Dalam satu hadits tentang sholat lima waktu, Rasulullah SAW tidak menggambarkan sungai di lembah yang jauh. Beliau menyebut sungai itu mengalir tepat di depan pintu rumah. Dua kata kecil itu hampir selalu dilewatkan orang, padahal justru di sanalah letak rahasianya.
Jam setengah enam sore. Motor tertahan di kemacetan, tagihan cicilan jatuh tempo lusa, dan grup kantor masih ramai menanyakan laporan yang belum selesai. Adzan Maghrib terdengar dari masjid di pinggir jalan. Di dalam dada muncul bisikan yang sangat akrab: nanti saja di rumah, masih keburu. Sesampainya di rumah, anak menangis, makan malam belum siap, dan sholat itu akhirnya dikerjakan dengan tubuh yang ada di atas sajadah sementara pikiran masih di jalanan.
Banyak orang tidak meninggalkan sholat. Yang terjadi lebih halus dan lebih menyakitkan: sholat tetap dikerjakan, tetapi terasa seperti satu lagi kewajiban yang harus dicentang dalam hari yang sudah penuh. Lalu muncul pertanyaan yang jarang berani diucapkan: kenapa sholatku lima kali sehari, tapi hatiku tetap kotor, tetap gelisah, dan tetap lelah? Pertanyaan itu jujur, dan ia layak dijawab pelan-pelan, bukan dengan vonis.
Hadiah yang Dijemput Langsung ke Langit
Semua ibadah wajib lain diturunkan melalui wahyu di bumi. Sholat berbeda. Dalam hadits shahih tentang Isra' Mi'raj, sholat diwajibkan langsung ketika Rasulullah SAW berada di langit, mula-mula lima puluh waktu. Atas saran Nabi Musa AS, beliau berulang kali kembali memohon keringanan hingga menjadi lima waktu. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ، لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ
Terjemah makna: Ia lima, dan ia (bernilai) lima puluh. Keputusan di sisi-Ku tidak akan diubah. (HR. Bukhari, dari Anas bin Malik)
Detail ini menyimpan kelembutan yang luar biasa. Rasulullah SAW bolak-balik memohon keringanan untuk umatnya, untuk kita yang belum lahir, yang kelak akan pulang kerja dengan tubuh remuk. Lima waktu yang terasa berat hari ini sebenarnya adalah hasil dari rasa sayang seorang Nabi yang tidak ingin umatnya terbebani. Ada cinta dalam angka lima itu. Sebelum ia menjadi kewajiban, ia adalah pemberian.
Kemudian, di Madinah, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat dengan sebuah perumpamaan yang sangat sederhana:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوا: لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ: فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا
Terjemah makna: Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu ia mandi di sana lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak tersisa sedikit pun kotorannya. Beliau bersabda: Begitulah perumpamaan sholat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)
Sungai itu tidak diletakkan di ujung kota yang harus ditempuh dengan perjalanan panjang. Ia ada di depan pintu. Artinya, jalan pulang kepada Allah SWT tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari kita, dari dapur, meja kerja, dan jok motor kita. Debu hari itu memang terus menempel. Cicilan, amarah yang tertahan, kata-kata kasar kepada pasangan, pandangan yang tidak terjaga. Karena itu, sungainya disediakan lima kali, bukan sekali seminggu.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sholat yang Hadir, Bukan Sekadar Tuntas
Jika hadits sungai menjawab mengapa sholat menyucikan, Imam Al-Ghazali menjawab mengapa ada sholat yang terasa tidak menyucikan. Dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 1, Kitab Asrar ash-Shalah (Rahasia-Rahasia Sholat), beliau menguraikan makna-makna batin yang menjadi ruh sholat: hudhur al-qalb (hadirnya hati), tafahhum (memahami bacaan), ta'zhim (mengagungkan Allah SWT), haibah (rasa gentar yang lahir dari pengenalan), raja' (harapan), dan haya' (rasa malu atas kekurangan diri).
Baca Juga
Kenapa Hati Tetap Keruh Padahal Wudhu Lima Kali Sehari?
Al-Ghazali tidak sedang mencela orang yang sholatnya belum khusyuk. Beliau sedang memetakan jalan. Hadirnya hati adalah pintu pertama. Ketika tubuh berdiri di atas sajadah tetapi pikiran masih mengurus tagihan, sungai itu sebenarnya tetap mengalir, hanya saja kita mandi sambil menutup mata. Maka nasihatnya sangat praktis: kosongkan dulu penyebab lalainya hati sebelum takbir. Tarik napas, sadari kepada siapa kita akan menghadap, dan pahami, walau sedikit, apa yang kita baca.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam merangkumnya dalam satu kalimat yang dalam: sholat adalah penyucian hati dari kotoran dosa dan pembuka pintu alam gaib. Kata kuncinya hati. Bagi yang bertahun-tahun merasa sholatnya hampa, ini bukan kabar buruk, justru undangan. Yang perlu dibenahi bukan jumlah rakaatnya, melainkan kehadirannya.
