Beberapa malam Rasulullah SAW tidak bangun untuk qiyamul lail karena sakit. Lalu seseorang datang dan mengejek: Tuhanmu sudah meninggalkanmu. Ada satu hal yang jarang kita tanyakan: apa yang terasa di dada manusia paling dicintai Allah SWT ketika ejekan itu sampai ke telinganya?
Tulisan tentang ayat tematik dan artinya ini tidak sekadar menyusun daftar ayat. Kita akan membaca sekelompok ayat yang turun untuk satu luka tertentu, yaitu rasa ditinggalkan. Luka ini akrab sekali dengan hidup hari ini. Ada karyawan yang tiga bulan melamar kerja dan tidak satu pun lamarannya dibalas. Ada ibu muda yang menidurkan anak sendirian sementara suaminya merantau. Ada pedagang kecil yang menatap aplikasi kasirnya sampai sore dan angkanya masih nol. Doa tetap dipanjatkan, tetapi langit terasa bisu. Diam-diam muncul pertanyaan yang tidak berani diucapkan: apakah Allah SWT sudah tidak peduli padaku?
Pertanyaan itu sebaiknya tidak dijawab terburu-buru. Ia lahir dari hati yang lelah, bukan dari iman yang hilang. Al-Qur'an sendiri menjawabnya dengan sangat lembut, melalui surah yang turun pada salah satu malam paling sunyi dalam sirah Nabi SAW.
Malam-Malam Sunyi Sebelum Adh-Dhuha Turun
Kisahnya tercatat dalam riwayat shahih dari sahabat Jundub bin Sufyan radhiyallahu 'anhu (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah sakit sehingga tidak bangun malam selama dua atau tiga malam. Seorang perempuan kemudian datang dan berkata dengan nada mengejek bahwa ia berharap “setan”-mu telah meninggalkanmu, karena sudah beberapa malam ia tidak melihatnya mendekatimu. Sebagai jawaban atas ejekan itu, Allah menurunkan Surah Adh-Dhuha.
Detail ini perlu diperhatikan baik-baik. Yang diserang bukan kebijakan dakwah Nabi, bukan pula strategi beliau. Yang diserang adalah hubungan beliau dengan Rabb-nya. Ejekan ini mengincar bagian yang paling lembut, dan inilah yang juga mengincar kita ketika hidup terasa buntu. Suara-suara itu, entah dari luar atau dari dalam kepala sendiri, jarang berbunyi “usahamu kurang”. Lebih sering bunyinya: “Allah SWT sudah tidak peduli.”
Jawaban Allah SWT dimulai dengan sumpah:
وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Terjemah makna: Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu. (QS. Adh-Dhuha: 1–3)
Allah SWT bersumpah dengan dua waktu yang bertolak belakang: terang pagi yang naik dan malam yang tenang serta pekat. Sumpah ini membawa pesan tersirat bahwa malam bukan tanda matahari telah hilang. Malam adalah bagian dari putaran yang sama. Sunyinya wahyu selama beberapa malam bukan perpisahan, melainkan malam yang pasti disusul dhuha. Sebagian ahli tafsir juga mencatat kehalusan bahasa pada kalimat wa mā qalā. Allah SWT tidak menyebut objeknya secara langsung, tidak berbunyi “dan tidak membencimu”. Seakan-akan kata benci terlalu tidak pantas didekatkan kepada kekasih-Nya, meskipun dalam kalimat penafian.
