Jam dua dini hari, kamu terbangun lagi. Bukan karena haus, tapi karena pikiranmu tak henti menghitung sisa cicilan rumah, biaya sekolah anak yang makin tinggi, atau diagnosis dokter yang baru saja kamu terima. Dada terasa sesak, seolah ada beban tak kasat mata yang menindih. “Mengapa harus aku?” bisik hatimu, lagi-lagi mempertanyakan takdir yang terasa begitu berat.
Keresahan semacam ini bukan sekadar bisikan hati yang lewat. Ia adalah jeritan batin yang lelah melawan realitas, meronta di hadapan kenyataan yang tak sesuai harapan. Kita sering terjebak dalam lingkaran penolakan, berharap segalanya bisa berbeda, dan dalam prosesnya, menguras energi jiwa hingga habis tak bersisa. Beban mental dan emosional ini bisa jauh lebih memberatkan daripada masalah itu sendiri, sebab ia mengikis ketenangan dan menjauhkan kita dari kedamaian hakiki.
Dalam kacamata hikmah, kegelisahan ini adalah isyarat bahwa hati kita belum sepenuhnya menyelami samudra qadha dan qadar. Konsep takdir ilahi ini seringkali disalahpahami sebagai fatalisme pasif, padahal ia adalah fondasi iman yang justru membebaskan. Allah SWT berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22). Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, telah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh. Bukan untuk membuat kita pasrah tanpa usaha, melainkan agar kita memahami bahwa ada kebijaksanaan agung di balik setiap kejadian.Puncak dari pemahaman ini adalah ridha—sebuah maqam (tingkatan spiritual) yang melampaui sabar. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa sabar adalah menahan diri dari keluh kesah dan menanggung pahitnya takdir, sementara ridha adalah menerima dengan lapang dada, bahkan menemukan ketenangan dan kebahagiaan dalam setiap ketetapan Allah. Ridha bukanlah ketidakpedulian, melainkan penyerahan hati yang tulus kepada kehendak Ilahi, meyakini bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik, meskipun akal kita belum mampu menjangkaunya. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan, “Bagaimana mungkin hati bisa bersinar terang jika cerminnya berkarat dengan gambaran selain Allah? Atau bagaimana ia bisa berjalan menuju Allah jika ia terikat pada kehendak-kehendak selain kehendak-Nya?” Ridha membebaskan hati dari ikatan kehendak pribadi yang seringkali sempit, menuju keluasan kehendak Sang Pencipta.
Ketika hati telah mencapai maqam ridha, ia akan menemukan kedamaian yang tak tergoyahkan oleh badai kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya. Dan tidak ada yang demikian itu kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim). Hadits ini bukan sekadar anjuran, melainkan deskripsi tentang hakikat jiwa yang telah ridha. Ia tidak lagi melihat musibah sebagai hukuman, melainkan sebagai ujian, pengingat, atau bahkan pembersih dosa yang justru membawa kebaikan. Ridha mengubah perspektif kita dari “mengapa ini terjadi padaku?” menjadi “pelajaran apa yang Allah ingin sampaikan melalui ini?”Mencapai ridha memang bukan perkara instan. Ia adalah perjalanan pembinaan hati yang panjang, sebuah riyadhah spiritual yang membutuhkan konsistensi dan kesadaran penuh. Ini bukan berarti kita berhenti berusaha atau berdoa untuk perubahan, melainkan kita menerima hasil dari usaha dan doa tersebut dengan hati yang lapang, tanpa menyisakan ganjalan atau penyesalan. Ketika kita ridha, kita melepaskan kendali atas apa yang di luar kuasa kita, dan fokus pada apa yang bisa kita perbaiki: sikap hati kita sendiri.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.