Budaya Rujukan Redaksi

Teknologi Melesat, Kenapa Batin Bangsa Ini Terasa Makin Tertinggal?

Bukan soal seberapa cepat jaringan internet kita, bukan pula soal berapa juta ponsel pintar yang terjual tahun ini. Yang jarang ditanya: kenapa di negeri dengan...

Teknologi Melesat, Kenapa Batin Bangsa Ini Terasa Makin Tertinggal?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Bukan soal seberapa cepat jaringan internet kita, bukan pula soal berapa juta ponsel pintar yang terjual tahun ini. Yang jarang ditanya: kenapa di negeri dengan lalu lintas media sosial tersibuk di dunia, hati banyak orang justru terasa makin sepi, makin mudah tersinggung, makin gelisah? Apa yang sebenarnya tertinggal ketika segalanya bergerak makin cepat?

Coba tengok satu pemandangan yang mungkin dekat dengan hidupmu. Meja makan keluarga di malam hari โ€” empat orang duduk mengelilinginya, tapi empat pasang mata tertunduk ke layar masing-masing. Ada ibu yang membalas pesan grup, ada anak remaja yang menonton video pendek tanpa henti, ada ayah yang memantau notifikasi pekerjaan yang tak kunjung berhenti meski jam kerja usai. Makanan mendingin. Percakapan yang dulu mengalir kini digantikan sunyi yang ditutupi suara video dari empat arah. Teknologi hadir untuk mendekatkan yang jauh, tapi diam-diam menjauhkan yang dekat.

Pertanyaan besar bangsa ini sering diarahkan pada infrastruktur: apakah teknologi bikin Indonesia maju atau tertinggal? Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam dan jarang diajukan. Bukan apakah kita tertinggal secara ekonomi, melainkan apakah kita sedang kehilangan sesuatu yang tak terukur oleh angka pertumbuhan: kejernihan batin, kesabaran, adab, dan kemampuan untuk hadir sepenuhnya bagi sesama.

Alat Itu Netral, yang Menentukan Adalah Hati yang Memegangnya

Dalam tradisi keilmuan Islam, teknologi tidak pernah dipandang sebagai musuh. Ilmu dan alat adalah anugerah, dan menuntut ilmu yang bermanfaat termasuk ibadah. Persoalannya bukan pada benda, melainkan pada niat dan cara pakai. Sebuah pisau bisa untuk memotong roti atau melukai; sebuah ponsel bisa untuk menyambung silaturahmi atau memutus tidur, merusak fokus, dan menumbuhkan iri yang tak berkesudahan.

Al-Qur'an memberi kita prinsip yang jernih tentang bagaimana menyikapi apa pun yang kita terima โ€” informasi, tren, kabar yang berseliweran di layar:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู† ุฌูŽุงุกูŽูƒูู…ู’ ููŽุงุณูู‚ูŒ ุจูู†ูŽุจูŽุฅู ููŽุชูŽุจูŽูŠูŽู‘ู†ููˆุง

Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya. (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini turun jauh sebelum ada layar sentuh, tetapi rohnya justru semakin relevan hari ini. Ketika satu jempol bisa menyebarkan kabar ke ribuan orang dalam hitungan detik, perintah tabayyun โ€” memverifikasi sebelum meneruskan โ€” menjadi benteng peradaban. Bangsa yang maju bukan bangsa yang paling cepat menekan tombol share, melainkan bangsa yang paling teliti menimbang sebelum berbicara.

Perspektif Imam Al-Ghazali: Menjaga Hati di Tengah Gempuran Rangsangan

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, khususnya pada pembahasan Kitab Ajaib al-Qalb (Keajaiban Hati) di Juz 3, mengibaratkan hati manusia seperti kolam yang jernih. Air kolam itu bisa keruh dari dua arah: dari sungai-sungai yang mengalir masuk membawa lumpur, atau dari dasar kolam yang tergali sendiri. Sungai-sungai itu, kata beliau, adalah pancaindra โ€” terutama apa yang kita lihat dan dengar. Setiap tontonan, setiap kabar, setiap gambar yang masuk lewat mata dan telinga meninggalkan bekas pada hati.

