Malam ini, jutaan jempol menggulir layar dan membandingkan cicilan motor sendiri dengan foto liburan orang lain. Empat belas abad yang lalu, seorang lelaki berdiri shalat malam sampai kedua kakinya bengkak, padahal dosa-dosanya telah diampuni. Ketika ditanya mengapa, jawabannya hanya satu kalimat pendek.
Coba ingat tanggal gajian bulan lalu. Uang masuk, lalu dalam dua hari berpindah ke tagihan listrik, cicilan, uang sekolah anak, dan belanja dapur yang harganya naik lagi. Tak ada yang tersisa, kecuali satu rasa yang sulit dijelaskan: lelah, sedikit iri, dan diam-diam bertanya, kapan giliranku merasa cukup? Padahal kalau dihitung jujur, hidup kita hari ini jauh lebih baik dari lima tahun lalu. Dulu kita berdoa minta pekerjaan, sekarang sudah bekerja. Dulu berdoa minta anak, sekarang anak itu yang membuat rumah berisik. Tapi hati tidak ikut naik kelas. Ia tetap merasa kurang.
Luka ini bukan soal angka di rekening. Ia soal cara memandang. Ada orang yang hartanya sedikit tetapi dadanya lapang, dan ada orang yang hartanya melimpah tetapi setiap malam gelisah. Yang membedakan keduanya adalah satu sikap batin yang disebut Al-Qur'an dengan kata sederhana namun dalam: syukur.
Kaki yang Bengkak dan Pertanyaan Sayyidah Aisyah
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha menyaksikan pemandangan yang membuatnya heran. Rasulullah SAW berdiri lama dalam shalat malam, rakaat demi rakaat, sampai telapak kaki beliau pecah-pecah dan bengkak. Aisyah bertanya dengan penuh kasih: mengapa engkau berbuat seperti ini, wahai Rasulullah SAW, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?
Jawaban beliau tidak berupa ceramah panjang. Hanya satu kalimat:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Terjemah makna: Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur? (HR. Bukhari dan Muslim)
Detail yang jarang direnungkan ada di situ. Ibadah beliau di malam itu bukan untuk menebus rasa bersalah, bukan juga untuk meminta tambahan. Semuanya sudah diberikan: ampunan, kedudukan, cinta Allah SWT. Justru karena sudah diberi, beliau berdiri. Kita biasanya beribadah ketika sedang butuh, dan Rasulullah SAW mengajarkan beribadah karena sudah menerima. Kita mendekat kepada Allah SWT saat tagihan menumpuk, sementara beliau mendekat karena merasa diberi terlalu banyak. Di sinilah letak perbedaan antara hamba yang meminta dan hamba yang mencinta.
Kata syakur dalam kalimat itu adalah bentuk intensif. Ia bukan orang yang sesekali mengucap alhamdulillah, melainkan orang yang syukurnya sudah menjadi watak, mengalir dalam cara ia berdiri, berbicara, dan memperlakukan orang lain.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Syukur Berawal dari Cara Melihat
Imam Al-Ghazali membahas tema ini secara khusus dalam Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr, bagian dari Rub' Al-Munjiyat (seperempat tentang hal-hal yang menyelamatkan) dalam Ihya' Ulumuddin Juz 4. Beliau menjelaskan bahwa syukur tersusun dari tiga unsur yang saling bertaut: ilmu, hal, dan amal.
Ilmu adalah kesadaran bahwa setiap nikmat datang dari Allah SWT, bukan semata dari kecerdasan kita, relasi kita, atau kerja lembur kita. Hal adalah keadaan batin yang lahir dari kesadaran itu, yaitu rasa gembira kepada Sang Pemberi, bukan sekadar gembira kepada pemberiannya. Amal adalah buah dari keduanya: nikmat dipakai untuk hal yang dicintai Pemberinya.
Menurut Al-Ghazali, unsur kedua inilah yang paling halus. Orang bisa gembira mendapat bonus tanpa sedikit pun teringat kepada Allah SWT. Orang seperti itu sedang menikmati hadiah sambil melupakan siapa yang memberinya. Bayangkan seorang raja menghadiahkan kuda kepada rakyatnya, lalu si rakyat sibuk mengagumi kudanya dan tidak pernah menoleh kepada raja. Itu bukan syukur. Itu hanya senang.
Sampai di sini keresahan kita mulai terbaca. Hati terasa kurang bukan karena nikmatnya kurang, tetapi karena mata kita terpaku pada nikmat, bukan pada Pemberinya. Nikmat selalu bisa dibandingkan dengan nikmat orang lain, sedangkan Pemberinya tidak pernah bisa dibandingkan. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan dengan ungkapan yang tajam: siapa yang tidak mensyukuri nikmat berarti ia sedang membuka jalan bagi hilangnya nikmat itu, dan siapa yang mensyukurinya berarti ia telah mengikatnya dengan tali pengikatnya.
Perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Syukur yang Tampak dalam Perbuatan
Kalau Al-Ghazali membawa kita menyelami batin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin (pembahasan Manzilah Asy-Syukr, tingkatan syukur) mengajak kita melihat buahnya. Beliau menjelaskan bahwa syukur adalah tampaknya bekas nikmat Allah SWT pada tiga tempat: pada lisan berupa pujian dan pengakuan, pada hati berupa persaksian dan cinta, serta pada anggota badan berupa ketundukan dan ketaatan.
