Jam tiga dini hari, kamu terbangun lagi. Bukan karena alarm, melainkan karena pikiran yang tak henti berputar: pekerjaan yang tak kunjung selesai, rencana bisnis yang kandas di tengah jalan, atau mungkin harapan tentang keluarga yang tak sesuai ekspektasi. Hati terasa berat, dipenuhi pertanyaan 'mengapa?' dan 'bagaimana bisa ini terjadi?'. Segala upaya sudah dicurahkan, doa tak putus dipanjatkan, namun realitas yang datang justru berlawanan dengan apa yang diimpikan. Rasa kecewa dan lelah batin merayap, membuat kita merasa seolah takdir sedang mempermainkan.
Keresahan semacam ini adalah fitrah manusiawi. Kita cenderung mencintai apa yang menyenangkan dan membenci apa yang menyakitkan. Namun, dalam kacamata hikmah Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya tasawuf, ada sebuah maqam agung bernama ridha. Bukan sekadar pasrah tanpa daya, melainkan penerimaan aktif yang berakar pada keyakinan mendalam akan kebijaksanaan Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa ridha adalah ketenangan hati dalam menghadapi ketetapan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang tidak disukai. Ini bukan berarti kita harus mencintai musibah itu sendiri, melainkan mencintai Dzat yang menetapkannya, yakni Allah subhanahu wa ta'ala.
Seringkali, apa yang kita sangka buruk justru menyimpan kebaikan yang tak terduga, dan apa yang kita kejar mati-matian justru membawa petaka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini adalah penawar bagi hati yang memberontak. Ia mengajarkan kita untuk melihat di balik tabir peristiwa, meyakini bahwa di setiap takdir, ada rahasia dan hikmah Ilahi yang mungkin belum mampu kita jangkau dengan akal dan perasaan.
Ridha bukanlah meniadakan rasa sakit atau kesedihan. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis saat putranya, Ibrahim, wafat. Namun, tangisan beliau adalah tangisan kasih sayang dan penerimaan, bukan penolakan terhadap takdir. Beliau bersabda:
Baca Juga
Qadha dan Qadar: Kenapa Hati Sulit Menerima Takdir yang Pahit?
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Apabila ia tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati akan menemukan kebaikan dalam setiap kondisi, baik suka maupun duka, karena ia telah melatih hatinya untuk ridha.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa takdir adalah cerminan kehendak Allah yang mutlak. Ketenangan hati hanya dapat diraih ketika kita melepaskan kehendak pribadi dan menyelaraskannya dengan kehendak Ilahi. Ini adalah proses pembinaan hati yang panjang, sebuah perjalanan spiritual yang menuntut kejujuran dan ketekunan. Kita tidak bisa langsung 'ridha' dalam semalam, melainkan melalui serangkaian latihan batin untuk memahami bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan segala ketetapan-Nya adalah manifestasi dari sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Maka, ketika hati kembali diselimuti kegelisahan karena takdir yang tak sejalan, ingatlah bahwa ini adalah kesempatan untuk melatih maqam ridha. Bukan dengan memaksakan diri untuk menyukai penderitaan, melainkan dengan menundukkan hati pada kebesaran Allah, mencari hikmah di balik setiap ujian, dan memperbarui keyakinan bahwa Dia selalu memilihkan yang terbaik. Inilah inti dari mahabbah, cinta sejati kepada Allah dan Rasul-Nya, yang termanifestasi dalam penerimaan tulus terhadap segala ketetapan-Nya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.