Di loket pendaftaran sekolah, seorang ayah menghitung ulang uang pangkal sambil menyembunyikan wajah lelahnya dari anaknya. Ribuan tahun lalu, Nabi Musa juga berjalan jauh demi ilmu, membawa bekal yang akhirnya hilang di perjalanan. Dua zaman berbeda, satu kegelisahan yang sama: ilmu tidak pernah datang tanpa biaya.
Hari pertama masuk sekolah sering tampak cerah di foto keluarga: seragam baru, sepatu mengilap, tas yang masih kaku. Tetapi di belakang senyum itu, ada orang tua yang baru saja menggesek tabungan terakhir, menunda bayar cicilan, atau pulang dari koperasi dengan dada sesak. Biaya daftar ulang, uang gedung, buku paket, seragam, transportasi, les tambahan, dan kebutuhan digital membuat pendidikan terasa bukan hanya urusan akademik, melainkan ujian batin satu keluarga.
Luka yang paling dalam bukan sekadar angka di kwitansi. Yang membuat banyak ayah dan ibu diam lama adalah rasa takut: jangan-jangan anaknya tertinggal hanya karena dompet orang tuanya tidak sekuat orang lain. Ada ibu yang merasa bersalah karena belum mampu memasukkan anak ke sekolah idaman. Ada ayah yang pulang kerja lebih malam, bukan karena ambisi, tetapi karena takut melihat mata anaknya kecewa. Di titik ini, pendidikan menjadi cermin budaya: apakah ilmu sedang kita muliakan, atau justru sedang kita ubah menjadi perlombaan gengsi yang melelahkan?
Islam memuliakan ilmu dengan sangat tinggi, tetapi kemuliaan itu tidak pernah dimaksudkan untuk menghancurkan hati orang lemah. Para ulama mengajarkan adab terhadap ilmu, guru, dan lembaga pendidikan; pada saat yang sama, tradisi Islam juga menaruh perhatian besar pada keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Maka pembahasan biaya sekolah yang mahal tidak cukup dibaca sebagai keluhan ekonomi. Ia adalah pertanyaan peradaban: bagaimana masyarakat merawat ilmu tanpa menjadikannya pintu yang hanya ramah bagi yang mampu?
Nabi Musa dan Ongkos Sunyi dalam Mencari Ilmu
Al-Qur'an mengabadikan satu fragmen yang sering dibaca, tetapi jarang direnungi dari sisi lelahnya perjalanan. Nabi Musa, seorang nabi besar yang telah menerima wahyu, tetap diperintahkan menempuh jalan belajar kepada hamba Allah SWT yang diberi ilmu khusus. Ia tidak duduk dalam kenyamanan status. Ia berjalan, membawa bekal, ditemani seorang pemuda, dan menyatakan tekad yang sangat kuat.
Allah berfirman: ููุฅูุฐู ููุงูู ู
ููุณูููฐ ููููุชูุงูู ููุง ุฃูุจูุฑูุญู ุญูุชููููฐ ุฃูุจูููุบู ู
ูุฌูู
ูุนู ุงููุจูุญูุฑููููู ุฃููู ุฃูู
ูุถููู ุญูููุจูุง
Terjemah makna: Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya, Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. (QS. Al-Kahf: 60)Ayat ini bukan sekadar kisah perjalanan geografis. Ia menggambarkan bahwa ilmu memiliki ongkos: waktu, tenaga, kesabaran, kerendahan hati, bahkan kesiapan menanggung ketidaknyamanan. Nabi Musa tidak membeli ilmu dengan kesombongan, melainkan mendatanginya dengan perjalanan. Dalam bahasa hari ini, ilmu tidak lahir hanya dari fasilitas, ranking, atau brosur sekolah yang indah; ilmu tumbuh ketika ada kesungguhan, adab, dan kesediaan orang tua serta anak untuk berjalan bersama melewati keterbatasan.
