Umar bin Khattab menangis saat melihat garis-garis bekas tikar kasar membekas di lambung Rasulullah SAW. Yang jarang ditanyakan justru kebalikannya: kenapa yang berbaring di atas tikar itu tidak menangis sama sekali? Ketenangan macam apa yang tetap bertahan ketika dunia nyaris tidak menyisakan apa pun di tangan?
Jam satu dini hari, aplikasi belanja masih terbuka. Di keranjang ada sepatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, sementara tombol paylater menawarkan “cicilan ringan”. Gaji baru cair empat hari lalu, tapi angka di rekening sudah menipis karena cicilan bulan lalu dan bulan sebelumnya lagi. Kamu tahu ada yang salah. Masalahnya bukan sepatu itu. Ada rasa kosong yang terus menuntut diisi, dan setiap kali diisi, kekosongannya malah makin lebar.
Banyak orang hidup dengan rasa lelah yang sulit dijelaskan. Mereka tidak miskin, tapi juga tidak pernah merasa cukup. Mereka takut tertinggal dari teman yang baru pindah rumah, saudara yang baru ganti mobil, atau rekan kerja yang liburannya muncul di beranda media sosial. Rasa itu bukan dosa yang memalukan. Ia tanda bahwa hati sedang mencari sandaran, lalu salah alamat. Tulisan ini tidak ditulis untuk menghakimi, tapi untuk duduk sebentar bersama luka itu dan melihatnya dengan jujur.
Sebuah Kamar Sederhana dan Tangisan Umar
Kisah ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Umar datang ke kamar sederhana tempat Rasulullah SAW sedang menyendiri. Beliau berbaring di atas tikar dari anyaman pelepah kurma, tanpa alas di antara tubuh dan tikar itu. Kepalanya bersandar pada bantal kulit yang diisi sabut. Di sudut kamar hanya ada sedikit gandum dan selembar kulit yang tergantung. Umar melihat bekas anyaman tikar tercetak di lambung manusia paling mulia itu, lalu air matanya jatuh.
Umar menangis bukan karena iri. Hatinya pedih melihat perbedaan yang terasa tidak adil: para raja Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan, sementara utusan Allah SWT tidur di atas tikar yang melukai kulit. Rasulullah SAW lalu menjawab dengan kalimat yang sangat tenang:
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ
Terjemah makna: Tidakkah engkau rela, dunia untuk mereka dan akhirat untuk kita? (HR. Bukhari dan Muslim)
Detail yang sering terlewat ada di sini. Nabi tidak mencela para raja itu dan tidak berkhutbah panjang tentang kezaliman. Beliau juga tidak berusaha membuktikan bahwa tikarnya lebih mulia. Beliau hanya menunjukkan ke mana hatinya menghadap. Ketenangan itu tidak lahir dari menolak dunia dengan marah. Ia lahir dari hati yang sudah menemukan tempat pulangnya. Orang yang tahu rumahnya ada di seberang tidak akan sibuk menghias penginapan.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Dunia yang Tercela Ada di Dalam Hati
Dalam Kitab Dzamm ad-Dunya (Kitab Celaan terhadap Dunia) di Juz 3 Ihya' Ulumuddin, bagian Rub' al-Muhlikat atau perkara-perkara yang membinasakan, Imam Al-Ghazali membuat pembedaan yang halus. Dunia yang tercela bukan bumi, rumah, atau harta itu sendiri. Dunia yang tercela adalah bagian kenikmatan nafsu yang tidak membawa manfaat bagi akhirat. Harta yang dipakai menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, atau menolong sesama, menurut uraian beliau, tidak termasuk dunia yang dicela.
Pembedaan ini membebaskan. Seorang karyawan yang bekerja keras demi anak-anaknya tidak sedang mencintai dunia secara tercela. Yang perlu diwaspadai adalah saat harta mulai menentukan harga diri, saat cicilan diambil untuk dilihat orang, dan saat kehilangan sedikit dunia terasa seperti kehilangan diri sendiri. Al-Ghazali menyebut keterikatan hati itulah penyakitnya. Ukurannya bukan isi dompet, melainkan ke mana pikiran berlari ketika kita sendirian.
Al-Qur'an melukiskan wajah dunia yang memikat ini dengan sangat jujur:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Terjemah makna: Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. (QS. Al-Hadid: 20)
Coba perhatikan urutannya: permainan, kelalaian, perhiasan, saling berbangga, lalu berlomba memperbanyak. Tahapan itu terasa sangat dekat dengan pengalaman kita. Mulanya hanya hiburan, lalu jadi kebiasaan yang melalaikan, kemudian jadi gaya hidup, ajang pamer, sampai akhirnya jadi perlombaan yang tidak pernah selesai. Ayat ini menggambarkan perjalanan hati yang perlahan kehilangan arah.
Baca Juga
Kenapa Obrolan Paling Nikmat Justru yang Paling Diam-diam Menguras Pahala?
