Ada satu kalimat Rasulullah SAW yang sering dikutip separuh saja. Orang mengingat bagian dunia adalah penjara bagi orang beriman, lalu berhenti di situ. Yang jarang direnungkan: bagaimana mungkin seseorang yang paling dicintai Allah SWT justru hidup dengan alas tidur yang membekas di punggungnya, sementara ia tak pernah membenci makanan yang enak?
Coba jujur sebentar. Gaji baru masuk, tetapi belum sampai seminggu hati sudah gelisah lagi memikirkan tagihan berikutnya. Melihat teman upload rumah baru, mobil baru, liburan ke luar negeri, ada sesuatu yang menggerogoti di dada โ bukan sekadar iri, tapi rasa bahwa hidup sendiri tak pernah cukup. Kita bekerja keras, berdoa, bahkan bersedekah, tapi kenapa hati terasa makin haus, bukan makin tenang?
Inilah yang para ulama sebut sebagai hubbud dunya โ cinta dunia yang menguasai. Bukan soal punya harta atau tidak, melainkan soal siapa yang menggenggam siapa: apakah kita memegang dunia, atau dunia yang menggenggam hati kita sampai tak bisa lepas.
Salah Paham Terbesar tentang Zuhud
Banyak orang mengira menjaga hati dari cinta dunia berarti harus miskin, menolak kenikmatan, dan hidup serba kekurangan. Padahal Rasulullah SAW sendiri pernah menerima hadiah, memakai wewangian, dan mendoakan sahabat agar dilapangkan rezekinya. Sirah yang shahih mencatat bahwa beliau tidak mengharamkan yang halal, tidak pula menghinakan nikmat Allah SWT. Yang beliau jaga adalah posisi dunia di dalam hati.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memberi definisi yang menembus inti persoalan: zuhud bukan berarti engkau tidak memiliki apa-apa, tetapi engkau tidak dimiliki oleh apa-apa. Seseorang bisa saja tangannya penuh harta tetapi hatinya kosong dari ketergantungan padanya; sebaliknya, ada yang tangannya kosong tapi hatinya penuh sesak oleh dunia yang belum ia raih.
Di sinilah letak salah pahamnya. Kita menyangka masalahnya ada pada benda-benda, lalu sibuk membuang atau menahan diri dari benda. Padahal penyakitnya ada di hati โ dan hati tidak sembuh hanya dengan mengosongkan lemari, melainkan dengan mengosongkan ketergantungan.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Penyakit Hati yang Halus
Dalam Ihya' Ulumuddin (Juz 3, pada pembahasan Dzammud Dunya โ celaan terhadap kecintaan dunia), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia bukanlah pada dzat bendanya, melainkan pada apa yang mengikatkan hati manusia kepadanya. Ia membedakan tiga bagian dunia: ada yang menemani manusia sampai ke akhirat (ilmu dan amal), ada yang habis di dunia (kelezatan syahwat), dan ada yang menjadi bekal (harta secukupnya untuk taat).
Al-Ghazali mengibaratkan hati seperti wadah. Jika wadah itu penuh oleh cinta dunia, tidak ada ruang tersisa untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukan berarti seorang mukmin dilarang menikmati rezeki halal, tetapi kelezatan itu tidak boleh sampai menduduki singgasana hati. Ketika dunia sekadar lewat di tangan tapi tidak masuk ke hati, di situlah kebersihan jiwa terjaga.
Yang menarik dari uraian beliau: penyakit cinta dunia itu halus dan menipu. Ia bisa menyamar sebagai kerja keras, sebagai tanggung jawab keluarga, bahkan sebagai ambisi yang tampak mulia. Karena itu obatnya bukan sekadar meninggalkan, melainkan terus-menerus memeriksa niat โ untuk apa aku mengejar ini, dan apakah aku masih bisa melepasnya jika Allah SWT memintanya kembali.
Perspektif Ibnu Qayyim: Melatih Hati agar Merdeka
Bila Al-Ghazali menyorot sisi batin dan diagnosis penyakitnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin (pada pembahasan Manzilah Az-Zuhd) menekankan sisi amal dan latihan bertahap. Beliau menukil bahwa zuhud yang sejati adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat โ bukan meninggalkan segala sesuatu secara buta.
Ibnu Qayyim membagi zuhud pada beberapa tingkatan: zuhud dari yang haram (ini wajib), zuhud dari yang syubhat, zuhud dari yang berlebihan meski halal, dan puncaknya zuhud dari segala yang menyibukkan hati dari Allah SWT. Ini bukan lompatan yang harus dicapai sekaligus, melainkan tangga yang dinaiki setahap demi setahap. Bagi orang biasa yang masih bekerja, berkeluarga, dan bermuamalah, yang dituntut pertama adalah membersihkan diri dari yang haram dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Dua perspektif ini saling melengkapi. Al-Ghazali memberi cermin untuk melihat penyakit di dalam, Ibnu Qayyim memberi tangga untuk mendaki keluar darinya. Keduanya sepakat pada satu titik: yang dibersihkan adalah hati, bukan sekadar dompet.
