Kita sering mengira sabar itu urusan musim sulit, dan syukur urusan musim lapang. Seolah keduanya dua pintu yang dibuka bergantian. Tapi Rasulullah SAW justru berdiri shalat malam sampai kakinya bengkak, pada saat beliau sudah dijamin ampunan. Yang beliau ucapkan malam itu menjungkirbalikkan cara kita memandang keduanya.
Bayangkan seorang ayah muda di lorong rumah sakit pukul dua dini hari. Di balik kaca ruang bayi, anak pertamanya tidur dengan selamat. Di tangannya ada lembar rincian biaya yang jumlahnya lebih besar dari tiga bulan gajinya. Dadanya penuh dua rasa yang bertabrakan: ingin sujud karena bahagia, sekaligus ingin menangis karena takut. Ia tidak tahu harus bersyukur dulu atau bersabar dulu. Kebingungan seperti ini bukan tanda imannya lemah. Begitulah kenyataan hidup: nikmat dan ujian jarang datang sendiri-sendiri.
Mungkin pembaca pernah berada di lorong yang serupa. Gaji naik, tapi orang tua mulai sakit-sakitan. Usaha mulai jalan, tapi rumah tangga terasa dingin. Anak lulus dengan nilai baik, tapi cicilan masih panjang. Kita lelah karena hidup tidak pernah memberi jeda untuk merasakan satu hal saja. Pelan-pelan kita belajar menunda syukur sampai masalah selesai, dan menunda sabar sampai nikmat hilang. Padahal dua-duanya tidak pernah selesai.
Satu Hati, Dua Keadaan: Rahasia yang Dikagumi Rasulullah SAW
Rasulullah SAW pernah menyampaikan sesuatu yang terdengar seperti rasa takjub, bukan perintah. Beliau tidak sedang menuntut, tetapi menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi orang beriman:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang beriman. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim, dari Shuhaib Ar-Rumi)
Perhatikan susunannya. Hadits ini tidak membagi manusia menjadi golongan penyabar dan golongan penyukur. Yang dibicarakan satu orang beriman yang sama, dengan satu hati, yang mampu berganti sikap sesuai keadaan yang Allah SWT takdirkan. Kebaikan tidak terletak pada keadaannya, lapang atau sempit, tetapi pada respons hatinya. Ini kabar yang membebaskan. Ayah di lorong rumah sakit itu tidak perlu memilih. Ia boleh bersyukur atas bayinya dan bersabar atas tagihannya pada detik yang sama, dan keduanya dicatat sebagai kebaikan.
Al-Qur'an mengulang pasangan ini dengan pola yang sama di beberapa tempat. Tentang tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dalam sejarah umat terdahulu, Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Terjemah makna: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim: 5)
Kalimat yang sama juga muncul dalam QS. Luqman: 31, QS. Saba': 19, dan QS. Asy-Syura: 33. Kedua sifat itu disebut dalam bentuk mubalaghah (bentuk kata yang menunjukkan kesungguhan dan keberulangan): shabbar dan syakur, bukan sekadar sabar dan syukur. Seakan Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa ayat-ayat Allah SWT baru terbaca jelas oleh hati yang terlatih dalam keduanya sekaligus, bukan oleh hati yang hanya pandai salah satunya.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sabar dan Syukur sebagai Keadaan Batin
Imam Al-Ghazali menyediakan satu kitab khusus untuk dua sifat ini, yaitu Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 4, bagian Rub' Al-Munjiyat (seperempat perkara yang menyelamatkan). Peletakannya bermakna: beliau tidak menggolongkan sabar dan syukur sebagai etika tambahan, tetapi sebagai jalan keselamatan jiwa.
Dalam kitab itu, Al-Ghazali menggambarkan sabar sebagai keteguhan ba'its ad-din (dorongan agama) ketika berhadapan dengan ba'its al-hawa (dorongan hawa nafsu). Sabar bukan wajah datar yang menahan air mata. Sabar adalah pertarungan batin, dan seseorang dikatakan sabar ketika dorongan untuk tetap taat menang atas dorongan untuk putus asa, marah, atau lari. Karena itu, menangis tidak membatalkan sabar. Yang membatalkannya adalah hati yang berhenti percaya.
Tentang syukur, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ia tersusun dari tiga unsur: ilmu, hal, dan amal. Ilmu berarti menyadari bahwa nikmat datang dari Allah SWT, bukan semata dari kecerdikan diri. Hal berarti rasa gembira kepada Sang Pemberi, bukan hanya kepada pemberiannya. Amal berarti memakai nikmat itu sesuai kehendak Pemberinya. Di sini terlihat mengapa banyak orang merasa sudah bersyukur tetapi tetap gelisah: syukurnya berhenti di lisan, belum turun menjadi rasa, apalagi menjadi amal.
Uraian Al-Ghazali yang paling menyentuh adalah ketika beliau menunjukkan bahwa dalam setiap musibah tersimpan nikmat yang patut disyukuri: musibah itu tidak lebih besar dari yang terjadi, tidak menimpa agama, dan menjadi penggugur dosa. Sebaliknya, setiap nikmat menuntut kesabaran agar tidak melalaikan. Jadi keduanya tidak bergantian. Keduanya saling bersembunyi di dalam satu sama lain.
Baca Juga
Kenapa Abu Bakar Tetap Menafkahi Orang yang Memfitnah Putrinya?
