Hari ini, banyak dari kita memutar murottal dari ponsel sambil membalas pesan kantor, dan surah berganti tanpa satu ayat pun singgah di hati. Empat belas abad lalu, Rasulullah SAW justru meminta seorang sahabat membacakan Al-Qur'an untuk beliau. Padahal kepada beliaulah kitab itu diturunkan. Belum sampai sepertiga surah, sahabat itu diminta berhenti.
Coba ingat malam-malam belakangan ini. Tagihan cicilan jatuh tempo minggu depan. Atasan mengirim revisi pukul sepuluh malam. Anak bertanya sesuatu dan kita menjawab tanpa menoleh. Lalu, di sela semua itu, kita membuka mushaf atau aplikasi Al-Qur'an karena merasa wajib. Mata membaca satu halaman, dua halaman, tetapi pikiran masih tertinggal di angka-angka dan pesan yang belum dibalas. Kita menutupnya dengan rasa bersalah yang samar: sudah membaca, tetapi entah kenapa tidak merasa apa-apa.
Rasa hampa itu jujur, dan tidak perlu buru-buru ditutupi. Banyak orang yang lelah tidak sedang kehilangan iman. Mereka hanya kehilangan ruang untuk benar-benar mendengar. Barangkali di situlah kisah yang jarang kita renungkan ini menemukan tempatnya.
Ketika Sang Penerima Wahyu Ingin Mendengar
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Bacakan Al-Qur'an untukku.” Ibnu Mas'ud heran: bagaimana mungkin ia membacakan Al-Qur'an kepada orang yang menerimanya langsung dari langit? Jawaban Nabi SAW sederhana dan dalam:
فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي
Terjemah makna: Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Mas'ud lalu membaca Surah An-Nisa'. Ketika sampai pada ayat ke-41, Nabi SAW memintanya berhenti. Ibnu Mas'ud menoleh, dan ia melihat kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata. Ayat yang menghentikan bacaan itu adalah:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
Terjemah makna: Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti) jika Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. (QS. An-Nisa': 41)
Ada detail yang sering terlewat. Rasulullah SAW tidak sedang belajar isi ayat itu, karena beliau sudah mengetahuinya. Beliau sedang memberi ruang kepada ayat itu untuk masuk kembali ke hati, dari arah yang berbeda dan dengan jeda. Beliau tidak meminta bacaan sampai khatam surah. Beliau berhenti di tempat hatinya tersentuh. Bagi beliau, ukuran tilawah bukan seberapa jauh bacaan berjalan, melainkan seberapa dalam satu ayat tinggal. Dan yang beliau tangisi adalah umatnya, termasuk kita yang hari ini membaca kisah ini dengan hati penat.
Al-Qur'an sendiri menyebut tujuan turunnya dengan jelas:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Terjemah makna: Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (QS. Shad: 29)
Kata yaddabbarû berasal dari akar kata yang bermakna “belakang” atau “ujung sesuatu”. Tadabbur berarti merenungi sebuah ayat sampai ke ujung maknanya, tidak berhenti di permukaan. Jadi membaca adalah pintunya, dan tadabbur adalah tempat kita masuk dan tinggal.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Sepuluh Amalan Batin Seorang Pembaca
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 1, pada Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an, Imam Al-Ghazali menulis satu bab khusus tentang amalan batin ketika membaca Al-Qur'an. Beliau menyebut sepuluh: memahami keagungan firman, mengagungkan Dzat yang berfirman, menghadirkan hati, tadabbur, tafahhum (berusaha menangkap makna tiap ayat), membersihkan diri dari penghalang pemahaman, takhshish, ta'atstsur, taraqqi, dan tabarri.
Baca Juga
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Dua di antaranya terasa paling dekat dengan keadaan kita. Pertama, takhshish, yaitu merasa bahwa setiap seruan dalam ayat ditujukan kepada diri sendiri. Ketika membaca ayat tentang sabar, kita tidak memperlakukannya sebagai kisah orang lain. Kita mendengarnya sebagai surat yang ditulis untuk kita yang sedang menunggu gaji cair. Kedua, ta'atstsur, yaitu membiarkan hati terpengaruh: berharap pada ayat rahmat, gentar pada ayat peringatan, lapang pada ayat janji. Al-Ghazali juga menyebut penghalang pemahaman, salah satunya hati yang masih terikat pada urusan dunia sehingga kalam Allah SWT tidak mendapat tempat untuk singgah.
Uraian ini menjawab rasa hampa tadi tanpa menghakimi. Yang hilang dari bacaan kita bukan pahala, melainkan kehadiran. Kehadiran bisa dilatih pelan-pelan, satu ayat demi satu ayat.