Namun ada detail yang lembut: bekal mereka hilang di perjalanan. Dalam lanjutan kisah Al-Kahf, ikan yang dibawa sebagai bekal menjadi tanda tempat pertemuan. Seakan-akan Al-Qur'an mengajarkan bahwa pada jalan ilmu, ada sesuatu yang mungkin terasa hilang: uang, waktu santai, kenyamanan, bahkan rasa aman. Tetapi yang hilang itu tidak selalu sia-sia. Kadang ia menjadi penanda bahwa perjalanan batin sedang dibuka oleh Allah SWT.
Di sinilah orang tua hari ini bisa menarik napas pelan. Bila biaya pendidikan terasa berat, jangan cepat menyimpulkan bahwa Allah SWT sedang meninggalkan. Bisa jadi Allah SWT sedang mengajarkan keluarga tentang prioritas, kesederhanaan, musyawarah, dan tawakal yang lebih matang. Tetapi tawakal bukan alasan untuk menutup mata dari masalah sosial. Tawakal adalah hati yang bersandar kepada Allah SWT, sambil akal tetap jernih mencari jalan yang halal, layak, dan tidak merusak martabat keluarga.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Ilmu Bukan Aksesori Status
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Ilm, Ihya' Ulumuddin Juz 1, menempatkan ilmu sebagai jalan mengenal Allah SWT dan memperbaiki amal, bukan sekadar alat menaikkan status sosial. Dalam kerangka itu, ilmu yang benar tidak hanya memenuhi kepala, tetapi menundukkan ego. Ia mengubah cara seseorang memandang rezeki, keluarga, anak, dan masa depan.
Makna ini sangat penting ketika biaya sekolah menjadi simbol kelas sosial. Banyak keluarga tidak hanya membayar pendidikan, tetapi juga membayar kecemasan: takut anak tidak punya jaringan, takut kalah bersaing, takut dipandang kurang berhasil. Kecemasan seperti ini mudah menyamar sebagai cinta. Padahal cinta kepada anak tidak selalu berarti memaksakan standar yang melampaui kemampuan keluarga. Cinta yang beradab adalah memilih jalan terbaik yang sanggup ditempuh tanpa mematahkan jiwa.
Al-Ghazali membedakan ilmu yang membawa seseorang kepada Allah SWT dengan ilmu yang hanya menjadi perhiasan lidah dan kebanggaan diri. Jika pendidikan membuat anak makin lembut kepada orang tua, makin jujur, makin disiplin, dan makin mengenal Tuhannya, maka pendidikan itu sedang bergerak menuju keberkahan. Tetapi bila pendidikan hanya menjadi panggung perbandingan, tempat orang tua saling mengukur gengsi lewat nama sekolah dan biaya, maka ruh ilmu sedang menipis meskipun gedungnya tinggi.
Ini bukan ajakan meremehkan sekolah berkualitas. Fasilitas yang baik, guru yang sejahtera, kurikulum yang tertata, dan lingkungan yang aman memang membutuhkan biaya. Islam tidak mengajarkan anti-kualitas. Yang perlu dijaga adalah niat dan ukuran. Jangan sampai orang tua terpaksa mengorbankan kesehatan batin, keharmonisan rumah, dan kejujuran finansial demi mengejar citra pendidikan yang tidak selalu sesuai kebutuhan anak.
Dalam budaya Islam, adab mendahului prestise. Anak yang masuk sekolah sederhana tetapi tumbuh dengan rasa hormat, shalat yang dijaga, bacaan Al-Qur'an yang diperhatikan, dan akhlak yang lembut, tidak sedang gagal. Ia sedang menempuh jalan ilmu dengan bekal yang sering tidak terlihat di brosur: keberkahan rumah, doa orang tua, dan ketenangan hati.
Perspektif Imam An-Nawawi: Jalan Ilmu Harus Dibuka dengan Amal
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, Kitab Al-Ilm, Bab Fadhl Al-Ilm, menghimpun hadis-hadis tentang keutamaan mencari ilmu. Salah satu hadis yang sangat dikenal menyebutkan sabda Nabi Muhammad:
ู
ููู ุณููููู ุทูุฑููููุง ููููุชูู
ูุณู ููููู ุนูููู
ูุงุ ุณูููููู ุงูููููู ูููู ุจููู ุทูุฑููููุง ุฅูููู ุงููุฌููููุฉู
Baca Juga
Rezeki Seret Karena MBG, atau Karena Adab Kita pada Nikmat?
