Ayat itu turun ketika Rasulullah SAW sedang menanggung ucapan-ucapan yang menyakitkan dari kaum yang mendustakan beliau. Allah SWT tidak memerintahkan beliau membalas, tidak juga menyuruh beliau diam dan memendam. Yang jarang ditanyakan orang: kenapa obat yang diberikan justru terikat pada waktu, yaitu sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam?
Coba ingat pagi Anda kemarin. Mata belum benar-benar terbuka, tangan sudah meraih HP. Ada pesan atasan yang dikirim pukul 05.12, grup keluarga yang ramai membahas utang cicilan saudara, dan notifikasi pinjaman yang jatuh tempo lusa. Belum sempat mencuci muka, dada sudah sesak. Sorenya, Anda pulang dalam kemacetan dengan kepala penuh, sampai rumah tidak punya sisa tenaga untuk anak dan pasangan. Hari berlalu begitu saja: dibuka dengan cemas, ditutup dengan lelah.
Banyak dari kita tidak kekurangan ibadah wajib. Kita shalat, kadang tepat waktu. Tetapi ada ruang kosong di antara bangun tidur dan mulai bekerja, juga di antara pulang kerja dan malam, yang diisi oleh kecemasan. Ruang itulah yang direbut lebih dulu oleh dunia. Dan barangkali di situ letak rahasianya: siapa yang lebih dulu mengisi pintu-pintu waktu, dialah yang mewarnai seluruh hari.
Kenapa Justru Pagi dan Petang?
Perintah yang tadi disinggung terekam dalam firman Allah SWT:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
Terjemah makna: Maka bersabarlah engkau atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam. (QS. Qaf: 39)
Perhatikan susunannya. Sabar disebut lebih dulu, lalu langsung disambung dengan tasbih pada dua ujung hari. Seakan-akan Al-Qur'an mengajarkan bahwa sabar bukan otot yang dikencangkan dengan tekad semata. Sabar perlu diberi makan, dan makanannya adalah dzikir yang ditanam pada pergantian waktu. Pagi adalah pintu sebelum hati diserbu urusan, sedangkan petang adalah pintu sebelum hati tenggelam dalam sisa-sisa kepenatan. Siapa yang menjaga kedua pintu itu, hari-harinya tidak mudah dijebol.
Perintah serupa diulang kepada seluruh orang beriman, bukan hanya kepada Nabi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. Al-Ahzab: 41-42)
Kata bukratan berarti awal hari, ashilan berarti waktu petang menjelang terbenam. Para mufassir menjelaskan bahwa penyebutan dua ujung waktu ini juga isyarat untuk seluruh hari: yang diawali dan diakhiri dengan Allah SWT, bagian tengahnya ikut terjaga. Persis seperti dua sisi tali yang diikat rapi, isinya tidak tercecer.
Rasulullah SAW kemudian merinci perintah umum itu menjadi amalan yang bisa dipegang. Sahabat Utsman bin Affan meriwayatkan bahwa siapa yang membaca tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu petang:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Terjemah makna: Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi; At-Tirmidzi menilainya hasan shahih)
Hadits ini bukan jimat. Ia pengakuan yang diucapkan setiap pagi: aku berangkat hari ini bukan dengan kekuatanku sendiri. Bagi seseorang yang tiap pagi menghadapi tagihan, atasan yang sulit, atau rumah tangga yang retak, pengakuan kecil ini mengubah posisi batin, dari prajurit yang sendirian menjadi hamba yang dilindungi.
Perspektif Ibnu 'Athaillah: Wirid yang Diremehkan
Ada satu keluhan yang jujur dan sering terdengar: “Saya sudah coba dzikir pagi, tapi pikiran ke mana-mana. Rasanya percuma.” Keluhan ini dijawab dengan sangat lembut oleh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam. Dalam hikmah tentang dzikir, beliau berpesan agar seseorang tidak meninggalkan dzikir hanya karena hatinya belum hadir bersama Allah SWT di dalamnya. Sebab, lalai dari dzikir sama sekali lebih buruk daripada lalai ketika sedang berdzikir. Beliau berharap Allah SWT mengangkat seseorang dari dzikir yang disertai kelalaian menuju dzikir yang disertai kesadaran, lalu menuju dzikir yang disertai kehadiran hati.
