Ada satu kata yang Allah SWT pilih dalam Surah Al-Isra ayat 24 yang hampir selalu kita baca sekilas: “janah” — sayap. Bukan tangan, bukan pundak. Sayap. Allah SWT memerintahkan kita merendahkan “sayap kerendahan hati” di hadapan ayah dan ibu. Kenapa sayap? Ada makna yang menggantung di balik pilihan kata itu.
Sebelum kita sampai ke sana, mari jujur dulu pada diri sendiri. Berapa banyak dari kita yang membalas pesan orang tua lebih lambat daripada membalas notifikasi grup kerja? Berapa lama kita menahan diri untuk tidak menaikkan nada suara ketika ibu bertanya hal yang sama untuk kelima kalinya karena ingatannya mulai memudar? Kita bekerja keras mengejar rezeki di luar, mengirim transferan bulanan sebagai bukti bakti, tetapi lupa bahwa yang paling dirindukan seorang ibu bukan angka di rekeningnya — melainkan suara anaknya yang menelepon tanpa alasan.
Kelelahan hidup sering menumpulkan hati kita justru kepada dua orang yang paling berhak atas kelembutan itu. Kita sabar pada atasan yang menyebalkan, ramah pada pelanggan yang rewel, tetapi kehabisan stok kesabaran saat pulang ke rumah dan mendapati ayah bercerita hal yang itu-itu lagi. Padahal di sanalah, di rumah yang kita anggap tempat melepas topeng, letak salah satu pintu langit yang paling lebar terbuka.
Kenapa Allah SWT Merangkai Bakti Setelah Perintah Tauhid
Perhatikan bagaimana Allah SWT menyusun ayat. Perintah berbakti kepada orang tua diletakkan persis setelah larangan menyekutukan-Nya. Seolah-olah, setelah hak Allah SWT sebagai Pencipta, hak berikutnya yang paling agung adalah hak dua manusia yang menjadi sebab keberadaan kita di dunia. Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Terjemah makna: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra: 23)
Para ahli tafsir menyoroti betapa halusnya larangan ini. Allah SWT tidak memulai dengan larangan memukul atau mengusir — itu terlalu jelas kekejamannya. Allah SWT memulai dari kata terkecil: “uff”, sekadar desahan malas atau gumaman kesal. Jika desahan sekecil itu saja dilarang, apalagi bentakan, apalagi penelantaran. Di sinilah letak kelembutan syariat: ia menjaga hati orang tua bahkan dari luka yang tak kasat mata.
Bakti dalam Sirah: Ketika Rasulullah SAW Menghormati Wanita yang Menyusui
Dalam sirah yang shahih, kita menemukan gambaran betapa Rasulullah SAW memuliakan ikatan pengasuhan dan orang tua. Diriwayatkan bahwa ketika Halimah As-Sa'diyah, wanita yang dahulu menyusui beliau di masa kecil, datang menemui beliau, Rasulullah SAW membentangkan sebagian pakaiannya agar wanita mulia itu duduk di atasnya, sebagai bentuk penghormatan yang tulus. Beliau tidak melupakan kebaikan orang yang pernah mengasuhnya, meski beliau telah menjadi utusan Allah SWT yang dimuliakan seluruh alam.
Sikap ini bukan sekadar sopan santun formal. Ia lahir dari hati yang memahami bahwa kasih sayang seorang pengasuh dan orang tua adalah utang budi yang tidak pernah benar-benar terlunasi. Rasulullah pernah ditanya siapa yang paling berhak atas kebaikan kita, dan beliau menjawab dengan menyebut “ibumu” sebanyak tiga kali sebelum menyebut “ayahmu”. Hadits ini sahih dan masyhur (HR. Al-Bukhari dan Muslim), menegaskan betapa besar porsi bakti yang Allah letakkan di pundak seorang anak terhadap ibunya — sebab ibu menanggung beban mengandung, melahirkan, dan menyusui yang tak terbayangkan beratnya.
Yang jarang kita renungkan: bakti bukan tentang membalas setimpal. Sebab tak akan pernah setimpal. Ia tentang menyadari bahwa ada dua manusia yang doanya kepada kita tidak pernah putus, bahkan ketika kita sibuk melupakan mereka.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Bakti sebagai Penyucian Hati
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (Juz 2, pada pembahasan adab pergaulan dan hak-hak persahabatan serta kerabat) menempatkan birrul walidain bukan sekadar kewajiban lahiriah, melainkan sebagai jalan penyucian jiwa. Menurut beliau, berbakti kepada orang tua melatih hati untuk tunduk pada perintah Allah SWT meski bertentangan dengan ego dan kelelahan diri. Ketika seorang anak menahan kata kasar terhadap ibunya yang cerewet karena tua, ia sedang menaklukkan kesombongan yang bersemayam di dadanya.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati manusia mudah tertutup oleh hijab — tabir yang menghalangi cahaya. Salah satu tabir paling halus adalah rasa merasa diri lebih hebat dari orang tua: lebih pintar, lebih modern, lebih paham dunia. Justru dengan merendahkan diri di hadapan mereka — merendahkan “sayap kerendahan hati” seperti bunyi ayat tadi — hati kembali dibersihkan. Inilah makna sayap: sesuatu yang biasanya dipakai untuk terbang tinggi, kini justru diturunkan sebagai tanda cinta dan kelembutan.
