Ada satu kalimat yang hampir selalu terlewat ketika orang menceritakan tawaran kaum Quraisy kepada Rasulullah SAW. Mereka menjanjikan harta hingga beliau menjadi yang terkaya, kekuasaan hingga beliau menjadi raja, bahkan pengobatan bila beliau dianggap sakit. Beliau menolak semuanya dengan satu kalimat yang menyingkap seluruh orientasi hidupnya. Sebuah kalimat yang, kalau kita renungkan, sebenarnya sedang menegur cara kita bekerja hari ini.
Coba jujur sebentar. Berapa banyak dari kita yang bangun pagi bukan karena rindu bekerja, melainkan karena takut tagihan tidak terbayar? Gaji baru cair, sudah dipotong cicilan, uang sekolah anak, dan sisa yang tak seberapa untuk bertahan sampai akhir bulan. Kita bekerja keras, lembur, bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga โ tetapi hati tetap gelisah, seolah semua ini tidak pernah cukup. Kita mengejar rezeki sampai lupa bertanya: sebenarnya untuk siapa dan atas nama apa kita melelahkan diri sejauh ini?
Di titik inilah kisah Rasulullah SAW menjadi cermin. Beliau hidup di tengah masyarakat pedagang Mekah yang mengukur kemuliaan seseorang dari harta dan kabilahnya. Beliau punya kesempatan menjadi orang terkaya di Jazirah Arab hanya dengan berhenti berdakwah. Namun beliau memilih jalan yang membuatnya sering menahan lapar, mengganjal perut dengan batu, dan wafat dalam keadaan baju besinya masih tergadai. Bukan karena rezeki tak menghampiri, tetapi karena beliau bekerja untuk ridha yang jauh lebih tinggi dari sekadar emas.
Ketika Tawaran Dunia Datang Bertubi-tubi
Dalam riwayat sirah yang shahih, para pemuka Quraisy pernah mengutus 'Utbah bin Rabi'ah untuk membujuk Rasulullah SAW. Tawarannya lengkap: harta melimpah, kepemimpinan, hingga pernikahan dengan wanita mana pun yang beliau inginkan โ asal beliau berhenti menyampaikan risalah. Ini bukan tawaran kecil. Bagi manusia biasa, ini adalah puncak dari segala yang dikejar seumur hidup: kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan sosial sekaligus.
Jawaban Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa beliau tidak sedang mencari itu semua. Beliau tetap teguh pada tugas yang Allah SWT amanahkan, meski konsekuensinya adalah kemiskinan, pengasingan, dan permusuhan. Detail yang jarang dibahas: beliau tidak menolak dunia karena membenci harta. Rasulullah SAW berdagang sejak muda, dikenal jujur sebagai Al-Amin, dan mengelola perniagaan Khadijah dengan cakap. Beliau paham nilai kerja dan rezeki. Yang beliau tolak adalah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir yang menggantikan ridha Allah SWT.
Inilah pelajaran halus yang sering luput. Bekerja bukanlah lawan dari ketakwaan. Yang menjadi masalah adalah ketika pekerjaan menjadi berhala baru โ sesuatu yang kita sembah diam-diam, yang membuat kita rela mengorbankan kejujuran, keluarga, bahkan shalat, demi mengejarnya. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa seorang mukmin boleh bekerja keras di dunia, tetapi hatinya digantungkan pada Yang memberi rezeki, bukan pada rezeki itu sendiri.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Meniti Niat sebelum Amal
Imam Al-Ghazali dalam Kitab An-Niyyah wal Ikhlash (Ihya' Ulumuddin, Juz 4) menempatkan niat sebagai ruh dari setiap perbuatan. Menurut beliau, satu amal yang lahiriahnya sama bisa bernilai ibadah atau sekadar kesia-siaan โ perbedaannya hanya pada niat yang mengiringinya. Berdagang bisa menjadi ibadah bila diniatkan untuk menafkahi keluarga, menjaga kehormatan dari meminta-minta, dan membantu sesama; dan berdagang yang sama bisa menjadi kosong bila hanya untuk menumpuk harta demi kesombongan.
Al-Ghazali menegaskan bahwa mencari ridha Allah SWT dalam bekerja bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan meluruskan arah usaha. Ia menggambarkan orang yang bekerja dengan niat menafkahi keluarga karena Allah SWT sebagai orang yang sedang beribadah di setiap tetes keringatnya. Ini menjawab kegelisahan modern kita: bila hati terasa hampa meski penghasilan cukup, sering kali persoalannya bukan pada jumlah rezeki, melainkan pada niat yang belum tertata. Rezeki mengalir ke rekening, tetapi tidak pernah singgah ke hati, karena kita lupa menyapa Pemberinya.