Baca Juga
Bukratan wa Ashila: Dua Jangkar Hati yang Hilang dari Hari Kita
Ini kabar yang menenangkan bagi orang-orang yang lelah. Dzikir bukan ujian konsentrasi yang harus lulus sempurna sejak hari pertama. Ia seperti jalan setapak: mula-mula dilewati dengan tersandung-sandung, lama-lama menjadi jalan yang terang. Lidah yang terus bergerak pada akhirnya menarik hati untuk ikut.
Dalam hikmah lain tentang wirid (amalan rutin yang dijaga) dan warid (anugerah rasa yang Allah SWT turunkan ke hati), Ibnu 'Athaillah mengingatkan bahwa tidak ada yang meremehkan wirid kecuali orang yang sangat tidak mengerti. Warid, yaitu kenikmatan dan manisnya rasa, akan dijumpai sepenuhnya di akhirat, sedangkan wirid akan berakhir bersama berakhirnya dunia. Maka yang paling layak dijaga adalah wirid, karena wirid adalah hak Allah SWT atas kita, sedangkan warid adalah sesuatu yang kita harapkan dari-Nya.
Di sinilah dimensi batin dzikir pagi dan petang menemukan maknanya. Kita tidak berdzikir untuk memburu rasa tenang seperti orang memburu hiburan. Kita berdzikir karena itu adab seorang hamba kepada Tuhannya. Ketenangan, jika datang, adalah hadiah, bukan bayaran. Justru ketika dzikir dilepaskan dari tuntutan hasil, hati menjadi lapang, dan dari kelapangan itulah ketenangan tumbuh. Firman Allah SWT telah menjaminnya dengan kalimat yang pendek dan tegas:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Terjemah makna: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
Perspektif Imam An-Nawawi: Waktu, Takaran, dan Mengganti yang Terlewat
Jika Ibnu 'Athaillah menjaga ruh dzikir, Imam An-Nawawi menjaga bentuk amalnya. Dalam Al-Adzkar, pada bab dzikir pagi dan petang, beliau menghimpun bacaan-bacaan yang bersumber dari hadits dan menjelaskan waktunya. Para ulama menerangkan bahwa dzikir pagi dibaca setelah shalat Subuh hingga terbit matahari, sedangkan dzikir petang dibaca setelah Ashar hingga terbenam. Sebagian ulama juga memandang ada kelonggaran untuk membacanya setelah waktu-waktu itu bagi yang berhalangan. Perbedaan seperti ini berada di wilayah furu', yaitu cabang dan teknis ibadah, bukan inti akidah. Setiap muslim bisa mengikuti bimbingan ulama dan guru yang ia percayai dengan hati yang tenang.
Salah satu bacaan yang paling agung keutamaannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim. Rasulullah bersabda bahwa siapa yang mengucapkan subhanallah wa bihamdihi seratus kali ketika pagi dan ketika petang, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat membawa amalan yang lebih utama darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti itu atau lebih. (HR. Muslim)
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Terjemah makna: Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.
Ada pula Sayyidul Istighfar, penghulu istighfar, yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Syaddad bin Aus. Rasulullah menjelaskan bahwa siapa yang membacanya di siang hari dengan yakin lalu wafat sebelum petang, ia termasuk penghuni surga, begitu pula yang membacanya di malam hari dengan yakin lalu wafat sebelum pagi. (HR. Bukhari) Di dalamnya ada pengakuan yang sangat manusiawi: aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku. Pagi yang dibuka dengan pengakuan jujur seperti ini lebih ringan daripada pagi yang dibuka dengan berpura-pura kuat.
