Kita sering mengira ghibah itu dosanya para penggosip, orang yang hobi mengumbar aib di warung kopi. Padahal ghibah paling sering lahir dari mulut orang baik yang sedang terluka, yang merasa hanya ingin curhat. Justru karena terasa wajar, ia jarang disadari sebagai dosa.
Bayangkan malam Jumat, pukul sepuluh. Seorang karyawan baru pulang lembur. Di grup WhatsApp kantor, seorang rekan baru saja dipuji atasan dalam rapat. Lalu masuk pesan pribadi dari teman satu divisi: “Kamu tahu nggak, dia itu bisa dipuji karena pintar cari muka.” Karyawan itu lelah, merasa kerja kerasnya tidak dilihat. Ia membalas satu kalimat, lalu satu lagi. Tiga puluh menit kemudian, kehormatan seseorang sudah habis dikunyah dua orang yang sama-sama merasa jadi korban.
Di situ letak beratnya: ghibah jarang datang dari kebencian yang terang-terangan. Ia datang dari luka yang tidak diobati, dari rasa kurang dihargai, dari lelah yang butuh tempat pelampiasan. Karena itu, membahas ghibah tidak cukup dengan melarang. Kita perlu jujur tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hati.
Mengapa Lidah Kita Begitu Mudah Membicarakan Orang?
Al-Qur'an tidak menyebut ghibah sekadar kesalahan kecil. Allah Subhanahu wa Ta'ala memakai perumpamaan yang paling menjijikkan bagi fitrah manusia:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kamu ada yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)
Perhatikan urutannya: prasangka, lalu mencari-cari kesalahan, lalu ghibah. Ayat ini memetakan jalan yang sering kita tempuh tanpa sadar. Semuanya dimulai dari dugaan di kepala (“jangan-jangan dia begitu”), lalu rasa penasaran mengintip (membuka profil, bertanya ke sana-sini), dan berakhir di lidah. Orang yang dighibahi disebut “saudara yang sudah mati” karena ia tidak hadir untuk membela diri, sama tak berdayanya dengan jenazah. Ayat ini pun tidak ditutup dengan ancaman, tetapi dengan dua nama Allah SWT: At-Tawwab dan Ar-Rahim. Pintu kembali dibuka di kalimat yang sama saat dosanya disebut.
Rasulullah SAW lalu menutup celah dalih yang paling sering kita pakai, yaitu “Tapi kan memang benar begitu orangnya”:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Terjemah makna: Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci. Ada yang bertanya: Bagaimana jika pada saudaraku memang ada apa yang aku katakan? Beliau menjawab: Jika memang ada padanya, sungguh engkau telah menggunjingnya. Jika tidak ada, sungguh engkau telah memfitnahnya. (HR. Muslim)
Jadi ukurannya bukan benar atau salahnya cerita, tetapi apakah saudara kita akan terluka jika mendengarnya. Kalau yang kita ceritakan benar, itu ghibah. Kalau tidak benar, itu fitnah (buhtan), yang lebih berat lagi.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Ghibah Berakar dari Hati yang Belum Sembuh
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 3, pada Kitab Afat al-Lisan (Bencana-bencana Lisan) di bagian Rub' al-Muhlikat (hal-hal yang membinasakan), Imam Al-Ghazali tidak berhenti pada hukum ghibah. Ia menelusuri sebab-sebab pendorongnya (al-asbab al-ba'itsah). Di antaranya: melampiaskan amarah, ikut-ikutan agar diterima teman bergaul (muwafaqat al-aqran), ingin mengangkat diri dengan merendahkan orang lain, dengki terhadap orang yang dipuji, dan sekadar bercanda atau mengisi waktu kosong.
Kalau direnungkan, daftar itu terasa seperti cermin. Karyawan yang lembur tadi tidak membenci rekannya. Ia sedang mencari pengakuan yang tidak ia dapat. Ibu yang membicarakan menantunya di arisan mungkin sedang menanggung rasa takut kehilangan anaknya. Menurut Al-Ghazali, ghibah hanyalah gejala. Penyakitnya ada di dalam: hasad (dengki), kibr (merasa lebih), atau amarah yang tidak disalurkan dengan benar.
Baca Juga
Kenapa Amal yang Tak Dilihat Siapa pun Justru Paling Berat Dijaga?
Karena itu, obat yang ia tawarkan pun bekerja dari dalam. Ada ilmu, yaitu menyadari bahwa ghibah memindahkan pahala kita kepada orang yang kita bicarakan. Ada juga amal, yaitu memeriksa sebab di hati sendiri lalu mengobati sebab itu. Siapa yang menggunjing karena dengki perlu belajar ridha dengan pembagian Allah SWT. Siapa yang menggunjing karena ingin diterima kelompok perlu bertanya: pantaskah membeli keakraban dengan murka Allah SWT? Pendekatan ini lembut sekaligus tajam. Kita tidak dicap pendosa, tetapi diajak memahami luka yang membuat lidah kita ringan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Batas yang Jelas dan Tanggung Jawab Pendengar
Kalau Al-Ghazali membedah batin, Imam An-Nawawi memberi rambu amal yang tegas. Dalam Riyadhus Shalihin, pada Kitab al-Umur al-Manhi 'anha (Kitab Perkara-perkara yang Dilarang), ia menyusun Bab Tahrim al-Ghibah (keharaman ghibah). Langsung sesudahnya ada Bab Tahrim Sama' al-Ghibah: mendengarkan ghibah pun terlarang. Pendengar yang diam dan menikmati ikut menanggung bagian. Kewajibannya adalah membela, mengalihkan pembicaraan, atau meninggalkan majelis itu jika mampu.