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab Lahir yang Menjaga Hati
Jika Al-Ghazali membuka dimensi batin, Imam An-Nawawi memberi pegangan amal yang membumi. Dalam At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, pada pembahasan adab seorang qari' ketika membaca, beliau menekankan tartil, kekhusyukan, dan tadabbur. Beliau juga menjelaskan bahwa ukuran bacaan setiap orang berbeda. Siapa yang dengan perenungan mendapatkan makna-makna halus hendaknya membaca sekadar yang membuatnya tetap memahami apa yang ia baca. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau meletakkan kisah Ibnu Mas'ud di atas sebagai hadits pembuka bab tentang keutamaan menangis karena takut kepada Allah SWT. Ini isyarat bahwa air mata saat tilawah adalah buah dari hati yang mendengar.
Imam An-Nawawi juga meriwayatkan dalam karya-karyanya hadits yang sangat melegakan bagi orang yang bacaannya belum lancar:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Terjemah makna: Orang yang mahir membaca Al-Qur'an bersama para malaikat utusan yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan merasa berat, ia mendapat dua pahala. (HR. Muslim)
Kedua imam ini saling melengkapi. Al-Ghazali mengajak kita menghadirkan hati, sedangkan An-Nawawi mengingatkan bahwa adab lahir seperti tartil, membaca perlahan, dan tidak tergesa-gesa adalah jalan menuju kehadiran itu. Orang yang terbata-bata pun tidak ditolak. Justru kesulitannya dihitung sebagai pahala tersendiri.
Relevansinya Hari Ini: Al-Qur'an untuk Hati yang Penat
Kita hidup di tengah banjir suara: notifikasi, berita, iklan, keluhan. Hampir semuanya menuntut sesuatu dari kita. Al-Qur'an adalah satu-satunya suara yang datang untuk memulihkan, bukan menagih. Allah SWT bertanya dalam Surah Muhammad ayat 24: tidakkah mereka merenungi Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci? Pertanyaan itu terdengar seperti panggilan lembut agar kunci itu dibuka, bukan tuduhan.
Rasulullah SAW juga menjanjikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh hal lain yang kita kejar:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Terjemah makna: Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. (HR. Muslim)
Kata yang dipakai adalah ashhab, yaitu sahabat. Al-Qur'an membela orang yang bersahabat dengannya, bukan orang yang sekadar sesekali menyentuhnya. Persahabatan tidak dibangun lewat satu pertemuan panjang. Ia tumbuh dari sapaan kecil yang terus diulang.
Dari sini lahir langkah-langkah sederhana yang bisa dijaga:
- Satu ayat, satu jeda. Setelah membaca, berhenti sejenak dan tanyakan: apa yang Allah SWT katakan kepadaku lewat ayat ini, hari ini?
- Baca terjemah makna. Tadabbur dimulai dari memahami, walaupun hanya garis besarnya.
- Dengarkan dari orang lain. Seperti Rasulullah SAW mendengar dari Ibnu Mas'ud, bacaan orang lain kadang membuka pintu yang tidak terbuka oleh bacaan sendiri.
- Berhenti di tempat hati tersentuh. Tidak harus menyelesaikan target halaman jika satu ayat sudah cukup menghidupkan hati.
Semua ini adalah bahan renungan dan pengantar belajar. Kedalaman tafsir tetap perlu dipelajari bersama guru dan ustadz yang terpercaya.
Kembali ke malam-malam penat itu: tagihan yang belum lunas, pesan kerja yang menumpuk, anak yang menunggu ditoleh. Rasulullah SAW, manusia paling mulia, pernah duduk diam mendengarkan Al-Qur'an sampai air matanya jatuh. Kapan terakhir kali kita mengizinkan satu ayat saja menghentikan langkah kita?
Perjalanan kembali bersahabat dengan Al-Qur'an tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: membaca pelan-pelan, menjaga istiqomah, tanpa tekanan dan tanpa adu jumlah khataman. Jika ingin memulai dari satu juz bersama, ambil bagian tadarus di sini, lalu biarkan ayat-ayat itu menemukan jalannya ke hati.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Shad: 29, QS. An-Nisa': 41, QS. Muhammad: 24
- Hadis: kisah Ibnu Mas'ud membacakan Al-Qur'an kepada Nabi SAW (HR. Al-Bukhari dan Muslim); keutamaan Al-Qur'an sebagai pemberi syafaat dan pahala bagi pembaca yang terbata-bata (HR. Muslim)
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an (amalan batin tilawah); Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an dan Riyadhus Shalihin
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.