Beberapa malam Rasulullah SAW tidak bangun untuk qiyamullail karena sakit. Lalu terdengar ejekan di Makkah: Tuhanmu sudah meninggalkanmu. Yang jarang ditanyakan bukan apa jawaban Allah SWT, tetapi apa yang terasa di dada manusia termulia itu pada malam-malam sunyi tersebut, dan mengapa jawabannya justru dibuka dengan sumpah demi cahaya pagi.
Tulisan ini menyusun ayat tematik dari alquran dan penjelasannya untuk satu luka yang hampir semua orang pernah merasakannya, yaitu perasaan ditinggalkan. Kadang wujudnya surat penolakan kerja yang kelima dalam sebulan. Kadang pesan dari pasangan yang dibaca tetapi tidak dibalas, cicilan yang jatuh tempo ketika saldo tinggal angka puluhan ribu, atau doa yang dipanjatkan bertahun-tahun dan seolah hanya memantul ke langit-langit kamar. Perasaan itu jarang diakui terang-terangan. Sebagian dari kita sudah malu bertanya kepada Allah SWT, “Masih ingatkah Engkau kepadaku?”
Pertanyaan itu jangan buru-buru dibungkam dengan nasihat “sabar saja”. Rasa sepi itu nyata, dan pertanyaan itu jujur. Al-Qur'an pun tidak membungkamnya. Al-Qur'an menjawabnya, dan jawaban itu tercatat dalam satu surah pendek yang mungkin sudah kita hafal sejak kecil tanpa pernah benar-benar kita rasakan.
Ketika Langit Terasa Diam: Kisah di Balik Surah Ad-Dhuha
Dalam ilmu tafsir dikenal pendekatan tafsir maudhu'i (tafsir tematik), yaitu membaca ayat-ayat yang berbicara tentang satu tema lalu memahaminya sebagai satu kesatuan. Untuk tema “merasa ditinggalkan”, Surah Ad-Dhuha adalah pintu masuk yang paling jernih karena sebab turunnya tercatat dalam riwayat shahih.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jundub bin Sufyan bahwa Rasulullah SAW sakit sehingga tidak bangun malam selama dua atau tiga malam. Seorang perempuan musyrik lalu datang mengejek, mengatakan bahwa “setan” yang biasa mendatangi beliau sudah meninggalkannya. Ejekan itu menyasar bagian paling dalam dari kehidupan seorang Nabi, yaitu hubungannya dengan Rabb-nya. Setelah itu Allah SWT menurunkan:
وَالضُّحَىٰ ﴿١﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ﴿٢﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ﴿٣﴾
Terjemah makna: Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu. (QS. Ad-Dhuha: 1-3)
Coba perhatikan urutannya. Allah SWT tidak membuka jawaban dengan teguran, juga tidak dengan daftar kewajiban. Yang pertama disebut adalah cahaya dhuha, matahari yang sudah naik dan menghangatkan bumi, lalu malam yang sunyi. Keduanya ciptaan Allah SWT dan keduanya bagian dari keteraturan-Nya. Malam tidak berarti matahari dihapus. Malam adalah jeda yang dikehendaki, dan pagi tetap datang tepat pada waktunya. Sebelum menjawab dengan kata-kata, Allah SWT seakan lebih dulu menenangkan hati Nabi-Nya lewat gambaran tentang waktu.
Ayat-ayat berikutnya tidak berhenti pada penghiburan. Allah SWT mengajak Nabi-Nya menengok ke belakang:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ ﴿٦﴾ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ ﴿٧﴾ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ ﴿٨﴾
Terjemah makna: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (QS. Ad-Dhuha: 6-8)
Inilah logika yang menyembuhkan dalam surah ini. Rasa ditinggalkan hari ini dilawan dengan ingatan atas pertolongan kemarin. Allah SWT yang dulu memeluk seorang anak yatim di Makkah tetap Allah SWT yang sama ketika malam terasa paling panjang.
Perspektif Ibnu 'Athaillah As-Sakandari: Jeda Bukan Penolakan
Dimensi batin dari surah ini dijelaskan dengan indah oleh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam. Pada hikmah keenam (menurut penomoran yang umum dipakai dalam syarah-syarahnya), beliau menulis bahwa tertundanya pemberian, padahal kita sudah bersungguh-sungguh berdoa, jangan sampai membuat kita putus asa. Allah SWT menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan pilihanmu untuk dirimu sendiri, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan waktu yang kamu kehendaki.
Kalimat ini mengubah cara kita membaca kesunyian. Bagi Ibnu 'Athaillah, masalahnya sering bukan pada doa yang tidak didengar, tetapi pada jam kita yang tidak sama dengan jam Allah SWT. Karyawan yang sudah tiga tahun menunggu promosi, pasangan yang sudah tujuh tahun menanti buah hati, atau ayah yang setiap malam menghitung ulang utang di kalkulator HP mungkin sedang berada di “malam yang sunyi” itu. Ad-Dhuha mengingatkan bahwa malam pun bagian dari sumpah Allah SWT. Malam bukan tanda Dia pergi.
Baca Juga
Dapat Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskan: Mungkinkah?
