Ada sholawat yang kerap dilantunkan justru di saat-saat genting — ketika hati dilanda cemas, ketika jalan terasa buntu. Namanya sudah mengisyaratkan harapan itu: Munjiyat, ‘sang penyelamat’.
Tulisan ini mengajak Anda mengenalnya — bukan untuk menghukumi, bukan pula menggurui cara mengamalkannya. AlFatihRPS menyajikan khazanah sholawat sebagaimana ia hidup di tengah sebagian masyarakat, dengan hormat kepada seluruh kalangan; adapun tuntunan pengamalannya, kami kembalikan kepada para ulama dan guru masing-masing.
Teks dan Terjemahnya
Berikut lafaznya beserta terjemah maknanya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ
Terjemah makna: Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad — sholawat yang dengannya Engkau selamatkan kami dari segala ketakutan dan bencana, Engkau tunaikan bagi kami segala kebutuhan, Engkau sucikan kami dari segala keburukan, Engkau angkat kami ke derajat tertinggi di sisi-Mu, dan Engkau sampaikan kami ke puncak segala kebaikan, di masa hidup maupun sesudah mati.
Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin shalatan tunjina biha min jami‘il ahwali wal afat, wa taqdhi lana biha jami‘al hajat, wa tuthahhiruna biha min jami‘is sayyi-at, wa tarfa‘una biha ‘indaka a‘lad darajat, wa tuballighuna biha aqshal ghayat, min jami‘il khairat fil hayati wa ba‘dal mamat.
Arti Nama dan Kisah yang Masyhur
Kata munjiyat bermakna ‘penyelamat’. Di kalangan para pengamalnya beredar sebuah kisah yang masyhur: seorang ulama, Syekh Musa ad-Dharir dari Tarekat Syadziliyah, tengah berlayar ketika kapalnya diterjang badai hebat hingga nyaris tenggelam. Dalam kisah itu diceritakan beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang menganjurkan agar para penumpang membaca sholawat ini bersama-sama, lalu badai pun mereda. Kisah semacam ini kami sampaikan sebagaimana ia beredar di kalangan pengamal — sebagai latar penamaan, bukan sebagai ketetapan yang kami pastikan kesahihannya.
Keutamaan yang Biasa Disebutkan
Sebelum menyebut keutamaannya, penting diletakkan dasarnya lebih dulu: keutamaan bersholawat kepada Nabi SAW secara umum bukanlah perkara yang diperselisihkan. Ia berpijak pada firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Baca Juga
Sholawat Badar: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
Terjemah makna: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. (QS. Al-Ahzab: 56)
Adapun secara khusus tentang Sholawat Munjiyat, dalam tradisi yang berkembang di sebagian kalangan ia dikenal sebagai wasilah memohon pertolongan Allah di tengah kesulitan dan bencana, serta kelapangan hajat.
Kami menyampaikan hal-hal di atas sebagaimana ia dikenal di tengah sebagian masyarakat — tanpa kami tetapkan sebagai keharusan, dan tanpa kami beri penilaian. Adapun kedudukan riwayat serta tuntunan pengamalannya, sepenuhnya kami kembalikan kepada para ulama dan guru masing-masing. Yang kami rangkul bersama sederhana: memperbanyak sholawat kepada Nabi SAW adalah kebaikan, dan niat yang lurus lagi ikhlas adalah ruh dari setiap amalan.
Bagaimana Sebagian Masyarakat Mengamalkannya
Di tengah sebagian masyarakat, Sholawat Munjiyat diamalkan dengan beragam cara, dan tidak ada satu bentuk baku yang mengikat. Sekadar gambaran yang umum dijumpai:
- Dibaca saat menghadapi kesulitan atau memohon keselamatan, sendiri maupun berjamaah.
- Sebagian membacanya dengan bilangan tertentu; sebagian lain tanpa hitungan, menyesuaikan keadaan.
- Yang lazim ditekankan bukan pada banyak-sedikitnya, melainkan pada kesungguhan, kehadiran hati, dan penyerahan hasil sepenuhnya kepada Allah.
Untuk tuntunan yang lebih rinci sesuai keadaan masing-masing, sebaiknya dirujuk kepada ustadz atau guru.
Penutup
Sholawat Munjiyat mengajarkan bahwa di puncak kesulitan, hati seorang mukmin tetap punya sandaran — memperbanyak sholawat sembari berserah kepada Allah.
Bila ada perbedaan pandangan seputar sholawat ini di tengah masyarakat, sikap kami sederhana: kami menghormati semua kalangan, dan memilih menyatukan hati pada satu titik temu — cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan mencintai Rasulullah SAW terasa lebih ringan bila ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar istiqomah — sedikit tetapi langgeng, tanpa paksaan dan tanpa syarat. Bergabunglah di sini jika ingin memulai bersama.