Doa & Dzikir Rujukan Redaksi

Bukratan wa Ashila: Dua Jangkar Hati yang Hilang dari Hari Kita

Hal pertama yang kamu sentuh pagi ini adalah layar. Hal terakhir yang kamu lihat sebelum memejamkan mata nanti malam juga layar. Empat belas abad lalu, dua wakt...

Bukratan wa Ashila: Dua Jangkar Hati yang Hilang dari Hari Kita
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Hal pertama yang kamu sentuh pagi ini adalah layar. Hal terakhir yang kamu lihat sebelum memejamkan mata nanti malam juga layar. Empat belas abad lalu, dua waktu yang sama persis itu sudah disebut khusus di dalam Al-Qur'an — untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.

Coba jujur sebentar. Pukul lima pagi alarm berbunyi, dan sebelum kaki menyentuh lantai, ibu jari sudah lebih dulu menggeser notifikasi: pesan grup kerja yang belum dibaca, tagihan yang jatuh tempo, kabar buruk dari linimasa. Hari belum dimulai, tapi dada sudah sesak duluan. Lalu malamnya, setelah tubuh remuk oleh macet dan target yang tak tercapai, kamu berbaring dengan pikiran yang masih berputar — menghitung sisa uang, mengulang percakapan yang menyakitkan tadi siang, mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Yang melelahkan dari hidup sekarang sering bukan pekerjaannya, melainkan tidak adanya jeda. Kita berpindah dari satu tuntutan ke tuntutan berikutnya tanpa pernah benar-benar berhenti untuk bernapas. Dan ironisnya, dua celah paling sunyi dalam sehari — saat langit belum terang dan saat matahari mulai condong — justru kita isi dengan hal yang paling berisik.

Kenapa Justru Pagi dan Petang yang Disebut?

Al-Qur'an tidak menyebut dua waktu itu secara kebetulan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. Al-Ahzab: 41-42)

Dua kata kuncinya adalah bukratan wa ashila. Para ahli tafsir menjelaskan bukrah sebagai permulaan siang — rentang setelah fajar hingga matahari meninggi — dan ashil sebagai penghujungnya, dari condongnya matahari hingga terbenam. Perintah serupa juga hadir dalam firman-Nya tentang berzikir kepada Rabb dengan rendah hati dan rasa takut, tidak dengan suara keras, bil ghuduwwi wal ashal — pagi dan petang (QS. Al-A'raf: 205).

Perhatikan letaknya. Keduanya adalah gerbang: satu di pintu masuk hari, satu di pintu keluarnya. Manusia paling rapuh justru di dua titik itu — pagi saat ia belum tahu apa yang akan menimpanya, dan petang saat ia sudah tahu betapa beratnya hari tadi. Di sanalah dzikir ditempatkan, bukan sebagai tambahan beban, melainkan sebagai pegangan sebelum jatuh dan setelah terpukul.

Rasulullah SAW menggambarkan bedanya orang yang menjaga dzikir dan yang meninggalkannya dengan perumpamaan yang keras, tetapi jujur:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Terjemah makna: Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabb-nya dan orang yang tidak berzikir kepada Rabb-nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari)

Hadis ini tidak sedang mengancam. Ia sedang mendiagnosis. Ada orang yang secara jasmani sehat, karier lancar, pengikutnya ramai, tapi hatinya terasa seperti ruangan kosong — ada tubuh yang bergerak tanpa ruh yang hadir. Rasa itu punya nama, dan obatnya pernah ditunjukkan.

Perspektif Imam An-Nawawi: Dzikir sebagai Adab, Bukan Sekadar Hitungan

Imam An-Nawawi menyusun satu kitab utuh khusus soal ini, Al-Adzkar, dan di dalamnya beliau membuat bab tersendiri tentang dzikir pagi dan petang. Yang menarik, sebelum masuk ke daftar lafaz, beliau lebih dulu membahas adab orang yang berdzikir: keikhlasan, kehadiran hati, kebersihan diri, dan ketenangan. Urutan itu bukan basa-basi penyusunan. Beliau sedang mengajarkan bahwa nilai sebuah dzikir tidak diukur dari kecepatan mulut, tapi dari kesungguhan hati yang menyertainya.