Perspektif Imam An-Nawawi: Dari Rasa Menjadi Amal
Jika Al-Ghazali membedah ruang batin, Imam An-Nawawi memberi jalan amal yang bisa ditempuh setiap hari. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menempatkan Bab Ash-Shabr di bagian-bagian awal kitab, tepat setelah bab ikhlas dan taubat. Hadits Shuhaib di atas termasuk yang beliau himpun dalam bab tersebut. Susunan ini mengajarkan bahwa sabar adalah pondasi perilaku, bukan perasaan yang ditunggu datang sendiri.
Gaya An-Nawawi khas para fuqaha: mengumpulkan riwayat yang menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bersikap secara nyata. Dari sana pembaca belajar bahwa sabar dan syukur punya bentuk yang terlihat: menjaga lisan saat ditimpa kesulitan, tetap menunaikan kewajiban saat hati berat, berbagi ketika lapang, dan tidak sombong ketika dipuji.
Teladan paling jelas datang dari Rasulullah SAW sendiri. Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa beliau shalat malam hingga kedua kakinya pecah-pecah. Ketika ditanya mengapa beliau berbuat demikian padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosanya, beliau menjawab:
أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
Terjemah makna: Tidakkah aku suka menjadi hamba yang banyak bersyukur? (HR. Bukhari dan Muslim)
Di sinilah kedua sayap itu menyatu dalam satu sosok. Syukur beliau berwujud ibadah yang menuntut kesabaran fisik luar biasa. Beliau tidak menunggu tertimpa musibah untuk bersabar. Beliau bersabar justru demi bersyukur. Para ulama juga menyebut karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 'Uddat Ash-Shabirin wa Dzakhirat Asy-Syakirin, yang dari judulnya saja sudah menegaskan bahwa sabar adalah bekal dan syukur adalah simpanan, dan seorang hamba membutuhkan keduanya dalam perjalanan yang sama.
Relevansinya Hari Ini: Saat Hidup Tidak Memberi Jeda
Persoalan zaman ini sering kali bukan kurangnya nikmat, tetapi kacaunya urutan batin. Kita sibuk mengeluhkan cicilan sampai lupa menikmati anak yang sehat. Kita sibuk menikmati promosi jabatan sampai lupa bahwa pekerjaan baru itu menuntut kejujuran yang lebih berat. Media sosial memperparah keadaan: kita dipaksa membandingkan musibah sendiri dengan nikmat orang lain. Akibatnya kita kehilangan dua-duanya, tidak sabar dan tidak bersyukur.
Hadits Shuhaib menawarkan jalan pulang yang sederhana namun dalam. Setiap kejadian hari ini cukup ditanya dengan satu pertanyaan: apakah ini lapang atau sempit bagiku? Jika lapang, kerjakan tiga unsur syukur ala Al-Ghazali: sadari, rasakan, lalu gunakan dengan benar. Jika sempit, ingat bahwa sabar berarti dorongan agama tetap memegang kemudi, meski air mata ikut jatuh. Dan karena hari-hari kita berisi keduanya, kita sedang melatih dua sayap sekaligus.
Allah SWT memberi pegangan yang lembut dalam surah Al-Baqarah. Setelah perintah untuk mengingat dan bersyukur kepada-Nya di ayat 152, ayat berikutnya langsung berbicara tentang sabar:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)
Dua ayat yang bersebelahan ini, tentang syukur lalu sabar, seakan mengajarkan bahwa keduanya bukan bab yang terpisah, melainkan satu tarikan napas iman.
Langkah Kecil untuk Melatih Dua Sayap
- Syukur sebelum tidur: sebut satu nikmat spesifik hari ini, bukan nikmat umum. Misalnya, anak tertawa saat makan malam. Ini melatih unsur ilmu dan hal dalam syukur.
- Sabar saat pertama kali terkejut: ketika kabar buruk datang, tahan lisan beberapa detik sebelum bereaksi. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sabar yang sejati adalah pada guncangan pertama (HR. Bukhari dan Muslim).
- Ubah nikmat menjadi amal: sisihkan sedikit dari rezeki yang lapang untuk orang yang sedang sempit. Itulah unsur amal dalam syukur.
- Hubungkan hati dengan Rasulullah SAW: sholawat yang dibaca dengan cinta melembutkan hati, sehingga lebih mudah menerima nikmat dengan rendah hati dan ujian dengan lapang dada.
Kembali ke ayah muda di lorong rumah sakit itu. Tagihannya mungkin belum lunas sampai berbulan-bulan ke depan. Tetapi jika malam itu ia mampu berbisik Alhamdulillah untuk bayinya dan Hasbunallah untuk bebannya, ia telah terbang dengan dua sayap. Lalu, malam ini, sayap mana yang selama ini Panjenengan biarkan terlipat?
Belajar mengepakkan dua sayap ini memang lebih ringan bila dilakukan bersama-sama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang menempuh jalan yang sama: menjaga sholawat harian dan tadarus dengan langkah kecil, tanpa tekanan dan tanpa pamer jumlah. Jika berkenan menemani perjalanan itu, silakan bergabung di member.alfatihrps.com. Sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Ibrahim: 5 (juga QS. Luqman: 31, Saba': 19, Asy-Syura: 33) dan QS. Al-Baqarah: 152–153.
- Hadits: HR. Muslim (dari Shuhaib: urusan orang beriman seluruhnya baik); HR. Bukhari dan Muslim (dari Aisyah: hamba yang banyak bersyukur; sabar pada guncangan pertama).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 'Uddat Ash-Shabirin wa Dzakhirat Asy-Syakirin.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.