Setelah itu datang tiga ayat yang membuat banyak orang terisak ketika membacanya pelan-pelan:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Terjemah makna: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu dalam keadaan belum mengetahui jalan, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan. (QS. Adh-Dhuha: 6–8)
Allah SWT tidak menghibur Nabi-Nya dengan janji yang abstrak. Dia mengajak beliau menoleh ke belakang, pada jejak pertolongan yang sudah terbukti: yatim yang dilindungi, hati yang dibimbing, kekurangan yang dicukupi. Inilah pola ayat tematik dan artinya yang paling menenangkan. Ketika masa depan terasa gelap, Al-Qur'an mengajak kita membaca masa lalu dengan mata syukur. Dia yang dulu tidak meninggalkanmu tidak sedang meninggalkanmu hari ini.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sabar yang Bukan Sekadar Menahan
Dimensi batin dari ayat-ayat ini diurai secara mendalam oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr, bagian dari Rubu' Al-Munjiyat (Ihya' Ulumuddin, Juz 4). Di sana ia menjelaskan bahwa sabar dan syukur bukan dua keadaan yang terpisah. Keduanya adalah dua sayap iman. Sabar di sini bukan pasrah yang hampa. Al-Ghazali menggambarkannya sebagai kokohnya dorongan agama ketika menghadapi dorongan hawa nafsu. Hati tetap tegak menghadap Allah SWT ketika segala sesuatu mendorongnya untuk berpaling.
Konsep ini menjawab persoalan modern dengan tepat. Orang yang lelah sering mengira ia gagal bersabar karena masih menangis atau masih gelisah. Al-Ghazali membedakan gejolak rasa, yang manusiawi dan tidak tercela, dari berpalingnya hati, yang itulah yang dijaga. Rasulullah SAW juga manusia yang bisa sedih, dan Surah Adh-Dhuha tidak turun untuk menegur kesedihan beliau. Surah itu turun untuk memeluknya. Bagi Al-Ghazali, syukur adalah kemampuan melihat nikmat sebagai nikmat, termasuk nikmat masa lalu yang sering kita lupakan saat sedang terhimpit. Ayat 6–8 Adh-Dhuha pada hakikatnya adalah latihan syukur: menghitung ulang cara-cara Allah SWT pernah menolong kita.
Perspektif Imam An-Nawawi: Sabar yang Menjadi Amal
Kalau Al-Ghazali menyelami batin, Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin (Bab Ash-Shabr) menuntun ke wilayah amal. Ia menghimpun ayat dan hadits yang langsung bisa dipraktikkan. Salah satu hadits yang ia cantumkan di bab tersebut adalah:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Baca Juga
Ketika Ad-Dhuha Ditukar Sebotol Miras: Apa yang Sebenarnya Terluka?
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya. (HR. Muslim)
Pilihan An-Nawawi menempatkan hadits ini dalam kitab yang disusun sebagai panduan amal harian terasa sangat bermakna. Sabar bukan hanya renungan, melainkan cara menjalani hari: tetap bangun subuh walau cicilan belum lunas, tetap lembut kepada anak walau dompet menipis, tetap bekerja jujur walau yang curang terlihat lebih cepat maju. Dua perspektif ini saling melengkapi. Al-Ghazali menjaga agar hati tidak berpaling, An-Nawawi menjaga agar langkah tidak berhenti.
Menariknya, Surah Adh-Dhuha juga ditutup dengan perintah amal, bukan dengan renungan saja. Jangan menghardik anak yatim, jangan membentak peminta, dan ceritakanlah nikmat Tuhanmu (QS. Adh-Dhuha: 9–11). Orang yang pernah merasa ditinggalkan diminta untuk tidak meninggalkan orang lain. Luka yang telah dipeluk Allah berubah menjadi tangan yang memeluk sesama.
Ayat Pendamping: Kesulitan Tidak Pernah Datang Sendirian
Para mufassir kerap membaca Adh-Dhuha berdampingan dengan surah setelahnya, Asy-Syarh, karena keduanya bernada penghiburan yang sama. Di dalamnya terdapat dua ayat yang barangkali paling sering dikutip oleh orang yang sedang terhimpit:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Terjemah makna: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Kata yang dipakai adalah ma'a, yaitu “bersama”, bukan ba'da yang berarti “sesudah”. Kemudahan tidak menunggu di ujung antrean setelah kesulitan selesai. Ia sudah menyertai kesulitan itu sejak awal, meskipun belum terlihat. Bisa jadi wujudnya kekuatan untuk bertahan satu hari lagi, sahabat yang tiba-tiba menelepon, atau pintu kecil yang terbuka ketika pintu besar tertutup. Ayat ini tidak menjanjikan bahwa utang lunas besok pagi. Ayat ini menjanjikan bahwa kamu tidak pernah memikul kesulitan tanpa ditemani.