Di bab yang sama, An-Nawawi mengutip hadits yang mengubah posisi kita dari penonton menjadi penjaga:
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Terjemah makna: Barang siapa membela kehormatan saudaranya, Allah akan menolak api neraka dari wajahnya pada hari kiamat. (HR. Tirmidzi, beliau menilainya hasan)
Namun An-Nawawi juga jujur terhadap kebutuhan hidup nyata. Dalam bab tentang ghibah yang dibolehkan, ia menjelaskan enam keadaan ketika menyebut keburukan orang dibenarkan karena ada tujuan syar'i: melaporkan kezaliman kepada pihak yang berwenang, meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran, meminta fatwa, memperingatkan kaum muslimin dari bahaya (misalnya ketika dimintai pertimbangan soal calon mitra usaha atau calon menantu), menyebut orang yang terang-terangan berbuat maksiat sebatas maksiat yang ia tampakkan, dan menyebut julukan yang sudah menjadi pengenal tanpa niat merendahkan.
Rambu ini penting bagi orang yang sedang terhimpit. Istri yang dizalimi boleh mengadu kepada keluarga atau pihak yang bisa menolong. Karyawan yang dicurangi boleh melapor kepada atasan yang berwenang. Syariat tidak menyuruh kita memendam kezaliman. Yang dilarang adalah menjadikan aib orang sebagai hiburan, bahan tawa, atau cara menaikkan diri.
Kedua imam ini saling mengisi. Al-Ghazali membantu kita mengenali mengapa kita tergoda. An-Nawawi menunjukkan di mana batasnya dan apa yang harus dilakukan ketika kita berada di tengah majelis ghibah.
Relevansinya Hari Ini: Majelis Ghibah Itu Kini Ada di Saku Kita
Dulu, ghibah butuh tempat: teras rumah, pos ronda, atau warung. Kini majelisnya ada di layar lima inci. Tangkapan layar percakapan pribadi disebar, kolom komentar dipenuhi penilaian terhadap orang yang tidak kita kenal, dan video potongan tentang aib seseorang ditonton jutaan kali. Satu kalimat ghibah bisa sampai ke ribuan orang dan tersimpan bertahun-tahun.
Rasulullah menceritakan apa yang beliau saksikan pada malam Mi'raj. Beliau melewati suatu kaum yang berkuku tembaga dan mencakari wajah serta dada mereka sendiri. Ketika beliau bertanya, Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menodai kehormatan mereka (HR. Abu Dawud). Gambaran ini menyentak: yang dilukai pada akhirnya adalah wajah sendiri. Ghibah yang terasa melegakan sesaat meninggalkan hati yang semakin gelisah, curiga, dan sulit merasa tenang.
Nabi SAW juga menegaskan bahwa kehormatan seorang muslim sama sucinya dengan darah dan hartanya (HR. Muslim). Kita tidak akan mencuri dompet rekan kerja. Tetapi betapa sering kita mengambil sesuatu yang sama berharganya, yaitu nama baiknya, lewat satu pesan singkat.
Langkah Kecil Menjaga Kehormatan Sesama
Menjaga lisan tidak terjadi dalam semalam. Para ulama mengajarkan langkah-langkah bertahap yang bisa dimulai hari ini:
- Berhenti sejenak sebelum mengetik. Tanyakan: seandainya ia membaca pesan ini, apakah ia akan terluka? Pertanyaan sederhana itu adalah definisi ghibah dari Rasulullah SAW.
- Kenali luka di balik dorongan bicara. Sesuai jalan Al-Ghazali, kalau ingin menggunjing, cari tahu sebabnya: lelah, iri, atau ingin diterima? Obati sebabnya, bukan hanya menahan lidahnya.
- Jadilah pembela, bukan penonton. Cukup satu kalimat: “Mungkin dia punya alasan yang kita tidak tahu.” Kalimat itu bisa menjadi perisai bagi kita di hari kiamat.
- Bertobat dengan adab. Para ulama menjelaskan tobat dari ghibah meliputi penyesalan, berhenti, dan tekad tidak mengulangi. Tentang wajib atau tidaknya meminta maaf langsung, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengharuskannya. Sebagian lain menilai cukup dengan memohonkan ampun, mendoakan, dan menyebut kebaikannya bila memberitahunya justru menambah luka. Keduanya pendapat yang dihormati. Pembaca dapat mengikuti bimbingan guru yang dipercaya.
- Isi lidah dengan yang baik. Rasulullah SAW bersabda: barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim). Lidah yang dibiasakan berdzikir dan bersholawat akan lebih cepat merasa canggung ketika hendak menggunjing.
Pada akhirnya, menjaga kehormatan orang lain adalah bentuk cinta, cinta yang Rasulullah SAW contohkan dengan menutupi aib, bukan membukanya. Maka ada satu pertanyaan yang pantas kita bawa pulang malam ini: jika Allah SWT selama ini begitu rapi menutupi aib-aib kita, masih pantaskah kita sibuk membuka aib saudara sendiri?
Belajar menjaga lisan terasa lebih ringan jika ditempuh bersama. Salah satu cara yang lembut adalah membiasakan lidah dengan sholawat, sedikit demi sedikit, sampai ia lebih akrab dengan kebaikan daripada dengan cerita tentang orang. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama, pelan-pelan dan tanpa ajang pamer jumlah. Jika hati tergerak, mulailah setor sholawat harian bersama di sini.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Hujurat: 12
- Hadis: HR. Muslim (definisi ghibah; kehormatan muslim), HR. Tirmidzi (membela kehormatan saudara), HR. Abu Dawud (kisah malam Mi'raj), HR. Bukhari dan Muslim (berkata baik atau diam)
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 3, Kitab Afat al-Lisan; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Kitab al-Umur al-Manhi 'anha (Bab Tahrim al-Ghibah dan Bab Tahrim Sama' al-Ghibah)
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.