Terjemah makna: Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)Kata menempuh jalan dalam hadis ini terasa sangat manusiawi. Jalan ilmu tidak selalu berupa ruang kelas ideal. Ia bisa berupa ayah yang mengambil kerja tambahan secara halal, ibu yang mengatur ulang belanja dapur, anak yang belajar menerima sekolah sesuai kemampuan keluarga, guru yang tetap mengajar dengan tulus, tetangga yang membantu seragam bekas layak pakai, atau komunitas yang membuka ruang belajar bersama. Jalan ilmu adalah amal kolektif, bukan beban pribadi yang dipikul sendirian sampai patah.
Di sinilah perspektif Imam An-Nawawi melengkapi Al-Ghazali. Jika Al-Ghazali menekankan ruh ilmu agar tidak jatuh menjadi kesombongan, An-Nawawi memperlihatkan bahwa kemuliaan ilmu harus bergerak menjadi amal. Mencari ilmu bukan hanya cita-cita batin, melainkan perjalanan nyata yang membutuhkan dukungan sosial. Orang yang mampu membantu akses pendidikan, meski kecil, sedang ikut membuka jalan kebaikan. Orang yang belum mampu banyak, tetapi menjaga anaknya tetap belajar dengan penuh adab, juga berada di jalan yang dimuliakan.
Maka masyarakat yang sehat tidak memandang keluarga kesulitan biaya sekolah dengan sinis. Tidak semua keterbatasan lahir dari kemalasan. Banyak orang tua bekerja keras, tetapi biaya hidup kota besar, kontrakan, transportasi, kebutuhan pangan, dan cicilan membuat ruang napas semakin sempit. Adab sosial menuntut kita lebih cepat menolong daripada menghakimi, lebih mudah bertanya apa yang bisa dibantu daripada menuduh kurang berusaha.
Dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah, ilmu dan rahmah tidak dipisahkan. Ilmu tanpa kasih sayang bisa berubah dingin. Kasih sayang tanpa ilmu bisa kehilangan arah. Pendidikan yang diberkahi membutuhkan keduanya: standar yang baik dan hati yang luas; disiplin yang rapi dan belas kasih kepada yang terbatas; penghargaan kepada guru dan perhatian kepada murid yang datang dari keluarga sederhana.
Relevansinya Hari Ini: Mahal yang Perlu Dibaca Ulang
Biaya sekolah yang tinggi perlu dibaca dengan dua mata. Mata pertama melihat realitas: pendidikan membutuhkan biaya operasional, guru perlu dihargai, fasilitas perlu dirawat, dan mutu tidak lahir dari angan-angan. Mata kedua melihat amanah sosial: ilmu tidak boleh berubah menjadi tembok yang membuat anak-anak miskin merasa tidak pantas bermimpi. Dua mata ini harus bekerja bersamaan agar pembicaraan kita adil.
Bagi orang tua, langkah pertama adalah membedakan kebutuhan anak dari gengsi orang dewasa. Tidak semua sekolah mahal otomatis paling cocok. Tidak semua sekolah sederhana berarti rendah nilai. Tanyakan dengan jujur: apakah lingkungan ini membantu akhlak anak? Apakah kemampuan finansial keluarga masih sehat? Apakah anak akan tumbuh dengan tekanan perbandingan yang terlalu berat? Apakah rumah masih punya waktu untuk mendampingi, bukan hanya membayar?
Langkah kedua adalah musyawarah keluarga yang lembut. Anak perlu dikenalkan pada kenyataan hidup tanpa dibebani rasa bersalah. Katakan dengan bahasa yang menjaga martabat: keluarga sedang memilih jalan terbaik, bukan menyerah. Anak yang dididik dengan kejujuran seperti ini sering tumbuh lebih tangguh, karena ia belajar bahwa ilmu bukan barang pamer, melainkan amanah yang diperjuangkan.