Dalil
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan bahwa dunia ini hakikatnya sementara dan menipu bila menjadi tujuan:
ุงุนูููู
ููุง ุฃููููู
ูุง ุงููุญูููุงุฉู ุงูุฏููููููุง ููุนูุจู ูููููููู ููุฒููููุฉู ููุชูููุงุฎูุฑู ุจูููููููู
ู ููุชูููุงุซูุฑู ููู ุงููุฃูู
ูููุงูู ููุงููุฃูููููุงุฏู
Baca Juga
Ikhlas: Ruh yang Membuat Amal Hidup atau Mati Tanpa Suara
Terjemah makna: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini tidak melarang harta dan anak โ keduanya justru disebut sebagai nikmat di banyak ayat lain. Yang ditegur adalah ketika semua itu berubah menjadi ajang saling berbangga dan menjadi puncak tujuan hidup, bukan sekadar sarana menuju Allah SWT.
Rasulullah SAW pun menggambarkan posisi seorang mukmin terhadap dunia dengan sangat indah:
ูููู ููู ุงูุฏููููููุง ููุฃูููููู ุบูุฑููุจู ุฃููู ุนูุงุจูุฑู ุณูุจูููู
Terjemah makna: Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang yang sedang melintas di jalan. (HR. Bukhari)
Seorang musafir tidak membenci tempat singgahnya, tetapi ia juga tidak membangun rumah permanen di rest area. Ia menikmati secukupnya, lalu melanjutkan perjalanan. Begitulah hati yang merdeka: menggunakan dunia, bukan disandera olehnya.
Relevansinya di Tengah Tekanan Hidup Hari Ini
Tekanan zaman ini membuat penyakit cinta dunia terasa lebih tajam. Media sosial menampilkan pencapaian orang lain tanpa henti, sehingga standar cukup terus bergeser naik. Baru saja merasa bersyukur atas rezeki, sepuluh menit kemudian scroll membuat rasa syukur itu menguap diganti rasa tertinggal.
Menjaga hati bukan berarti berhenti bekerja atau menolak kemajuan. Justru para ulama mengajarkan bahwa mencari nafkah yang halal adalah ibadah. Yang perlu dijaga adalah pertanyaan sederhana yang kita ajukan pada diri sendiri di penghujung hari: apakah aku masih bisa tenang jika sebagian dari ini hilang? Jika jawabannya membuat dada sesak dan dunia terasa runtuh, itu tanda dunia sudah masuk terlalu dalam ke hati.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menuliskan hikmah yang layak direnungkan: keinginanmu untuk melepaskan diri dari dunia padahal Allah SWT masih menempatkanmu di dalamnya adalah bagian dari syahwat yang tersembunyi; sebaliknya, keinginanmu untuk tetap di dunia padahal Allah SWT ingin melepaskanmu darinya adalah turun dari cita-cita yang tinggi. Intinya bukan pada di mana kita berada, melainkan pada kesiapan hati untuk menerima ketetapan-Nya.
Langkah kecil yang bisa dimulai bukanlah membuang harta, melainkan melatih hati agar tidak melekat. Bersedekah sedikit demi sedikit untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa harta bisa dilepas. Menyempatkan diri mengingat kematian sejenak agar skala prioritas kembali jernih. Dan yang paling menenangkan hati yang gersang oleh dunia: mengisinya dengan cinta yang lebih besar โ cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sebab hati tidak bisa dikosongkan begitu saja; ia hanya bisa dialihkan isinya. Ketika hati mulai penuh oleh kerinduan kepada Rasulullah SAW melalui sholawat, dan mulai basah oleh ayat-ayat Al-Qur'an yang dibaca setiap hari, ruang yang tadinya diperebutkan oleh kecemasan dunia perlahan terisi oleh sesuatu yang jauh lebih menenangkan.
Maka pertanyaannya bukan lagi berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa merdeka hati kita dari apa yang kita miliki. Jika sebuah nikmat hilang esok hari, akankah kita masih mampu berkata alhamdulillah dengan tulus โ atau justru dunia yang selama ini kita genggam ternyata telah lama menggenggam kita?
Melatih hati agar merdeka dari cinta dunia bukan perjalanan yang bisa ditempuh sendirian, dan tidak perlu dituntaskan dalam semalam. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: mengisi hati dengan sholawat dan tadarus Al-Qur'an secara istiqomah, pelan-pelan, tanpa paksaan. Bila engkau ingin memulai bersama, mulai setor sholawat harian di sini atau ikut membaca Al-Qur'an bersama โ bukan untuk mengejar jumlah, melainkan untuk merawat hati agar tetap condong kepada yang kekal.
Rujukan Ringkas
- QS. Al-Hadid: 20 tentang hakikat kehidupan dunia.
- Hadis riwayat Bukhari tentang perumpamaan mukmin sebagai orang asing atau musafir di dunia.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (Juz 3, pembahasan Dzammud Dunya) dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin (Manzilah Az-Zuhd); serta hikmah Ibnu 'Athaillah dalam Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.