Di bagian lain Al-Hikam, Ibnu 'Athaillah mengingatkan bahwa orang yang menyangka kelembutan Allah SWT terpisah dari takdir-Nya hanya karena pandangannya terlalu pendek. Takdir yang terasa pahit sering menyimpan kasih sayang yang belum terlihat. Bagi hati yang lelah, ini bukan teori, melainkan izin untuk bernapas. Kesepian yang kita rasakan belum tentu tanda Allah SWT murka. Bisa jadi itu ruang yang sedang Dia siapkan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Luka yang Diubah Menjadi Amal
Kalau Ibnu 'Athaillah menuntun ke dalam, Imam An-Nawawi membawa kita keluar menuju amal. Dalam Riyadhus Shalihin, pada Bab Ash-Shabr (Bab tentang Sabar), beliau mencantumkan hadits dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya baik baginya, dan itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya. (HR. Muslim)
Cara Imam An-Nawawi menyusun bab-bab dalam kitab ini menunjukkan bahwa sabar bukan sekadar diam menahan sakit. Sabar adalah sikap yang melahirkan perbuatan. Hal ini sejalan dengan penutup Surah Ad-Dhuha: maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, terhadap orang yang meminta janganlah engkau menghardik, dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (QS. Ad-Dhuha: 9-11).
Polanya patut direnungkan. Setelah Nabi diingatkan bahwa dulu beliau yatim, perintah yang turun adalah memuliakan anak yatim. Setelah diingatkan bahwa dulu beliau kekurangan, perintahnya adalah tidak menghardik orang yang meminta. Luka pribadi tidak disuruh dikubur, tetapi diubah menjadi kepekaan sosial. Orang yang pernah merasa ditinggalkan adalah orang yang paling paham rasanya ditinggalkan, sehingga paling layak untuk tidak meninggalkan orang lain. Imam An-Nawawi juga menyediakan bab khusus tentang berlemah lembut kepada anak yatim dan kaum lemah dalam kitab yang sama, sebagai tanda bahwa ibadah hati dan kepedulian sosial adalah satu tarikan napas.
Relevansinya Hari Ini
Surah ini terasa sangat dekat dengan hidup sekarang. Kita hidup di tengah tanda centang biru yang tidak berbalas, lini masa yang memamerkan pencapaian orang lain, dan angka saldo yang menentukan suasana hati sepanjang hari. Rasa ditinggalkan mudah tumbuh, oleh manusia dan seolah-olah juga oleh Tuhan. Ayat tematik ini memberi tiga pegangan yang saling bersambung.
- Akui malamnya. Allah SWT sendiri bersumpah demi malam yang sunyi. Kesedihan tidak perlu dipoles menjadi senyum palsu. Malam diakui, lalu dijalani.
- Hitung jejak pertolongan yang lalu. Seperti ayat 6-8, tuliskan saat-saat Allah SWT dulu menyelamatkan kita: biaya sekolah yang tiba-tiba ada, sakit yang sembuh, pintu yang terbuka tanpa diduga. Ingatan ini menjadi lentera saat ini.
- Ubah luka menjadi uluran tangan. Orang yang sedang terhimpit utang bisa menjadi pendengar terbaik bagi sahabat yang sedang terhimpit pula. Rasa sakit yang dibagi dengan kebaikan berubah menjadi jalan pulang.
Surah sesudahnya, Al-Insyirah, mempertegas pesan ini dengan pengulangan yang sangat lembut:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦﴾
Terjemah makna: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Kata yang dipakai adalah bersama, bukan sesudah. Kemudahan itu tidak menunggu di ujung jalan. Ia sudah berjalan di samping kita, hanya belum kita sadari. Pembahasan ini merujuk kepada makna umum yang dijelaskan para ulama tafsir. Pembaca dianjurkan memperdalamnya bersama guru yang dipercaya.
Kini Ad-Dhuha bisa dibaca dengan rasa yang berbeda. Ayat-ayat itu pertama kali menghibur Rasulullah SAW, manusia yang paling dicintai Allah SWT, ketika langit terasa diam. Kalau beliau pun pernah melalui malam seperti itu, mungkin malam yang sedang kita lalui juga bukan tanda kita dilupakan. Pertanyaannya tinggal satu, dan hanya bisa dijawab di dalam hati masing-masing: selama ini kita sedang menunggu pagi, atau sedang belajar mengenali Dia yang tetap hadir di sepanjang malam?
Jawaban itu sering tumbuh pelan-pelan, satu halaman demi satu halaman, saat kita kembali duduk bersama Al-Qur'an tanpa terburu-buru. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang menempuh jalan yang sama: membaca sedikit demi sedikit, istiqomah, tanpa adu jumlah, dan saling menguatkan ketika malam terasa panjang. Kalau hati ingin ditemani, mari ambil bagian tadarus bersama di sini, dan biarkan Ad-Dhuha menjadi salah satu surah yang kita baca dengan hati.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Ad-Dhuha: 1-11 dan QS. Al-Insyirah: 5-6.
- Hadits sebab turunnya Surah Ad-Dhuha dari Jundub bin Sufyan (HR. Al-Bukhari dan Muslim); hadits 'Ajaban li amril mu'min dari Shuhaib (HR. Muslim), dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr.
- Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam (hikmah tentang tertundanya pemberian dan kelembutan Allah SWT dalam takdir-Nya).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.