Perspektif Imam An-Nawawi: Menjaga Waktu, Menjaga Batas
Jika Al-Ghazali mengajak ke kedalaman, Imam An-Nawawi mengajak ke ketepatan. Dalam Riyadhus Shalihin, Kitab al-Fadha'il, Bab Fadhl ash-Shalawat (Keutamaan Sholat), beliau menghimpun hadits sungai di depan pintu tersebut bersama riwayat-riwayat lain tentang keutamaan sholat. Susunan bab itu sendiri adalah pesan: keutamaan sholat diraih lewat penjagaan yang nyata, yaitu waktu yang dijaga, wudhu yang disempurnakan, dan rukun yang ditunaikan.
Dalam penjelasannya atas Shahih Muslim, Imam An-Nawawi juga memberi catatan penting yang menenangkan sekaligus mendidik. Menurut penjelasan jumhur ulama, dosa yang dihapus oleh sholat lima waktu adalah dosa-dosa kecil, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa sholat lima waktu menjadi penghapus dosa di antaranya selama dosa besar dijauhi (HR. Muslim). Dosa besar menuntut taubat tersendiri. Di sini tampak keseimbangan Ahlus Sunnah: sholat bukan tiket untuk bebas berbuat apa saja, tetapi juga bukan beban yang membuat orang berdosa putus asa. Ia adalah pembersihan harian yang berjalan beriringan dengan taubat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memakai kata yang sangat tepat untuk sikap ini:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Terjemah makna: Peliharalah semua sholat dan sholat wustha, dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk. (QS. Al-Baqarah: 238)
Kata hafizhu berarti menjaga, memelihara, seperti orang menjaga sesuatu yang berharga agar tidak tercecer. Kedua ulama ini saling melengkapi. An-Nawawi menjaga bentuk dan waktunya, Al-Ghazali menjaga ruhnya. Sholat yang tepat waktu tanpa hati terasa kering, sedangkan hati yang merasa dekat tanpa menjaga waktu mudah tertipu oleh perasaannya sendiri.
Relevansinya Hari Ini: Sungai untuk Orang yang Lelah
Bagi orang yang dikejar utang, sholat bukan mesin pelunas cicilan. Ia adalah tempat berhenti sejenak dari hitungan yang tak pernah selesai, tempat mengingat bahwa rezeki punya Pemilik. Bagi suami atau istri yang baru saja bertengkar, wudhu dan sholat Isya bisa menjadi jeda yang mencegah kata-kata berikutnya melukai lebih dalam. Bagi pekerja yang jiwanya terkuras, lima waktu adalah lima jendela kecil di tengah dinding yang tinggi.
Ada satu riwayat yang menggambarkan rasa ini dengan indah. Rasulullah berkata kepada Bilal agar menegakkan sholat, lalu bersabda, istirahatkanlah kami dengannya (HR. Abu Dawud). Beliau tidak mengatakan, istirahatkan kami darinya. Bagi beliau, sholat adalah tempat pulang, bukan beban yang ingin cepat selesai. Wajar bila hingga akhir hayatnya, di antara pesan terakhir yang beliau ulang-ulang adalah tentang sholat (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Seorang yang mencintai umatnya meninggalkan warisan yang paling ia tahu akan menyelamatkan mereka.
Langkah Kecil yang Istiqomah
Menjaga sholat tidak harus dimulai dengan target besar yang membuat kita cepat patah. Para guru biasa mengajarkan langkah yang sederhana dan bertahap:
- Satu waktu yang dijaga lebih dulu. Pilih satu sholat, misalnya Maghrib, dan usahakan selalu di awal waktu. Setelah terasa ringan, tambah yang lain.
- Dua menit sebelum takbir. Letakkan HP, tarik napas, ingat bahwa Rasulullah SAW pernah memohonkan keringanan ini untuk kita. Inilah pintu hudhur al-qalb.
- Pahami satu bacaan. Pelajari makna Al-Fatihah atau satu dzikir ruku dengan pelan-pelan. Pemahaman kecil membuat sholat terasa hidup.
- Jangan menghukum diri saat terlewat. Segera ganti, bertaubat, dan kembali lagi. Sungai itu tidak menutup pintunya karena kita kemarin tidak datang.
Lima waktu itu bukan tembok yang memotong hari kita. Ia adalah sungai yang sengaja dialirkan di depan pintu, oleh Tuhan yang tahu betapa cepatnya kita kotor dan lelah, melalui Nabi yang rela bolak-balik memohonkan keringanan untuk kita. Maka, pertanyaannya tinggal satu: sore nanti, ketika adzan terdengar dan sungai itu mengalir lagi di depan pintu, apakah kita akan keluar untuk mandi, atau tetap duduk sambil mengeluh tentang debu yang menempel?
Menjaga lima waktu memang perjalanan seumur hidup, dan ia jauh lebih ringan bila ditempuh bersama saudara yang saling mengingatkan tanpa menghakimi. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar istiqomah yang sama, pelan-pelan, lewat sholawat harian dan tadarus bersama, tanpa ajang pamer jumlah. Bila hati tergerak, mari belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com, tempat sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Baqarah: 238.
- Hadis: perumpamaan sungai dan sholat lima waktu (HR. Bukhari dan Muslim); kewajiban sholat saat Mi'raj (HR. Bukhari); sholat penghapus dosa di antaranya selama dosa besar dijauhi (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Asrar ash-Shalah; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Fadhl ash-Shalawat; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.