Rasulullah SAW adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah SWT. Namun saat berhijrah, beliau menyewa penunjuk jalan, bersembunyi tiga malam di gua, mengatur siapa yang mengantar makanan, siapa yang membawa kabar, bahkan siapa yang menghapus jejak kaki. Kalau tawakal berarti pasrah, untuk apa semua rencana serapi itu?
Sudah lewat tengah malam. Seorang ayah duduk di teras kontrakan sambil memandangi aplikasi pinjaman di HP-nya. Usaha kecilnya sepi tiga bulan terakhir, cicilan motor jatuh tempo lusa, dan istrinya sudah tidur setelah bertanya pelan, “Gimana, Mas?” Ia sudah menawarkan dagangan ke grup WhatsApp, sudah mengirim lamaran ke dua tempat, sudah mencoba semua yang ia tahu. Yang tersisa tinggal satu rasa yang sulit diberi nama: lelah karena terus menggenggam sesuatu yang tidak mampu ia kendalikan.
Banyak dari kita terjebak di antara dua kutub. Ada yang merasa harus mengendalikan segalanya, sampai tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang belum terjadi. Ada pula yang menyerah lebih awal dengan dalih “sudah takdir”, lalu berhenti berusaha. Keduanya sama-sama melelahkan, dan keduanya sama-sama keliru memahami tawakal. Kisah hijrah Nabi SAW membongkar salah paham itu dengan cara yang sangat lembut.
Detail Hijrah yang Jarang Direnungkan
Dalam riwayat panjang Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha tentang hijrah yang dicatat Imam Al-Bukhari, persiapan Rasulullah SAW digambarkan sangat rinci. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyiapkan dua unta tunggangan jauh hari sebelumnya. Mereka menyewa seorang penunjuk jalan yang ahli membaca rute, padahal orang itu belum memeluk Islam. Yang dinilai adalah keahlian dan amanahnya. Abdullah bin Abi Bakar menginap bersama mereka di gua Tsaur lalu kembali ke Makkah sebelum fajar, sehingga di mata orang Quraisy ia seolah bermalam di rumah. Siang harinya ia menyimak kabar tentang rencana Quraisy, malamnya ia sampaikan ke gua. Amir bin Fuhairah menggembalakan kambing di sekitar jalur itu supaya jejak kaki tertutup dan susu tetap tersedia. Asma' binti Abi Bakar mengantar bekal makanan.
Semua sebab sudah diambil serapi mungkin. Lalu tibalah saat yang tidak lagi bisa diatur siapa pun. Para pengejar sampai di mulut gua. Abu Bakar berbisik, kalau saja salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, pasti mereka terlihat. Rasulullah SAW menjawab dengan kalimat yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim:
مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
Terjemah makna: Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang yang Allah adalah yang ketiganya? (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di sinilah inti tawakal terlihat. Tawakal bukan pengganti rencana. Tawakal adalah keadaan hati ketika rencana sudah sampai di batasnya. Al-Qur'an mengabadikan momen itu:
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Terjemah makna: ketika ia berkata kepada sahabatnya, Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. (QS. At-Taubah: 40)Perspektif Imam Al-Ghazali: Tawakal sebagai Keadaan Hati
Imam Al-Ghazali membahas tawakal secara khusus dalam Kitab At-Tauhid wa At-Tawakkul, bagian dari rubu' Al-Munjiyat (perkara-perkara yang menyelamatkan) dalam Ihya' Ulumuddin, Juz 4. Beliau menyusun tawakal di atas tiga lapis: ilmu, hal, dan amal. Ilmunya adalah tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang menggerakkan segala sebab. Halnya adalah ketenangan hati yang bersandar kepada-Nya. Amalnya adalah gerak lahir yang tetap berjalan.
Al-Ghazali juga menggambarkan tingkatan tawakal melalui perumpamaan yang menyentuh. Tingkat pertama, seperti orang yang menyerahkan perkara kepada wakil yang ia percaya penuh. Tingkat kedua, seperti anak kecil terhadap ibunya. Saat takut, yang ia ingat hanya ibunya, dan ia berlari kepadanya tanpa berpikir panjang. Tingkat tertinggi, seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya, sepenuhnya larut dalam kehendak Allah SWT. Beliau tidak menuntut setiap orang langsung sampai di puncak. Pesannya justru menenangkan: tawakal adalah perjalanan hati yang bertahap.
Yang penting, Al-Ghazali menegaskan bahwa meninggalkan sebab yang sudah jelas, misalnya enggan makan lalu berharap kenyang, bukan tawakal. Itu kebodohan yang memakai baju kesalehan. Bagi ayah di teras tadi, ini kabar yang meringankan. Lelahnya bukan tanda kurang iman. Hatinya hanya belum belajar meletakkan hasil di tempat yang semestinya.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menyempurnakan sisi batin ini dengan kalimat yang sangat dalam:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
Terjemah makna: Istirahatkan dirimu dari mengatur-atur. Apa yang sudah ditangani Yang Lain untukmu, janganlah engkau tangani sendiri. Yang dimaksud bukan larangan merencanakan, melainkan larangan menggenggam hasil, seolah nasib kita bergantung pada kecemasan kita sendiri.
Baca Juga
Benar Faktanya, Tetap Dosa: Mengapa Satu Kalimat Ghibah Bisa Mencemari Lautan?
