Seorang raja yang memerintah angin, memahami bahasa semut, dan menguasai kekayaan yang tak terbayangkan. Ketika seekor burung datang membawa kabar, Nabi Sulaiman tidak menyombongkan istananya. Justru saat singgasana Ratu Saba dipindahkan dalam sekejap mata ke hadapannya, hal pertama yang keluar dari lisannya bukan kebanggaan — melainkan sesuatu yang jarang kita duga.
Bayangkan hidupmu hari ini: gaji sudah cair, cicilan terbayar, keluarga sehat, tapi hati tetap terasa hampa. Kamu punya lebih banyak dari yang dipunya orang tuamu dulu, namun rasa cukup itu tak pernah benar-benar hadir. Kita mengira masalahnya adalah kurangnya nikmat. Kisah Nabi Sulaiman justru membalik asumsi itu: bisa jadi masalahnya bukan pada seberapa banyak yang kita punya, tetapi pada cara hati kita memandang apa yang sudah ada.
Nabi Sulaiman diberi kerajaan yang tidak akan pernah diberikan kepada siapa pun setelahnya. Namun Al-Qur'an mengabadikan reaksinya bukan pada saat menaklukkan, melainkan pada saat menyaksikan sebuah nikmat kecil terjadi di depan matanya.
Detail yang Sering Terlewat dari Kisah Singgasana
Ketika salah seorang yang berilmu dari kalangan Nabi Sulaiman sanggup menghadirkan singgasana Ratu Saba sebelum kedipan mata, respons sang raja diabadikan Allah SWT dengan sangat presisi. Ia tidak berkata “Aku hebat” atau “Kerajaanku luar biasa”. Ia berkata:
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Terjemah makna: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sungguh Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia. (QS. An-Naml: 40)
Perhatikan kalimat yang mengejutkan itu: nikmat sebesar apa pun ia baca sebagai ujian, bukan hadiah untuk dinikmati sendiri. Di puncak kekuasaan, Nabi Sulaiman tidak lupa satu hal yang paling mudah kita lupakan hari ini — bahwa setiap tambahan nikmat adalah tambahan pertanyaan: apakah aku akan bersyukur, atau justru semakin jauh dari Pemberi nikmat?
Inilah paradoks yang jarang dibahas. Kita mengira orang yang punya segalanya pasti bahagia. Tetapi Nabi Sulaiman menunjukkan bahwa kekayaan yang tidak dibaca sebagai amanah justru bisa menjadi beban batin yang menekan. Ia tidak menangisi apa yang belum ia miliki; ia gemetar memikirkan pertanggungjawaban atas apa yang sudah ada. Sikap inilah yang membuat hatinya tetap lapang di tengah kekuasaan yang bisa membuat siapa pun mabuk.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Syukur adalah Kerja Hati, Bukan Sekadar Lisan
Dalam Ihya' Ulumuddin pada Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr (Juz 4), Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah” yang meluncur otomatis. Ia menjelaskan syukur tersusun dari tiga lapis: ilmu (menyadari bahwa nikmat datang dari Allah SWT, bukan dari kepandaian atau keberuntungan sendiri), hal (kondisi hati yang gembira karena Sang Pemberi, bukan sekadar karena barangnya), dan amal (menggunakan nikmat itu untuk hal yang diridhai Allah SWT).
Ketika kita membaca respons Nabi Sulaiman melalui kerangka Al-Ghazali, semuanya jelas. Beliau langsung menisbatkan nikmat kepada Allah SWT — itu lapisan ilmu. Hatinya tergerak untuk menyadari ujian di baliknya — itu lapisan hal. Dan ia berniat menggunakan kekuasaan itu untuk mengajak Ratu Saba kepada kebenaran — itu lapisan amal. Inilah syukur yang utuh, yang menjelaskan mengapa hati orang seperti ini tidak pernah gersang meski dikelilingi kemewahan.
Al-Ghazali juga menegaskan mengapa banyak orang gagal bersyukur: karena mereka terbiasa memandang nikmat sebagai sesuatu yang biasa (ma'luf), sehingga tidak lagi terasa sebagai pemberian. Kita baru menyadari nilai kesehatan saat sakit, nilai ketenangan rumah saat ia retak, nilai kehadiran orang tua saat mereka tiada. Nabi Sulaiman melatih hatinya untuk melihat karunia justru pada saat karunia itu paling melimpah — dan itulah maqam yang sulit.
Perspektif Ibnu Qayyim: Syukur yang Menggerakkan Amal Nyata
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin (Jilid 2, pada pembahasan manzilah Asy-Syukr) menambahkan dimensi yang melengkapi. Menurutnya, syukur bukan hanya urusan batin yang tersembunyi, melainkan harus menjelma dalam gerak anggota tubuh dan tanggung jawab sosial. Beliau menyebut bahwa hakikat syukur adalah zhuhuru atsari ni'matillah 'ala lisanil 'abdi tsana'an wa i'tirafan, wa 'ala qalbihi syuhudan wa mahabbatan, wa 'ala jawarihihi inqiyadan wa tha'atan — tampaknya bekas nikmat Allah SWT pada lisan sebagai pujian, pada hati sebagai kesaksian dan cinta, dan pada anggota badan sebagai ketaatan.
