Seorang raja punya perbendaharaan negara, tentara, dan istana. Namun setiap hari ia duduk di depan tungku, menempa besi dengan tangannya sendiri. Ribuan tahun kemudian, seorang karyawan dengan gaji tetap pulang jam sembilan malam dan bertanya dalam hati: untuk apa semua ini?
Pertanyaan itu jarang diucapkan keras-keras. Ia muncul di parkiran kantor setelah rapat yang melelahkan, di kursi ojek online menjelang subuh, di warung yang sepi pembeli sampai sore. Tagihan cicilan datang tepat waktu, sementara rasa lelahnya tidak pernah benar-benar pergi. Yang paling menyakitkan sering kali bukan capeknya, tetapi rasa hampa: bekerja keras bertahun-tahun, tetapi hati merasa tidak sedang menuju ke mana-mana.
Banyak orang mengira obatnya adalah pekerjaan lain, gaji lebih besar, atau pensiun dini. Kadang memang begitu. Tetapi ada luka yang tidak sembuh dengan pindah kantor, yaitu kerja yang sudah terputus dari tujuannya. Kerja seperti ini tetap menghasilkan uang, tetapi tidak lagi memberi makna. Di titik inilah kisah seorang nabi yang juga raja menjadi cermin yang jujur.
Ketika Seorang Raja Memilih Menempa Besi
Al-Qur'an menyebut Nabi Dawud 'alaihissalam sebagai hamba yang diberi karunia besar: kerajaan, hikmah, dan suara yang indah saat bertasbih. Namun di tengah kemuliaan itu, Allah SWT juga menyebut sebuah detail yang tampak sederhana, yaitu pekerjaan tangannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemah makna: Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Saba': 10-11)
Ada tiga hal yang jarang diperhatikan dalam ayat ini. Pertama, perintah “buatlah baju besi” datang dalam rangkaian yang sama dengan pujian atas tasbihnya. Kerja tangan dan zikir tidak dipisahkan dalam satu kalimat. Kedua, ada perintah wa qaddir fis-sard, ukurlah anyamannya dengan cermat. Allah SWT tidak hanya memerintahkan bekerja, tetapi juga bekerja dengan presisi. Ketiga, ayat ini ditutup dengan innī bimā ta'malūna bashīr, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Seluruh kerja seorang hamba, dari tungku sampai anyaman terakhir, berlangsung di bawah penglihatan Allah SWT.
Rasulullah SAW sendiri mengangkat Nabi Dawud sebagai teladan dalam urusan penghidupan. Beliau bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Terjemah makna: Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud 'alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya. (HR. Bukhari)
Seorang raja tentu tidak membutuhkan upah dari menempa besi. Justru karena itu kisah ini menohok. Kerja Nabi Dawud tidak lahir dari desakan perut. Kerja itu lahir dari kesadaran bahwa bekerja adalah ibadah, dan penghidupan yang bersih adalah bagian dari pengabdian. Rasulullah pun menceritakan bahwa beliau pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath (HR. Bukhari). Para nabi mengenal debu, keringat, dan upah yang kecil. Kerja tidak pernah merendahkan mereka.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Pasar Dunia dan Pasar Akhirat
Imam Al-Ghazali menyediakan satu kitab khusus tentang kerja dalam Ihya' 'Ulumiddin, yaitu Kitab Adab al-Kasb wa al-Ma'asy (Adab Mencari Nafkah dan Penghidupan) pada Juz 2, bagian Rub' al-'Adat (seperempat tentang kebiasaan hidup). Penempatannya bermakna: urusan mencari nafkah tidak diletakkan di luar agama, tetapi dibahas bersama adab makan, pernikahan, dan pergaulan sebagai wilayah hidup yang bisa bernilai ibadah.
Inti dimensi batin yang beliau tekankan adalah niat dan kesadaran. Bagi Al-Ghazali, orang yang bekerja semestinya berniat menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia, mencukupi keluarga yang menjadi tanggungannya, dan menunaikan hak sesama. Beliau juga mengingatkan agar pasar dunia tidak menyibukkan seseorang sampai lupa pada “pasar akhirat”, yaitu masjid, zikir, dan kewajiban-kewajibannya. Penghidupan adalah jalan menuju tujuan, bukan tujuan itu sendiri.
Di sinilah letak jawaban atas rasa hampa tadi. Kelelahan yang paling berat sering bukan kelelahan fisik, tetapi kelelahan karena kerja yang tidak lagi punya arah vertikal. Ketika kerja hanya dihitung dengan angka gaji, hati ikut mengukur dirinya dengan angka itu: naik saat bonus cair, lalu runtuh saat target tidak tercapai. Al-Ghazali mengajak kita menambahkan satu arah lagi. Pekerjaan yang sama bisa dijalani untuk mencari ridha Allah SWT, dan dari situ hati mendapat pijakan yang tidak ikut goyah bersama angka.