Perspektif Imam An-Nawawi: Tawakal yang Berjalan dengan Kaki
Jika Al-Ghazali menyelami batinnya, Imam An-Nawawi memberi bentuk amalnya. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun bab khusus berjudul Bab Al-Yaqin wa At-Tawakkul, yaitu bab tentang keyakinan dan tawakal. Cara beliau menyusun bab itu sudah menjadi pelajaran tersendiri: ayat-ayat tentang bersandar kepada Allah SWT diletakkan berdampingan dengan hadits-hadits tentang manusia yang tetap bergerak. Salah satu ayat yang menjadi poros pembahasan ini:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Terjemah makna: Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. (QS. Ali 'Imran: 159)
Perhatikan urutannya: 'azam dahulu, baru tawakal. Ayat ini turun dalam rangkaian perintah bermusyawarah. Ada proses berpikir, menimbang, dan memutuskan, lalu hati diserahkan. Hadits yang paling sering dikutip dalam tema ini memperjelasnya:
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Terjemah makna: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. At-Tirmidzi, beliau menilainya hasan shahih)
Para ulama mencatat satu hal halus dari hadits ini: burung itu pergi. Ia tidak menunggu di sarang. Namun ia juga tidak membawa kecemasan tentang esok hari. Ia terbang dengan sayap yang ada, lalu pulang dengan apa yang Allah SWT berikan. Itulah keseimbangan yang ditunjukkan An-Nawawi lewat susunan babnya: yakin di dalam, bergerak di luar. Dalam riwayat lain dari At-Tirmidzi, yang dinilai hasan oleh sebagian ahli hadits, Nabi SAW berpesan kepada seseorang agar mengikat untanya dahulu, baru bertawakal.
Relevansinya Hari Ini: Saat Ikhtiar Sudah Habis tapi Hati Belum Tenang
Banyak keresahan kita hari ini lahir dari hal yang sama: kita mengira tugas kita adalah memastikan hasil. Karyawan yang takut terkena PHK memeriksa email kantor sampai larut malam. Ibu yang anaknya sakit membaca forum kesehatan sampai subuh. Pelaku usaha kecil mengecek saldo berulang kali, seakan angkanya bisa berubah karena terus dilihat. Kita bekerja keras, dan itu baik. Tapi kita juga ikut memikul beban yang sebenarnya tidak pernah diletakkan di pundak kita.
Hijrah mengajarkan pembagian tugas yang jernih. Wilayah manusia adalah sebab: menyiapkan unta, mencari penunjuk jalan, menghapus jejak. Wilayah Allah adalah hasil: apakah para pengejar menunduk ke bawah atau tidak. Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Terjemah makna: Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath-Thalaq: 3) Kata hasbuhu bermakna cukup. Yang dijanjikan adalah kecukupan dari Allah, bukan selalu persis seperti yang kita rencanakan.Dari sini, tawakal bisa dilatih dengan langkah yang sederhana:
- Pisahkan daftar ikhtiar dari daftar kekhawatiran. Kerjakan yang ada di daftar pertama. Serahkan daftar kedua lewat doa, lalu berhenti mengulangnya di kepala.
- Tutup setiap usaha dengan penyerahan. Setelah lamaran terkirim atau tawaran dagang tersebar, ucapkan hasbiyallah dengan sadar, bukan sekadar kebiasaan lisan.
- Rawat hati lewat dzikir dan sholawat. Hati yang terhubung dengan Rasulullah SAW belajar dari teladan beliau di mulut gua: tenang bukan karena keadaannya aman, tetapi karena yakin Allah SWT bersamanya.
Tawakal tidak menghapus air mata. Rasulullah SAW sendiri menoleh ke arah Makkah saat meninggalkannya, dengan hati yang mencintai kota itu. Tawakal membuat air mata itu tidak berubah menjadi keputusasaan.
Malam itu, si ayah mungkin belum mendapat jawaban. Cicilan masih jatuh tempo lusa. Tetapi ada satu hal yang bisa ia putuskan malam ini: berhenti menjadi pengatur hasil, dan kembali menjadi hamba yang berusaha. Pertanyaannya, dan barangkali juga pertanyaan kita semua: dari semua beban yang kita pikul malam ini, mana yang memang tugas kita, dan mana yang sejak awal sudah ditangani oleh Allah SWT?
Belajar menyerahkan hati memang tidak selesai dalam semalam. Ia tumbuh pelan-pelan lewat dzikir yang diulang, sholawat yang dijaga, dan teman seperjalanan yang saling mengingatkan. Kalau ingin menempuhnya bersama, sahabat-sahabat di komunitas AlFatihRPS sedang belajar hal yang sama, tanpa paksaan dan tanpa ajang pamer jumlah. Mari belajar istiqomah bersama di sini, dengan sholawat tanpa syarat dan ukhuwah tanpa batas.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Ali 'Imran: 159, QS. At-Taubah: 40, QS. Ath-Thalaq: 3.
- Hadits: HR. Al-Bukhari dan Muslim (dua orang yang Allah SWT ketiganya); HR. At-Tirmidzi (rezeki burung); riwayat hijrah Sayyidah Aisyah dalam Shahih Al-Bukhari.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab At-Tauhid wa At-Tawakkul; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Al-Yaqin wa At-Tawakkul; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.