Akhlak & Tazkiyah Rujukan Redaksi

Kenapa Rasulullah SAW yang Maksum Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?

Beliau adalah manusia yang dijaga dari dosa. Masa lalu dan masa depannya sudah diampuni, dan Al-Qur'an sendiri yang menyatakannya. Namun dari lisan beliau pula ...

Kenapa Rasulullah SAW yang Maksum Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Beliau adalah manusia yang dijaga dari dosa. Masa lalu dan masa depannya sudah diampuni, dan Al-Qur'an sendiri yang menyatakannya. Namun dari lisan beliau pula terucap pengakuan yang membuat para sahabat tertegun: dalam sehari, beliau memohon ampun lebih dari tujuh puluh kali, bahkan sampai seratus kali.

Jam dua pagi. Layar HP masih menyala dan menampilkan aplikasi paylater dengan tiga tagihan yang jatuh tempo minggu ini. Di kamar sebelah, anak-anak tidur. Tadi sore mereka sempat kena bentakan yang sebenarnya bukan untuk mereka, melainkan luapan lelah dari kantor yang tumpah di tempat yang salah. Ada pesan kepada seorang kawan lama yang sudah bertahun-tahun tak dibalas, juga janji kepada orang tua yang terus tertunda. Kalau semuanya ditumpuk, yang terasa bukan sekadar capek. Yang terasa adalah malu: malu kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan diam-diam kepada Allah SWT.

Banyak orang mengenal perasaan ini, tetapi jarang membicarakannya. Kita terbiasa menyimpannya rapat-rapat, lalu menutupinya dengan kesibukan. Masalahnya, dosa dan kelalaian yang tidak pernah diakui tidak hilang begitu saja. Ia mengendap, membuat hati makin berat, doa makin hambar, dan sujud makin terasa jauh. Sebagian dari kita akhirnya berhenti mendekat kepada Allah SWT, bukan karena tak percaya, melainkan karena merasa terlalu kotor untuk kembali.

Rahasia di Balik Istighfar Sang Kekasih

Di sinilah paradoks itu menjadi penting. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Terjemah makna: Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat Imam Muslim dari Al-Agharr Al-Muzani, beliau menyebut jumlahnya seratus kali, dan mengawalinya dengan ungkapan yang sangat halus: sesungguhnya hatiku kadang diliputi sesuatu (layughanu 'ala qalbi), maka aku beristighfar. Para pensyarah hadits memahami “sesuatu” itu bukan sebagai dosa, melainkan selaput tipis yang muncul karena beliau sibuk mengurus umat, menghadapi manusia, dan melayani urusan dunia, sehingga sesaat tidak berada pada puncak kehadiran bersama Allah SWT. Bagi hati setinggi itu, jeda kecil pun terasa seperti jarak.

Hikmahnya halus sekaligus mengguncang. Istighfar ternyata bukan hanya obat bagi pendosa berat. Ia adalah napas para pecinta. Orang yang paling dekat dengan Allah SWT justru yang paling sering merasa perlu kembali. Ini membalik anggapan kita selama ini: kita mengira istighfar adalah tanda seseorang sedang jatuh, padahal dalam diri Rasulullah SAW ia menjadi tanda seseorang sedang naik. Kita mengira harus bersih dulu baru boleh mendekat, padahal istighfar itulah cara mendekat.

Allah SWT sendiri membuka pintu ini selebar-lebarnya, tepat bagi mereka yang merasa sudah terlalu jauh:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Terjemah makna: Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)

Perhatikan sapaannya. Allah SWT tidak memanggil mereka “wahai para pendosa”, tetapi ya 'ibadi, wahai hamba-hamba-Ku. Bahkan ketika seseorang telah melampaui batas, Allah SWT masih menisbatkan dirinya kepada-Nya. Hati yang merasa terbuang tersentuh justru oleh panggilan semacam ini.

