Rasulullah SAW telah dijamin ampunan atas dosa yang lalu dan yang akan datang. Namun setiap hari, lisan beliau tetap basah oleh istighfar lebih dari seratus kali. Pertanyaan yang hampir tak pernah diajukan: apa sebenarnya yang beliau rasakan setiap kali mengucapkan “astaghfirullah”?
Coba ingat malam ketika kepala sudah di atas bantal, tetapi mata tak mau terpejam. Ada kata-kata kasar yang tadi sore terlontar kepada pasangan. Ada janji kepada anak yang lagi-lagi tidak ditepati. Ada cicilan yang sudah jatuh tempo, lalu kita berbohong kecil kepada penagih. Semua itu menumpuk tanpa suara. Yang paling berat justru bukan dosanya, melainkan perasaan bahwa kita sudah terlalu sering jatuh di lubang yang sama. Karena itu, meminta ampun terasa seperti tidak tahu malu.
Banyak orang berhenti beristighfar bukan karena merasa suci. Mereka berhenti karena merasa terlalu kotor. Ada suara halus di dalam dada yang berbisik: untuk apa minta ampun kalau besok toh diulangi lagi? Bisikan inilah yang pelan-pelan menjauhkan hamba dari pintu yang sebenarnya tak pernah dikunci. Untuk memahaminya, kita perlu kembali ke kisah paling awal tentang dosa dan taubat dalam sejarah manusia.
Dua Makhluk, Dua Kesalahan, Dua Jalan Pulang
Al-Qur'an menuturkan dua kesalahan yang terjadi hampir bersamaan. Iblis menolak bersujud kepada Adam. Nabi Adam dan Hawa memakan buah dari pohon yang dilarang. Keduanya sama-sama melanggar perintah Allah SWT. Bedanya, dan di situlah seluruh rahasia taubat tersimpan, ada pada apa yang terjadi sesudah kesalahan itu.
Iblis membela diri dengan logika: aku lebih baik darinya, aku diciptakan dari api dan ia dari tanah (QS. Al-A'raf: 12). Ia tidak menyangkal perbuatannya. Ia hanya menolak mengakui bahwa itu salah. Sementara itu, Nabi Adam dan Hawa tidak mencari pembenaran, tidak menyalahkan godaan, dan tidak menunjuk siapa pun. Mereka hanya berkata:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Terjemah makna: Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raf: 23)
Perhatikan detail yang sering terlewat. Nabi Adam tidak berkata “kami telah melanggar perintah-Mu”, tetapi “kami telah menzalimi diri kami sendiri.” Pengakuan ini membalik cara pandang: dosa tidak merugikan Allah SWT, dosa melukai diri kita sendiri. Istighfar pun bukan upaya menenangkan Tuhan yang marah. Istighfar adalah cara seorang hamba yang terluka meminta diobati. Iblis kehilangan segalanya karena merasa benar. Adam dimuliakan kembali karena berani merasa salah.
Dari sini pertanyaan pembuka tadi menemukan arahnya. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Terjemah makna: Sesungguhnya hatiku kadang diliputi semacam selubung tipis, dan sungguh aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari. (HR. Muslim)
Para ulama syarah hadits menjelaskan bahwa “selubung” pada hati Rasulullah SAW bukanlah dosa seperti yang kita pahami. Ia adalah jeda ketika hati beliau, yang terus naik dari satu derajat kedekatan ke derajat berikutnya, merasa derajat sebelumnya belum cukup menunaikan hak Allah SWT. Istighfar beliau lahir dari cinta dan rasa malu seorang kekasih, bukan dari ketakutan seorang terdakwa. Inilah yang jarang kita tangkap: istighfar bukan ritual orang yang gagal, melainkan napas orang yang sedang mendekat.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Taubat sebagai Perjalanan Batin
Imam Al-Ghazali membuka Rubu' Al-Munjiyat (seperempat bagian tentang hal-hal yang menyelamatkan) dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 4, dengan Kitab At-Taubah. Penempatan ini bermakna: sebelum sabar, syukur, cinta, dan ridha, pintu pertama menuju keselamatan adalah taubat. Tanpa pintu ini, maqam-maqam lain tidak bisa dimasuki.
Dalam kitab tersebut, Al-Ghazali menguraikan taubat sebagai rangkaian tiga unsur yang saling melahirkan: 'ilm (pengetahuan), hal (keadaan hati), dan 'amal (tindakan). Pertama, seseorang menyadari bahwa dosa adalah racun yang menghalangi dirinya dari Sang Kekasih. Kesadaran itu melahirkan nadam, yakni penyesalan yang perih, seperti orang yang tiba-tiba sadar telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Penyesalan itu kemudian mendorong tindakan: meninggalkan dosa sekarang, bertekad tidak mengulanginya, dan menambal apa yang telah rusak.
Kerangka ini menjawab keresahan yang paling sering menghentikan orang beristighfar, yaitu rasa munafik karena terus mengulang dosa yang sama. Bagi Al-Ghazali, taubat bukan tombol sekali tekan. Taubat adalah perjalanan. Selama penyesalan masih terasa perih, pengetahuan dan keadaan hati itu masih hidup. Hati yang masih bisa menyesal adalah hati yang belum mati.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menambahkan kalimat yang menampar sekaligus menghibur. Maknanya kurang lebih: maksiat yang melahirkan rasa hina dan hancur di hadapan Allah SWT lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia dan sombong. Ini bukan pembenaran dosa. Ini pengingat bahwa hati yang remuk karena menyesal justru sedang berada sangat dekat dengan rahmat.
