Sebelum hijrah ke Madinah, para sahabat menempuh jalan yang sama: debu yang sama, terik yang sama, dan rumah yang sama-sama mereka tinggalkan. Kalau dilihat dari luar, langkah mereka tidak bisa dibedakan. Tapi ada satu hal yang jarang kita tanyakan: dengan apa Rasulullah SAW menimbang dua orang yang langkahnya persis sama?
Coba ingat lagi rapat pekan lalu. Ide yang kamu susun sampai larut malam dipresentasikan rekan kerja, lalu dia yang menerima tepuk tangan. Atau bayangkan seorang ibu yang setiap subuh sudah di dapur, menyiapkan bekal, mencuci, dan merapikan rumah, tapi tidak pernah sekali pun mendengar ucapan terima kasih. Rasa sesak yang muncul dari situ nyata. Kita tidak sedang bicara orang yang malas beramal. Kita bicara orang yang sudah memberi begitu banyak, lalu diam-diam remuk karena pemberiannya tidak terlihat.
Ada luka yang lebih sunyi dari itu. Kadang kita sendiri tidak yakin lagi untuk siapa semua kebaikan itu dikerjakan. Sedekah diunggah, lalu kita bolak-balik mengecek siapa yang menyukainya. Lembur demi keluarga perlahan berubah jadi lembur supaya dianggap paling berjasa. Lelahnya berlipat, sebab yang kita kejar adalah tatapan manusia, dan tatapan itu tidak pernah benar-benar cukup.
Satu Kalimat di Atas Mimbar yang Membuka Kitab-Kitab Ulama
Imam Al-Bukhari membuka kitab Shahih-nya dengan sebuah riwayat. Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu berdiri di atas mimbar dan menyampaikan sabda yang ia dengar langsung dari Rasulullah SAW:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Terjemah makna: Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits itu lalu menyebut hijrah sebagai contoh. Barang siapa hijrahnya karena Allah SWT dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih atau perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju. Perhatikan detail yang sering terlewat: Rasulullah SAW tidak merendahkan orang kedua dengan sebutan munafik dan tidak menghitung jauh langkahnya. Beliau cukup menunjukkan bahwa jarak yang sama bisa berakhir di tujuan yang sama sekali berbeda.
Pelajarannya halus sekaligus mengguncang. Amal yang terlihat oleh manusia cuma kulitnya. Isinya tersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau kamera mana pun. Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Terjemah makna: Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian. (HR. Muslim)
Bagi yang merasa tidak dihargai, hadits ini menenangkan. Ada Dzat yang melihat setiap subuh di dapur itu dan setiap malam di depan laptop itu. Tidak satu pun yang luput, termasuk getar hati yang tidak sempat kita ucapkan.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Niat sebagai Gerak Hati
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 4, tepatnya pada Kitab An-Niyyah wal Ikhlash wash Shidq (bagian Rub' Al-Munjiyat, perkara-perkara yang menyelamatkan), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa niat bukan sekadar kalimat yang diucapkan di lidah, misalnya “saya niat karena Allah SWT”. Menurut beliau, niat adalah bangkitnya hati menuju sesuatu yang dipandangnya sesuai dengan tujuannya. Jadi niat adalah daya penggerak. Pertanyaan yang paling jujur bukan “apa yang saya ucapkan sebelum beramal?”, melainkan “apa yang sebenarnya membuat saya bergerak?”.
Di kitab yang sama, Al-Ghazali membagi amal menjadi tiga. Pertama, maksiat. Niat baik tidak mengubahnya menjadi kebaikan, sehingga mengambil hak orang lain tetap salah walaupun hasilnya disedekahkan. Kedua, ketaatan. Niat menentukan sah atau tidaknya dan seberapa besar pahalanya. Ketiga, perkara mubah: makan, tidur, bekerja, berdagang. Wilayah ketiga inilah yang paling dekat dengan hidup kita sehari-hari. Dengan niat yang lurus, pekerjaan biasa bisa bernilai ibadah.
Pembagian ini sejalan dengan sabda Rasulullah kepada Sa'ad bin Abi Waqqash bahwa nafkah yang diberikan demi mencari wajah Allah akan diberi pahala, sampai sesuap makanan yang diletakkan di mulut istri sekalipun (HR. Bukhari dan Muslim). Maka bekal yang disiapkan seorang ibu sebelum fajar dan gaji yang dibawa pulang seorang ayah bukan urusan dunia semata, asalkan hati menautkannya kepada Allah.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari merangkum hal ini dengan indah dalam Al-Hikam:
الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلَاصِ فِيهَا
Baca Juga
Kenapa Abu Bakar Tetap Menafkahi Orang yang Memfitnah Putrinya?
Terjemah makna: Amal-amal itu ibarat kerangka yang tegak berdiri, dan ruhnya adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.
Amal tanpa ikhlas ibarat jasad tanpa ruh. Bentuknya masih ada, tapi tidak hidup. Mungkin itu sebabnya sebagian amal kita terasa begitu melelahkan. Kita memikul kerangkanya, sementara ruhnya tertinggal di tempat lain.
Perspektif Imam An-Nawawi: Niat dalam Timbangan Fiqih dan Amal
Kalau Al-Ghazali menyelami batinnya niat, Imam An-Nawawi menuntun kita di wilayah amal yang terukur. Riyadhus Shalihin beliau buka dengan Bab Al-Ikhlash wa Ihdharin Niyyah, yaitu bab tentang ikhlas dan menghadirkan niat dalam setiap perbuatan, sebelum bab-bab lain tentang adab dan ibadah. Urutan ini mengandung pesan: niat adalah pintu masuk seluruh bangunan amal.