Perspektif Imam Al-Ghazali: Taubat sebagai Peristiwa Hati

Dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 4, Kitab At-Taubah, yang menjadi pembuka bagian Al-Munjiyat (perkara-perkara yang menyelamatkan), Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa taubat tersusun dari tiga unsur yang berurutan: ilmu, hal, dan amal. Ilmu adalah kesadaran yang jujur bahwa dosa itu racun yang menghalangi hati dari Sang Kekasih. Dari kesadaran itu lahir hal, yaitu keadaan batin berupa penyesalan yang perih, yang beliau gambarkan seperti rasa sakit orang yang tiba-tiba sadar telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dari penyesalan itu barulah lahir amal: meninggalkan dosa sekarang, bertekad tidak mengulanginya, dan menambal kekurangan masa lalu.

Uraian ini menjawab kegelisahan banyak orang modern yang berkata, “Saya sudah sering istighfar, tapi kok hidup tidak berubah?” Bisa jadi yang kita ucapkan masih sebatas lisan, belum sampai pada ilmu dan hal. Al-Ghazali tidak meremehkan istighfar lisan. Beliau tetap menganggapnya kebaikan dan pintu awal. Namun beliau mengajak kita turun lebih dalam, karena penyesalan yang sungguh-sungguh itulah inti taubat. Dalam riwayat yang dikenal luas, Rasulullah SAW bersabda bahwa penyesalan adalah taubat.

Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menambahkan dimensi yang sangat menenangkan. Menurut beliau, kemaksiatan yang melahirkan rasa hina dan butuh kepada Allah SWT lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia dan sombong. Hikmah ini bukan pembenaran untuk berbuat dosa. Ia adalah pelipur bagi orang yang sedang remuk oleh kesalahannya: rasa hancur yang kita rasakan malam ini bisa menjadi pintu kedekatan, asalkan tidak berubah menjadi keputusasaan.

Perspektif Imam An-Nawawi: Taubat yang Menyentuh Hak Sesama

Jika Al-Ghazali menyelami batin, Imam An-Nawawi memberi pijakan amal yang jelas. Dalam Riyadhus Shalihin, pada Bab At-Taubah, beliau merangkum penjelasan para ulama bahwa taubat dari dosa yang hanya berkaitan dengan hak Allah SWT memiliki tiga syarat: berhenti dari maksiat tersebut, menyesali perbuatannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia, ada syarat keempat, yaitu menyelesaikan hak orang tersebut: mengembalikan harta yang diambil, meminta maaf atas kezaliman, atau meminta kehalalan.

Baca Juga
Ketika Lisan Lebih Berat dari Seluruh Amal: Pesan Nabi kepada Mu'adz

Ketika Lisan Lebih Berat dari Seluruh Amal: Pesan Nabi kepada Mu'adz

Penjelasan ini terasa sangat membumi. Taubat dari bentakan kepada anak tidak cukup dengan istighfar di atas sajadah. Ia perlu disempurnakan dengan memeluk anak itu dan berkata, “Maafkan Ayah.” Taubat dari utang yang diabaikan perlu disempurnakan dengan menghubungi pemberi utang, mengakui keadaan, lalu menyusun cicilan semampunya, bukan dengan terus menghindar. Di sini fiqih dan tasawuf bertemu. Al-Ghazali memastikan hati kita sungguh menyesal, sedangkan An-Nawawi memastikan penyesalan itu berbuah perbaikan nyata bagi orang di sekitar kita.

Imam An-Nawawi juga menegaskan, masih di bab yang sama, bahwa taubat wajib dilakukan dari setiap dosa, dan bahwa orang yang bertaubat dari satu dosa tetap sah taubatnya meskipun ia masih bergulat dengan dosa lain. Pintu ini tidak menunggu kita sempurna. Ia terbuka bagi langkah pertama.

Relevansinya Hari Ini: Ketika Rasa Bersalah Menjadi Penjara

Hari ini banyak orang hidup dengan rasa bersalah kronis tanpa tahu jalan keluarnya. Ada yang terjerat utang konsumtif lalu merasa tak layak berdoa. Ada yang menyakiti pasangan, menyesal, lalu mengulanginya lagi dan semakin membenci diri sendiri. Ada pula yang masa lalunya kelam dan setiap kali hendak memperbaiki diri, sebuah suara di kepala berbisik, “Orang seperti kamu tidak pantas.”

