Nabi Musa adalah rasul yang diajak bicara langsung oleh Allah SWT. Namun dalam Surah Al-Kahf, kalimat pertamanya kepada seorang hamba yang belum pernah ia kenal bukanlah pernyataan, melainkan permohonan izin. Dan izin itu nyaris tidak diberikan.
Malam ini mungkin kamu sudah menonton tiga potongan kajian, masing-masing semenit, diputar dengan kecepatan dua kali. Di galeri ponsel ada puluhan tangkapan layar kutipan ulama yang belum sempat dibaca ulang. Informasinya banyak sekali, tetapi ketika atasan membentak di rapat pagi, ketika tagihan cicilan datang lebih cepat dari gaji, atau ketika anak bertanya kenapa Allah SWT tidak mengabulkan doanya, semua itu seperti menguap. Yang tersisa hanya rasa lelah, dan diam-diam rasa malu: sudah sebanyak itu yang didengar, kenapa hati tetap sesempit ini?
Ada juga luka yang jarang dibicarakan. Sebagian dari kita pernah dipermalukan saat bertanya di kelas mengaji, lalu memutuskan belajar sendiri saja, tanpa guru, tanpa harus menunduk kepada siapa pun. Sebagian lagi merasa ilmunya bertambah, tetapi anehnya justru makin mudah menghakimi orang di kolom komentar. Dua keadaan ini terlihat berlawanan, tetapi akarnya sama: ilmu dicari tanpa adab. Pada titik inilah kisah Nabi Musa dan Khidir terasa begitu dekat, seolah ditulis untuk zaman kita.
Perjalanan Seorang Nabi yang Ditegur karena Satu Kata
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan awal kisah ini dari Ubay bin Ka'ab. Suatu hari Nabi Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu ditanya siapa manusia yang paling berilmu. Beliau menjawab, “Aku.” Secara lahir jawaban itu tidak keliru, sebab beliau seorang rasul. Namun Allah SWT menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu itu kepada-Nya, lalu memberitahunya bahwa di pertemuan dua laut ada seorang hamba yang dianugerahi ilmu yang tidak ia miliki. Satu kata yang lupa disandarkan kepada Allah SWT ternyata cukup untuk membuat seorang nabi besar harus menempuh perjalanan panjang.
Al-Qur'an merekam detail yang menyentuh: Musa berjalan bersama muridnya sampai berkata, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan ini (QS. Al-Kahf: 62). Seorang nabi tidak diberi jalan pintas. Ia diberi keletihan, kebingungan, bahkan bekal ikan yang hilang. Ketika akhirnya bertemu Khidir, ia tidak memperkenalkan gelarnya. Ia justru memohon:
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Terjemah makna: Musa berkata kepadanya, bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk? (QS. Al-Kahf: 66)
Perhatikan susunannya. Ia meminta izin, menyebut dirinya pengikut, mengakui ilmu itu berasal dari Allah dengan kalimat yang telah diajarkan kepadamu, dan hanya meminta sebagian. Lalu ketika Khidir mengingatkan bahwa ia tidak akan sanggup bersabar, Musa menjawab, insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun (QS. Al-Kahf: 69). Kenyataannya, tiga kali ia gagal menahan diri, dan perjalanan belajar itu berakhir dengan perpisahan. Dalam riwayat Al-Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa beliau berharap Musa lebih bersabar agar Allah mengisahkan lebih banyak lagi tentang keduanya. Kegagalan seorang nabi pun diabadikan, bukan untuk merendahkannya, tetapi agar kita tahu bahwa adab dalam belajar adalah perjuangan seumur hidup.
