Hari ini, seorang anak sembilan tahun bisa menghafal satu juz dalam sebulan di kelas tahfizh. Sebagian sahabat Nabi, yang mendengar Al-Qur'an langsung dari lisan Rasulullah SAW, justru sengaja berhenti di sepuluh ayat. Mereka bukan kurang cerdas. Mereka sedang menjaga sesuatu yang diam-diam sering hilang dari hafalan kita.
Menghafal ayat tematik dari alquran dan mampu menjelaskannya terdengar seperti target sederhana, sampai suatu malam anak Anda bertanya, “Ayah, kenapa Allah SWT menguji orang baik?” Anda hafal Al-Baqarah 155 sejak SMP. Lafaznya lancar, tajwidnya rapi. Tapi saat itu lidah terasa kelu. Ayat itu ada di kepala, tapi tidak pernah benar-benar turun ke hati, apalagi sampai bisa dituturkan kepada orang yang Anda cintai.
Rasa kelu seperti ini jarang diakui. Ada karyawan yang tiap Senin berangkat subuh dengan cicilan menumpuk. Ia hafal ayat tentang rezeki, tapi kecemasannya tidak surut sedikit pun. Ada ibu muda yang hafal ayat tentang sabar, tapi tetap menangis diam-diam di dapur karena merasa gagal. Hafalannya tidak salah. Hanya saja, hafalan itu belum sempat menjadi teman bicara. Ia masih berdiri sebagai tamu yang sopan, belum sebagai sahabat yang bisa diajak pulang.
Hafal di Lisan, Asing di Hati
Al-Qur'an sendiri menegaskan untuk apa ia diturunkan. Ia tidak diturunkan sekadar untuk dilafalkan, tapi untuk direnungkan:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Terjemah makna: Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. Shad: 29)
Kata tadabbur berasal dari akar kata yang bermakna “bagian belakang” sesuatu. Men-tadabburi ayat berarti menelusuri apa yang ada di balik lafaznya: maksudnya, akibatnya, dan tuntutannya bagi hidup. Jadi hafalan adalah pintu, dan tadabbur adalah perjalanan masuk ke rumahnya. Banyak dari kita berdiri lama di depan pintu yang indah tanpa pernah melangkah ke dalam. Bisa jadi bukan karena malas, tapi karena tak ada yang pernah menunjukkan caranya.
Di sinilah pendekatan tematik menjadi jembatan. Para ulama tafsir memegang prinsip bahwa ayat-ayat Al-Qur'an saling menjelaskan satu sama lain. Imam Ibnu Katsir dalam muqaddimah tafsirnya menyebut cara penafsiran paling utama adalah menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, karena yang disebut ringkas di satu tempat sering diuraikan di tempat lain. Kalau seseorang menghimpun ayat-ayat tentang satu tema, misalnya sabar, rezeki, atau keluarga, lalu menghafal dan merenungkannya bersamaan, ayat-ayat itu mulai saling menerangi. Pemahamannya jadi utuh, tidak lagi berupa potongan yang tercecer.
Ketika Sepuluh Ayat Terasa Cukup
Imam Ath-Thabari dalam muqaddimah tafsirnya menukil ucapan sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Maknanya kurang lebih begini: dulu, bila salah seorang dari mereka mempelajari sepuluh ayat, ia tidak melampauinya sebelum memahami maknanya dan mengamalkannya. Riwayat yang semakna juga dinukil dari para tabi'in yang berguru kepada sahabat. Mereka belajar Al-Qur'an, ilmu, dan amal sekaligus.
Detail ini jarang direnungkan. Para sahabat hidup di masa wahyu turun. Hafalan mereka kuat, bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, dan guru mereka adalah Rasulullah SAW sendiri. Dengan semua keistimewaan itu, mereka tetap memilih pelan. Yang mereka kejar bukan jumlah, tapi penyatuan: ayat yang dihafal harus menjelma jadi cara berpikir, cara berbicara, dan cara memperlakukan orang lain.
Puncak penyatuan itu tampak pada diri Nabi SAW. Ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak beliau, jawabannya singkat namun dalam: akhlak beliau adalah Al-Qur'an (HR. Muslim). Beliau tidak hanya menghafal dan menjelaskan ayat. Beliau menjadi penjelasan yang hidup. Karena itu, kemampuan menjelaskan ayat pada hakikatnya bukan soal pandai berbicara. Ayat itu sudah lebih dulu “bekerja” pada diri orang yang menjelaskannya.
Rasulullah SAW pun menempatkan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an dalam satu tarikan napas:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Terjemah makna: Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)
Baca Juga
Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya: Mulai Dari Mana?
Perhatikan susunannya: ta'allama (mempelajari) lalu 'allama (mengajarkan). Mengajarkan di sini tidak harus berarti berdiri di mimbar. Menjelaskan satu ayat tentang sabar kepada pasangan yang sedang lelah, atau satu ayat tentang tawakal kepada sahabat yang baru di-PHK, sudah termasuk bagian dari mata rantai kebaikan itu.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Membuka Penghalang Pemahaman
Dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 1, Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an, Imam Al-Ghazali menguraikan adab-adab batin membaca Al-Qur'an. Beberapa di antaranya: menghadirkan keagungan Allah SWT yang berfirman, tadabbur, tafahhum (berusaha memahami), dan at-takhalli 'an mawani' al-fahm, yakni melepaskan diri dari penghalang-penghalang pemahaman.
