Ada satu kata dalam doa Nabi Sulaiman yang sering dilewatkan pembaca Al-Qur'an. Ketika ia melihat singgasana Ratu Saba' terhidang di hadapannya dalam sekejap mata, ia tidak berkata “aku hebat”. Ia justru berkata sesuatu yang membalik seluruh logika kekuasaan. Dan kata itu adalah kunci yang membuat syukur menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar ucapan “alhamdulillah”.
Pukul enam pagi, alarm berbunyi, dan hal pertama yang kita rasakan bukan rasa terima kasih karena masih diberi napas — melainkan keluhan bahwa tidur terasa kurang. Kopi terhidang, tapi pikiran sudah melayang ke cicilan yang jatuh tempo. Anak-anak sehat berlarian, tapi mata kita justru tertuju pada layar HP, membandingkan hidup dengan orang lain yang tampak lebih mapan. Nikmat menumpuk di sekeliling kita setiap detik, namun hati terasa kering seolah tidak pernah cukup.
Inilah paradoks manusia modern: semakin banyak yang dimiliki, semakin sulit merasa cukup. Bukan karena nikmatnya berkurang, melainkan karena mata hati kita terlatih untuk melihat yang belum ada, dan buta terhadap yang sudah ada. Padahal syukur, dalam pandangan para ulama, bukan sekadar sopan santun kepada Allah SWT — ia adalah jalan pembebasan dari penjara ketidakpuasan yang tak berujung.
Rahasia di Balik Doa Nabi Sulaiman
Mari kembali ke kisah yang membuka tulisan ini. Nabi Sulaiman diberi kerajaan yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun sesudahnya: menguasai angin, memahami bahasa burung dan semut, memerintah bala tentara dari kalangan manusia dan jin. Ketika singgasana megah Ratu Saba' berhasil dipindahkan ke hadapannya sebelum kedipan matanya usai, respons beliau diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya:
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Terjemah makna: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia. (QS. An-Naml: 40)
Perhatikan kata yang sering dilewatkan itu: liyabluwani — untuk mengujiku. Nabi Sulaiman tidak memandang nikmat sebagai bukti kehebatan dirinya, melainkan sebagai ujian. Nikmat besar bukan sekadar hadiah untuk dinikmati, tetapi amanah yang menuntut jawaban: akankah aku bersyukur, atau justru lupa diri? Di sinilah letak kedewasaan spiritual yang jarang kita miliki. Kita cenderung menganggap nikmat sebagai hak yang wajar, bukan titipan yang harus dipertanggungjawabkan.
Dan kalimat berikutnya lebih dalam lagi: barangsiapa bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Syukur ternyata tidak menambah apa pun bagi Allah SWT yang Mahakaya. Yang diuntungkan justru diri kita — hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan nikmat yang dijaga agar tidak lenyap.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Syukur sebagai Cahaya Mata Hati
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, khususnya pada Kitab Ash-Shabr wasy-Syukr (Juz 4), menguraikan bahwa syukur tersusun dari tiga unsur yang tak terpisahkan: pengetahuan (ilmu), keadaan hati (hal), dan amal perbuatan (amal). Ilmu adalah menyadari bahwa setiap nikmat datang murni dari Allah SWT, bukan dari usaha kita semata. Keadaan hati adalah kegembiraan dan kecintaan yang lahir karena Sang Pemberi, bukan sekadar senang pada pemberian. Sedangkan amal adalah menggunakan nikmat itu di jalan yang diridhai-Nya.
Menurut Al-Ghazali, banyak orang gagal bersyukur bukan karena tidak tahu nikmat itu ada, melainkan karena mata hatinya tertutup oleh kebiasaan. Nikmat yang datang terus-menerus — udara, penglihatan, kesehatan, keluarga — justru paling sering dilupakan justru karena keberadaannya yang tetap. Kita baru menyadari nilai sebuah nikmat saat ia dicabut: baru merasakan berharganya sehat ketika sakit, baru merindukan orang tua ketika mereka tiada.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa hakikat syukur adalah melihat Sang Pemberi di balik setiap pemberian. Orang yang hanya melihat pemberian akan terjebak pada rasa cukup yang semu, sementara orang yang melihat Pemberi akan menemukan ketenangan yang tak tergantung pada bertambah atau berkurangnya nikmat. Inilah dimensi batin syukur: ia adalah cahaya yang membuat mata hati mampu membaca kasih sayang Allah SWT dalam hal-hal kecil yang terlewatkan.