Dimensi ketiga ini yang membuat syukur menjadi urusan sosial, bukan hanya urusan perasaan. Syukur atas kesehatan tampak ketika tenaga itu dipakai menolong tetangga yang pindahan rumah. Syukur atas rezeki tampak ketika sebagian darinya sampai ke tangan orang tua, ke kotak infak musholla, atau ke rekan kerja yang sedang terjepit. Syukur atas ilmu tampak ketika ilmu itu diajarkan dengan sabar. Nikmat yang tidak pernah mengalir keluar, menurut cara pandang ini, belum sepenuhnya disyukuri.
Baca Juga
Satu Pujian untuk Dua Nasib: Rahasia Sabar dan Syukur yang Jarang Disadari
Dua ulama ini saling melengkapi. Al-Ghazali memastikan akar syukur tertanam benar di dalam hati, dan Ibnu Qayyim memastikan pohonnya berbuah di dunia nyata. Syukur tanpa hati akan jadi basa-basi, sedangkan syukur yang tidak pernah terwujud dalam perbuatan akan jadi perasaan yang mengendap tanpa manfaat.
Relevansinya Hari Ini: Ketika Pembanding Kita Ada di Genggaman
Generasi sebelum kita membandingkan hidupnya dengan tetangga satu gang. Kita membandingkannya dengan ribuan orang yang hanya memperlihatkan potongan terbaik hidupnya: rumah baru, mobil baru, liburan, pencapaian. Tidak heran bila gaji yang cukup terasa sempit dan rumah yang layak terasa sesak. Masalahnya bukan pada rezeki, melainkan pada arah pandangan.
Rasulullah SAW telah memberi resep yang sangat presisi untuk penyakit ini:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Terjemah makna: Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian. (HR. Muslim)
Perhatikan kata terakhirnya: meremehkan. Rasa kurang yang kita alami sering bukan karena nikmatnya kecil, melainkan karena kita meremehkannya. Nafas yang lancar, anak yang pulang sekolah dengan selamat, orang tua yang masih bisa ditelepon, semua itu menjadi tak terlihat karena terlalu biasa. Kita baru menghitungnya ketika ia diambil.
Syukur juga bukan pengingkaran terhadap kesulitan. Rasulullah menggambarkan keadaan orang beriman sebagai sesuatu yang menakjubkan: bila mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya; bila ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu pun baik baginya (HR. Muslim). Syukur dan sabar adalah dua sayap. Orang yang sedang dililit utang tidak diminta berpura-pura bahagia. Ia diajak melihat bahwa di tengah beban itu masih ada nikmat yang tetap menyertainya, dan bahwa pintu Allah tidak pernah ikut tertutup bersama pintu-pintu yang lain.
Lalu datang janji yang menenangkan sekaligus menggetarkan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Terjemah makna: Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat. (QS. Ibrahim: 7)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tambahan itu tidak selalu berbentuk angka. Bisa berupa hati yang lebih tenang, keluarga yang lebih rukun, atau kemampuan merasa cukup, yang barangkali merupakan kekayaan paling mahal hari ini. Karena itu syukur tidak patut dijadikan transaksi untuk menagih rezeki. Ia adalah jalan pulang kepada Allah SWT, dan tambahan nikmat hanyalah salah satu bentuk kemurahan-Nya di sepanjang jalan itu.
Langkah Kecil agar Syukur Menjadi Watak
- Sebut satu nikmat spesifik sebelum tidur. Jangan cukup dengan “semuanya baik”. Sebut satu yang nyata, misalnya motor yang tidak mogok hari ini atau anak yang tertawa saat makan malam. Di sinilah unsur ilmu dalam syukur mulai dilatih.
- Kurangi waktu menatap ke atas. Bila media sosial membuat hati sempit, itu isyarat untuk mengamalkan hadits di atas secara harfiah: batasi pandangan yang membuat nikmat terasa remeh.
- Alirkan sebagian nikmat. Sekecil apa pun, dari tenaga, waktu, sampai uang parkir, karena di situlah syukur anggota badan yang diuraikan Ibnu Qayyim mulai hidup.
- Bersholawat sebagai syukur atas nikmat terbesar. Diutusnya Rasulullah SAW adalah karunia yang membuat kita mengenal Allah SWT. Bersholawat kepada beliau adalah cara paling lembut untuk mengakui nikmat itu setiap hari.
Kaki Rasulullah SAW bengkak bukan karena beliau kekurangan, tetapi karena beliau merasa diberi terlalu banyak. Kita barangkali tidak akan pernah sampai pada maqam itu. Namun malam ini, setelah semua tagihan dihitung dan semua perbandingan ditutup, ada satu pertanyaan yang pantas dibawa tidur: kalau semua yang kita miliki hari ini adalah jawaban atas doa-doa kita dulu, sudahkah kita kembali untuk berterima kasih?
Belajar bersyukur adalah perjalanan panjang, dan lebih mudah ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang melatih hal yang sama lewat sholawat harian dan tadarus Al-Qur'an, pelan-pelan dan tanpa ajang pamer jumlah. Jika hati ingin mulai, mari setor sholawat bersama di sini, atau ambil bagian membaca Al-Qur'an bersama, sebagai ucapan terima kasih kecil kita kepada Allah SWT atas nikmat yang tak terhitung.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Ibrahim: 7
- Hadis: HR. Bukhari dan Muslim (hadits Aisyah tentang shalat malam Rasulullah SAW); HR. Muslim (keadaan orang beriman: syukur dan sabar); HR. Muslim (melihat orang yang di bawah)
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin, Manzilah Asy-Syukr; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.