Kita sering membayangkan kekuasaan itu puncak kebahagiaan dan kebanggaan. Padahal, bagi Nabi Sulaiman, singgasana megah yang terbentang luas adalah amanah terberat, ujian mahabbah yang tak berkesudahan.
Di tengah gemuruh aspirasi hidup modern, kita tak jarang mendapati diri berlomba meraih posisi, kekayaan, atau pengaruh. Media sosial membanjiri kita dengan citra kesuksesan yang seringkali diukur dari seberapa tinggi status seseorang, berapa banyak harta yang terkumpul, atau seberapa luas 'kerajaan' yang ia bangun. Namun, di balik kilau capaian itu, pernahkah terlintas pertanyaan: apakah kekuasaan dan kemewahan sejati itu membawa kedamaian, atau justru melahirkan beban yang lebih berat, bahkan menjauhkan hati dari Sang Pencipta? Keresahan ini bukan barang baru; ia adalah pergulatan abadi manusia, yang bahkan pernah dihadapi oleh seorang raja paling agung dalam sejarah.
Kisah Nabi Sulaiman ๏ทบ adalah narasi tentang kekuasaan yang tak tertandingi, namun dibalut dengan kerendahan hati yang mendalam. Allah menganugerahkan kepadanya bukan hanya kerajaan atas manusia, tetapi juga jin, hewan, bahkan angin yang tunduk pada perintahnya. Ia bisa memahami bahasa burung, memiliki istana yang dibangun oleh jin, dan pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Tidak ada raja di muka bumi yang pernah mencapai puncak kejayaan seperti beliau. Namun, di puncak segala kemegahan itu, Nabi Sulaiman tidak pernah lupa akan hakikat dirinya sebagai hamba. Doanya yang masyhur terekam dalam Al-Qur'an, menjadi cermin kesadarannya akan karunia yang tak terhingga:
ููุงูู ุฑูุจูู ุงุบูููุฑู ููู ููููุจู ููู ู
ูููููุง ูููุง ูููุจูุบูู ููุฃูุญูุฏู ู
ููู ุจูุนูุฏูู ุฅูููููู ุฃููุชู ุงูููููููุงุจู
Terjemah makna: 'Ia berkata: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun sesudahku; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi'.' (QS. Shad: 35). Doa ini bukan tentang keserakahan, melainkan pengakuan total atas keagungan Allah sebagai pemberi, dan kesadaran akan beratnya amanah yang diemban. Ia meminta kerajaan yang unik, bukan untuk kesombongan, melainkan sebagai tanda kebesaran Allah yang tak tertandingi, dan agar tidak ada yang menyaingi kemuliaan yang Allah berikan padanya, yang justru akan menjerumuskan pada kesombongan.Kisah lain yang tak kalah menyentuh adalah ketika Nabi Sulaiman memeriksa pasukannya dan mendapati burung hudhud tidak ada. Setelah hudhud kembali dan melaporkan tentang Ratu Balqis dan kerajaannya, Nabi Sulaiman tidak serta merta memamerkan kekuasaannya, melainkan dengan tenang mengirim surat dakwah. Kemudian, ketika singgasana Balqis telah dihadirkan di hadapannya dalam sekejap mata, reaksi beliau bukanlah takjub pada kemampuannya sendiri, melainkan syukur yang mendalam.
ููุงูู ูููฐุฐูุง ู
ูู ููุถููู ุฑูุจููู ููููุจูููููููู ุฃูุฃูุดูููุฑู ุฃูู
ู ุฃูููููุฑู ููู
ูู ุดูููุฑู ููุฅููููู
ูุง ููุดูููุฑู ููููููุณููู ููู
ูู ููููุฑู ููุฅูููู ุฑูุจููู ุบูููููู ููุฑููู
ู
Terjemah makna: 'Ia berkata: 'Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia'.' (QS. An-Naml: 40). Ayat ini menunjukkan betapa setiap karunia, sekecil apapun, adalah ujian. Bagi Nabi Sulaiman, kekuasaan tertinggi adalah medan ujian syukur, bukan panggung untuk keangkuhan.Perspektif Imam Al-Ghazali: Kekuasaan sebagai Ujian Hati
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, khususnya dalam Kitab Syukur wa Sabar (Juz 4, Bab Hakikat Syukur), secara mendalam membahas bagaimana nikmat dan kekuasaan dapat menjadi pedang bermata dua. Beliau menjelaskan bahwa syukur sejati bukanlah sekadar ucapan lisan, melainkan pengakuan hati, penggunaan nikmat sesuai kehendak Pemberi Nikmat, dan menghindari segala bentuk kesombongan atau lupa diri. Bagi Al-Ghazali, kekuasaan yang besar menuntut tingkat syukur yang lebih tinggi, karena godaannya pun lebih besar. Ia adalah ujian untuk melihat apakah hati akan tetap tunduk dan merendah, atau justru melambung tinggi dalam keangkuhan.