Dalam riwayat yang sama, Khidir melihat seekor burung mematuk air laut, lalu berkata bahwa ilmunya dan ilmu Musa dibanding ilmu Allah SWT hanyalah seperti air yang diambil burung itu dari lautan. Kalimat ini bukan untuk membuat kita kecil hati. Ia membebaskan. Kalau dua hamba pilihan saja hanya memegang setetes, maka tidak ada alasan bagi kita untuk merasa paling tahu, dan tidak ada alasan pula untuk malu karena merasa belum tahu.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Ilmu adalah Ibadah Hati
Dalam Kitab Al-'Ilm, bagian pertama Ihya' Ulumuddin (Juz 1), Imam Al-Ghazali menyusun bab khusus tentang adab murid dan guru. Tugas pertama seorang penuntut ilmu, tulisnya, adalah mendahulukan penyucian jiwa dari akhlak yang tercela. Alasannya halus sekaligus tajam: ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya batin. Sebagaimana shalat lahir tidak sah tanpa bersuci dari hadats, ilmu tidak akan hidup di hati yang dipenuhi kesombongan, dengki, dan cinta pujian. Inilah mengapa seseorang bisa hafal banyak dalil tetapi tetap gelisah; air jernih yang dituang ke bejana kotor ikut menjadi keruh.
Al-Ghazali juga menyebut bahwa murid tidak boleh menyombongkan diri terhadap ilmu dan tidak mendikte gurunya. Ia mengibaratkan murid seperti pasien yang menyerahkan diri kepada dokter yang penuh kasih. Untuk itu ia mengutip syair yang masyhur: ilmu memerangi pemuda yang meninggikan diri, sebagaimana banjir menjauhi tempat yang tinggi. Air hanya menggenang di dataran rendah. Musa menurunkan dirinya di hadapan Khidir, dan di situlah ilmu bisa mengalir.
Dalam Bidayatul Hidayah, Al-Ghazali membuka kitabnya dengan peringatan yang terasa ditujukan langsung ke era media sosial: siapa yang mencari ilmu demi berlomba, berbangga, dan menarik perhatian manusia, ia sedang merobohkan agamanya sendiri. Sebaliknya, siapa yang mencarinya untuk mendekat kepada Allah SWT, para malaikat membentangkan sayapnya untuknya. Bagi seorang karyawan yang lelah, ibu rumah tangga yang belajar di sela mencuci piring, atau pedagang yang mendengarkan kajian di warung, pesan ini menenangkan: nilai belajar tidak diukur dari seberapa banyak yang dihafal, tetapi dari kemana hati diarahkan.
Baca Juga
Kenapa Amal Baik Justru Bikin Lelah dan Merasa Tak Dihargai?
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab yang Bisa Dijalankan
Jika Al-Ghazali menyentuh lapisan batin, Imam An-Nawawi menurunkannya menjadi amal yang konkret. Dalam mukadimah Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, beliau menulis bab tentang adab penuntut ilmu: membersihkan hati dari kotoran batin, mengurangi kesibukan yang memecah perhatian, rendah hati kepada ilmu dan guru, bersabar atas sikap keras seorang guru, serta bertanya dengan lembut dan pada waktu yang tepat. Daftar ini terdengar sederhana, tetapi justru di situ kekuatannya. Adab bukan perasaan yang mengawang, melainkan kebiasaan yang bisa dilatih hari ini.
Imam Al-Bukhari sendiri dalam Kitab Al-'Ilm Shahih-nya mencatat ucapan Mujahid: ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pemalu dan orang yang sombong. Dua penyakit ini persis luka yang disebut di awal. Yang pernah dipermalukan saat bertanya cenderung menjadi pemalu dan menutup diri. Yang merasa sudah banyak tahu cenderung menjadi sombong. Keduanya sama-sama menutup pintu. Para ulama mengajarkan jalan tengah: tetap bertanya meski dengan suara pelan, dan tetap mendengar meski merasa sudah paham.
Tradisi pesantren di Nusantara mewarisi semangat yang sama melalui kitab Ta'lim Al-Muta'allim karya Az-Zarnuji, terutama fasal tentang memuliakan ilmu dan ahlinya. Menghormati guru, menjaga kitab, dan tidak memotong pembicaraan bukanlah budaya feodal, melainkan cara melatih hati agar layak menerima. Imam Muslim pun mencantumkan dalam mukadimah Shahih-nya ucapan Muhammad bin Sirin: ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Adab dimulai bahkan sebelum belajar, yaitu ketika memilih kepada siapa kita belajar.
