Saat kabar seseorang yang terkenal memeluk Islam menyebar di lini masa, ada satu getaran halus di dada yang jarang kita periksa: rasa menang. Bukan syukur atas hidayah, tapi semacam kemenangan tim. Dari mana datangnya perasaan itu โ dan apakah ia benar-benar milik iman kita, atau justru milik ego yang menumpang di baju agama?
Fenomenanya berulang setiap beberapa bulan. Sebuah nama besar disebut-sebut baru bersyahadat. Tangkapan layar beredar, video dipotong-potong, caption penuh tanda seru, dan dalam hitungan jam kabar itu sudah dibagikan puluhan ribu kali โ sering kali sebelum ada satu pun konfirmasi yang jelas. Kita ikut membagikan, ikut terharu, ikut menuliskan komentar penuh emosi. Lalu beberapa hari kemudian muncul bantahan, atau ternyata kabarnya keliru, atau orang yang bersangkutan sendiri tidak pernah menyatakan apa-apa. Yang tersisa hanyalah rasa malu yang cepat kita lupakan, menunggu kabar viral berikutnya.
Di sinilah persoalannya bukan sekadar soal hoaks. Ada sesuatu yang lebih dalam: kita telah menjadikan keimanan seseorang โ perkara paling privat antara hamba dan Rabb-nya โ sebagai tontonan dan bahan sensasi. Padahal hidayah bukan pertandingan yang perlu kita rayakan seperti gol di menit akhir. Ia adalah rahasia agung yang bahkan tak sepenuhnya berada di tangan manusia mana pun.
Tabayyun: Adab yang Hilang di Kecepatan Jari
Allah Subhanahu wa Ta'ala meletakkan sebuah rambu yang seolah diturunkan khusus untuk zaman ketika berbagi kabar hanya perlu satu sentuhan jari:
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ุฅูู ุฌูุงุกูููู
ู ููุงุณููู ุจูููุจูุฅู ููุชูุจูููููููุง ุฃูู ุชูุตููุจููุง ููููู
ูุง ุจูุฌูููุงููุฉู ููุชูุตูุจูุญููุง ุนูููููฐ ู
ูุง ููุนูููุชูู
ู ููุงุฏูู
ูููู
Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini memerintahkan tabayyun โ memverifikasi kebenaran sebuah kabar sebelum menyikapinya, apalagi menyebarkannya. Para mufasir menjelaskan bahwa yang dikecam bukan hanya kabar bohong, melainkan sikap tergesa menerima dan meneruskan kabar tanpa memeriksa. Menariknya, ujung ayat berbicara tentang penyesalan: sebuah isyarat bahwa ketergesaan hampir selalu berakhir pada rasa malu.
Rasulullah SAW menegaskan bahaya ini dengan bahasa yang sederhana namun menusuk:
ููููู ุจูุงููู
ูุฑูุกู ููุฐูุจูุง ุฃููู ููุญูุฏููุซู ุจูููููู ู
ูุง ุณูู
ูุนู
Terjemah makna: Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar. (HR. Muslim)
Sabda ini menempatkan orang yang gemar meneruskan setiap kabar โ tanpa menyaring โ dalam kategori pendusta, meski ia tidak berniat berbohong. Sebab menyebarkan sesuatu yang belum pasti berarti ikut memikul tanggung jawab atas kekeliruannya. Dalam konteks kabar keislaman seseorang, dampaknya lebih berat lagi: kita mempermainkan perkara suci demi kepuasan sesaat.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Penyakit Lisan dan Hati yang Terburu
Dalam Kitab Aafaat al-Lisan (Ihya' Ulumuddin, Juz 3), Imam Al-Ghazali membedah panjang lebar penyakit-penyakit lisan, dan salah satu yang beliau soroti adalah tergesa berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui kepastiannya. Menurut beliau, lisan adalah anggota tubuh yang paling ringan digerakkan namun paling berat akibatnya. Banyak manusia menganggap remeh perkataan, padahal justru di situlah pintu terbesar menuju dosa.
Baca Juga
Ketika Bumi Menyambut Yatim: Membaca Ulang Maulid dari Sirah yang Shahih
Al-Ghazali menaruh akar persoalan bukan pada lisan itu sendiri, melainkan pada hati yang belum jernih. Ketika hati masih dipenuhi hasrat untuk terlihat, untuk lebih dulu tahu, untuk menjadi yang pertama membagikan, maka lisan dan jari hanya menjadi corong dari kegelisahan batin itu. Inilah dimensi spiritual dari fenomena viral: kita sering menyebar kabar bukan karena peduli pada kebenaran, tapi karena butuh merasa relevan, butuh dianggap bagian dari sesuatu yang besar. Menyembuhkannya, kata Al-Ghazali, dimulai dari menyucikan niat โ bertanya jujur pada diri: untuk apa aku menyebarkan ini?
