Malam ini, seorang ayah menatap buku rapor anaknya dan berhenti lama di satu baris target belajar. Empat belas abad lalu, para sahabat Nabi menolak pindah dari sepuluh ayat sebelum ayat-ayat itu hidup dalam diri mereka. Jarak di antara keduanya ternyata tidak sejauh yang kita kira.
Baris di rapor itu berbunyi sederhana: dapat menghafal ayat tematik dari alquran dan mampu menjelaskan. Kalimatnya pendek, tetapi bebannya terasa berat. Ayah itu pulang kerja pukul delapan malam, cicilan motor belum lunas, dan hafalannya sendiri tinggal surat-surat pendek yang dulu dipelajari di TPA. Lalu anaknya bertanya, “Yah, ayat tentang sabar itu yang mana? Terus maksudnya apa?” Ia tidak marah. Ia malu. Pada saat itu ia merasa jauh dari kitab yang setiap Ramadhan ia khatamkan, tetapi jarang ia pahami.
Rasa malu seperti ini jujur dan tidak perlu buru-buru ditutupi. Banyak orang hafal lafaz, tetapi gagap saat diminta menjelaskan. Ada pula yang paham terjemah, tetapi tidak sanggup mengingat satu ayat pun secara utuh. Kekosongan di antara hafal dan paham inilah yang membuat Al-Qur'an terasa seperti tamu terhormat di rak buku: dihormati dan disampul rapi, tetapi tidak diajak bicara. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkannya untuk direnungkan:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Terjemah makna: Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran. (QS. Shad: 29)
Ayat ini tidak berhenti pada membaca. Tujuannya tadabbur, yaitu menyelami makna sampai ke ujung, lalu tadzakkur, yaitu menjadikan makna itu pengingat yang menggerakkan. Dua kata ini sudah memuat kedua bagian target di rapor tadi: menyimpan ayat di hati, lalu sanggup menuturkannya kembali dengan benar.
Generasi pertama umat ini mempraktikkan keduanya sekaligus. Dalam muqaddimah tafsirnya, Imam Ath-Thabari menukil penuturan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: bila salah seorang dari mereka mempelajari sepuluh ayat, ia tidak melampauinya sampai mengetahui maknanya dan mengamalkannya. Sepuluh ayat saja. Mereka tidak berlomba menambah jumlah. Sepuluh ayat itu dibawa ke pasar, ke rumah, ke medan sulit, sampai menjadi bagian dari cara mereka bernapas.
Karena itu, para sahabat tidak pernah kehilangan apa yang sudah mereka hafal. Hafalan yang sudah diamalkan tidak mudah lepas, sebab ia tersimpan di ingatan dan juga di kebiasaan. Seorang sahabat yang pernah menahan marah karena satu ayat tentang memaafkan akan mengingat ayat itu seumur hidup, karena ayat itu pernah menyelamatkannya. Menghafal dengan cara ini bukan latihan otak, melainkan perjumpaan.
Pola ini juga menjelaskan hal yang kini kita sebut ayat tematik. Para mufassir klasik meletakkan kaidah bahwa Al-Qur'an saling menafsirkan. Ibnu Katsir dalam muqaddimah tafsirnya menyebut cara paling sahih dalam menafsirkan adalah menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an: apa yang ringkas di satu tempat diperinci di tempat lain. Dari kaidah inilah, belakangan, berkembang metode tafsir maudhu'i (tematik), yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berbicara tentang satu tema lalu memahaminya sebagai satu rangkaian makna.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Hafalan yang Menyentuh Hati
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 1, pada Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an, Imam Al-Ghazali menguraikan amalan-amalan batin seorang pembaca Al-Qur'an. Beberapa di antaranya terasa sangat dekat dengan keresahan kita: fahm (memahami), tadabbur (merenungkan), takhshish (merasa bahwa setiap seruan ayat ditujukan kepada dirinya sendiri), dan ta'atstsur (hatinya ikut tergerak sesuai warna ayat: takut saat ancaman, berharap saat janji).
Konsep takhshish paling relevan untuk ayah di awal tulisan ini. Al-Ghazali mengajak pembaca berhenti memperlakukan ayat sebagai informasi tentang orang lain. Ayat tentang sabar bukan sekadar materi ujian anak. Ayat itu sedang berbicara kepada lelaki yang lelah dengan cicilannya. Ketika ayat dibaca sebagai surat pribadi, menghafal tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai kebutuhan, seperti seseorang yang membaca berulang-ulang pesan dari orang yang ia cintai.
Dari sudut pandang ini, kemampuan menjelaskan lahir dari pengalaman batin. Orang yang pernah tersentuh oleh sebuah ayat akan menjelaskannya dengan suara yang berbeda, dan anak-anak cepat merasakan perbedaan antara penjelasan yang dihafal dan penjelasan yang dialami.
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab Menyampaikan dan Mengajarkan
Jika Al-Ghazali menyentuh sisi batin, Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur'an menata sisi amal dan adabnya. Kitab ringkas ini disusun khusus untuk para pembawa Al-Qur'an, baik yang belajar maupun yang mengajar. Di dalamnya beliau menekankan bahwa pengajar dan pelajar Al-Qur'an harus meluruskan niat semata karena Allah SWT, bukan untuk kedudukan, pujian, atau berbangga dengan jumlah hafalan. Beliau juga mengingatkan agar orang yang mengajar bersikap lembut, sabar menghadapi murid, dan tidak sombong dengan ilmunya.