Semua lelah dan kesabaran itu tidak sia-sia. Rasulullah SAW menjanjikan sesuatu yang menghapus rasa letih para penuntut ilmu:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Terjemah makna: Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)
Kata yang dipakai adalah menempuh jalan, bukan sampai di tujuan. Nabi Musa yang letih di tepi laut sedang menempuh jalan itu. Kamu yang mendengarkan kajian di kereta pulang kerja dengan mata setengah terpejam pun sedang menempuhnya.
Relevansinya Hari Ini: Belajar di Zaman yang Tak Sabar
Kisah Musa dan Khidir menunjukkan tiga hal yang paling sulit dilakukan di era serba cepat. Pertama, mengakui bahwa kita belum tahu. Mesin pencari membuat kita merasa semua jawaban bisa didapat dalam hitungan detik, padahal yang kita peroleh sering hanya potongan tanpa konteks. Kedua, bersabar terhadap hal yang belum kita pahami. Musa memprotes tiga kejadian yang tampak keliru, padahal di baliknya ada hikmah yang belum terlihat. Betapa sering kita memvonis sebuah pendapat ulama hanya dari video satu menit. Ketiga, rendah hati terhadap perbedaan. Banyak perbedaan pendapat para ulama berada di wilayah furu', yaitu cabang dan teknis ibadah, bukan inti akidah. Adab penuntut ilmu adalah menghargai setiap muslim yang mengikuti bimbingan ulama dan guru yang ia percaya, tanpa merasa harus memenangkan perdebatan.
Adab juga menyentuh urusan rumah tangga dan pekerjaan. Orang yang terbiasa mendengar gurunya dengan sabar akan lebih mudah mendengar pasangannya tanpa langsung membela diri. Orang yang terbiasa berkata insya Allah aku akan bersabar akan lebih kuat menghadapi atasan yang sulit atau utang yang belum lunas. Ilmu yang dicari dengan adab tidak berhenti di kepala; ia turun menjadi akhlak, dan akhlak itulah yang perlahan membangun peradaban.
Langkah Kecil untuk Menghidupkan Adab Ilmu
- Luruskan niat sebelum menekan tombol putar. Satu kalimat dalam hati, aku belajar untuk mendekat kepada-Mu, sudah mengubah arah seluruh waktu belajar.
- Pilih satu guru dan satu kitab. Lebih baik satu majelis yang istiqomah daripada sepuluh potongan video tanpa sanad dan tanpa arah.
- Sandarkan ilmu kepada Allah SWT. Biasakan kalimat Allahu a'lam, pelajaran yang Musa terima dengan cara yang tidak mudah.
- Bertanya dengan lembut, mendengar dengan sabar. Jangan biarkan rasa malu atau rasa paling tahu menutup pintu ilmu.
- Amalkan satu hal kecil dari setiap pelajaran. Ilmu yang diamalkan akan menetap; yang hanya dikoleksi akan mudah hilang.
Barangkali yang selama ini kita butuhkan bukan informasi yang lebih banyak, melainkan hati yang lebih rendah agar ilmu mau singgah. Jika Nabi Musa saja meminta izin sebelum belajar, kapan terakhir kali kita sungguh-sungguh meminta izin kepada Allah SWT agar dibukakan pemahaman, bukan hanya meminta jawaban?
Perjalanan menjadi murid yang beradab tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: membaca kembali Kalamullah dengan pelan, termasuk kisah Musa dan Khidir di Surah Al-Kahf, sambil merawat hati lewat sholawat kepada Rasulullah SAW, tanpa tekanan dan tanpa pamer jumlah. Jika hatimu tergerak, kamu bisa mengambil bagian tadarus Al-Qur'an bersama di sini, atau mulai setor sholawat harian sebagai langkah kecil pertama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Kahf ayat 60–82, khususnya ayat 62, 66, dan 69 tentang perjalanan belajar Nabi Musa kepada Khidir.
- Hadis: kisah Musa dan Khidir dari Ubay bin Ka'ab (HR. Al-Bukhari dan Muslim); keutamaan menempuh jalan mencari ilmu (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1 (Kitab Al-'Ilm, bab adab murid dan guru) dan Bidayatul Hidayah; Imam An-Nawawi, mukadimah Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab; Az-Zarnuji, Ta'lim Al-Muta'allim.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.