Seorang lelaki memamerkan mobil barunya, jam tangannya, dan liburannya. Orang-orang berkerumun dan berkata, “Andai kami punya seperti dia.” Kalimat itu tidak ditulis di kolom komentar hari ini. Kalimat itu sudah diabadikan Al-Qur'an lebih dari empat belas abad lalu.
Jam setengah dua belas malam, cicilan motor belum lunas, dan jempol masih menggulir layar. Muncul teman SMA yang baru beli rumah, lalu kenalan yang pamer liburan ke luar negeri, lalu konten “umur 25 sudah punya aset”. Tidak ada yang salah dengan mereka. Tapi ada yang pelan-pelan retak di dalam dada kita: rasa tertinggal, rasa kurang, dan bisikan bahwa hidup kita gagal karena dompet kita tipis. Besok pagi kita berangkat kerja dengan hati yang sudah lelah sebelum hari dimulai.
Luka ini jarang dibicarakan dengan jujur. Kita menyebutnya “motivasi”, padahal sering ia adalah haus yang tak pernah selesai. Kita bekerja dua kali lebih keras, tapi rasa cukup tak kunjung datang. Ibadah pun ikut terseret: sholat jadi buru-buru, doa isinya daftar keinginan, dan Al-Qur'an jarang disentuh karena “belum sempat”. Pada titik inilah cinta dunia berhenti jadi sekadar keinginan, lalu berubah menjadi penguasa hati.
Ketika Qarun Keluar dengan Perhiasannya
Al-Qur'an mengisahkan Qarun, seorang dari kaum Nabi Musa yang diberi harta melimpah sampai kunci-kunci gudangnya terasa berat dipikul sekelompok orang kuat (QS. Al-Qashash: 76). Orang-orang berilmu dari kaumnya menasihatinya dengan nasihat yang sangat seimbang. Mereka tidak menyuruhnya membuang harta. Mereka berkata: carilah negeri akhirat dengan apa yang Allah berikan, jangan lupakan bagianmu di dunia, berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan jangan berbuat kerusakan (QS. Al-Qashash: 77).
Jawaban Qarun adalah inti penyakitnya: “Sesungguhnya aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al-Qashash: 78). Ia tidak sekadar kaya. Ia merasa kekayaannya murni hasil kehebatannya sendiri, tanpa jejak karunia Allah. Lalu datang adegan yang terasa begitu modern:
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
Terjemah makna: Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan perhiasannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andai kami punya seperti apa yang diberikan kepada Qarun; sungguh dia benar-benar beruntung besar.” Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata, “Celakalah kalian! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak ada yang memperolehnya kecuali orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 79-80)
Detail yang jarang direnungkan: Al-Qur'an tidak hanya bercerita tentang Qarun, tetapi tentang penontonnya. Ada dua kelompok yang melihat pemandangan yang sama persis. Yang satu terpukau dan merasa kecil, yang lain melihat lebih jauh dari kilau. Perbedaannya bukan pada isi dompet, melainkan pada isi hati dan ilmu. Dan ayat itu menutup dengan kata kunci yang mengejutkan: hanya orang sabar yang sampai. Sabar di sini adalah kemampuan menahan diri agar tidak menukar ketenangan dengan kilau yang dipamerkan orang lain. Beberapa ayat kemudian, setelah Qarun dibenamkan bersama hartanya, justru orang-orang yang kemarin iri berkata: seandainya Allah tidak memberi karunia kepada kami, tentu kami pun ikut dibenamkan (QS. Al-Qashash: 82). Iri yang kemarin terasa wajar ternyata nyaris menjadi jalan kebinasaan.
Kekhawatiran yang sama pernah diucapkan Rasulullah SAW dengan sangat lembut. Ketika Abu Ubaidah bin Al-Jarrah datang membawa harta dari Bahrain, kaum Anshar bergegas mengikuti sholat Subuh bersama beliau. Rasulullah SAW tersenyum melihat mereka, lalu bersabda:
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Baca Juga
Amal yang Sama, Nilai yang Berbeda: Rahasia Niat dalam Kitab Al-Ghazali
Terjemah makna: Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir dunia dibentangkan luas untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba, lalu dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan: beliau tidak marah, tidak mencela para sahabat yang datang karena berharap bagian. Beliau tersenyum, lalu menunjuk bahaya yang sebenarnya, yaitu tanāfus, perlombaan saling mengungguli. Yang dikhawatirkan bukan harta di tangan, tetapi lomba yang membuat hati lupa ke mana ia sedang berjalan. Itulah kasih sayang seorang Nabi: ia tidak takut umatnya miskin, ia takut umatnya kehilangan dirinya sendiri.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Harta Itu Ular yang Menyimpan Racun dan Penawar
Dalam Rub' Al-Muhlikat (bagian perkara yang membinasakan) di Ihya' Ulumuddin Juz 3, Imam Al-Ghazali menulis dua kitab yang berdekatan: Kitab Dzamm Ad-Dunya (celaan terhadap dunia) dan Kitab Dzamm Al-Mal wa Al-Bukhl (celaan terhadap harta dan kikir). Yang menarik, beliau tidak mengajarkan kebencian buta terhadap dunia. Dunia yang tercela, dalam uraian beliau, adalah segala sesuatu yang diambil semata untuk kesenangan nafsu dan memalingkan dari Allah SWT, sedangkan apa yang menolong perjalanan menuju akhirat tidak termasuk dunia yang tercela.
Al-Ghazali mengumpamakan harta seperti ular yang di dalamnya ada racun sekaligus penawar (tiryaq). Penawarnya adalah manfaatnya: menafkahi keluarga, menjaga kehormatan dari meminta-minta, menolong sesama. Racunnya adalah sifat yang tumbuh diam-diam: sibuk menghitung, takut kehilangan, sombong saat punya, dan iri saat orang lain punya lebih. Orang yang paham cara memegang ular bisa mengambil penawarnya. Orang yang tidak paham akan digigit, dan sering tanpa sadar bahwa ia sedang keracunan.