Perspektif Ibnu Qayyim: Zuhud yang Tidak Meninggalkan Tanggung Jawab
Jika Al-Ghazali menyelami sisi batinnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberi pijakan amal yang lebih praktis. Dalam Madarij As-Salikin, pada pembahasan Manzilah Az-Zuhd, beliau menukil penjelasan gurunya bahwa zuhud berarti meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Zuhud tidak sama dengan meninggalkan semua harta, dan tidak menjadi alasan untuk menelantarkan keluarga atau berhenti mencari nafkah yang halal.
Keseimbangan ini sejalan dengan nasihat yang Al-Qur'an rekam dari orang-orang berilmu kepada Qarun:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Terjemah makna: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (QS. Al-Qashash: 77)
Kedua ulama ini saling melengkapi. Al-Ghazali mengajak membersihkan ruang hati, sedangkan Ibnu Qayyim memastikan tangan tetap bekerja dan kaki tetap berpijak di bumi. Ungkapan yang masyhur di kalangan ahli suluk merangkum keduanya: biarlah dunia ada di tanganmu, asal jangan bertakhta di hatimu. Hal ini juga ditegaskan Imam An-Nawawi yang menghimpun hadis-hadis keutamaan zuhud dalam satu bab khusus di Riyadhus Shalihin. Hadis-hadis itu berbicara tentang mengendalikan diri dan cukup dengan yang sedikit, bukan tentang kebencian terhadap kehidupan.
Relevansinya Hari Ini: Kaya yang Tidak Pernah Datang dari Luar
Persoalan zaman kita tidak lagi sebatas kekurangan. Persoalannya adalah perbandingan yang terus-menerus. Layar kecil di genggaman memperlihatkan potongan terbaik dari hidup ribuan orang setiap hari, lalu hati diam-diam menghitung kekurangan dirinya. Banyak orang terjerat utang konsumtif bukan karena lapar, tapi karena takut dianggap tertinggal. Banyak rumah tangga renggang karena standar hidup naik lebih cepat daripada rasa syukur.
Rasulullah SAW sudah menunjuk akar persoalannya sejak empat belas abad lalu:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Terjemah makna: Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kayanya jiwa. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan mengapa sebagian orang tetap gelisah meski hartanya berlimpah, sementara yang lain tenang meski sederhana. Rasa cukup tidak dibeli di toko. Ia tumbuh dari dalam. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa amal yang lahir dari hati yang zuhud tidak pernah kecil, dan amal yang lahir dari hati yang rakus tidak pernah benar-benar besar. Nilai hidup ditentukan oleh keadaan hati yang menggerakkannya, bukan oleh jumlah yang bisa dipamerkan.
Langkah Kecil Melonggarkan Genggaman
Hati tidak berubah dalam semalam, dan memang tidak perlu dipaksa begitu. Para ulama mengajarkan tazkiyah yang bertahap. Beberapa langkah kecil ini bisa dicoba:
- Beri jeda sebelum membeli. Tunda satu malam sebelum menekan tombol bayar, lalu tanyakan dengan jujur: untuk kebutuhan, atau untuk dilihat orang?
- Ingat kalimat Nabi kepada Ibnu Umar,
Terjemah makna: Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir. (HR. Bukhari). Musafir tidak membeli perabot untuk penginapan.كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
- Isi kekosongan dengan cinta yang tepat. Sholawat kepada Rasulullah SAW menuntun hati mengenal sosok yang tenang di atas tikar sederhana. Semakin kita mengenal beliau, semakin berkurang kekaguman kita pada gemerlap yang fana.
- Biasakan memberi. Sedekah sekecil apa pun melatih hati untuk melepaskan genggaman, sehingga harta kembali menjadi titipan, bukan tuan.
Kembali ke kamar sederhana itu. Bekas tikar di lambung Rasulullah SAW pada akhirnya akan hilang, tapi ketenangan di wajah beliau menjadi cahaya yang terus diwarisi umatnya. Malam ini, saat aplikasi belanja kembali terbuka dan rasa kosong itu datang lagi, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita jawab sendiri: sebenarnya apa yang sedang kita cari, dan apakah benda itu memang bisa mengisinya?
Belajar melonggarkan genggaman tidak harus dijalani sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang menempuh jalan yang sama, mendekat kepada Rasulullah SAW lewat sholawat harian sedikit demi sedikit, tanpa tekanan dan tanpa ajang pamer jumlah. Jika hatimu ingin punya tempat pulang yang lebih teduh, mari mulai bersama di sini. Sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Hadid: 20 dan QS. Al-Qashash: 77.
- Hadis: kisah Umar dan tikar Rasulullah SAW (HR. Bukhari dan Muslim); hadis kekayaan jiwa (HR. Bukhari dan Muslim); hadis jadilah seperti orang asing atau musafir (HR. Bukhari).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 3 (Kitab Dzamm ad-Dunya); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin (Manzilah Az-Zuhd); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab Keutamaan Zuhud); Ibnu 'Athaillah, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.