Perspektif Imam An-Nawawi: Husnuzan dan Menjaga Kehormatan
Jika Al-Ghazali menyoroti dimensi batin, Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin memberi kerangka amal yang praktis. Beliau menyusun bab khusus tentang keutamaan berprasangka baik (husnuzan) dan larangan menyakiti sesama muslim, termasuk dengan lisan. Salah satu hadits yang beliau bawakan menegaskan bahwa seorang muslim sejati adalah orang yang menjadikan orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Dalam konteks kabar keislaman seseorang, prinsip An-Nawawi ini mengajarkan dua hal sekaligus. Pertama, husnuzan: jika benar seseorang mendapat hidayah, sikap kita cukup mendoakan keteguhannya, bukan menjadikannya trofi. Kedua, menjaga kehormatan: kita tidak berhak menyeret seseorang menjadi bahan spekulasi publik, baik untuk memuji berlebihan maupun untuk mencurigai. Keimanan adalah urusan yang harus dihormati keprivasiannya. Menjadikannya konten sensasi, sekalipun dengan niat gembira, tetap merupakan bentuk melampaui batas terhadap ruang paling suci dalam diri seseorang.
Hidayah Bukan Milik Kita untuk Dirayakan
Ada satu kebenaran yang sering terlupa di tengah euforia: hidayah sepenuhnya di tangan Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW, manusia paling mulia dan paling gigih berdakwah, ditegur lembut soal ini:
ุฅูููููู ููุง ุชูููุฏูู ู
ููู ุฃูุญูุจูุจูุชู ูููููฐููููู ุงูููููู ููููุฏูู ู
ูู ููุดูุงุกู
Terjemah makna: Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Qashash: 56)
Jika Nabi sendiri tidak memiliki kuasa atas hidayah, apalagi kita. Maka rasa menang yang kadang menyusup itu sesungguhnya keliru alamat. Bukan kita yang membawa siapa pun masuk Islam; Allah SWT-lah yang membuka hati. Sikap yang benar bukanlah merayakan seolah kita baru saja memenangkan sesuatu, melainkan tunduk syukur bahwa Allah SWT masih terus membuka pintu-pintu-Nya bagi hamba yang Dia kehendaki.
Sirah Nabi yang shahih memberi teladan indah. Ketika orang-orang mulai memeluk Islam, Rasulullah SAW tidak menjadikannya bahan kebanggaan yang diumbar, melainkan merangkul mereka dengan lembut, membimbing pelan-pelan, dan menjaga kehormatan mereka. Keindahan Islam tersampaikan bukan lewat sorak-sorai, tetapi lewat akhlak yang menenangkan.
Relevansinya Hari Ini: Menguatkan Iman Sendiri
Barangkali inilah pertanyaan yang lebih layak kita ajukan pada diri: ketika kita begitu bersemangat menyebarkan kabar keimanan orang lain, seberapa besar perhatian yang kita beri pada keimanan kita sendiri? Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri, membahas, dan memperdebatkan iman seseorang yang bahkan tak kita kenal, sementara sholat kita masih sering tergesa dan hati kita masih kerap lalai.
Fenomena viral hidayah semestinya menjadi cermin, bukan panggung. Ia mengingatkan bahwa keindahan Islam nyata dan masih terus menarik hati banyak orang. Tetapi cara terbaik merespons keindahan itu bukan dengan menjadikannya tontonan, melainkan dengan memperbaiki diri agar kita sendiri layak disebut pewaris keindahan tersebut. Iman bukan sesuatu yang kita bela di kolom komentar; ia sesuatu yang kita rawat dalam sujud yang khusyuk, dalam istiqomah yang sunyi.
Maka lain kali kabar seperti itu lewat di layarmu, tahan sejenak sebelum jarimu bergerak. Tanyakan: apakah ini benar? Apakah pantas kusebarkan? Dan yang paling penting โ apakah imanku sendiri sudah cukup kokoh untuk tidak butuh merasa menang dari iman orang lain?
Merawat iman memang perkara sunyi yang lebih mudah ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: mengalihkan energi dari sekadar menonton iman orang lain menjadi merawat cinta kepada Rasulullah SAW lewat sholawat harian, dan menenangkan hati lewat tadarus Al-Qur'an. Gabung pejuang istiqomah: mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus bersama โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- QS. Al-Hujurat: 6 tentang perintah tabayyun; QS. Al-Qashash: 56 tentang hidayah di tangan Allah SWT.
- Hadis tentang bahaya menyebarkan setiap kabar (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Kitab Aafaat al-Lisan (Juz 3); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, bab husnuzan dan menjaga sesama muslim.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.