Hari ini, seorang karyawan baru saja menerima surat kenaikan jabatan, sementara di lorong rumah sakit seorang ayah baru tahu ia harus cuci darah seumur hidup. Ribuan tahun lalu, Al-Qur'an mengisahkan dua manusia dengan nasib yang sama bertolak belakangnya: seorang raja dengan kerajaan yang tak tertandingi, dan seorang hamba yang sakit bertahun-tahun. Untuk keduanya, Allah SWT memakai pujian yang kata per katanya persis sama.
Coba lihat isi grup WhatsApp keluarga atau linimasa media sosial Anda. Di satu unggahan ada kabar wisuda, rumah baru, umrah. Di pesan pribadi yang tak pernah diunggah ada cicilan yang menunggak, hasil laboratorium yang mengkhawatirkan, rumah tangga yang dingin. Kebanyakan kita hidup terbelah di antara dua ruang itu. Saat nikmat datang, kita lupa bahwa ia titipan. Saat musibah datang, kita lupa bahwa kita pernah diberi begitu banyak.
Lebih menyakitkan lagi, ada orang yang justru merasa bersalah ketika bahagia, seakan hidupnya sedang dicicil untuk dibayar dengan musibah sesudahnya. Ada pula yang begitu lama bertahan dalam kesulitan sampai lupa rasanya bersyukur, dan menyangka sabar itu berarti mematikan rasa. Keduanya sama-sama lelah. Keduanya sama-sama sedang mencari keseimbangan yang tak pernah diajarkan kepadanya.
Dua Nabi, Satu Pujian
Al-Qur'an menyebut Nabi Sulaiman 'alaihissalam, putra Nabi Dawud, yang dianugerahi kerajaan yang tak diberikan kepada siapa pun sesudahnya. Lalu Allah SWT memujinya:
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Terjemah makna: Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (selalu kembali kepada Allah). (QS. Shad: 30)
Hanya empat belas ayat kemudian, dalam surah yang sama, Allah SWT berbicara tentang Nabi Ayyub 'alaihissalam, hamba yang diuji dengan sakit panjang, kehilangan harta, dan kehilangan keluarga. Pujiannya nyaris kembar:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Terjemah makna: Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (selalu kembali kepada Allah). (QS. Shad: 44)
Detail yang sering terlewat ada pada kata awwab, yaitu orang yang terus-menerus kembali kepada Allah SWT. Sulaiman kembali kepada Allah SWT dari puncak kemewahan. Ayyub kembali kepada Allah SWT dari dasar penderitaan. Arahnya sama, padahal titik berangkatnya berlawanan. Ukuran kemuliaan dalam Al-Qur'an ternyata bukan seberapa banyak yang kita punya atau seberapa berat yang kita tanggung, melainkan ke mana hati berpulang.
Perhatikan juga ucapan Nabi Sulaiman ketika singgasana Ratu Saba' tiba di hadapannya dalam sekejap mata. Ia tidak berbangga. Ia justru gentar:
قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Terjemah makna: Ia berkata, ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). (QS. An-Naml: 40)
Sang raja memahami nikmat sebagai ujian. Sementara itu, doa Nabi Ayyub di tengah sakitnya sangat jujur. Ia tidak berpura-pura baik-baik saja:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Terjemah makna: Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, sungguh aku telah ditimpa kesusahan, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. (QS. Al-Anbiya': 83)
Baca Juga
Hijrah Paling Terencana dalam Sejarah: Di Mana Letak Tawakalnya?
Di sini ada pelajaran yang menenangkan bagi siapa saja yang sedang remuk. Sabar tidak berarti dilarang mengadu. Ayyub mengadu, tetapi kepada Allah SWT, bukan tentang Allah SWT. Ia menyebut lukanya, lalu menyebut kasih sayang Tuhannya. Lukanya diakui, harapannya tetap dijaga, dan dua hal itu ada di dalam satu kalimat.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sabar dan Syukur Lahir dari Satu Hati
Imam Al-Ghazali membahas tema ini secara khusus dalam Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr, bagian dari Rub' Al-Munjiyat (seperempat tentang hal-hal yang menyelamatkan) dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 4. Penempatannya sudah bermakna. Sabar dan syukur tidak beliau letakkan dalam bab fiqih ibadah, tetapi dalam bab penyelamat jiwa.
Beliau menguraikan bahwa syukur tersusun dari tiga lapis: ilmu, yakni menyadari bahwa nikmat datang dari Allah SWT; hal, yakni rasa gembira kepada Sang Pemberi, bukan sekadar gembira kepada pemberiannya; dan amal, yakni memakai nikmat itu di jalan yang diridhai-Nya. Sabar beliau gambarkan sebagai pergulatan batin antara dorongan iman dan tarikan hawa nafsu, dan sabar berarti kemenangan dorongan iman yang dijaga terus.
Bagian paling menyentuh ada saat Al-Ghazali menunjukkan bahwa di dalam musibah pun tersimpan sisi yang bisa disyukuri. Di antaranya, musibah itu tidak lebih berat dari yang mungkin terjadi, tidak menimpa agama seseorang, dan menjadi jalan pahala serta penghapus dosa. Artinya, orang yang sedang diuji tidak harus memilih antara sabar atau syukur. Ia bisa menghidupkan keduanya sekaligus. Seorang ayah yang divonis sakit kronis tetap boleh menangis, lalu dalam tangisnya berbisik: alhamdulillah, imanku masih Engkau jaga.
Perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Sabar dan Syukur dalam Amal Sehari-hari
Ibnu Qayyim menulis satu kitab utuh untuk tema ini, 'Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin (Bekal Orang-orang Sabar dan Simpanan Orang-orang Bersyukur). Di dalamnya beliau mengulas panjang perbedaan pendapat para ulama tentang mana yang lebih utama: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Beliau menyajikan khilafiyah ini dengan adab dan menunjukkan bahwa ukuran sejatinya kembali pada takwa serta kualitas penghambaan, bukan pada keadaan lahiriah.
Dimensi amal yang beliau tekankan sangat praktis. Para ulama, termasuk Ibnu Qayyim dalam Madarijus Salikin, menjelaskan bahwa syukur hidup di tiga tempat: di hati berupa pengakuan, di lisan berupa pujian, dan di anggota badan berupa ketaatan. Sabar pun memiliki tiga wilayah yang masyhur di kalangan ulama: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar menahan diri dari maksiat, dan sabar menerima takdir yang pahit.
Dari sini terlihat bahwa keduanya saling membutuhkan. Orang yang baru naik gaji butuh sabar agar nikmatnya tidak habis untuk gengsi dan tidak menyeretnya pada maksiat. Orang yang sedang terlilit utang butuh syukur agar hatinya tidak menutup mata dari nikmat yang masih tersisa: tubuh yang masih kuat bekerja, keluarga yang masih mau bertahan, iman yang belum padam. Syukur tanpa sabar mudah berubah jadi lalai. Sabar tanpa syukur mudah berubah jadi getir.
Al-Qur'an mengulang sebuah ungkapan di beberapa surah, seakan menegaskan bahwa keduanya memang satu paket:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Terjemah makna: Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim: 5)
Kedua kata itu dipakai dalam bentuk yang menunjukkan kesungguhan, yaitu shabbar dan syakur. Yang dimaksud bukan sabar sesekali dan syukur sesekali, tetapi watak yang terus dilatih.
Relevansinya Hari Ini
Rasulullah SAW merangkum seluruh pembahasan ini dalam satu sabda yang pendek tetapi sangat dalam:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya baik baginya, dan itu tidak dimiliki siapa pun kecuali mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim)
Hadits ini membebaskan kita dari dua ketakutan modern. Yang pertama adalah takut bahagia, seolah setiap kebahagiaan harus dibayar dengan musibah. Yang kedua adalah takut menderita, seolah penderitaan berarti Allah SWT telah pergi. Bagi seorang mukmin, kedua keadaan itu sama-sama pintu kebaikan. Yang berbeda hanya kunci yang dipakai untuk membukanya.
Praktiknya bisa dimulai dari langkah yang sangat kecil:
- Saat kabar baik datang, ucapkan seperti Nabi Sulaiman: ini karunia untuk mengujiku. Lalu sisihkan sebagian nikmat itu untuk orang lain sebelum dipakai untuk diri sendiri.
- Saat kabar buruk datang, mengadulah seperti Nabi Ayyub, jujur tentang luka, lalu sebut satu nikmat yang masih tersisa, sekecil apa pun.
- Setiap malam, sebelum tidur, tanyakan pada diri sendiri: hari ini aku perlu sabar di mana, dan perlu syukur di mana? Biasanya jawabannya ada pada hari yang sama.
- Perbanyak sholawat sebagai jangkar hati. Kita mengingat Rasulullah SAW, manusia yang pernah kehilangan anak-anaknya dan diusir dari kampung halamannya, tetapi tetap bangun malam sampai kakinya bengkak sebagai tanda syukur.
Barangkali Anda sedang berada di posisi Sulaiman, dengan nikmat yang membuat lalai. Barangkali Anda sedang berada di posisi Ayyub, dengan beban yang membuat hampir putus asa. Atau mungkin, seperti kebanyakan kita, Anda sedang berada di keduanya dalam satu hari yang sama. Pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang Anda punya atau seberapa berat yang Anda tanggung. Pertanyaannya: kalau malam ini Allah SWT melihat ke dalam hati Anda, apakah Dia akan mendapati seorang hamba yang sedang pulang kepada-Nya?
Belajar menjadi shabbar dan syakur adalah perjalanan seumur hidup, dan ia lebih ringan ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama, pelan-pelan dan tanpa paksaan, lewat sholawat harian dan tadarus Al-Qur'an yang menjaga hati tetap pulang. Jika berkenan, mulailah setor sholawat bersama di sini, atau ikut baca Al-Qur'an bersama, karena hati yang sabar dan bersyukur tumbuh dari langkah kecil yang dijaga setiap hari.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Shad: 30 dan 44; QS. An-Naml: 40; QS. Al-Anbiya': 83; QS. Ibrahim: 5.
- Hadits tentang menakjubkannya urusan seorang mukmin (HR. Muslim, dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4 (Rub' Al-Munjiyat), Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 'Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin dan Madarijus Salikin.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.