Imam An-Nawawi juga memberi nasihat yang sangat praktis dalam Al-Adzkar: siapa yang memiliki wirid dzikir pada waktu tertentu lalu terlewat, hendaknya ia menggantinya ketika sempat dan jangan meninggalkannya. Dengan begitu, jiwanya tidak terbiasa meremehkan amalan yang telah ia jaga. Nasihat ini terasa sederhana, tetapi di situlah kebijaksanaan seorang faqih. Beliau tahu manusia bisa terlambat bangun, bisa terjebak lembur, bisa jatuh sakit. Yang berbahaya bukan terlewat sekali, melainkan ketika terlewat sekali menjadi alasan untuk berhenti selamanya.
Dua perspektif ini saling melengkapi. Ibnu 'Athaillah berkata: jangan tinggalkan dzikir hanya karena hatimu belum hadir. Imam An-Nawawi berkata: jangan tinggalkan dzikir hanya karena waktunya terlewat. Keduanya menutup dua pintu yang paling sering dipakai setan untuk menjauhkan kita, yaitu rasa tidak layak dan rasa sudah terlambat.
Relevansinya Hari Ini
Kita hidup di masa ketika pagi hari sudah dijual lebih dulu sebelum kita bangun. Aplikasi berlomba menjadi hal pertama yang kita lihat, dan berita buruk selalu lebih cepat sampai daripada kabar baik. Tidak heran banyak orang memulai hari dengan jantung berdebar dan menutupnya dengan pikiran yang tidak bisa diam. Keresahan ini nyata. Ia tidak hilang hanya dengan nasihat untuk berpikir positif.
Dzikir pagi dan petang menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar menenangkan diri: ia mengembalikan urutan. Sebelum nama atasan, nama penagih, atau nama siapa pun yang menyakiti kita memenuhi kepala, yang lebih dulu disebut adalah nama Allah SWT. Bukan untuk lari dari masalah, tetapi agar kita menghadapinya dari tempat yang benar. Seorang ayah yang membaca Sayyidul Istighfar sebelum berangkat kerja tetap harus membayar cicilan, tetapi ia berangkat sebagai hamba yang sudah jujur kepada Tuhannya, bukan sebagai orang yang sendirian menanggung dunia. Seorang ibu yang bertasbih menjelang Maghrib tetap lelah, tetapi lelahnya tidak berubah menjadi amarah kepada anak-anaknya.
Mulailah dari yang sanggup dijaga. Satu bacaan perlindungan tiga kali setelah Subuh. Satu kali Sayyidul Istighfar sebelum menyalakan HP. Beberapa tasbih di perjalanan pulang. Langkah kecil yang konsisten lebih dicintai daripada semangat besar yang padam dalam seminggu, sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW bahwa amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah yang terus-menerus meski sedikit.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: besok pagi, ketika mata baru terbuka dan tangan mulai meraba-raba mencari HP, nama siapakah yang ingin Anda sebut pertama kali?
Menjaga dua ujung hari memang tidak mudah dilakukan sendirian, apalagi ketika hidup sedang berat-beratnya. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: pelan-pelan, tanpa paksaan, tanpa ajang pamer jumlah, saling menguatkan untuk istiqomah dalam dzikir, sholawat, dan tadarus. Jika hati Anda tergerak, mari belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com, sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Qaf: 39, QS. Al-Ahzab: 41-42, QS. Ar-Ra'd: 28
- Hadis: HR. Muslim (subhanallah wa bihamdihi 100x pagi dan petang), HR. Bukhari (Sayyidul Istighfar), HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi (dzikir perlindungan dari Utsman bin Affan)
- Imam An-Nawawi, Al-Adzkar (bab dzikir pagi dan petang); Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam (hikmah tentang dzikir serta wirid dan warid)
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.