Bayangkan hari ini: berapa ribu potongan gambar, video, dan kalimat yang masuk ke hati kita setiap hari lewat layar? Al-Ghazali memperingatkan bahwa hati yang terus-menerus dibanjiri rangsangan tanpa saringan akan kehilangan kepekaannya. Ia menjadi keras, sulit khusyuk, gampang bosan pada hal-hal yang tenang, dan hanya terangsang oleh yang serba baru dan serba cepat. Inilah dimensi batin dari persoalan teknologi yang jarang dibicarakan dalam debat kemajuan bangsa: bukan soal apakah kita punya alatnya, tapi apakah hati kita masih sanggup menampung ketenangan.

Menariknya, Al-Ghazali tidak menyuruh manusia menutup mata dari dunia. Solusinya bukan menolak alat, melainkan muraqabah โ€” kesadaran bahwa Allah SWT mengawasi, sehingga kita memilih dengan sadar apa yang kita biarkan masuk ke dalam hati. Kemajuan sejati, dalam kacamata ini, adalah kemampuan mengendalikan alat, bukan dikendalikan olehnya.

Baca Juga

Kenapa Anak Zaman Ini Mudah Cemas Meski Hidup Tampak Nyaman?

Perspektif Imam An-Nawawi: Dimensi Amal dan Adab Bermuamalah

Jika Al-Ghazali menyoroti dimensi batin, Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin membawa kita ke dimensi amal dan adab yang sangat praktis. Dalam kitab tersebut, pada bab tentang menjaga lisan (Bab Hifzh al-Lisan), beliau menghimpun hadits-hadits yang mengajarkan bahwa keselamatan seseorang banyak bergantung pada apa yang ia ucapkan โ€” dan di zaman ini, apa yang ia ketik.

Rasulullah SAW bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู„ููŠูŽุตู’ู…ูุชู’

Terjemah makna: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah panduan langsung untuk perilaku digital kita. Kolom komentar yang penuh cacian, grup keluarga yang pecah karena adu argumen, reputasi orang yang hancur dalam semalam karena satu unggahan โ€” semua itu lahir dari lisan (dan jari) yang tidak dijaga. An-Nawawi mengajarkan bahwa diam yang terjaga jauh lebih mulia daripada bicara yang melukai. Maka kemajuan teknologi tidak akan pernah memajukan bangsa selama adab dalam menggunakannya tertinggal jauh di belakang.

Dua perspektif ini saling melengkapi: Al-Ghazali menjaga sumbernya (hati yang menyaring apa yang masuk), An-Nawawi menjaga muaranya (perbuatan dan ucapan yang keluar). Keduanya menunjukkan bahwa Islam tidak anti-kemajuan, tapi menuntut agar kemajuan lahiriah dibarengi kematangan batiniah.

Relevansinya Hari Ini: Maju yang Bagaimana yang Kita Kejar?

Indonesia bukan tertinggal karena kekurangan alat. Data penetrasi internet dan pengguna media sosial kita termasuk yang tertinggi di dunia. Yang patut direnungkan justru: untuk apa semua kecepatan itu kita gunakan? Apakah untuk menuntut ilmu, mempererat ukhuwah, dan menebar manfaat โ€” atau untuk memupuk perbandingan, iri, dan kelelahan batin yang tak berujung?

Kemajuan yang sejati bukanlah lomba mengganti gawai tiap tahun, melainkan kemampuan sebuah bangsa untuk tetap menjaga kejernihan hati, kekuatan keluarga, dan kehalusan adab di tengah derasnya arus informasi. Teknologi bisa menjadi jembatan menuju peradaban mulia jika dipegang oleh hati yang terbina; ia juga bisa menjadi jurang jika dipegang oleh hati yang kosong dari makna.

