Ada dosa yang tidak pernah kita catat. Ia tidak datang dengan suara gaduh, tidak pula meninggalkan luka yang tampak. Ia menyelinap pelan lewat hal-hal kecil: keran yang dibiarkan mengalir, makanan yang tersisa lalu dibuang, lampu yang menyala di ruang kosong, tangki bahan bakar yang terus kita isi tanpa pernah bertanya ke mana perginya. Kita menyebutnya wajar. Allah SWT menyebutnya dengan nama lain.
“...dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan...” (QS Al-Isra: 26-27)
Bacalah sekali lagi kalimat itu perlahan. Boros bukan sekadar kebiasaan buruk yang merugikan dompet — Al-Qur'an menyandingkannya dengan persaudaraan setan. Bukan karena uang yang terbuang, tetapi karena di baliknya ada rasa tidak bersyukur, ada kelalaian pada amanah, ada hati yang lupa bahwa setiap nikmat kelak ditanya.
Hemat Bukan Pelit
Sebagian kita keliru mengira lawan dari boros adalah kikir. Padahal Islam menolak keduanya. Allah SWT justru memuji orang yang berdiri di tengah:
“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS Al-Furqan: 67)
Inilah maqam yang sulit itu: hemat tanpa menjadi pelit, dermawan tanpa menjadi boros. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa qana'ah — merasa cukup — adalah kekayaan yang sesungguhnya, karena ia membebaskan hati dari perbudakan pada dunia. Orang yang hemat bukan karena tidak mampu, melainkan karena ia paham bahwa setiap rupiah dan setiap tetes adalah titipan.
Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan kesederhanaan bahkan dalam hal yang tampak sepele seperti berwudhu — beliau mencontohkan tidak berlebihan menggunakan air. Bila air pun tetap dijaga, bagaimana dengan sumber daya yang kita tahu benar-benar terbatas?
Amanah yang Kita Pijak
Ada dimensi lain yang sering luput. Boros bukan hanya urusan pribadi antara kita dan harta — ia menyentuh bumi tempat kita berpijak, yang atasnya kita diberi amanah sebagai khalifah.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia...” (QS Ar-Rum: 41)
Ayat ini terasa semakin nyata di zaman kita. Udara kota yang kelabu, asap yang menyesakkan dada anak-anak, panas yang kian menyengat — semua itu bukan takdir yang jatuh begitu saja dari langit, melainkan sebagian buah dari pilihan-pilihan kecil kita yang menumpuk. Menjaga bumi, dengan demikian, bukan slogan modern. Ia bagian dari menjaga amanah.
Baca Juga
Nabi Adam Terjatuh, Lalu Menemukan Pintu: Rahasia Taubat yang Sering Kita Lupakan
Ketika Pilihan Kecil Menjadi Ibadah
Di sinilah hikmah bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Islam tidak menyuruh kita meninggalkan dunia; ia mengajari kita bersikap bijak di dalamnya. Setiap keputusan konsumsi — dari cara kita berbelanja, mengelola sisa makanan, hingga memilih kendaraan yang menemani keluarga bertahun-tahun — bisa menjadi ladang pahala bila diniatkan sebagai ikhtiar hemat dan menjaga amanah.
Teknologi hari ini justru membuka pintu itu lebih lebar. Salah satu ikhtiar yang kini makin terjangkau adalah beralih ke kendaraan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Bagi keluarga yang ingin menimbang dengan kepala dingin — berapa sebenarnya penghematan biaya harian, seberapa besar dampaknya bagi udara yang dihirup anak-anak — panduan, perbandingan, dan kalkulator hematnya bisa dipelajari dengan tenang di Mobil Listrik Indonesia. Bukan untuk gaya-gayaan, bukan pula demi pujian orang, melainkan sebagai satu bentuk kesadaran: bahwa hemat dan menjaga bumi adalah bahasa syukur yang paling jujur.
Sebab yang dinilai Allah SWT bukan mahal atau murahnya sebuah pilihan, melainkan niat dan kesadaran di baliknya. Orang yang berhemat karena riya' kehilangan pahalanya; orang yang berhemat karena takut miskin kehilangan ketenangannya. Tetapi orang yang berhemat karena sadar sedang memegang amanah — ia sedang beribadah, meski hanya lewat hal sekecil mematikan mesin saat berhenti lama.
Menutup dengan Kesadaran
Boros yang tak terasa adalah ujian paling halus, karena ia bersembunyi di balik kata sedikit ini tidak apa-apa. Padahal iman justru diuji pada yang kecil dan tersembunyi. Mari kita periksa kembali rumah tangga kita: adakah air, makanan, listrik, dan bahan bakar yang selama ini kita hamburkan tanpa sadar?
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur — yang menjaga titipan-Nya, sekecil apa pun, dengan penuh kesadaran. Dan semoga sholawat yang tak pernah putus kepada Nabi Muhammad SAW melembutkan hati kita untuk hidup bersahaja namun bermakna.
Sholawat tanpa syarat, istiqomah tanpa henti.