Baca Juga
Lumbung Pangan dari Penjara: Menguak Hikmah Pengelolaan Krisis ala Nabi Yusuf
Al-Ghazali menegaskan bahwa tanda syukur seorang penguasa adalah ketika ia menggunakan kekuasaannya untuk menegakkan keadilan, membantu yang lemah, dan menyebarkan kebaikan, bukan untuk menumpuk harta atau memuaskan ego. Nabi Sulaiman, dengan segala kemewahan dan kekuasaannya, justru menunjukkan puncak syukur dengan selalu mengembalikan segala keagungan kepada Allah dan menjadikan kerajaannya sebagai sarana dakwah dan penegakan tauhid. Ini adalah dimensi batin yang esensial: kekuasaan bukan tujuan, melainkan wasilah (sarana) untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan amanah-Nya. Tanpa kesadaran ini, kekuasaan akan menjadi tirai tebal yang menghalangi pandangan hati dari kebenaran.
Perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Keseimbangan Antara Kekayaan dan Kerendahan Hati
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dalam Madarij As-Salikin (Jilid 1, Bab Manzilah Al-Faqr wal Ghina), menawarkan perspektif yang melengkapi mengenai bagaimana seorang hamba menyikapi kekayaan dan kekuasaan. Beliau menjelaskan bahwa kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada kekayaan hati yang merasa cukup dengan Allah dan tidak bergantung pada makhluk. Nabi Sulaiman adalah contoh sempurna dari seorang yang dianugerahi kekayaan materi dan kekuasaan yang luar biasa, namun hatinya tetap fakir di hadapan Allah (merasa butuh dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya).
Ibnu Qayyim menekankan pentingnya menjaga hati dari penyakit 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan kibr (sombong) yang seringkali menyertai kekuasaan dan kesuksesan. Ia mengajarkan bahwa setiap karunia adalah anugerah yang harus disikapi dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa itu semua bisa dicabut kapan saja. Nabi Sulaiman, meskipun memiliki segala-galanya, tidak pernah berhenti berdoa dan memohon ampunan, menunjukkan bahwa ia senantiasa merasa 'miskin' di hadapan kekuasaan Ilahi. Ini adalah amal hati yang konsisten: terus-menerus mengevaluasi niat dan memastikan bahwa setiap tindakan, bahkan yang paling agung sekalipun, didasari oleh ketulusan dan pengabdian kepada Allah semata, bukan untuk pujian manusia atau kebanggaan diri.
Relevansinya Hari Ini: Kekuasaan dalam Genggaman Hati
Di era modern, konsep 'kekuasaan' bisa sangat beragam. Ia bukan hanya tentang jabatan politik atau kepemimpinan korporat, tetapi juga tentang pengaruh di media sosial, otoritas dalam keluarga, atau bahkan kemampuan finansial yang memungkinkan kita mengendalikan banyak hal. Seringkali, saat kita meraih 'kekuasaan' kecil sekalipun, kita mudah tergelincir pada rasa bangga, merasa lebih baik dari orang lain, atau menggunakan pengaruh kita untuk kepentingan pribadi semata.
Kisah Nabi Sulaiman dan pandangan para ulama mengajarkan kita bahwa kekuasaan sejati ada di dalam hati. Ia adalah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, menundukkan ego, dan menggunakan setiap karunia Allahโbaik itu harta, ilmu, jabatan, atau pengaruhโsebagai alat untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memberi manfaat bagi sesama. Ini adalah perjuangan batin yang tak pernah usai. Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ู
ูุง ููููุตูุชู ุตูุฏูููุฉู ู
ููู ู
ูุงูู ููู
ูุง ุฒูุงุฏู ุงูููููู ุนูุจูุฏูุง ุจูุนููููู ุฅููููุง ุนูุฒููุง ููู
ูุง ุชูููุงุถูุนู ุฃูุญูุฏู ููููููู ุฅููููุง ุฑูููุนููู ุงูููููู
Terjemah makna: 'Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan pemberian maaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat (derajat)nya.' (HR. Muslim). Hadits ini menggarisbawahi inti dari hikmah Nabi Sulaiman: kerendahan hati dan pengabdian kepada Allah adalah kunci kemuliaan sejati, jauh melampaui segala bentuk kekuasaan duniawi.Lalu, bagaimana kita menjaga hati agar tidak tergelincir dalam kesombongan saat meraih kesuksesan, atau tidak putus asa saat menghadapi kegagalan? Bagaimana kita meniru Nabi Sulaiman yang, meski memiliki segalanya, justru semakin merasa fakir dan bersyukur? Perjalanan melunak ini tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, ribuan sahabat sedang belajar hal yang sama โ pelan-pelan, istiqomah, tanpa paksaan, untuk menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah ๏ทบ dan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an, Surah Shad dan An-Naml
- Hadits Riwayat Muslim
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (Kitab Syukur wa Sabar)
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin (Manzilah Al-Faqr wal Ghina)
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.