Dari sisi amal, para ulama juga menegaskan keluasannya: dzikir pagi dan petang adalah ibadah yang tidak menuntut syarat berat. Tidak perlu tempat khusus, tidak perlu pakaian tertentu, tidak perlu menunggu hati siap. Seorang buruh bisa melafalkannya sambil menunggu bus. Seorang ibu bisa membacanya sambil menjemur pakaian. Sebagian ulama memberi keluasan waktu — bila terlewat dari waktu utamanya, masih dianjurkan mengucapkannya kemudian, agar seseorang tidak putus asa lalu meninggalkannya sama sekali. Perbedaan rincian batas waktu semacam ini berada di wilayah furu', cabang teknis ibadah, bukan perkara inti akidah; ikuti bimbingan guru dan ulama yang kamu percayai dengan hati lapang.

Di antara lafaz yang sanadnya kuat dan ringan diamalkan, Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga
Mengapa Doa yang Paling Jujur Justru Dimulai dengan Memuji, Bukan Meminta?

Mengapa Doa yang Paling Jujur Justru Dimulai dengan Memuji, Bukan Meminta?

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

Terjemah makna: Barangsiapa mengucapkan ketika pagi dan ketika petang, Subhanallahi wa bihamdih, seratus kali, tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa sesuatu yang lebih utama dari yang ia bawa, kecuali orang yang mengucapkan seperti itu atau lebih banyak lagi. (HR. Muslim)

Seratus kali terdengar banyak, padahal tak sampai tiga menit. Yang berat bukan jumlahnya, melainkan menghadirkan hati selama tiga menit itu tanpa melirik layar.

Perspektif Ibnu Qayyim: Benteng yang Runtuh Ketika Lalai

Kalau Imam An-Nawawi merapikan sisi adab dan amalnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah membedah sisi batinnya. Dalam Al-Wabil Ash-Shayyib — kitab yang beliau khususkan untuk membahas dzikir — dijelaskan panjang lebar bagaimana dzikir berfungsi seperti benteng bagi hati. Selama lisan dan hati tersambung kepada Allah SWT, ada dinding yang menahan. Begitu dzikir berhenti, dinding itu terbuka, dan yang masuk bukan hanya bisikan setan, melainkan juga bisikan diri sendiri: curiga, iri, putus asa, dan rasa tidak cukup yang tidak pernah selesai.

Inilah yang menjelaskan kenapa banyak orang merasa cemasnya justru memuncak di dua waktu tadi. Pagi hari adalah saat pikiran paling mudah menyusun daftar ketakutan; petang hari adalah saat ia paling mudah menyusun daftar penyesalan. Ibnu Qayyim menempatkan dzikir bukan sebagai penghibur sementara, melainkan sebagai penyambung kembali hati kepada sumber ketenangannya. Karena akar gelisah, dalam pandangan beliau, adalah hati yang terputus dari Rabb-nya sambil tetap menuntut ketenangan dari selain-Nya.

Al-Qur'an sendiri sudah menyebut hukum kausalitasnya:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Terjemah makna: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)

Imam Al-Ghazali, dalam pembahasan dzikir dan doa yang mengakhiri seperempat ibadah dalam Ihya' Ulumuddin (Juz 1), menambahkan satu catatan yang menusuk: lisan yang berdzikir sementara hati lalai tetap ada nilainya, tetapi yang dituju bukan berhenti di situ. Yang dituju adalah saat lisan mengajak hati, lalu hati akhirnya ikut hadir. Maka jangan berhenti berdzikir hanya karena merasa hati belum khusyuk — justru lewat pengulangan itulah hati perlahan dijinakkan.

Relevansinya Hari Ini: Dua Jeda yang Sengaja Dijaga

Kita hidup di zaman yang merebut perhatian sejak detik pertama bangun. Tidak ada yang salah dengan teknologi, tapi ada harga yang jarang dihitung: hati kita tidak pernah diberi ruang kosong untuk kembali kepada Pemiliknya. Dzikir pagi dan petang, dibaca dalam konteks hari ini, adalah bentuk perlawanan yang sangat lembut — kamu memutuskan siapa yang berhak mengisi kepalamu lebih dulu.