Relevansinya Hari Ini
Ukuran “ditinggalkan” di zaman sekarang sering kali dibentuk oleh layar. Pesan yang hanya dibaca tanpa dibalas, unggahan yang sepi tanggapan, lowongan yang tidak pernah memanggil. Tanpa sadar kita memakai ukuran yang sama untuk menilai hubungan dengan Allah SWT: kalau doa belum terkabul, berarti tidak didengar. Surah Adh-Dhuha membongkar logika itu. Jeda bukan penolakan. Sunyi bukan benci. Malam bukan tanda matahari telah pergi.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam memiliki satu hikmah masyhur yang sejalan dengan ruh surah ini: terkadang Allah SWT memberimu lalu sebenarnya menahan darimu, dan terkadang Dia menahan darimu lalu sebenarnya memberimu. Penahanan yang terasa pahit bisa jadi adalah cara Allah SWT menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita lihat, atau cara-Nya memanggil kita kembali mendekat. Itulah yang kemudian ditegaskan Al-Qur'an di surah lain:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Terjemah makna: Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
Dari sini lahir langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan malam ini juga:
- Baca Adh-Dhuha perlahan dengan terjemahnya, lalu berhenti sejenak di ayat 6–8. Tulis tiga momen dalam hidupmu ketika Allah SWT pernah “melindungi”, “membimbing”, dan “mencukupi”.
- Bedakan rasa dari arah. Sedih boleh, menangis boleh. Yang dijaga adalah agar hati tidak berpaling, seperti yang diajarkan Al-Ghazali.
- Ubah luka menjadi uluran tangan, sesuai penutup surah. Sapa satu orang yang juga sedang merasa sendirian.
- Rawat zikir yang ringan tetapi terus-menerus, termasuk sholawat kepada Rasulullah SAW, sosok yang pertama kali menerima penghiburan surah ini.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tafsir yang lengkap. Ini pengantar renungan, dan pembaca dianjurkan mendalaminya bersama guru atau ustadz yang terpercaya.
Sebuah Pertanyaan untuk Dibawa Pulang
Allah SWT menghibur Nabi-Nya dengan mengingatkan tiga pertolongan di masa lalu. Kalau malam ini kamu diminta menulis tiga pertolonganmu sendiri, apa yang akan kamu tulis? Dan jika selama ini Dia tidak pernah benar-benar pergi, siapa sebenarnya yang selama ini menjauh?
Barangkali jawabannya tidak perlu dicari sendirian. Membaca ayat-ayat seperti ini akan terasa lebih hidup bila dilakukan bersama orang-orang yang sama-sama sedang belajar dekat, pelan-pelan, tanpa beban hitungan dan tanpa ajang pamer. Di komunitas AlFatihRPS, para sahabat merawat kebiasaan kecil itu setiap hari: bersholawat untuk Rasulullah SAW dan menyempatkan tadarus bersama. Kalau hatimu tergerak, kamu bisa mulai setor sholawat di sini atau ikut membaca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Adh-Dhuha: 1–11, QS. Asy-Syarh: 5–6, QS. Ar-Ra'd: 28.
- Hadits: riwayat Jundub bin Sufyan tentang sebab turunnya Surah Adh-Dhuha (HR. Bukhari dan Muslim); hadits 'ajaban li amril mu'min (HR. Muslim), dihimpun Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4 (Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr); Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.