Wahyu yang biasanya turun tiba-tiba berhenti. Di Makkah, ada orang yang mulai mengejek bahwa Tuhannya telah meninggalkannya. Yang jarang ditanyakan: apa yang dirasakan Rasulullah SAW pada malam-malam sunyi itu, saat langit seolah tidak lagi menyapa?
Tulisan ini bagian dari seri ayat tematik dari alquran dan penjelasannya. Kali ini kita membaca satu surat pendek yang barangkali sudah kamu hafal sejak SD, tapi jarang dibaca sebagai surat bagi orang yang merasa ditinggalkan, yaitu Surat Ad-Dhuha. Cobalah ingat masa-masa diam dalam hidupmu sendiri. Lamaran kerja yang dikirim berbulan-bulan tidak pernah dibalas. Doa agar utang lunas sudah dipanjatkan bertahun-tahun, tapi tagihan tetap datang tiap tanggal muda. Pesan kepada orang yang paling kamu harapkan hanya dibaca, lalu dibiarkan. Diam seperti itu terasa lebih berat daripada penolakan, karena tidak ada kepastian yang bisa dipegang.
Dari rasa sepi itu muncul pertanyaan yang jarang berani diucapkan: apakah Allah SWT masih peduli padaku? Pertanyaan ini bukan tanda iman yang rusak. Ia adalah jeritan hati yang lelah. Yang menarik, Al-Qur'an tidak menjawabnya dengan teguran. Ia menjawab dengan belaian, dan belaian itu pertama kali ditujukan kepada manusia paling mulia yang pernah hidup.
Ketika Langit Terasa Diam: Latar Turunnya Surat Ad-Dhuha
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Jundub bin Sufyan bahwa Rasulullah pernah sakit, sehingga tidak bangun shalat malam selama satu atau dua malam. Lalu seorang perempuan datang dan mencibir bahwa “setan”-nya telah meninggalkannya. Sebagai jawabannya, Allah menurunkan Surat Ad-Dhuha (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Ibnu Katsir juga membawakan riwayat ini dalam tafsirnya ketika membahas surat tersebut. Riwayat sahih ini tidak menyebut berapa lama jeda itu berlangsung, tetapi menunjukkan satu hal penting: ejekan itu menyasar hubungan paling intim antara seorang Nabi dan Tuhannya.
Coba rasakan posisi beliau. Beliau sudah dicemooh, dimusuhi kerabat sendiri, dan dicurigai kaumnya. Satu-satunya penghiburan adalah wahyu, dan pada hari-hari itu wahyu pun seolah diam. Lalu turunlah ayat yang dibuka dengan sumpah:
وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Terjemah makna: Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberimu karunia, sehingga engkau menjadi puas. (QS. Ad-Dhuha: 1-5)
Para ahli tafsir melihat ada hikmah dalam pasangan sumpah ini. Dhuha adalah cahaya pagi yang sedang naik, sedangkan malam yang sunyi adalah gelap yang menenangkan, bukan gelap yang mengancam. Keduanya silih berganti, dan tidak ada orang yang menganggap matahari berkhianat hanya karena malam datang. Begitu pula jeda wahyu: itu bukan perpisahan. Kata wadda'a berarti berpamitan untuk pergi, sedangkan qalā berarti membenci. Allah SWT menafikan keduanya sekaligus, seolah ingin menjawab dua ketakutan terdalam manusia: ditinggalkan, dan tidak lagi disukai.
Ayat keempat ditafsirkan ulama dengan dua makna yang sama-sama diakui. Pertama, akhirat lebih baik daripada dunia. Kedua, babak hidupmu yang berikutnya akan lebih baik daripada babak yang sebelumnya. Dua makna ini tidak saling meniadakan. Keduanya memberi harapan dari dua arah yang berbeda.
Lalu Allah SWT mengajak beliau menoleh ke belakang:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Terjemah makna: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu dalam keadaan belum mengetahui jalan, lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan. (QS. Ad-Dhuha: 6-8)
Para ulama menegaskan bahwa dhāllan di sini tidak bermakna sesat dalam arti dosa. Maknanya adalah belum mengetahui rincian syariat sebelum wahyu turun, ibarat seorang pencari yang belum menemukan peta. Inilah adab membaca ayat tentang Nabi SAW. Logika ayat-ayat ini lembut tapi tajam: Dzat yang dulu menjagamu ketika kamu belum bisa apa-apa tidak mungkin meninggalkanmu sekarang.
Perspektif Ibnu 'Athaillah As-Sakandari: Rahasia di Balik Sempit dan Lapang
Dalam Al-Hikam, pada untaian hikmah tentang qabdh (rasa sempit dan tertahan) dan bast (rasa lapang), Ibnu 'Athaillah menjelaskan bahwa Allah SWT melapangkan hati hamba agar ia tidak terus terkurung dalam rasa sempit, dan menyempitkannya agar ia tidak terlena dalam rasa lapang. Kedua keadaan itu bukan tujuan. Keduanya adalah cara Allah SWT mendidik, agar hamba tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada Dzat yang menggilir keadaan.
Beliau juga punya hikmah yang sangat terkenal: terkadang Allah SWT memberimu, padahal sebenarnya sedang menahan sesuatu darimu; dan terkadang Allah SWT menahan sesuatu darimu, padahal sebenarnya sedang memberimu. Jika dibaca bersama Surat Ad-Dhuha, hikmah ini membuka cara pandang baru. Jeda dan diam bukan tanda kosongnya kasih sayang. Bisa jadi itu bentuk pemberian yang belum bisa kita kenali. Rasa rindu yang muncul saat wahyu tertahan justru membuat cahaya dhuha berikutnya terasa jauh lebih terang.
