu. Lalu basahi lisan dengan sholawat kepada Rasulullah SAW. Bukan sebagai imbalan agar masalah cepat selesai, tetapi untuk menautkan hati kepada sosok yang paling paham arti kehilangan dan tetap memilih ridha.
Mungkin ujianmu belum selesai hari ini. Mungkin kabar baik itu masih jauh, seperti gamis Yusuf yang baru tiba setelah bertahun-tahun. Tinggal satu pertanyaan yang hanya bisa kamu jawab sendiri: selama ini, kepada siapa kamu mengadukan lukamu? Dan sudahkah kamu mencoba membawanya pulang kepada Allah SWT?
Belajar sabar tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang menapaki jalan yang sama: merawat hati lewat sholawat dan tadarus Al-Qur'an, pelan-pelan, tanpa paksaan dan tanpa ajang pamer jumlah. Jika berkenan, mulailah setor sholawat bersama di sini, atau ikut membaca Al-Qur'an bersama. Barangkali Surah Yusuf bisa menjadi pintu pertamamu.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Yusuf: 18, 84, 86, dan 87 tentang shabrun jamil Nabi Ya'qub 'alaihissalam.
- Hadis: HR. Muslim (urusan mukmin seluruhnya baik); HR. Bukhari dan Muslim (sabar pada benturan pertama); HR. Bukhari (tangisan Rasulullah SAW atas wafatnya Ibrahim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.