Langkah ketiga adalah mencari jalan halal dan kolektif: beasiswa, keringanan biaya, sekolah yang sesuai kemampuan, koperasi yang sehat, dukungan keluarga besar, program sosial lembaga pendidikan, atau ruang belajar komunitas. Jangan malu bertanya baik-baik. Dalam tradisi keilmuan Islam, meminta jalan untuk ilmu bukan kehinaan. Yang hina adalah bila manusia memalsukan kemampuan, menzalimi diri dengan utang yang merusak, atau kehilangan kejujuran demi tampak sanggup.
Langkah keempat adalah menghidupkan madrasah rumah. Sekolah penting, tetapi rumah tetap tempat pertama anak belajar makna. Di meja makan sederhana, anak bisa belajar syukur. Dalam cara ayah meminta maaf, anak belajar akhlak. Dalam kesabaran ibu mengulang bacaan, anak belajar rahmah. Dalam kebiasaan membaca Al-Qur'an dan bersholawat kepada Rasulullah SAW, anak menyerap bahwa ilmu tertinggi adalah mengenal Allah SWT dan mencintai Nabi-Nya.
Di titik ini, pendidikan kembali kepada urutan yang indah: mahabbah, adab, ilmu, hikmah, amal, lalu peradaban. Mahabbah membuat orang tua tidak mendidik dengan amarah. Adab menjaga anak dari kesombongan. Ilmu memberi arah. Hikmah membuat keluarga tahu batas. Amal menggerakkan bantuan sosial. Peradaban lahir ketika masyarakat tidak membiarkan anak-anak berjalan sendirian menuju masa depan.
Pertanyaan yang Tinggal di Hati Orang Tua
Mungkin setelah semua perhitungan selesai, angka di kertas tetap belum berubah. Tagihan masih ada. Seragam masih harus dibeli. Buku masih menunggu. Tetapi hati yang membaca ulang makna ilmu akan berubah cara memikulnya. Ia tidak lagi hanya bertanya, bagaimana caranya terlihat mampu? Ia mulai bertanya, jalan mana yang paling Allah SWT ridai untuk keluarga ini?
Pertanyaan itu tidak selalu segera melahirkan jawaban. Kadang ia hanya membuat kita lebih jujur, lebih hemat, lebih rendah hati, lebih berani meminta nasihat, dan lebih lembut kepada pasangan. Banyak rumah tangga retak bukan karena biaya sekolah semata, tetapi karena beban itu tidak dibicarakan dengan kasih sayang. Padahal anak tidak hanya membutuhkan sekolah; ia membutuhkan orang tua yang tidak saling melukai saat memperjuangkan sekolahnya.
Maka ketika biaya masuk sekolah terasa mahal, mungkin yang sedang diuji bukan hanya dompet, tetapi arah cinta kita. Apakah kita mencintai ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah SWT, atau mencintai citra yang ditempelkan pada ilmu? Apakah kita sedang menyiapkan anak menjadi manusia beradab, atau sekadar peserta lomba panjang yang tidak pernah selesai?
Jika perjalanan ini terasa berat, jangan menempuhnya sendirian. AlFatihRPS sebagai Pelopor Gerakan Sholawat Tanpa Syarat mengajak sahabat untuk merawat hati pelan-pelan melalui ukhuwah, sholawat harian, dan kebiasaan membaca Al-Qur'an bersama tanpa tekanan serta tanpa pamer jumlah. Bila ingin belajar istiqomah dalam suasana pembinaan hati yang hangat, silakan mulai dari member.alfatihrps.com; sebab keluarga yang kuat bukan hanya yang mampu membayar biaya sekolah, tetapi yang tetap menjaga cinta kepada Rasulullah SAW ketika sedang menghitung biaya hidupnya.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 60 tentang perjalanan Nabi Musa mencari ilmu.
- Hadis riwayat Muslim tentang keutamaan menempuh jalan untuk mencari ilmu.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 1, Kitab Al-Ilm; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Kitab Al-Ilm, Bab Fadhl Al-Ilm.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.