Baca Juga
Kenapa Rasulullah SAW Menangis Saat Mendengar Al-Qur'an yang Turun Kepadanya?
Bagi pekerja yang merasa doanya membentur dinding, inilah dimensi batin surat ini: yang perlu dirawat bukan kepastian kapan doa terkabul, tapi keyakinan bahwa kamu tidak sedang ditinggalkan. Dua hal itu berbeda, dan yang kedua bisa dimiliki hari ini juga.
Perspektif Imam An-Nawawi: Dari Dihibur Menjadi Penghibur
Surat Ad-Dhuha tidak berhenti pada penghiburan. Tiga ayat terakhirnya adalah perintah amal:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Terjemah makna: Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta janganlah engkau menghardik. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS. Ad-Dhuha: 9-11)
Polanya rapi. Engkau pernah yatim, maka muliakan anak yatim. Engkau pernah mencari jalan, maka jangan hardik orang yang bertanya. Engkau pernah kekurangan lalu dicukupkan, maka ceritakan nikmat itu sebagai syukur. Luka yang sudah disembuhkan diubah menjadi kepekaan sosial.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyusun satu bab khusus berjudul Bab Mulathafatil Yatim wal Banat wa Sa'iril Dha'afah, yaitu bab tentang bersikap lembut kepada anak yatim, anak perempuan, orang-orang lemah, fakir, dan mereka yang patah hati. Di bab itu beliau membawakan sabda Rasulullah SAW:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Terjemah makna: Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini, sambil beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Bukhari)
Jika Ibnu 'Athaillah membimbing hati agar tenang di tengah jeda, Imam An-Nawawi menuntun tangan agar bergerak. Kedua perspektif ini saling melengkapi. Ketenangan batin yang sejati tidak membuat orang menutup diri. Justru ia membuat seseorang lebih peka kepada sesama yang sedang mengalami malam yang sama.
Relevansinya Hari Ini
Banyak orang hari ini memikul diamnya sendiri-sendiri. Ada ayah yang menyembunyikan PHK dari keluarganya. Ada ibu yang memendam lelah karena merasa tidak dihargai. Ada anak muda yang membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain di layar ponsel lalu merasa tertinggal. Surat Ad-Dhuha menawarkan tiga langkah yang sangat membumi.
- Bedakan jeda dari penolakan. Malam yang sunyi adalah bagian dari siklus, bukan vonis. Jawaban yang belum datang tidak sama dengan kasih sayang yang dicabut.
- Hitung jejak penjagaan di masa lalu. Sebagaimana Allah SWT mengingatkan Nabi SAW tentang masa yatim dan kekurangannya, tuliskan saat-saat kamu dulu diselamatkan tanpa kamu duga. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr) menjelaskan bahwa syukur tersusun dari ilmu, yaitu mengenali nikmat; hal, yaitu gembira kepada Pemberinya; dan amal, yaitu menggunakan nikmat itu di jalan yang Dia ridhai.
- Ubah luka menjadi uluran tangan. Orang yang pernah terlilit utang paling paham cara menenangkan sesamanya yang sedang terlilit. Itulah makna praktis dari fa lā taqhar dan fa lā tanhar.
Ada satu lapisan lagi yang membuat surat ini terasa sangat hangat. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah menangis karena mendoakan umatnya, Allah mengutus Jibril dengan pesan bahwa Dia akan membuat beliau ridha tentang umatnya dan tidak akan menyusahkannya (HR. Muslim). Janji fa tardhā pada akhirnya mengalir sampai kepada kita, orang-orang yang tidak pernah beliau lihat tetapi selalu beliau tangisi dalam doanya. Inilah alasan sholawat bukan transaksi. Sholawat adalah balasan cinta yang tidak pernah setara, dari umat yang lebih dulu dicintai.
Pembahasan dalam tulisan ini merujuk kepada penjelasan para ulama tafsir dan tasawuf yang muktabar. Untuk pendalaman, pembaca dianjurkan membaca langsung kitab-kitab tafsir dan berguru kepada pembimbing keilmuan yang terpercaya.
Jadi, kalau malam yang sedang kamu jalani ternyata bukan tanda ditinggalkan, melainkan jeda sebelum dhuha, siapa yang selama ini sebenarnya kamu ragukan: Allah SWT, atau dirimu sendiri? Dan siapa di sekitarmu yang mungkin sedang menunggu kamu menjadi cahaya dhuha baginya?
Pertanyaan itu tidak harus dijawab sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar menautkan hati yang sama: membalas cinta Rasulullah SAW dengan sholawat dan merawat hubungan dengan Allah SWT lewat tadarus, pelan-pelan dan tanpa paksaan. Jika ingin mulai, kamu bisa ikut setor sholawat harian atau membaca Al-Qur'an bersama di putaran komunitas, sebagai teman berjalan ketika malam terasa terlalu sunyi.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Ad-Dhuha ayat 1-11.
- Hadis: riwayat Jundub bin Sufyan tentang sebab turunnya Ad-Dhuha (HR. Bukhari dan Muslim); hadis penanggung anak yatim (HR. Bukhari); hadis janji Allah SWT membuat Nabi ridha tentang umatnya (HR. Muslim).
- Tafsir Ibnu Katsir (Surat Ad-Dhuha); Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah As-Sakandari; Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi (Bab Mulathafatil Yatim); Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali (Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.