Menurut Al-Ghazali, penghalang itu bisa berupa hal yang tampak saleh. Contohnya, perhatian yang habis untuk kesempurnaan bunyi huruf sampai makna terlewat, atau hati yang dikuasai kebiasaan dan dosa sehingga terhijab dari cahaya ayat. Sesudah itu ada adab takhshish: merasa bahwa setiap ayat ditujukan kepada diri sendiri. Ketika membaca perintah atau larangan, ia merasa sedang diperintah atau dilarang. Ketika membaca kisah, ia mencari pelajaran untuk dirinya.
Konsep ini menjawab kegelisahan yang kita bahas di awal. Ayat tentang rezeki tidak kunjung menenangkan karena kita membacanya sebagai informasi, belum sebagai surat pribadi dari Allah SWT untuk kita yang sedang cemas malam ini. Menghafal secara tematik membantu proses takhshish. Ketika lima ayat tentang rezeki dihafal bersamaan, hati tidak lagi mendengar satu kalimat penghiburan, tapi sebuah percakapan panjang dari Rabb yang memahami ketakutan hamba-Nya.
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab Penjaga dan Penyampai
Jika Al-Ghazali menerangi sisi batin, Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur'an menata sisi amal dan adabnya. Kitab ini khusus membahas adab para pembawa Al-Qur'an. Dalam bab adab pengajar dan pelajar, beliau menekankan bahwa niat belajar dan mengajar Al-Qur'an harus lurus karena Allah SWT, bukan untuk mengejar dunia, kedudukan, atau pujian. Beliau juga mengingatkan agar penuntut ilmu berguru kepada orang yang ahli dan terpercaya keilmuannya.
Poin kedua ini penting sekali bagi siapa pun yang ingin mampu menjelaskan ayat. Menjelaskan ayat bukan berarti menafsirkan sesuka hati. Kemampuan menjelaskan yang dimaksud adalah kemampuan menyampaikan kembali makna yang sudah dijelaskan para ulama tafsir yang muktabar, dengan bahasa yang bisa dipahami orang di sekitar kita. Jadi keberanian untuk berbagi harus berjalan bersama kerendahan hati untuk bertanya kepada guru dan kembali ke kitab tafsir terpercaya.
Al-Ghazali mengajari kita agar ayat masuk ke hati. An-Nawawi mengajari kita agar ayat keluar dari lisan dengan adab dan amanah. Keduanya tidak bertentangan. Keduanya adalah dua sayap burung yang sama.
Relevansinya Hari Ini: Langkah Kecil yang Bisa Dimulai
Allah SWT telah menjanjikan kemudahan bagi siapa pun yang mau mengambil pelajaran dari kitab-Nya:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Terjemah makna: Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar: 17)
Kemudahan itu bisa dijemput dengan langkah yang tidak muluk-muluk:
- Pilih satu tema yang sedang Anda butuhkan, bukan yang terdengar paling bergengsi. Kalau sedang terhimpit utang, mulailah dari tema rezeki dan tawakal, misalnya QS. Ath-Thalaq: 2-3. Kalau rumah tangga sedang berat, mulailah dari ayat-ayat tentang sakinah dan kesabaran.
- Himpun tiga sampai tujuh ayat saja, lalu baca terjemahnya dari sumber resmi seperti Al-Qur'an terjemah Kementerian Agama di quran.kemenag.go.id.
- Baca penjelasan ulama tafsir untuk tiap ayat, dan tanyakan kepada guru atau ustadz bila ada yang belum jelas.
- Tahan diri di sepuluh ayat, meneladani para sahabat: jangan pindah tema sebelum ayat-ayat itu mulai mengubah cara Anda menanggapi masalah.
- Jelaskan kepada satu orang, entah anak, pasangan, atau sahabat, dengan bahasa sederhana. Di situlah Anda akan tahu mana yang sudah dipahami dan mana yang masih sekadar dihafal.
Dengan cara ini, hafalan tidak lagi menjadi beban daftar yang harus dikejar. Ia menjadi bekal yang siap dipakai ketika hidup mengetuk pintu dengan pertanyaan-pertanyaan sulit.
Kembali ke malam itu, ketika anak Anda bertanya kenapa Allah SWT menguji orang baik. Mungkin yang ia butuhkan bukan ayah yang hafal paling banyak, melainkan ayah yang pernah duduk lama bersama satu ayat sampai ayat itu menjawab kegelisahannya sendiri. Dari sekian ayat yang sudah Anda hafal sejak kecil, adakah satu saja yang benar-benar pernah Anda ajak bicara?
Jalan pelan seperti para sahabat itu tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: membaca sedikit demi sedikit, merenung, dan menjaga istiqomah tanpa berlomba jumlah. Kalau hati Anda tergerak memulai dari satu juz dan satu tema, ambil bagian tadarus Al-Qur'an bersama di sini, dan biarkan ayat-ayat itu pelan-pelan menjadi teman bicara.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Shad: 29; QS. Al-Qamar: 17; QS. Ath-Thalaq: 2-3; QS. Al-Baqarah: 155
- Hadis: Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya (HR. Bukhari); akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur'an (HR. Muslim)
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1 (Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an); Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur'an; muqaddimah Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.