Doa untuk kedua orang tua yang sudah meninggal, dalam bahasa Arab, sudah kita hafal sejak kecil, sejak duduk di bangku TPQ. Anehnya, banyak orang justru tak sanggup mengucapkannya sampai selesai saat makam ayah atau ibunya masih basah. Yang jarang ditanya: sebenarnya apa yang membuat lidah kelu di saat itu?
Mungkin karena doa itu dulu terasa seperti hafalan biasa, dan baru sekarang terasa sebagai satu-satunya hal yang masih bisa kita kirimkan. Ada yang pulang dari pemakaman lalu membuka lemari, mencium bau baju ibunya, dan tiba-tiba sadar bahwa telepon minggu lalu, yang ia akhiri buru-buru karena rapat, ternyata telepon terakhir. Ada yang masih menanggung sisa utang biaya rumah sakit ayahnya, dan setiap kali tagihan datang, rasa bersalahnya ikut datang: apa aku sudah cukup berbakti?
Rasa bersalah ini tidak perlu buru-buru ditutup. Ia jujur. Ia lahir dari cinta yang tidak sempat tuntas. Para ulama tidak memintanya dibuang, tapi diarahkan. Rasa bersalah yang tidak diarahkan akan membusuk jadi penyesalan yang melumpuhkan. Kalau diarahkan, ia bisa menjadi doa yang tidak pernah putus.
Pintu yang Tidak Ikut Tertutup oleh Kematian
Kabar paling menenangkan bagi seorang anak yang ditinggal justru datang dari hadits tentang terputusnya amal. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Terjemah makna: Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)
Coba perhatikan baik-baik. Di hadits ini, anak tidak disebut sebagai “anak yang sukses”, “anak yang kaya”, atau “anak yang membalas semua jasa orang tuanya”. Anak disebut dengan satu sifat saja: saleh dan mendoakan. Artinya, pintu bakti yang paling dijamin tidak membutuhkan gaji besar atau waktu luang. Yang dibutuhkan cuma hati yang ingat dan dua tangan yang terangkat. Jadi seorang anak yang masih bergulat dengan utang, lelah bekerja, dan merasa belum bisa memberi apa-apa, tetap memegang kunci yang tidak bisa direbut siapa pun.
Bakti lewat sedekah juga dibenarkan oleh sunnah. Dalam riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha, seorang laki-laki bercerita bahwa ibunya wafat mendadak, lalu bertanya apakah ibunya mendapat pahala kalau ia bersedekah atas nama ibunya. Rasulullah menjawab: ya (HR. Bukhari dan Muslim). Sedekah tidak harus besar. Sebungkus nasi untuk tetangga yang kesusahan, diniatkan untuk ayah atau ibu, sudah termasuk bakti yang terus berjalan.
Lafaz Doa yang Diajarkan Al-Qur'an dan Sunnah
Doa paling dasar untuk orang tua diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, bersamaan dengan perintah merendahkan diri di hadapan mereka:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Terjemah makna: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil. (QS. Al-Isra': 24)
Frasa kamā rabbayānī shaghīrā, “sebagaimana mereka mendidikku waktu kecil”, membuat kita mengingat lagi malam-malam ketika mereka begadang menunggui kita demam, dan pagi-pagi ketika mereka menahan lapar supaya kita bisa jajan. Doa ini tidak meminta rahmat secara umum. Ia meminta rahmat yang seukuran pengorbanan yang dulu tidak kita sadari.
Baca Juga
Ayat Tematik Adalah Apa, dan Mengapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Hati Salah Arah?
Al-Qur'an juga merekam doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang menyertakan kedua orang tuanya:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Terjemah makna: Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku serta orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab. (QS. Ibrahim: 41)
Di banyak majelis dan madrasah, para guru mengajarkan rangkaian ringkas yang memadukan makna ayat-ayat tersebut: rabbighfir lī wa li wālidayya warhamhumā kamā rabbayānī shaghīrā, yang artinya “Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil”. Ada juga yang memakai doa shalat jenazah yang diriwayatkan Imam Muslim dari 'Auf bin Malik, lalu menyesuaikan kata gantinya untuk dua orang: Allāhummaghfir lahumā warhamhumā wa 'āfihimā wa'fu 'anhumā, yang artinya “Ya Allah, ampunilah keduanya, rahmatilah keduanya, selamatkanlah keduanya, dan maafkanlah keduanya”. Penyesuaian kata ganti seperti ini lazim diajarkan para guru, karena doa di luar shalat boleh dipanjatkan dengan lafaz yang paling menyentuh hati pendoanya.
Perspektif Imam An-Nawawi: Kepastian yang Menenangkan
Imam An-Nawawi menyusun Al-Adzkar, kitab zikir yang menjadi rujukan lintas generasi. Di dalamnya ada pembahasan khusus tentang ucapan orang hidup yang bermanfaat bagi orang yang sudah wafat. Ketika menjelaskan hadits tiga amal di atas dalam Syarh Shahih Muslim (Kitab Al-Washiyyah), beliau menjelaskan bahwa para ulama bersepakat doa dan sedekah sampai kepada mayit dan memberinya manfaat.