Perspektif Imam An-Nawawi: Dimensi Amal yang Konkret
Jika Al-Ghazali menekankan dimensi batin, Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin (pada Bab Birrul Walidain wa Shilaturrahim) memberi kita dimensi amal yang bisa langsung dikerjakan. Beliau menghimpun hadits-hadits yang menunjukkan bahwa bakti itu terwujud dalam perbuatan nyata: menjawab panggilan mereka dengan lembut, mendahulukan keperluan mereka, mendoakan mereka, dan tetap menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat orang tua bahkan setelah mereka wafat.
Baca Juga
Ketika Jiwa Merana dalam Lelah Rumah Tangga: Sabar Sejati Menurut Al-Ghazali
Salah satu riwayat yang dihimpun An-Nawawi menunjukkan bahwa bakti tidak berhenti saat orang tua meninggal. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa termasuk bakti adalah mendoakan keduanya, memohonkan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, dan memuliakan kawan-kawan mereka (makna hadits sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud). Ini pelajaran besar bagi kita yang orang tuanya telah tiada dan menyesal karena dulu tak sempat berbuat lebih: pintu bakti belum tertutup. Doa kita, sedekah atas nama mereka, dan memuliakan sahabat-sahabat mereka adalah bentuk bakti yang masih terbuka lebar.
Dua perspektif ini saling melengkapi. Al-Ghazali menjaga agar bakti kita tidak kering menjadi rutinitas tanpa hati; An-Nawawi memastikan agar cinta di hati kita tidak berhenti sebagai perasaan tanpa perbuatan. Batin dan amal, keduanya menyatu.
Relevansinya di Tengah Hidup yang Menuntut Segalanya
Hari ini, banyak dari kita hidup jauh dari orang tua — merantau demi pekerjaan, terpisah kota atau bahkan benua. Kesibukan menjadi alasan yang paling mudah diucapkan. Tetapi mari kita renungkan: rezeki yang kita kejar mati-matian itu, bukankah sebagian keberkahannya justru terletak pada keridhaan orang tua? Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keridhaan Allah SWT bergantung pada keridhaan orang tua, dan murka Allah SWT pun ada dalam murka mereka (makna hadits diriwayatkan dalam Sunan At-Tirmidzi dan dinilai baik oleh para ulama).
Ketika hatimu terasa sempit, rezekimu terasa seret, dan hidup terasa dikejar-kejar — coba tanyakan pada diri: kapan terakhir kali aku menelepon ibu hanya untuk mendengar suaranya? Kapan terakhir aku mencium tangan ayah dan meminta doanya dengan sungguh-sungguh? Sering kali, keberkahan yang kita cari di ujung dunia sebenarnya menunggu di ujung sujud doa seorang ibu yang menyebut nama kita di sepertiga malam.
Bakti tidak menuntut hal-hal besar. Ia hadir dalam telepon lima menit, dalam kesabaran mendengar cerita yang berulang, dalam menahan satu kata kasar yang hampir keluar. Langkah-langkah kecil yang konsisten itulah yang membangun keridhaan — dan dari keridhaan itulah pintu-pintu langit terbuka.
Dalil
Selain ayat Al-Isra di atas, Allah SWT kembali menegaskan dalam firman-Nya:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
Terjemah makna: Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Adapun dari sunnah, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat tentang amal yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab:
ٱلصَّلَاةُ عَلَىٰ وَقْتِهَا ... ثُمَّ بِرُّ ٱلْوَالِدَيْنِ
— “Shalat pada waktunya... kemudian berbakti kepada kedua orang tua” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sungguh menakjubkan: bakti kepada orang tua disebut Rasulullah sebagai amal yang dicintai Allah setelah shalat tepat waktu, dan disebutkan sebelum jihad di jalan Allah.Pertanyaan yang Menggantung
Kembali ke kata “sayap” di awal tadi. Burung yang menurunkan sayapnya bukanlah burung yang lemah — justru sebaliknya. Ia menurunkan sayapnya untuk melindungi, untuk memeluk, untuk menaungi. Begitulah Allah SWT ingin kita memperlakukan orang tua: bukan dengan rasa terpaksa, melainkan dengan naungan cinta yang melindungi mereka di usia senja mereka.
Maka pertanyaannya sekarang bukan lagi “apa keutamaan berbakti” — itu sudah terjawab. Pertanyaannya: sudah berapa lama sayap itu tidak kita turunkan? Dan siapa yang akan menaungi kita nanti, jika hari ini kita lupa menaungi mereka?
Mendoakan orang tua adalah bakti yang tak pernah putus, dan salah satu bentuk cinta itu bisa kita rawat lewat kebiasaan istiqomah — bersholawat kepada Rasulullah SAW yang mengajarkan kita adab kepada orang tua, serta menyempatkan tadarus Al-Qur'an lalu menghadiahkan pahalanya untuk mereka. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar merawat kebiasaan kecil ini bersama-sama, pelan tapi tetap, tanpa paksaan. Jika hatimu tergerak, silakan mulai setor sholawat harian di sini atau ikut baca Al-Qur'an bersama — sambil menyelipkan doa untuk ayah dan ibu di setiap lembarnya.
Rujukan Ringkas
- QS. Al-Isra: 23-24 dan QS. Luqman: 14 tentang perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.
- Hadis tentang keutamaan birrul walidain (HR. Al-Bukhari dan Muslim); bakti kepada ibu tiga kali sebelum ayah.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (Juz 2) dan Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab Birrul Walidain).
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.