Baca Juga
Satu Pujian untuk Dua Nasib: Rahasia Sabar dan Syukur yang Jarang Disadari
Perspektif Imam An-Nawawi: Taubat yang Menjejak Bumi
Jika Al-Ghazali menyelami batin taubat, Imam An-Nawawi memastikan taubat itu memiliki pijakan amal yang jelas. Dalam Riyadhus Shalihin, pada Bab At-Taubah, beliau merumuskan bahwa taubat dari dosa antara hamba dan Allah SWT memiliki tiga syarat: berhenti dari maksiat tersebut, menyesali perbuatannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Bila dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia, ada syarat keempat: mengembalikan hak itu kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya.
Syarat keempat ini sangat membumi. Taubat dari kata-kata kasar kepada pasangan tidak cukup diselesaikan di atas sajadah. Ia perlu disempurnakan dengan permintaan maaf di dapur. Taubat dari berbohong kepada penagih utang perlu diikuti kejujuran, meskipun yang dapat disampaikan hanya: “saya belum sanggup, tetapi saya tidak akan lari.” Istighfar yang sejati selalu mengalir keluar dari lisan menuju perbaikan hubungan.
Kedua imam ini saling melengkapi. Al-Ghazali menjaga agar taubat tidak menjadi formalitas kering. An-Nawawi menjaga agar taubat tidak berhenti sebagai perasaan yang tidak mengubah apa pun. Yang satu merawat akar, yang lain merawat buah.
Tentang orang yang terus jatuh lalu bangun lagi, Rasulullah SAW memberi kabar yang menenangkan:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Terjemah makna: Setiap anak Adam pasti banyak bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kata tawwabun berbentuk mubalaghah, yaitu bentuk yang menunjukkan kekerapan. Yang dipuji bukan orang yang tidak pernah jatuh, melainkan orang yang tidak pernah berhenti kembali.
Relevansinya Hari Ini
Hidup sekarang menyodorkan dua jebakan yang berlawanan. Jebakan pertama adalah budaya pembenaran diri: setiap kesalahan dibungkus alasan, entah tekanan kerja, kondisi ekonomi, atau pengaruh orang lain. Tanpa sadar, kita meniru logika “aku lebih baik darinya”. Jebakan kedua lebih senyap, yaitu keputusasaan. Orang yang terlilit utang, rumah tangganya retak, dan berkali-kali gagal memperbaiki diri merasa bahwa dirinya sudah tidak layak diampuni.
Kepada jiwa-jiwa yang lelah seperti inilah Allah SWT menurunkan salah satu ayat paling lembut dalam Al-Qur'an:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemah makna: Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)
Lihat bagaimana Allah SWT menyapa: “wahai hamba-hamba-Ku”. Orang yang telah melampaui batas pun tetap dipanggil dengan panggilan kepemilikan dan kasih sayang. Ayat ini tidak dibuka dengan ancaman, tetapi dengan pelukan.
Istighfar juga bukan mantra penghapus masalah dunia secara instan. Utang tetap perlu dibayar dan pertengkaran tetap perlu didamaikan. Yang berubah adalah orang yang menghadapinya. Hati yang rutin beristighfar menjadi lebih jujur terhadap dirinya, lebih ringan meminta maaf, dan lebih jernih memilih langkah. Dari hati yang jernih, keputusan-keputusan yang lebih baik lahir satu per satu.
Langkah Kecil untuk Kembali
- Istighfar dengan makna. Sebelum tidur, sebut satu kesalahan hari itu secara jujur di dalam hati, lalu beristighfar untuk kesalahan tersebut. Istighfar yang spesifik lebih menghidupkan penyesalan daripada hitungan yang kosong.
- Satu perbaikan nyata. Pilih satu hak manusia yang pernah kita lukai, lalu tunaikan sesuai syarat keempat yang dijelaskan Imam An-Nawawi. Mulailah dari rumah.
- Jangan tunggu bersih untuk kembali. Jatuh lagi bukan alasan berhenti beristighfar. Justru di situlah istighfar paling dibutuhkan.
- Hafalkan doa Nabi Adam. Kalimat pendek dalam QS. Al-A'raf: 23 adalah doa pertama manusia untuk pulang, dan pintunya masih terbuka sampai sekarang.
Pembahasan ini adalah bahan renungan dan pengantar belajar. Pembaca dianjurkan memperdalamnya bersama guru atau ustadz yang terpercaya, terutama terkait tata cara menunaikan hak sesama yang pernah terlanggar.
Nabi Adam kembali karena berani berkata “kami telah menzalimi diri kami sendiri”. Rasulullah SAW beristighfar seratus kali sehari karena cintanya tak pernah merasa cukup. Lalu, apa yang selama ini sebenarnya menahan kita untuk pulang: dosa yang terlalu besar, atau gengsi yang belum mau runtuh?
Jalan pulang itu terasa lebih ringan bila ditempuh bersama sahabat yang saling mengingatkan tanpa menghakimi. Di komunitas AlFatihRPS, banyak saudara sedang belajar hal yang sama: melunakkan hati sedikit demi sedikit lewat sholawat dan tadarus, tanpa paksaan dan tanpa pamer jumlah. Jika ingin mulai melangkah bersama, pintunya ada di member.alfatihrps.com.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-A'raf: 12 dan 23; QS. Az-Zumar: 53.
- Hadits: istighfar Rasulullah SAW seratus kali sehari (HR. Muslim); setiap anak Adam banyak bersalah (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab At-Taubah; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab At-Taubah; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.