Inilah dimensi batin yang paling relevan untuk keresahan kita di malam hari itu. Masalahnya bukan kita tidak punya rumah atau mobil. Masalahnya, gambar rumah dan mobil orang lain sudah tinggal di dalam hati, menyewa ruang yang seharusnya untuk Allah SWT. Hati yang dihuni perbandingan tidak akan pernah merasa cukup, sebab selalu ada orang yang “lebih”. Al-Ghazali mengajak kita memeriksa bukan isi rekening, tetapi arah hati: apakah harta yang kita kejar sedang menjadi kendaraan, atau sudah menjadi tujuan?
Perspektif Imam An-Nawawi: Zuhud yang Membumi dan Bisa Diamalkan
Bila Al-Ghazali membedah penyakitnya, Imam An-Nawawi memberi jalan amal yang tertata. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun satu bab khusus: Bab Fadhl Az-Zuhd fi Ad-Dunya wa Al-Hatstsu 'ala At-Taqallul minha (keutamaan zuhud terhadap dunia dan anjuran menyedikitkannya). Hadits Abu Ubaidah dari Bahrain di atas termasuk yang beliau himpun dalam bab tersebut, berdampingan dengan hadits-hadits tentang kesederhanaan hidup Rasulullah SAW dan para sahabat.
Dalam Al-Arba'in An-Nawawiyyah (hadits ke-31), beliau juga memuat hadits riwayat Ibnu Majah yang beliau nilai hasan: seseorang meminta amalan yang membuatnya dicintai Allah SWT dan manusia, lalu Rasulullah SAW menjawab, zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya manusia mencintaimu. Bagian kedua hadits ini terasa sangat sosial: berhenti menghitung milik orang lain ternyata justru membuat kita lebih dicintai sesama, karena hubungan tidak lagi dicemari rasa iri dan pamrih.
Kedua ulama ini saling melengkapi. Al-Ghazali menjaga agar hati tidak diracuni; An-Nawawi menjaga agar amal tetap berjalan wajar. Zuhud dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah bukan berhenti bekerja atau menolak rezeki halal. Rasulullah sendiri memuji harta yang baik di tangan orang saleh (HR. Ahmad). Zuhud adalah tidak menggantungkan ketenangan pada apa yang bisa hilang. Ungkapan yang masyhur di kalangan para ulama merangkumnya dengan indah: letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu.
Relevansinya Hari Ini: Kita Semua Sedang Berdiri di Kerumunan Itu
Setiap kali membuka media sosial, kita sebenarnya sedang berdiri di tengah kaum Qarun. Ada yang keluar dengan perhiasannya, dan kita dipaksa memilih: masuk barisan yang berkata “andai aku seperti dia”, atau barisan yang diberi ilmu. Algoritma tidak peduli hati kita; ia terus menyuguhkan perlombaan. Karena itu, menjaga hati hari ini membutuhkan langkah yang sengaja, bukan sekadar niat baik.
- Kenali pemicu. Jika akun tertentu selalu meninggalkan rasa kurang, beristirahatlah darinya. Itu bukan memusuhi orang, tetapi merawat hati sendiri.
- Ganti “andai aku” dengan “alhamdulillah untuknya”. Mendoakan kebaikan bagi nikmat orang lain adalah obat paling sederhana untuk iri yang mulai tumbuh.
- Hitung yang sudah ada sebelum mengejar yang belum ada. Pekerjaan yang masih ada, keluarga yang masih utuh, kesehatan yang masih menemani: daftar ini jarang kita tulis.
- Beri porsi akhirat dalam harta. Sedekah kecil yang rutin, sekecil apa pun, mengajarkan hati bahwa harta adalah titipan yang mengalir, bukan benteng yang dijaga mati-matian.
- Isi ruang hati dengan cinta yang lebih tinggi. Hati tidak pernah kosong; jika tidak diisi zikir, sholawat, dan Al-Qur'an, ia akan diisi oleh kilau dunia.
Utang yang belum lunas tetap harus diikhtiarkan, dan cita-cita memperbaiki ekonomi keluarga adalah ibadah bila niatnya lurus. Yang berubah adalah posisi dunia dalam diri kita: dari raja menjadi pelayan. Ketika dunia menjadi pelayan, kita bisa bekerja keras tanpa kehilangan tidur, bisa melihat keberhasilan orang lain tanpa merasa hancur, dan bisa kehilangan sesuatu tanpa merasa kehilangan Allah SWT.
Kisah Qarun tidak berakhir dengan pertanyaan berapa hartanya, tetapi di barisan mana para penontonnya berdiri. Malam ini, ketika layar kembali menyala dan seseorang keluar dengan perhiasannya, kita akan berada di barisan yang mana?
Menjaga hati memang bukan pekerjaan sehari, dan tidak perlu ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: menata hati pelan-pelan lewat sholawat dan tadarus, tanpa lomba jumlah, tanpa saling pamer. Jika berkenan, mari berjalan bersama di member.alfatihrps.com: sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Qashash: 76-82 (kisah Qarun dan nasihat orang-orang berilmu).
- Hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang kekhawatiran Rasulullah SAW akan dibentangkannya dunia; hadis zuhud riwayat Ibnu Majah dalam Al-Arba'in An-Nawawiyyah no. 31.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 3 (Kitab Dzamm Ad-Dunya dan Kitab Dzamm Al-Mal wa Al-Bukhl); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Fadhl Az-Zuhd fi Ad-Dunya.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.