Sebagaimana dinukil Imam An-Nawawi dalam syarahnya atas Shahih Muslim, Imam Asy-Syafi'i memandang hadits niat ini masuk ke dalam banyak sekali bab ilmu. Karena itu, dalam kitab-kitab fiqih mazhab yang muktabar, niat diletakkan di awal pembahasan wudhu, shalat, puasa, dan zakat. Para fuqaha menjelaskan bahwa tempat niat adalah hati, dan salah satu fungsi utamanya adalah tamyiz, yaitu membedakan. Niat membedakan ibadah dari kebiasaan, misalnya mandi untuk bersuci dengan mandi untuk menyegarkan badan. Niat juga membedakan satu ibadah dari ibadah lain, misalnya shalat fardhu dengan shalat sunnah.
Penjelasan fiqih ini memberi sesuatu yang sangat praktis kepada hati yang gelisah. Niat bukan perasaan samar yang harus ditunggu sampai sempurna. Niat adalah kesadaran yang dihadirkan dengan sengaja sebelum amal dimulai. Dimensi batin dari Al-Ghazali dan dimensi amal dari An-Nawawi saling melengkapi. Yang satu memeriksa kedalaman, yang lain memberi pijakan supaya kita tidak tenggelam dalam keraguan yang tak berujung.
Ayat yang menjadi poros semua ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Terjemah makna: Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dalam ayat ini ikhlas disebut lebih dulu, baru kemudian shalat dan zakat, seolah semua amal lahir harus bersumber dari mata air yang jernih itu.
Relevansinya Hari Ini: Merdeka dari Tatapan Manusia
Hidup sekarang memberi panggung yang sangat luas untuk setiap amal. Tombol bagikan selalu siap, angka penonton tercatat, dan pengakuan bisa dihitung. Tidak ada yang salah dengan terlihat. Masalahnya, hati mudah lupa bahwa yang ia kejar sebenarnya bukan angka itu. Ketika niat bergeser kepada manusia, amal jadi bergantung pada penilaian orang: semangat kalau dipuji, patah kalau diabaikan. Pada titik itu, pujian sudah berubah menjadi tuan yang memerintah kita.
Ada juga jebakan sebaliknya. Karena takut riya, sebagian orang malah berhenti berbuat baik. Para ulama, di antaranya Imam An-Nawawi, menukil ucapan Fudhail bin 'Iyadh: meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah SWT menyelamatkanmu dari keduanya. Jalan keluarnya bukan berhenti beramal. Jalan keluarnya adalah terus beramal sambil terus membersihkan niat.
Di sinilah meluruskan niat menjadi obat bagi kelelahan batin. Pekerja yang ide-idenya diklaim orang lain tetap bisa tidur tenang, karena ia tahu catatan amalnya tidak ditulis oleh atasan. Ibu yang tak pernah mendengar terima kasih bisa menemukan bahwa setiap piring yang ia cuci sedang dipersembahkan kepada Dzat yang tidak pernah lalai berterima kasih. Hal yang sama berlaku untuk sholawat. Ketika dibaca tanpa syarat, bukan sebagai transaksi rezeki atau perlombaan jumlah, ia menjadi latihan niat yang paling murni: mencintai Rasulullah SAW semata-mata karena beliau layak dicintai.
Langkah Kecil Menata Niat Setiap Hari
- Berhenti sejenak sebelum mulai. Sebelum berangkat kerja, memasak, atau membuka mushaf, tanyakan dalam hati selama tiga detik: untuk siapa ini?
- Tautkan yang mubah kepada Allah SWT. Bekerja untuk menafkahi keluarga, tidur supaya kuat beribadah, makan agar sanggup berkhidmat. Inilah pintu yang dibukakan Al-Ghazali.
- Sembunyikan sebagian amal. Sisakan satu kebaikan setiap pekan yang hanya diketahui Allah SWT, sebagai latihan agar hati tidak bergantung pada saksi.
- Perbarui niat di tengah jalan. Kalau niat terasa melenceng, jangan berhenti beramal. Luruskan, lalu lanjutkan.
Perjalanan menuju ikhlas tidak selesai dalam sehari. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai perjuangan seumur hidup. Tapi setiap kali niat diluruskan, ada beban yang terlepas dari pundak, yaitu beban ingin dilihat.
Jadi, kalau malam ini tidak ada seorang pun yang tahu apa yang telah kamu berikan hari ini, apakah itu terasa sebagai kehilangan, atau justru sebagai kemerdekaan yang selama ini kamu cari?
Melatih niat paling ringan dimulai dari amal yang paling sederhana. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: bersholawat setiap hari tanpa syarat, tanpa pamer jumlah, pelan-pelan menautkan hati kepada Rasulullah SAW. Kalau ingin menempuhnya bersama, mulailah setor sholawat di sini.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Bayyinah: 5.
- Hadis: innamal a'malu binniyyat (HR. Bukhari dan Muslim); Allah SWT melihat hati dan amal (HR. Muslim); nafkah bernilai pahala (HR. Bukhari dan Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab An-Niyyah wal Ikhlash wash Shidq; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Al-Ikhlash wa Ihdharin Niyyah; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam; pembahasan niat dalam kitab-kitab fiqih mazhab yang muktabar.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.