Rasulullah SAW menjawab suara itu dengan kalimat yang sangat jujur tentang manusia:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Terjemah makna: Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang banyak bertaubat. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai hasan oleh para ulama hadits)

Hadits ini tidak mengukur kemuliaan dari tidak pernah jatuh, tetapi dari seberapa sering seseorang kembali. Kata at-tawwabun dalam bahasa Arab memakai bentuk yang menunjukkan pengulangan: orang yang terus-menerus kembali. Artinya, jatuh berulang kali tidak menutup pintu, selama setiap kejatuhan disusul dengan kembali.

Bayangkan pula gambaran yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim: seorang musafir kehilangan untanya beserta seluruh bekal di padang pasir. Ia sudah pasrah menunggu mati di bawah sebatang pohon, lalu terbangun dan mendapati untanya berdiri di hadapannya. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan orang itu. Dalam riwayat Imam Muslim, orang itu bahkan salah ucap karena terlalu gembira. Kita yang merasa sudah terlalu jauh ini ternyata sedang ditunggu kepulangannya dengan rindu.

Satu catatan penting: istighfar bukan mesin transaksi yang menjamin utang lunas besok pagi atau rezeki datang seketika. Para ulama memahami buah istighfar pertama-tama sebagai kelapangan batin, kejernihan hati, dan pertolongan Allah SWT yang datang dengan cara-Nya sendiri. Kadang pertolongan itu berupa keberanian untuk menelepon orang yang kita hindari, atau kesabaran untuk tidak membentak lagi esok hari.

Langkah Kecil untuk Kembali, Setiap Hari

Karena taubat adalah perjalanan, ia butuh kebiasaan yang ringan namun konsisten. Beberapa langkah berikut bisa menjadi awal:

  • Hidupkan Sayyidul Istighfar. Rasulullah SAW mengajarkan doa ini dalam riwayat Imam Al-Bukhari dari Syaddad bin Aus, dan menyebutnya sebagai penghulu istighfar. Bacalah di pagi dan petang, pelan-pelan, dengan memahami maknanya.
  • Sebut dosa dengan jujur di hadapan Allah SWT, bukan di hadapan manusia. Kesadaran yang spesifik (ilmu, dalam bahasa Al-Ghazali) lebih menghidupkan penyesalan daripada istighfar yang mengambang.
  • Selesaikan satu hak sesama minggu ini. Satu permintaan maaf atau satu pesan kepada pemberi utang. Inilah syarat keempat yang diuraikan Imam An-Nawawi.
  • Jangan menunggu bersih untuk kembali. Jika jatuh lagi, kembali lagi. Di situlah makna at-tawwabun.

Lafaz Sayyidul Istighfar itu adalah:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Terjemah makna: Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu atasku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tiada yang mengampuni dosa selain Engkau. (HR. Al-Bukhari)

Ada dua pengakuan yang bersanding dalam doa itu: abu'u laka bini'matika, aku mengakui nikmat-Mu, dan abu'u bidzanbi, aku mengakui dosaku. Taubat yang matang tidak hanya melihat kotornya diri, tetapi juga luasnya kebaikan Allah SWT yang tetap mengalir meskipun kita lalai. Dari dua pengakuan itu lahir rasa malu yang lembut, malu yang membuat kita ingin kembali, bukan malu yang membuat kita lari.

Jadi, jika manusia yang paling dicintai Allah SWT saja merasa perlu kembali seratus kali dalam sehari, apa sebenarnya yang selama ini menahan kita untuk mengucapkan yang pertama? Mungkin jawabannya bukan karena dosa kita terlalu besar, melainkan karena kita lupa betapa besar rindu-Nya menunggu kepulangan kita.

Perjalanan pulang ini tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: jatuh, kembali, dan saling menguatkan dengan pelan-pelan, tanpa paksaan dan tanpa saling menghakimi. Kalau hati ingin ditemani, mari belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com, tempat sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.