Bagi anak yang dihantui keraguan, apakah doaku sampai, apakah ayah mendengar, apakah semua ini ada gunanya, kepastian ini menjadi tempat berpijak. Imam An-Nawawi juga mencatat bahwa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab tentang sampainya pahala bacaan Al-Qur'an yang dihadiahkan kepada mayit. Sebagian ulama berpendapat pahalanya sampai, sebagian lain berpendapat berbeda. Perbedaan ini berada di wilayah furu' (cabang amalan), bukan inti akidah. Karena itu, kita cukup menghormati setiap muslim yang mengikuti bimbingan ulama dan gurunya, sambil berpegang pada titik yang disepakati semua pihak: doa sampai.
Perspektif Al-Ghazali dan Ibnu Qayyim: Doa sebagai Jalan Pulang Hati
Imam Al-Ghazali menutup Ihya' Ulumuddin (Juz 4) dengan Kitab Dzikr al-Maut wa Ma Ba'dahu, kitab tentang mengingat kematian dan apa yang terjadi sesudahnya. Pesan pokoknya adalah ini: mengingat kematian tidak dimaksudkan untuk menenggelamkan manusia dalam ketakutan. Ia dimaksudkan untuk memutus keterikatan hati pada dunia yang menipu. Bagi anak yang kehilangan, ini sebuah cermin. Duka atas orang tua sebetulnya adalah undangan untuk menata ulang hidup. Waktu yang kemarin habis untuk mengejar hal-hal yang tidak kita bawa mati, sekarang bisa diberikan untuk doa dan amal saleh yang pahalanya ikut mengalir kepada mereka.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dalam kitab Ar-Ruh pada pembahasan tentang sampainya amal orang hidup kepada orang yang telah wafat, menegaskan dengan dalil yang panjang bahwa doa, istighfar, dan sedekah bermanfaat bagi mayit. Kalau Al-Ghazali menyentuh sisi batin, yaitu duka yang mengubah arah hidup, Ibnu Qayyim menguatkan sisi amalnya, yaitu kepastian bahwa amal kita tidak sia-sia. Keduanya saling melengkapi: hati yang dilunakkan oleh kematian, dan tangan yang digerakkan oleh keyakinan.
Relevansinya Hari Ini: Berbakti di Sela Lelah
Hidup sekarang tidak memberi banyak ruang untuk berduka. Cuti duka cuma beberapa hari, cicilan tetap jalan, anak tetap harus diantar sekolah. Banyak orang akhirnya menyimpan duka diam-diam, lalu merasa bersalah karena “tidak sempat” mendoakan. Padahal doa tidak menunggu suasana yang sempurna. Ia bisa dibisikkan di antara dua shalat fardhu, di motor saat lampu merah, atau sebelum tidur ketika rumah sudah sepi.
Adab berdoa juga bisa membantu: mulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah. Dalam riwayat Fadhalah bin 'Ubaid, Nabi SAW mengajarkan agar doa dibuka dengan pujian kepada Allah, lalu shalawat kepada beliau, baru kemudian berdoa sesuai hajat (HR. Tirmidzi). Shalawat di awal doa melatih kita untuk merendah. Sebelum meminta untuk orang yang kita cintai, kita lebih dulu menyambung hati kepada kekasih Allah. Kalau ingin menambah, sempatkan tadarus beberapa ayat setiap hari, dan jadikan itu waktu khusus untuk mengingat mereka.
Beberapa langkah kecil yang bisa dijaga:
- Satu doa pendek untuk orang tua setiap selesai shalat fardhu, walau hanya satu kalimat.
- Sedekah kecil yang rutin, diniatkan untuk mereka.
- Menyambung silaturahmi dengan sahabat dan kerabat ayah ibu. Ini juga bentuk bakti yang dicontohkan dalam sunnah.
- Menjaga nama baik mereka lewat akhlak kita sendiri, karena anak saleh adalah doa yang berjalan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya tidak lagi “apakah doaku sampai?”, karena para ulama sudah memberi kepastian. Pertanyaannya lebih sunyi dan lebih jujur: kalau ayah dan ibu bisa melihat hari-harimu sekarang, apakah mereka akan tersenyum karena merasa doanya dulu sudah terkabul dalam dirimu?
Perjalanan menjadi anak saleh yang terus mendoakan tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: membuka hari dengan shalawat dan menyempatkan tadarus, pelan-pelan dan tanpa ajang pamer jumlah, lalu menyelipkan doa untuk orang-orang tercinta yang telah lebih dulu pulang. Kalau hatimu ingin mulai bersama, kamu bisa mulai setor shalawat di sini atau ikut membaca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Isra': 24 dan QS. Ibrahim: 41.
- Hadis: HR. Muslim (terputusnya amal kecuali tiga perkara; doa shalat jenazah dari 'Auf bin Malik), HR. Bukhari dan Muslim (sedekah untuk ibu yang wafat), HR. Tirmidzi (adab membuka doa dengan pujian dan shalawat).
- Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim (Kitab Al-Washiyyah) dan Al-Adzkar; Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4 (Kitab Dzikr al-Maut wa Ma Ba'dahu); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ar-Ruh.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.