Di antara sekian banyak untaian cinta kepada Rasulullah SAW, ada satu yang sudah masyhur sejak berabad-abad lampau: Sholawat Al-Fatih — yang berarti ‘sang pembuka’. Ia dikenal luas lintas negeri, dengan susunan kalimat yang padat maknanya.
Tulisan ini mengajak Anda mengenalnya — bukan untuk menghukumi, bukan pula menggurui cara mengamalkannya. AlFatihRPS menyajikan khazanah sholawat sebagaimana ia hidup di tengah sebagian masyarakat, dengan hormat kepada seluruh kalangan; adapun tuntunan pengamalannya, kami kembalikan kepada para ulama dan guru masing-masing.
Teks dan Terjemahnya
Berikut lafaznya beserta terjemah maknanya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ
Terjemah makna: Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad — sang pembuka apa yang tertutup, penutup (penyempurna) apa yang telah lalu, penolong kebenaran dengan kebenaran, dan penunjuk ke jalan-Mu yang lurus; juga kepada keluarga dan para sahabatnya, dengan hak kedudukan dan keagungan beliau.
Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadinil fatihi lima ughliqa, wal khatimi lima sabaqa, nashiril haqqi bil haqqi, wal hadi ila shirathikal mustaqim, wa ‘ala alihi wa shahbihi haqqa qadrihi wa miqdarihil ‘azhim.
Makna Nama “Al-Fatih”
Al-Fatih berarti “pembuka”. Penamaan ini merujuk pada isi lafaznya yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai pembuka apa yang tertutup — pembawa cahaya risalah yang membuka pintu petunjuk — sekaligus penutup (penyempurna) para nabi sebelumnya.
Siapa Penyusunnya?
Sholawat Al-Fatih dinisbatkan kepada Sayyid Muhammad al-Bakri, seorang ulama besar dari Mesir yang hidup sekitar abad ke-10 Hijriah, dan disebut sebagai keturunan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sebagaimana adab kami dalam menyajikan sejarah sholawat, kami menyebutnya ‘dinisbatkan kepada’ — menghormati riwayat yang masyhur tanpa menutup adanya catatan para ulama.
Perlu dicatat, nama ‘Al-Fatih’ pada sholawat ini merujuk pada makna pembuka dalam lafaznya, dan ia merupakan karya ulama terdahulu yang telah ada sejak berabad-abad lampau — bukan milik golongan, tarekat, atau lembaga tertentu.
Keutamaan yang Biasa Disebutkan
Sebelum menyebut keutamaannya, penting diletakkan dasarnya lebih dulu: keutamaan bersholawat kepada Nabi SAW secara umum bukanlah perkara yang diperselisihkan. Ia berpijak pada firman Allah:
Baca Juga
Sholawat Badar: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Terjemah makna: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. (QS. Al-Ahzab: 56)
Adapun secara khusus tentang Sholawat Al-Fatih, dalam tradisi yang berkembang di sebagian kalangan disebutkan berbagai keutamaan — di antaranya harapan dilapangkan kesulitan dan husnul khatimah.
Kami menyampaikan hal-hal di atas sebagaimana ia dikenal di tengah sebagian masyarakat — tanpa kami tetapkan sebagai keharusan, dan tanpa kami beri penilaian. Adapun kedudukan riwayat serta tuntunan pengamalannya, sepenuhnya kami kembalikan kepada para ulama dan guru masing-masing. Yang kami rangkul bersama sederhana: memperbanyak sholawat kepada Nabi SAW adalah kebaikan, dan niat yang lurus lagi ikhlas adalah ruh dari setiap amalan.
Bagaimana Sebagian Masyarakat Mengamalkannya
Di tengah sebagian masyarakat, Sholawat Al-Fatih diamalkan dengan beragam cara, dan tidak ada satu bentuk baku yang mengikat. Sekadar gambaran yang umum dijumpai:
- Dilantunkan sebagai wirid harian, selepas sholat, atau dalam majelis bersama.
- Sebagian membacanya dengan bilangan tertentu; sebagian lain tanpa hitungan, menyesuaikan kemampuan.
- Yang lazim ditekankan bukan pada banyak-sedikitnya, melainkan pada kehadiran hati dan keikhlasan — seraya menyerahkan segala hasil kepada Allah.
Untuk tuntunan yang lebih rinci sesuai keadaan masing-masing, sebaiknya dirujuk kepada ustadz atau guru.
Penutup
Sholawat Al-Fatih, ‘sang pembuka’, mengingatkan bahwa setiap upaya membuka pintu kebaikan bermula dari cinta kepada Rasulullah SAW.
Bila ada perbedaan pandangan seputar sholawat ini di tengah masyarakat, sikap kami sederhana: kami menghormati semua kalangan, dan memilih menyatukan hati pada satu titik temu — cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan mencintai Rasulullah SAW terasa lebih ringan bila ditempuh bersama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar istiqomah — sedikit tetapi langgeng, tanpa paksaan dan tanpa syarat. Bergabunglah di sini jika ingin memulai bersama.