Di sini ada pagar penting untuk bagian mampu menjelaskan. Menjelaskan ayat bukan berarti bebas menafsirkan menurut selera. Tradisi keilmuan Islam yang muktabar selalu mengaitkan penjelasan ayat dengan sumber yang dipercaya: terjemah resmi, kitab tafsir ulama, dan bimbingan guru. Untuk orang awam, menjelaskan cukup dalam batas yang ia pahami dari rujukan itu, misalnya dengan berkata, “Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini...”, dan berani mengatakan “saya belum tahu, nanti kita tanyakan ke ustadz” ketika memang belum tahu. Kejujuran seperti ini adalah bagian dari adab.
Baca Juga
Ayat Tematik dari Alquran dan Penjelasannya: Kenapa Allah SWT Bersumpah Demi Pagi?
Kedua perspektif ini saling mengisi. Al-Ghazali memastikan ayat sampai ke hati, sedangkan An-Nawawi memastikan ayat keluar dari lisan dengan adab dan ketelitian. Hafalan tanpa penghayatan menjadi kering, sementara penjelasan tanpa adab menjadi lancang. Keduanya bertemu dalam sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Terjemah makna: Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)
Belajar dan mengajarkan disebut dalam satu tarikan napas. Belajar adalah proses menghafal dan memahami, sedangkan mengajarkan adalah kemampuan menjelaskan, sekalipun yang diajar hanya satu orang: anak sendiri di ruang tamu yang sederhana.
Relevansinya Hari Ini
Hidup kita sekarang penuh dengan potongan-potongan pendek: video tiga puluh detik, kutipan sebaris, notifikasi yang datang silih berganti. Pikiran terbiasa melompat dan sulit menetap. Akibatnya, banyak orang merasa tidak mampu menghafal, padahal yang sebenarnya hilang adalah kesabaran untuk berdiam bersama sedikit ayat. Teladan sepuluh ayat dari para sahabat menjawab persoalan ini: kedalaman tidak menuntut banyak, tetapi menuntut kita bertahan.
Kabar baiknya, Allah SWT sendiri yang menjamin kemudahannya:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Terjemah makna: Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar: 17)
Ayat ini diulang beberapa kali dalam surat yang sama, seolah-olah Allah SWT mengetuk pintu berkali-kali. Kemudahan itu sudah tersedia. Yang ditanyakan adalah apakah ada yang mau datang.
Langkah Kecil: Satu Tema, Satu Pekan
- Pilih satu tema yang sedang Anda butuhkan. Jika sedang terhimpit utang, pilih tema tawakal dan rezeki. Jika rumah tangga sedang dingin, pilih tema kasih sayang dan memaafkan. Ayat yang dipilih karena kebutuhan lebih mudah melekat.
- Kumpulkan tiga sampai lima ayat saja. Gunakan terjemah resmi, misalnya Qur'an Kemenag di quran.kemenag.go.id, lalu baca tafsir ringkas yang muktabar untuk setiap ayat.
- Hafalkan satu ayat per beberapa hari. Ulangi dalam shalat sunnah dan saat menunggu kereta atau antrean. Jangan menambah sebelum ayat itu benar-benar tinggal di hati.
- Tulis satu kalimat penjelasan dengan bahasa sendiri, lalu cocokkan dengan tafsir atau tanyakan kepada guru. Satu kalimat yang benar lebih berharga daripada satu halaman yang mengira-ngira.
- Ajarkan kepada satu orang. Anak, pasangan, atau sahabat. Saat mengajarkan, Anda akan tahu bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih perlu ditanyakan.
Langkah ini sengaja dibuat kecil karena istiqomah lahir dari langkah kecil yang terus diulang. Para ulama menyebut amal yang sedikit tetapi terus-menerus lebih disukai daripada amal besar yang cepat padam. Target di rapor anak itu bisa menjadi pintu bagi seluruh keluarga, bukan hanya beban bagi satu orang.
Kembali kepada ayah di awal tulisan ini. Mungkin malam ini ia belum bisa menjawab pertanyaan anaknya. Tetapi bagaimana jika ia berkata jujur, “Ayah juga belum paham, Nak. Yuk, kita belajar ayat ini sama-sama”? Mungkin justru di situ ayat tentang sabar pertama kali benar-benar dihafal, bukan oleh lidahnya, tetapi oleh hidupnya.
Jadi, ayat mana yang selama ini sering Anda baca, tetapi belum pernah Anda izinkan berbicara kepada Anda?
Perjalanan dari hafal menuju paham, lalu dari paham menuju mampu menjelaskan, terasa lebih ringan bila ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: membaca pelan-pelan, satu juz demi satu juz, tanpa tekanan dan tanpa adu jumlah. Jika hati Anda tergerak memulai dari langkah kecil itu, mari ambil bagian membaca Al-Qur'an bersama di sini.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Shad: 29 dan QS. Al-Qamar: 17; hadis “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Adab Tilawah Al-Qur'an; Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur'an.
- Muqaddimah Tafsir Ath-Thabari (penuturan Ibnu Mas'ud tentang sepuluh ayat) dan muqaddimah Tafsir Ibnu Katsir (kaidah menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.