Landasan sikap ini adalah sabda Rasulullah SAW yang masyhur:
ุฅููููู
ูุง ุงูุฃูุนูู
ูุงูู ุจูุงูููููููุงุชูุ ููุฅููููู
ูุง ููููููู ุงู
ูุฑูุฆู ู
ูุง ููููู
Terjemah makna: Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Baca Juga
Sedekah yang Justru Menambah Harta: Logika Terbalik yang Diajarkan Nabi
Perspektif Ibnu Qayyim: Rezeki sebagai Jalan, Bukan Tujuan
Bila Al-Ghazali menyoroti dimensi batin niat, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin (Jilid 1, pada pembahasan manzilah tawakkul) memberi dimensi amal yang seimbang. Ibnu Qayyim menolak dua ekstrem: orang yang bekerja mati-matian sampai melupakan Allah SWT, dan orang yang mengaku tawakkal tetapi malas berusaha. Menurutnya, tawakkal sejati adalah menyatukan usaha yang sungguh-sungguh dengan penyerahan hati yang penuh kepada Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa sebab-sebab duniawi โ bekerja, berdagang, menanam โ adalah bagian dari sunnatullah yang justru diperintahkan untuk ditempuh. Namun hati tidak boleh bergantung pada sebab itu, melainkan pada Yang menciptakan sebab. Inilah yang membedakan pekerja yang tenang dari pekerja yang terus-menerus cemas. Keduanya sama-sama berusaha, tetapi yang satu menaruh keyakinannya pada Allah SWT sehingga tidak hancur ketika hasil tak sesuai harapan, sedang yang lain menaruh keyakinannya pada hasil sehingga selalu terguncang.
Perpaduan dua perspektif ini indah: Al-Ghazali membersihkan niat di pangkal, Ibnu Qayyim menata sikap hati sepanjang jalan. Keduanya sepakat bahwa mencari ridha Allah SWT dalam bekerja tidak menuntut kita berhenti dari dunia, melainkan menuntut kita berhenti menuhankan dunia. Allah SWT sendiri menegaskan orientasi yang mestinya menguasai hati seorang hamba:
ูููู ุฅูููู ุตูููุงุชูู ููููุณูููู ููู
ูุญูููุงูู ููู
ูู
ูุงุชูู ููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู
ูููู
Terjemah makna: Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An'am: 162)
Relevansinya di Tengah Kelelahan Kerja Hari Ini
Bayangkan seorang buruh pabrik yang setiap hari berangkat sebelum subuh dan pulang setelah maghrib. Secara lahiriah, pekerjaannya sama dengan jutaan orang lain. Tetapi bila ia meniatkan setiap langkahnya untuk menjaga keluarganya dari kehinaan meminta-minta, menafkahi anak agar bisa belajar agama, dan bersyukur atas kesehatan yang masih diberikan โ maka lelahnya berubah menjadi ibadah. Ia tetap capek, tetapi tidak hampa. Inilah keutamaan menuntut ridha Allah SWT: bukan menghapus keringat, tetapi memberi makna pada keringat.
Sebaliknya, banyak orang yang penghasilannya besar tetapi hidupnya terasa kering. Mereka punya segalanya kecuali ketenangan. Al-Qur'an mengingatkan bahwa harta yang tidak diikat dengan orientasi kepada Allah SWT hanya menjadi beban yang menyibukkan tanpa menenangkan. Mencari ridha Allah SWT dalam bekerja adalah cara membebaskan diri dari perbudakan angka โ dari perasaan bahwa apa pun yang kita raih tidak pernah cukup.
Praktiknya sederhana dan bisa dimulai hari ini. Sebelum berangkat kerja, luruskan niat sejenak: bahwa kita bekerja untuk mencari yang halal karena Allah SWT, bukan sekadar mengejar gengsi. Jaga kejujuran meski merugikan sedikit, karena keberkahan lebih berharga dari keuntungan. Sisihkan waktu untuk shalat tepat waktu, sebab pekerjaan yang menyingkirkan ibadah justru mengkhianati tujuan hidup. Langkah-langkah kecil ini, bila diistiqomahkan, perlahan mengubah pekerjaan dari sumber kecemasan menjadi ladang pahala.
Kembali pada Kalimat yang Terlewat
Kalimat Rasulullah SAW ketika menolak seluruh tawaran dunia itu, pada intinya, adalah penegasan bahwa beliau tidak pernah bekerja untuk dunia โ beliau bekerja untuk Allah SWT, dan dunia mengikuti sekadarnya. Beliau wafat dalam kesederhanaan, tetapi tidak seorang pun berani menyebut hidupnya gagal. Justru dari kesederhanaan itulah lahir peradaban yang mengubah dunia.
Maka pertanyaannya sekarang dikembalikan kepada kita masing-masing. Ketika kita bangun besok pagi dan berangkat mencari nafkah, atas nama apa sebenarnya kaki ini melangkah? Untuk sekadar bertahan hidup, untuk dilihat orang, atau untuk mencari wajah Allah SWT dalam setiap rupiah yang halal? Barangkali hati kita gersang bukan karena rezeki yang kurang, melainkan karena niat yang belum pernah kita perbaiki.
Meluruskan niat memang tidak bisa sekali jadi; ia butuh dirawat setiap hari dengan hati yang terus disambungkan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar merawat hati yang sama โ dengan membiasakan sholawat kepada Rasulullah SAW dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an di sela kesibukan kerja. Bila hatimu ingin ditemani dalam perjalanan meluruskan niat ini, mulailah setor sholawat bersama di sini atau baca Al-Qur'an bersama, pelan-pelan, tanpa paksaan, semata untuk merapikan arah hidup kita menuju ridha-Nya.
Rujukan Ringkas
- QS. Al-An'am: 162 tentang orientasi hidup dan mati untuk Allah SWT
- Hadis niat (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (Juz 4, Kitab An-Niyyah wal Ikhlash); Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin (Jilid 1, pembahasan tawakkul)
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.