Perspektif Ibnu Qayyim: Syukur yang Menjelma dalam Amal
Jika Al-Ghazali menekankan dimensi batin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin (Jilid 2, pada pembahasan manzilah asy-syukr) melengkapinya dengan dimensi amal yang konkret. Beliau menegaskan bahwa syukur sejati tampak pada tiga anggota: hati yang mengakui dan mencintai, lisan yang memuji dan menyebut, serta anggota badan yang tunduk dalam ketaatan. Syukur yang hanya berhenti di lisan tanpa membuahkan perubahan perilaku, menurut beliau, belum menyentuh hakikatnya.
Baca Juga
Ketika Amal Diam-diam Ingin Ditonton: Membedah Riya Menurut Al-Ghazali
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa ukuran syukur seseorang bukan pada seberapa fasih ia mengucap “alhamdulillah”, melainkan pada bagaimana ia memperlakukan nikmat itu. Harta disyukuri dengan menunaikan haknya kepada yang membutuhkan; ilmu disyukuri dengan mengamalkan dan mengajarkannya; kesehatan disyukuri dengan digunakan untuk ibadah dan kebaikan. Nikmat yang disyukuri dengan benar, kata beliau, akan diikat oleh Allah SWT agar tidak lepas, sebagaimana firman-Nya:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Terjemah makna: Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)
Kedua pandangan ini — Al-Ghazali dengan kedalaman batinnya, dan Ibnu Qayyim dengan ketegasan amalnya — bukanlah dua jalan yang berlawanan, melainkan dua sayap dari burung yang sama. Syukur yang benar berpangkal pada hati yang menyadari, mengalir ke lisan yang memuji, dan bermuara pada perbuatan yang berbuah kebaikan.
Melatih Syukur di Tengah Beban Hidup
Lalu bagaimana menghidupkan syukur ketika hidup terasa berat — utang menumpuk, pekerjaan menekan, rumah tangga menguras batin? Justru di titik terberat itulah syukur menjadi paling menyembuhkan. Rasulullah SAW mengajarkan cara pandang yang membalik keadaan:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Terjemah makna: Pandanglah orang yang berada di bawahmu dan jangan memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. (HR. Muslim)
Hadits ini bukan mengajarkan kita puas dengan kemalasan, melainkan menata arah pandangan hati. Dalam urusan dunia, arahkan pandangan ke bawah agar hati penuh syukur; dalam urusan akhirat dan ketaatan, arahkan pandangan ke atas agar terus terpacu memperbaiki diri. Kesalahan kita hari ini justru terbalik: kita memandang ke atas dalam urusan dunia sehingga selalu merasa kurang, dan memandang ke bawah dalam urusan akhirat sehingga merasa sudah cukup baik.
Ada langkah-langkah kecil yang bisa dimulai hari ini tanpa harus menunggu keadaan membaik:
- Sebelum tidur, sebut tiga nikmat yang kita terima hari ini, sekecil apa pun — sepiring nasi, senyuman anak, atau sekadar napas yang masih berjalan.
- Ketika keluhan hendak keluar dari lisan, gantilah dengan “alhamdulillah 'ala kulli hal” — segala puji bagi Allah SWT dalam segala keadaan.
- Salurkan sebagian nikmat kepada yang membutuhkan, karena syukur yang menjelma dalam berbagi akan mengikat nikmat itu agar tetap tinggal.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menyampaikan hikmah yang menenangkan: siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti ia sedang meminta agar nikmat itu lenyap; dan siapa yang mensyukurinya, berarti ia telah mengikatnya dengan tali yang kuat. Syukur, pada akhirnya, bukan beban tambahan bagi orang yang lelah — melainkan cara paling lembut untuk menyembuhkan hati yang letih.
Kembali ke pertanyaan Nabi Sulaiman: apakah aku bersyukur atau mengingkari? Setiap pagi, sebelum keluhan pertama terucap, pertanyaan itu sesungguhnya diajukan kembali kepada kita masing-masing. Jawaban kita hari ini akan menentukan seberapa lapang hati kita menghadapi hari esok. Lalu, nikmat mana yang selama ini kita lewatkan begitu saja?
Melatih hati untuk bersyukur adalah perjalanan panjang yang lebih ringan bila ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar menata hati melalui langkah-langkah kecil yang konsisten — merutinkan sholawat kepada Rasulullah SAW dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an sebagai cara menumbuhkan mahabbah dan rasa syukur. Jika hatimu rindu suasana yang menenangkan itu, klik di sini untuk mulai setor sholawat atau membaca Al-Qur'an bersama — pelan-pelan, tanpa paksaan, menuju hati yang lebih bersyukur.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. An-Naml ayat 40 dan QS. Ibrahim ayat 7 tentang syukur sebagai ujian dan sebab bertambahnya nikmat.
- Hadis riwayat Imam Muslim tentang memandang orang yang berada di bawah dalam urusan dunia.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (Kitab Ash-Shabr wasy-Syukr, Juz 4); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin (manzilah asy-syukr); serta Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah As-Sakandari.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.