Kita sering berpikir tetangga yang baik itu cukup yang tidak bikin masalah: tidak berisik, tidak parkir sembarangan, tidak ikut campur. Tapi Rasulullah SAW pernah bersumpah tiga kali tentang tetangga, dan isi sumpah itu jauh lebih berat daripada sekadar “tidak bikin masalah”.
Coba ingat kapan terakhir kali Anda mengetuk pintu rumah sebelah tanpa keperluan apa pun. Bukan untuk menitip paket, bukan untuk protes soal motor yang menghalangi jalan, bukan karena urusan iuran RT. Di banyak perumahan kota, kita bisa tinggal lima tahun bersebelahan dengan sebuah keluarga tanpa tahu nama anak-anaknya. Kita hafal suara pintu garasinya, tapi tidak tahu kalau sudah tiga minggu ibunya terbaring sakit. Komunikasi kita dengan tetangga habis di grup WhatsApp warga, dan itu pun lebih sering soal keluhan sampah atau jadwal ronda.
Lalu ada beban yang jarang diucapkan. Tetangga yang renovasinya berbulan-bulan sampai bayi Anda tak bisa tidur siang. Tetangga yang anjing atau kucingnya buang kotoran di teras. Tetangga yang pernah menyindir di grup dan sejak itu Anda memilih menunduk tiap berpapasan. Banyak orang lelah di kantor, lalu pulang ke rumah yang seharusnya jadi tempat berteduh, tapi justru menemukan ketegangan diam-diam di balik tembok. Rasanya berat. Kita ingin dihormati, tapi juga capek menjadi pihak yang selalu mengalah. Di titik inilah Islam ternyata tidak datang dengan kalimat ringan. Ia datang dengan perintah yang membuat kita terdiam.
Ketika Jibril Terus Berwasiat tentang Tetangga
Ada satu pengakuan Rasulullah SAW yang menggambarkan betapa seriusnya urusan ini di sisi langit. Beliau bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Terjemah makna: Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira ia akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris. (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan bobot kalimat ini. Ahli waris adalah lingkaran paling dalam: anak, istri, orang tua. Wasiat yang berulang itu begitu kuat sampai Rasulullah SAW mengira tetangga akan dimasukkan ke lingkaran tersebut. Artinya, dalam timbangan wahyu, orang di balik tembok rumah kita tidak pernah dianggap orang asing.
Al-Qur'an pun menempatkan tetangga dalam satu tarikan napas dengan perintah tauhid dan berbakti kepada orang tua:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Terjemah makna: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. An-Nisa: 36)
Para ulama tafsir memberi beberapa penjelasan tentang al-jar dzil qurba dan al-jar al-junub. Sebagian memaknainya tetangga yang rumahnya dekat dan yang lebih jauh; sebagian lain memaknainya tetangga yang masih kerabat dan yang bukan kerabat; ada pula yang memahami tetangga yang seiman dan yang berbeda keyakinan. Perbedaan penafsiran ini justru memperluas makna: siapa pun yang tinggal berdekatan dengan kita, apa pun hubungan dan keyakinannya, punya hak untuk diperlakukan dengan ihsan. Perhatikan pula penutup ayat itu: Allah SWT tidak menyukai orang yang sombong. Seolah ada isyarat halus bahwa sikap dingin dan merasa tak butuh kepada tetangga sering berakar dari kesombongan yang tidak kita sadari.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Hak Tetangga Bukan Sekadar Tidak Menyakiti
Imam Al-Ghazali membahas hak tetangga dalam Ihya' Ulumuddin Juz 2, pada Kitab Adab al-Ulfah wal-Ukhuwwah wash-Shuhbah, yaitu kitab tentang adab pergaulan, persaudaraan, dan persahabatan. Di sana beliau menulis kalimat yang terasa menampar kebiasaan kita: hak bertetangga bukan hanya menahan diri dari menyakiti, tetapi juga ihtimal al-adza, yaitu sabar menanggung gangguan dari tetangga.
Inilah dimensi batin yang sering luput. Kebanyakan dari kita merasa sudah cukup baik karena “saya tidak pernah mengganggu siapa-siapa”. Al-Ghazali menggeser ukurannya. Kebaikan bertetangga diuji justru ketika tetangga yang mengganggu kita, lalu kita memilih tidak membalas dengan dendam. Beliau kemudian merinci adab-adabnya: mendahului memberi salam, menjenguk ketika sakit, bertakziyah ketika tertimpa musibah, ikut bergembira ketika ia bahagia, memaafkan kekeliruannya, tidak mengintip urusan rumahnya, tidak mempersempit jalannya, dan menutupi aib yang tak sengaja kita ketahui.
Bagi orang yang sedang memendam kesal kepada tetangga, kalimat Al-Ghazali ini memang tidak nyaman. Tapi di sinilah letak obatnya. Dendam yang kita simpan setiap kali melewati pagar rumah sebelah adalah beban yang kita pikul sendiri. Tetangga itu mungkin sudah lupa, sementara hati kita terus menyala. Menanggung gangguan, dalam kacamata tasawuf, bukan kekalahan. Itu cara membebaskan hati dari penjara yang kita bangun sendiri.
Baca Juga
Kenapa Nabi Dawud, Seorang Raja, Memilih Makan dari Keringatnya Sendiri?
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab yang Turun Menjadi Amal Nyata
Kalau Al-Ghazali menyelami batinnya, Imam An-Nawawi menurunkannya menjadi amal yang terukur. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun satu bab khusus berjudul Bab Haqq al-Jar wal-Washiyyah bihi, yaitu bab tentang hak tetangga dan wasiat untuk berbuat baik kepadanya. Bab itu beliau buka dengan QS. An-Nisa: 36, lalu diikuti hadits-hadits yang sangat membumi.