Baca Juga
Kenapa Kebahagiaan yang Menunggu Sesuatu Selalu Datang Terlambat?
Dari sudut pandang Ibnu Qayyim, syukur Nabi Sulaiman tidak berhenti di lisan. Ia terwujud dalam amal: mengelola kerajaan dengan adil, menggunakan mukjizat untuk dakwah, dan tidak menyalahgunakan kuasa untuk kesewenangan. Inilah letak keseimbangan yang indah antara dua ulama besar ini — Al-Ghazali menajamkan dimensi batin syukur, sementara Ibnu Qayyim memastikan syukur itu turun menjadi perbuatan yang bermanfaat bagi manusia. Keduanya bukan bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam bingkai Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Rasulullah SAW pun mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya harta, melainkan dari kekayaan hati:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Terjemah makna: Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa. (HR. Bukhari dan Muslim)
Relevansinya di Tengah Kita yang Punya Banyak tapi Merasa Kurang
Hari ini kita hidup di zaman yang secara materi jauh lebih makmur dari generasi sebelumnya, tetapi angka kecemasan dan kelelahan batin justru meningkat. Fenomena ini bukan kebetulan. Kita dilatih oleh iklan dan media sosial untuk selalu melihat ke atas — apa yang belum kita punya, siapa yang lebih dari kita, standar hidup yang seolah terus bergeser. Mata kita penuh, tapi hati kita kosong.
Kisah Nabi Sulaiman adalah cermin yang menegur lembut. Ketika beliau yang memiliki segalanya masih menempatkan diri sebagai hamba yang diuji, apa alasan kita yang punya jauh lebih sedikit untuk merasa berhak mengeluh tanpa henti? Bukan berarti keluh kesah itu dosa — Allah SWT Maha Mengerti beratnya hidup. Tetapi ada beda besar antara mengadu kepada Allah SWT sambil tetap bersyukur, dan mengingkari nikmat sambil terus membandingkan diri dengan orang lain.
Coba renungkan: gaji yang kamu keluhkan kecil, bagi sebagian orang adalah doa yang belum terkabul. Rumah sempit yang membuatmu penat, bagi yang tidur di jalanan adalah surga. Pasangan yang kadang mengesalkan, bagi yang kesepian adalah anugerah yang tak ternilai. Mengubah cara pandang inilah inti dari syukur yang diajarkan para ulama — bukan berpura-pura semua baik, tetapi jujur melihat betapa banyak nikmat yang selama ini luput kita hitung.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menuliskan hikmah yang menusuk: siapa yang tidak mensyukuri nikmat, ia sedang mengundang hilangnya nikmat itu; dan siapa yang mensyukurinya, ia sedang mengikatnya erat-erat. Syukur, dengan demikian, bukan sekadar sopan santun kepada Allah SWT — ia adalah cara paling bijak menjaga apa yang kita cintai agar tidak lepas.
Langkah Kecil Melatih Hati yang Bersyukur
Melatih syukur tidak butuh perubahan besar yang dramatis. Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. Sebelum tidur, sebutkan tiga nikmat hari itu yang biasanya kamu abaikan — udara yang kamu hirup gratis, mata yang masih bisa membaca, orang yang menyayangimu. Biasakan berkata “alhamdulillah” dengan hati yang hadir, bukan sekadar refleks lisan.
Salah satu bentuk syukur yang paling indah adalah memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW — sebab melalui beliaulah cahaya Islam sampai kepada kita, dan mengenal Allah SWT adalah nikmat terbesar yang pernah ada. Sholawat menautkan hati kita kepada sumber keteladanan syukur itu sendiri, sekaligus menenangkan jiwa yang lelah membandingkan diri dengan dunia.
Maka pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang kamu miliki, melainkan: sudahkah hatimu benar-benar melihat betapa besar karunia yang selama ini kau anggap biasa? Jika Nabi Sulaiman yang menguasai angin dan bahasa binatang masih gemetar memikirkan syukurnya, mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dari mengejar, dan mulai mensyukuri.
Perjalanan melatih hati yang bersyukur ini terasa lebih ringan bila ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama — merawat hati lewat sholawat harian dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an, pelan-pelan tanpa paksaan. Jika hatimu tergerak, mulai setor sholawat di sini atau baca Al-Qur'an bersama, sebagai cara sederhana mengikat nikmat dengan rasa syukur.
Rujukan Ringkas
- QS. An-Naml: 40 tentang respons syukur Nabi Sulaiman terhadap nikmat.
- Hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang kekayaan jiwa.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr (Juz 4); Ibnu Qayyim, Madarij As-Salikin (Jilid 2); Ibnu 'Athaillah, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.