Perspektif Imam An-Nawawi: Suapan yang Menjadi Sedekah
Kalau Al-Ghazali membuka dimensi batin, Imam An-Nawawi memberi pijakan amal yang sangat praktis. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau membuka seluruh kitabnya dengan Bab al-Ikhlash wa Ihdhar an-Niyyah (Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat). Di bab itu, beliau mencantumkan hadits Sa'ad bin Abi Waqqash ketika Rasulullah SAW menjenguknya dan bersabda:
Baca Juga
Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ
Terjemah makna: Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang dengannya engkau mencari wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala karenanya, sampai suapan yang engkau letakkan di mulut istrimu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan frasa tabtaghī bihā wajhallāh, yaitu mencari wajah Allah SWT dengannya. Inilah inti “menuntut ridha Allah SWT” dalam bekerja. Dalam syarahnya atas Shahih Muslim, pada penjelasan hadits ini, Imam An-Nawawi menyimpulkan bahwa perkara mubah, jika diniatkan untuk mencari wajah Allah SWT, berubah menjadi ketaatan yang berpahala. Menyuapi istri adalah hal paling biasa di rumah tangga. Namun dengan niat, hal biasa itu naik derajatnya.
Dimensi fiqih ini memberi kabar yang sangat melegakan bagi pekerja biasa. Kita tidak harus meninggalkan kantor, bengkel, atau lapak supaya bisa beribadah. Gaji yang dipakai untuk susu anak, uang sekolah, atau obat orang tua bisa menjadi sedekah di sisi Allah SWT, dengan syarat sumbernya halal dan niatnya diluruskan. Keduanya saling melengkapi: Al-Ghazali menjaga arah hati, dan An-Nawawi menunjukkan bagaimana arah itu mengubah nilai amal.
Relevansinya Hari Ini
Ada godaan halus pada orang yang lelah bekerja: ingin berhenti dari semua urusan dunia, lalu “fokus ibadah saja”. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari menjawab godaan ini dalam hikmah kedua kitab Al-Hikam:
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ
Terjemah makna: Keinginanmu untuk tajrid (lepas dari usaha duniawi), padahal Allah menempatkanmu dalam asbab (jalan usaha), termasuk syahwat yang tersembunyi. Keinginanmu untuk sibuk dengan asbab, padahal Allah menempatkanmu dalam tajrid, adalah turun dari cita-cita yang luhur.
Maknanya lembut sekaligus tegas. Jika hari ini Allah SWT menempatkanmu sebagai karyawan, pedagang, sopir, atau buruh, tempat itulah medan ibadahmu. Kerja bukan penghalang antara kamu dan Allah SWT. Kerja bisa menjadi pintumu menuju-Nya. Bagi yang terhimpit utang, kerja yang jujur adalah ikhtiar melunasi amanah. Bagi yang lelah dengan atasan, pekerjaan yang dilakukan dengan cermat seperti anyaman baju besi Nabi Dawud tetap dilihat oleh Yang Maha Melihat, meski tidak dihargai manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Terjemah makna: Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah: 105)
Menuntut ridha Allah SWT dalam bekerja tidak berarti gaji menjadi haram untuk dipikirkan atau karier tidak boleh dikejar. Para ulama justru menempatkan nafkah halal sebagai kewajiban yang mulia. Bedanya ada pada urutan. Ridha Allah SWT menjadi tujuan, sedangkan gaji menjadi sarana. Ketika urutannya benar, hati tidak mudah hancur saat rezeki terasa sempit dan tidak mudah sombong saat rezeki lapang. Dari sini muncul langkah-langkah kecil yang bisa langsung dijalani:
- Luruskan niat setiap pagi dengan kalimat sederhana: aku bekerja untuk menjaga diri, menafkahi keluarga, dan mencari ridha-Mu.
- Jaga kejujuran dalam hal kecil seperti jam kerja, laporan, dan timbangan. Ridha Allah SWT tidak bertemu dengan penghasilan yang keruh.
- Kerjakan dengan cermat, seperti perintah qaddir fis-sard, meski tidak ada yang mengawasi.
- Sisipkan zikir dan sholawat di sela jeda kerja agar pasar dunia tidak menenggelamkan pasar akhirat.
Nabi Dawud menempa besi dan bertasbih dengan tangan yang sama. Maka pertanyaan yang pantas dibawa pulang malam ini bukan berapa yang sudah kamu hasilkan. Pertanyaannya lebih sunyi: kalau besok Allah SWT memperlihatkan seluruh kerjamu hari ini, untuk siapa sebenarnya kamu melakukannya?
Meluruskan niat seperti ini jarang selesai dalam sehari. Hati perlu diingatkan terus, pelan-pelan, bersama orang-orang yang sedang belajar hal yang sama. Di komunitas AlFatihRPS, para pejuang saling menemani untuk istiqomah bersholawat dan membaca Al-Qur'an di sela kesibukan kerja, tanpa tekanan dan tanpa ajang pamer. Jika ingin punya teman seperjalanan, mari belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com: sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Saba': 10-11 dan QS. At-Taubah: 105.
- Hadis: HR. Bukhari (makan dari hasil kerja tangan, kisah Nabi Dawud; Nabi menggembala kambing) dan HR. Bukhari-Muslim (hadits Sa'ad bin Abi Waqqash tentang nafkah yang mencari wajah Allah SWT).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin (Juz 2, Kitab Adab al-Kasb wa al-Ma'asy); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab al-Ikhlash wa Ihdhar an-Niyyah) dan Syarh Shahih Muslim; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam (hikmah ke-2).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.