Salah satunya wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar:
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاhَدْ جِيرَانَكَ
Terjemah makna: Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya, lalu perhatikanlah tetanggamu. (HR. Muslim)
Betapa sederhana. Bukan perintah membagikan daging kurban setiap pekan, melainkan menambah sedikit air pada sayur supaya ada yang bisa diantar ke rumah sebelah. Rasulullah juga berpesan agar seorang perempuan tidak meremehkan hadiah untuk tetangganya walaupun hanya kaki kambing (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika Aisyah RA bertanya kepada tetangga yang mana ia sebaiknya memberi hadiah, Rasulullah menjawab: kepada yang pintunya paling dekat denganmu (HR. Bukhari).
Dari hadits-hadits ini terlihat urutan prioritas yang jelas dan praktis. Kebaikan dimulai dari yang paling dekat, dari yang paling kecil, dan dari yang paling mungkin dilakukan hari ini. Di bab yang sama juga dimuat sumpah Rasulullah SAW yang disebut di awal tulisan ini:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
Terjemah makna: Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Ada yang bertanya: Siapa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dinafikan di sini adalah kesempurnaan iman, bukan pokok iman. Meski begitu, peringatannya tetap mengguncang. Rasa aman tetangga ternyata menjadi salah satu cermin kejujuran iman kita.
Relevansinya Hari Ini: Tetangga di Zaman Pagar Tinggi
Dua perspektif tadi saling melengkapi. Al-Ghazali menyiapkan hati yang lapang agar sanggup menanggung gangguan, sementara An-Nawawi memberi peta amal yang konkret agar kelapangan itu terlihat dalam perbuatan. Tanpa yang pertama, kebaikan kita kepada tetangga mudah berubah jadi basa-basi yang menyimpan dongkol. Tanpa yang kedua, kelapangan hati hanya tinggal perasaan yang tak pernah sampai ke pintu rumah sebelah.
Hari ini bentuk bawa'iq, yaitu gangguan kepada tetangga, punya wajah baru. Bisa berupa knalpot yang digeber tengah malam, musik keras di akhir pekan, sampah renovasi yang menumpuk di depan rumah orang, kamera CCTV yang mengarah ke jendela tetangga, atau sindiran halus di grup warga yang dibaca puluhan orang. Ada pula gangguan yang lebih sunyi: tetangga lansia yang tinggal sendirian dan tidak ada yang menengok, atau keluarga yang sedang terlilit utang dan malu meminta tolong, sementara kita sibuk dengan urusan sendiri di balik pagar.
Hikmah bertetangga juga menjawab kelelahan batin masyarakat kota. Banyak orang merasa kesepian justru ketika dikelilingi ratusan rumah. Ilmu yang diwariskan para ulama ini mengingatkan bahwa ketenangan hidup tidak hanya dibangun di dalam rumah, tetapi juga di antara rumah-rumah. Lingkungan yang saling menjaga adalah benih peradaban: dari semangkuk sayur yang diantar, lahir rasa percaya; dari rasa percaya, lahir ukhuwah; dari ukhuwah, lahir masyarakat yang saling menguatkan saat ada yang jatuh.
Langkah Kecil yang Bisa Dimulai Sore Ini
- Hafalkan nama. Mulai dari nama tetangga di kanan, kiri, dan depan rumah, termasuk nama anak-anaknya. Menyapa dengan nama adalah bentuk penghormatan paling sederhana.
- Dahului salam dan senyum. Terutama kepada tetangga yang hubungannya sedang renggang. Di sinilah latihan ihtimal al-adza dimulai.
- Lebihkan sedikit masakan. Tidak perlu mewah. Wasiat kepada Abu Dzar cukup menjadi panduan: tambahkan air pada kuah, lalu antar ke pintu terdekat.
- Periksa gangguan dari diri sendiri. Suara, parkir, sampah, cahaya lampu, dan kata-kata di grup warga. Sebelum menuntut hak, pastikan tetangga merasa aman dari kita.
- Tengok yang sunyi. Lansia yang tinggal sendiri, keluarga yang baru berduka, atau tetangga yang lama tidak terlihat keluar rumah.
Semua ini kembali pada cinta kepada Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya mengajarkan sholat dan dzikir; beliau juga mengajarkan cara menjadi orang yang kehadirannya menenangkan lingkungan. Barangkali sudah waktunya kita bertanya dengan jujur: kalau tetangga di sebelah rumah ditanya tentang kita hari ini, apakah ia akan bercerita tentang rasa aman, atau tentang luka yang selama ini ia simpan diam-diam?
Belajar menjadi tetangga yang menenangkan adalah perjalanan panjang, dan perjalanan seperti ini lebih ringan bila ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: merawat hati lewat sholawat, membaca Al-Qur'an pelan-pelan, lalu membawa kelembutannya pulang ke rumah dan ke lingkungan sekitar. Jika ingin ikut melangkah, Anda bisa bergabung di member.alfatihrps.com, tempat belajar sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. An-Nisa: 36 tentang perintah berbuat baik kepada tetangga dekat dan tetangga jauh.
- Hadis: wasiat Jibril tentang tetangga (HR. Bukhari dan Muslim); sumpah Rasulullah SAW tentang orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya (HR. Bukhari); wasiat kepada Abu Dzar tentang memperbanyak kuah (HR. Muslim); hadiah kepada tetangga yang pintunya paling dekat (HR. Bukhari).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 2, Kitab Adab al-Ulfah wal-Ukhuwwah wash-Shuhbah; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Haqq al-Jar wal-Washiyyah bihi.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.