Efeknya tidak dramatis. Utangmu tidak lunas seketika, atasanmu tidak berubah ramah, penyakit orang tuamu tidak langsung sembuh. Dzikir bukan mantra dan bukan transaksi. Yang berubah lebih dulu adalah kamu: cara kamu memandang beban itu, kadar ketakutanmu terhadapnya, dan keyakinan bahwa kamu tidak menghadapinya sendirian. Banyak orang menemukan bahwa masalahnya tetap sama besarnya, tapi dadanya tidak lagi sesempit kemarin.

Dan tentu, di antara dzikir yang paling luas keberkahannya adalah memperbanyak sholawat kepada Rasulullah — dzikir yang Allah sendiri dan para malaikat-Nya melakukannya, lalu orang beriman diperintahkan mengikutinya (QS. Al-Ahzab: 56). Menyebut nama beliau di pagi hari adalah cara paling hangat untuk memulai, dan di petang hari adalah cara paling teduh untuk menutup.

Langkah Kecil yang Bisa Dimulai Besok Pagi

Jangan mulai dari target besar. Yang panjang umurnya adalah yang kecil tapi istiqomah.

  • Letakkan HP terbalik selama tiga menit pertama setelah bangun. Baru setelah itu boleh dibuka.
  • Pilih satu lafaz saja yang kamu yakin sumbernya, misalnya tasbih dan tahmid, lalu jaga sampai benar-benar melekat sebelum menambah yang lain.
  • Tempelkan pada kebiasaan yang sudah ada: setelah salam Subuh, atau saat menunggu motor dipanaskan, atau setelah Ashar sebelum membuka pesan kerja.
  • Kalau terlewat, jangan menghukum diri. Lanjutkan besok. Yang dinilai adalah kesungguhan untuk kembali, bukan catatan yang sempurna.
  • Belajar maknanya pelan-pelan kepada guru atau ustadz, supaya lisan dan hati berjalan beriringan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah dzikir pagi dan petang itu utama — dalilnya sudah terang. Pertanyaannya lebih personal: dari dua puluh empat jam yang kamu miliki hari ini, apakah benar tidak tersisa tiga menit untuk hal yang justru menentukan bagaimana kamu menjalani sisanya?

Menjaga jeda kecil itu sendirian memang berat; yang membuatnya bertahan biasanya adalah ditemani. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang persis sama — menghidupkan pagi dan petang dengan sholawat serta menyempatkan tadarus Al-Qur'an, pelan-pelan, tanpa tekanan dan tanpa perlombaan angka. Kalau kamu ingin memulai dari besok pagi bersama mereka, mulai setor sholawat di sini atau ambil bagian baca Al-Qur'an bersama.

Rujukan Ringkas

  • Al-Qur'an: QS. Al-Ahzab: 41-42, QS. Al-A'raf: 205, QS. Ar-Ra'd: 28, QS. Al-Ahzab: 56.
  • Hadis: riwayat Bukhari tentang perumpamaan orang yang berzikir dan yang tidak, serta riwayat Muslim tentang tasbih dan tahmid seratus kali di pagi dan petang.
  • Rujukan ulama: Imam An-Nawawi, Al-Adzkar (bab dzikir pagi dan petang); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Wabil Ash-Shayyib; Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Juz 1 (pembahasan dzikir dan doa).
  • Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.
Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Apa Itu Ayat Tematik, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Hati Salah Paham?
Doa & Dzikir

Apa Itu Ayat Tematik, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Hati Salah Paham?

26 Oct 2026
Contoh Ayat Tematik tentang Duka: Mengapa Ya'qub Hanya Mengadu kepada Allah SWT?
Doa & Dzikir

Contoh Ayat Tematik tentang Duka: Mengapa Ya'qub Hanya Mengadu kepada Allah SWT?

23 Oct 2026
Kenapa Obrolan Paling Nikmat Justru yang Paling Diam-diam Menguras Pahala?
Doa & Dzikir

Kenapa Obrolan Paling Nikmat Justru yang Paling Diam-diam Menguras Pahala?