Rujukan Ringkas

  • Al-Qur'an: QS. Az-Zumar: 53
  • Hadis: HR. Al-Bukhari (istighfar lebih dari 70 kali sehari; Sayyidul Istighfar), HR. Muslim (istighfar 100 kali sehari; kegembiraan Allah SWT atas taubat hamba), HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah (sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat)
  • Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab At-Taubah; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab At-Taubah; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam
  • Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.
Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Afat Artinya Apa? Penyakit Lisan yang Diam-Diam Menggerogoti Hati
Akhlak & Tazkiyah

Afat Artinya Apa? Penyakit Lisan yang Diam-Diam Menggerogoti Hati

06 Oct 2026
Ketika Lisan Lebih Berat dari Seluruh Amal: Pesan Nabi kepada Mu'adz
Akhlak & Tazkiyah

Ketika Lisan Lebih Berat dari Seluruh Amal: Pesan Nabi kepada Mu'adz

05 Oct 2026
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Akhlak & Tazkiyah

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

05 Oct 2026
Ketika Seorang Nabi Meminta Izin untuk Belajar: Adab Ilmu yang Terlupa
Akhlak & Tazkiyah

Ketika Seorang Nabi Meminta Izin untuk Belajar: Adab Ilmu yang Terlupa

04 Oct 2026
Ayat Tematik dan Artinya: Mengapa Allah SWT Memilih Kata ‘Bersama’ Kesulitan?
Akhlak & Tazkiyah

Ayat Tematik dan Artinya: Mengapa Allah SWT Memilih Kata ‘Bersama’ Kesulitan?

04 Oct 2026
Kenapa Amal Baik Justru Bikin Lelah dan Merasa Tak Dihargai?
Akhlak & Tazkiyah

Kenapa Amal Baik Justru Bikin Lelah dan Merasa Tak Dihargai?

03 Oct 2026
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Diawali Kata Hamba?
Akhlak & Tazkiyah

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Diawali Kata Hamba?

03 Oct 2026
Kenapa Abu Bakar Tetap Menafkahi Orang yang Memfitnah Putrinya?
Akhlak & Tazkiyah

Kenapa Abu Bakar Tetap Menafkahi Orang yang Memfitnah Putrinya?

02 Oct 2026
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Hilang Satu dalam Hidup Kita
Akhlak & Tazkiyah

Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Hilang Satu dalam Hidup Kita

02 Oct 2026
Mengapa Syahid, Alim, dan Dermawan Justru Pertama Diseret ke Neraka?
Akhlak & Tazkiyah

Mengapa Syahid, Alim, dan Dermawan Justru Pertama Diseret ke Neraka?

01 Oct 2026
Ketika Kerabat Melukai: Mengapa Silaturahmi Justru Diuji di Sana?
Akhlak & Tazkiyah

Ketika Kerabat Melukai: Mengapa Silaturahmi Justru Diuji di Sana?

01 Oct 2026
Kenapa Rasulullah SAW Menaruh Sungai Itu Tepat di Depan Pintu Rumah Kita?
Akhlak & Tazkiyah

Kenapa Rasulullah SAW Menaruh Sungai Itu Tepat di Depan Pintu Rumah Kita?

30 Sep 2026
Ayat Tematik Al Quran: Cara Sahabat Membaca yang Jarang Kita Tiru
Akhlak & Tazkiyah

Ayat Tematik Al Quran: Cara Sahabat Membaca yang Jarang Kita Tiru

30 Sep 2026
Ayat Tematik Adalah Apa, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Salah Paham?
Akhlak & Tazkiyah

Ayat Tematik Adalah Apa, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Salah Paham?

29 Sep 2026
Raja yang Menempa Besi: Saat Kerja Mencari Ridha, Bukan Sekadar Gaji
Akhlak & Tazkiyah

Raja yang Menempa Besi: Saat Kerja Mencari Ridha, Bukan Sekadar Gaji

29 Sep 2026
Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW
Akhlak & Tazkiyah

Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW

28 Sep 2026
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Akhlak & Tazkiyah

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

27 Sep 2026
Kenapa Nabi yang Sudah Diampuni Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?
Akhlak & Tazkiyah

Kenapa Nabi yang Sudah Diampuni Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?

27 Sep 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah… ›
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad
Setor Sholawat

Setiap bilangan yang Anda tulis menjadi saksi cinta kepada Baginda Nabi SAW. Isikan jumlahnya, lalu kirim — Anda diminta masuk sebentar agar amalan tercatat.