Lembaga-lembaga keilmuan Islam dan Kementerian Agama (kemenag.go.id) berulang kali mengingatkan pentingnya literasi digital yang berlandaskan akhlak. Sebab bangsa yang besar bukan diukur dari seberapa canggih genggamannya, melainkan seberapa lembut hatinya dan seberapa terjaga lisannya.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: ketika esok pagi jari kita menyentuh layar lagi, apakah kita sedang membangun peradaban di dalam dada, atau justru sedang membiarkannya perlahan runtuh tanpa terasa? Jawaban itu tidak ada di menu pengaturan ponsel mana pun โ€” ia ada di hati yang mau dibina.

Membina hati di tengah bisingnya layar memang tidak bisa ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: menjadikan sebagian waktu di genggaman untuk hal yang menenangkan batin โ€” melangitkan sholawat kepada Rasulullah SAW dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an, pelan-pelan dan istiqomah, tanpa paksaan. Jika hatimu ingin ikut melunak dan pulang pada makna, mulai setor sholawat di sini atau baca Al-Qur'an bersama menjadi langkah kecil yang bisa dimulai hari ini.

Rujukan Ringkas

  • QS. Al-Hujurat: 6 tentang perintah tabayyun (verifikasi berita).
  • Hadis tentang menjaga lisan (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Kitab Ajaib al-Qalb (Juz 3); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Hifzh al-Lisan.
  • Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.
Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Budaya

Kenapa Anak Zaman Ini Mudah Cemas Meski Hidup Tampak Nyaman?

11 Jul 2026
Budaya

Rezeki Seret Karena MBG, atau Karena Adab Kita pada Nikmat?

10 Jul 2026
Budaya

Kenapa Pikiran Makin Ramai Saat Hati Ingin Tenang?

10 Jul 2026
Budaya

Kenapa Beban Riba Terasa Tak Punya Jalan Pulang?

09 Jul 2026
Budaya

Ketika Sekolah Mahal: Apa yang Diajarkan Perjalanan Nabi Musa?

09 Jul 2026
Budaya

Ketika Melepaskan Justru Menyelamatkan: Cermin Pilihan Hidup Nabi Musa

08 Jul 2026
Budaya

Mengapa Ilmu Makin Banyak, Tapi Hidup Makin Kehilangan Arah?

07 Jul 2026
Budaya

Mengapa Anak Lelaki Sulit Lembut kepada Orang Tuanya?

07 Jul 2026
Budaya

Kenapa Harapan yang Baik Bisa Nyasar dan Melukai Hati?

07 Jul 2026
Budaya

Ketika Panji Agama Jadi Topeng: Mengapa Hati Tetap Terluka Meski Janji Suci Diucap?

05 Jul 2026
Budaya

Ketika Kesedihan Tak Berujung Justru Membuka Pintu Hikmah?

04 Jul 2026
Budaya

Lumbung Pangan dari Penjara: Menguak Hikmah Pengelolaan Krisis ala Nabi Yusuf

01 Jul 2026
Budaya

Ketika Memilih Mundur Justru Menyelamatkan Iman: Belajar dari Ashabul Kahfi

01 Jul 2026
Budaya

Ketika Iman Menuntut Jeda: Hikmah Uzlah Ashabul Kahfi di Tengah Bising Dunia

01 Jul 2026
Budaya

Ashabul Kahfi: Mundur untuk Maju dalam Iman

01 Jul 2026
Budaya

Ketika Gelar 'Istri Sholehah' Terasa Beban: Menyelami Makna Sejati dalam Hikmah Tasawuf

01 Jul 2026
Budaya

Ketika Lingkungan Meracuni Iman: Beranikah Kita Memilih Mundur Seperti Ashabul Kahfi?

01 Jul 2026
Budaya

Ketika Mundur Adalah Kekuatan: Hikmah Ashabul Kahfi di Tengah Keriuhan Modern

01 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.