23 Oct 2026
Ayat Tematik Al Quran: Mengapa Satu Ayat Bisa Lebih Menyembuhkan Hati?
Doa & Dzikir

Ayat Tematik Al Quran: Mengapa Satu Ayat Bisa Lebih Menyembuhkan Hati?

22 Oct 2026
Ayat Tematik Adalah Apa, dan Mengapa Satu Ayat Tak Boleh Dibaca Sendirian?
Doa & Dzikir

Ayat Tematik Adalah Apa, dan Mengapa Satu Ayat Tak Boleh Dibaca Sendirian?

22 Oct 2026
Ayat Tematik dari Al-Qur'an Pendek: Mengapa Hiburan Allah SWT Begitu Singkat?
Doa & Dzikir

Ayat Tematik dari Al-Qur'an Pendek: Mengapa Hiburan Allah SWT Begitu Singkat?

21 Oct 2026
Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya, Mulai dari Mana?
Doa & Dzikir

Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya, Mulai dari Mana?

20 Oct 2026
Dapat Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya, Cukupkah?
Doa & Dzikir

Dapat Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya, Cukupkah?

20 Oct 2026
Kenapa Ayat Tematik Pendek Justru Menghibur Hati yang Paling Remuk?
Doa & Dzikir

Kenapa Ayat Tematik Pendek Justru Menghibur Hati yang Paling Remuk?

19 Oct 2026
Ayat Tematik dan Artinya: Kenapa Ayat yang Kita Hafal Tak Lagi Menenangkan?
Doa & Dzikir

Ayat Tematik dan Artinya: Kenapa Ayat yang Kita Hafal Tak Lagi Menenangkan?

19 Oct 2026
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Kenapa Gelisah Tak Kunjung Reda?
Doa & Dzikir

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Kenapa Gelisah Tak Kunjung Reda?

18 Oct 2026
Ayat Tematik dari Alquran dan Penjelasannya: Kenapa Wahyu Sempat Berhenti?
Doa & Dzikir

Ayat Tematik dari Alquran dan Penjelasannya: Kenapa Wahyu Sempat Berhenti?

18 Oct 2026
Mengapa Doa yang Paling Jujur Justru Dimulai dengan Memuji, Bukan Meminta?
Doa & Dzikir

Mengapa Doa yang Paling Jujur Justru Dimulai dengan Memuji, Bukan Meminta?

17 Oct 2026
Diburu Hendak Dibunuh, Tetap Pulangkan Titipan: Amanah sebagai Cermin Iman
Doa & Dzikir

Diburu Hendak Dibunuh, Tetap Pulangkan Titipan: Amanah sebagai Cermin Iman

17 Oct 2026
Raja dan Si Sakit Dipuji Sama: Rahasia Sabar-Syukur yang Jarang Disadari
Doa & Dzikir

Raja dan Si Sakit Dipuji Sama: Rahasia Sabar-Syukur yang Jarang Disadari

16 Oct 2026
Contoh Ayat Tematik: Mengapa Ayat Beban Hidup Turun di Tengah Soal Nafkah?
Doa & Dzikir

Contoh Ayat Tematik: Mengapa Ayat Beban Hidup Turun di Tengah Soal Nafkah?

16 Oct 2026
Hijrah Paling Terencana dalam Sejarah: Di Mana Letak Tawakalnya?
Doa & Dzikir

Hijrah Paling Terencana dalam Sejarah: Di Mana Letak Tawakalnya?

15 Oct 2026
Kenapa Ayat Tematik Al Quran Tersebar, Bukan Disusun Rapi per Bab?
Doa & Dzikir

Kenapa Ayat Tematik Al Quran Tersebar, Bukan Disusun Rapi per Bab?

15 Oct 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah… ›
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad
Setor Sholawat

Setiap bilangan yang Anda tulis menjadi saksi cinta kepada Baginda Nabi SAW. Isikan jumlahnya, lalu kirim — Anda diminta masuk sebentar agar amalan tercatat.