Ada satu kata yang dipilih Rasulullah SAW dalam hadis tentang menolong orang lain, dan hampir semua orang melewatinya. Beliau tidak berkata Allah SWT akan membalas orang yang menolong. Beliau memakai kata lain — kata yang jauh lebih dalam. Beliau berkata: Allah SWT akan menghilangkan.
Bayangkan sore itu. Kamu baru pulang kerja, badan remuk, dan tetangga mengetuk pintu meminjam uang untuk menebus obat anaknya yang panas. Di dompetmu ada uang yang sudah kamu niatkan untuk cicilan besok. Sebagian hati berkata: “Aku sendiri sedang susah.” Sebagian lagi berkata: “Tapi dia lebih susah.” Momen kecil seperti ini terjadi ribuan kali dalam hidup kita — dan di sanalah letak seluruh pembahasan ini.
Kita hidup di tengah tekanan yang membuat setiap orang merasa paling berhak dikasihani. Cicilan menumpuk, harga kebutuhan naik, gaji terasa menguap sebelum tengah bulan. Dalam keadaan seperti ini, menolong orang lain terasa seperti kemewahan yang tak sanggup kita beli. Padahal justru di titik itulah Rasulullah SAW menaruh salah satu janji terindahnya.
Hadis yang Jarang Dibaca Sampai Habis
Kebanyakan orang hafal potongan awalnya, tapi berhenti sebelum kalimat kuncinya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Terjemah makna: Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan meringankan satu kesulitannya dari kesulitan-kesulitan hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (HR. Muslim)
Perhatikan pilihan katanya. Nabi SAW tidak berkata Allah SWT akan “memberi upah”. Beliau memakai kata naffasa — melapangkan, membuat lega, seolah menarik napas setelah lama tercekik. Menolong orang lain, dalam bahasa hadis ini, bukan transaksi jual beli pahala. Ia adalah pertukaran kelapangan: kamu melapangkan dada saudaramu hari ini, Allah SWT melapangkan dadamu di hari yang jauh lebih menakutkan dari cicilan mana pun — hari Kiamat.
Nabi Sebelum Diutus: Sudah Menolong Sebelum Ada Perintah
Ada detail dalam sirah shahih yang menghancurkan anggapan bahwa menolong itu perlu menunggu perintah agama. Ketika Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu di Gua Hira dan pulang dalam keadaan gemetar ketakutan, Khadijah radhiyallahu 'anha menenangkan beliau dengan satu argumen yang tercatat dalam riwayat shahih. Ia berkata: sungguh Allah SWT tidak akan pernah menghinakanmu, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lemah, memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang tertimpa musibah.
Renungkan sebentar. Ini diucapkan sebelum syariat turun, sebelum ada perintah zakat, sebelum ada aturan fiqih tentang sedekah. Khadijah tidak berkata: “Engkau rajin shalat” — karena shalat pun belum disyariatkan sebagaimana nanti. Ia menyebut satu hal yang paling menonjol dari pribadi Nabi SAW sebelum kenabian: kebiasaan meringankan beban sesama. Inilah yang membuat langit tidak mungkin menghinakan beliau.
Pelajaran yang jarang ditarik dari kisah ini: karakter menolong sesama itu begitu fundamental sampai ia menjadi bukti kelayakan seseorang menerima wahyu. Bukan kekayaan Nabi SAW yang disebut Khadijah, bukan pula nasab beliau yang mulia. Yang disebut adalah tangan yang selalu terulur kepada yang lemah. Membantu orang lain bukan cabang kecil dari akhlak — ia adalah pondasinya.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Menolong sebagai Obat Hati
Dalam Ihya' Ulumuddin (Juz 3, pada pembahasan tentang penyakit-penyakit hati dan penyembuhannya), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kikir (al-bukhl) dan cinta dunia (hubb ad-dunya) adalah dua penyakit yang membuat hati mengeras. Semakin seseorang menggenggam erat hartanya, semakin kuat dunia mencengkeram hatinya. Menurut Al-Ghazali, memberi dan menolong bukan sekadar amal sosial — ia adalah terapi ruhani untuk melepaskan cengkeraman itu.
Inilah dimensi batin yang sering terlewat. Ketika kamu memberi kepada tetangga yang mengetuk pintu tadi, yang sesungguhnya sedang dirawat bukan hanya kesulitan dia — tapi juga hatimu sendiri. Al-Ghazali menegaskan bahwa tangan yang terbiasa memberi akan melahirkan hati yang lebih ringan, lebih longgar, lebih dekat kepada tawakal. Sebaliknya, hati yang selalu berhitung dan menahan akan hidup dalam kecemasan yang tak pernah reda — takut kekurangan padahal belum kurang, takut habis padahal belum habis.
Maka kalimat Nabi SAW “Allah SWT melapangkan satu kesulitanmu” menemukan maknanya di sini: kelapangan itu tidak menunggu hari Kiamat. Ia mulai bekerja saat ini juga, di dalam dada orang yang memilih untuk memberi meski ia sendiri sedang sempit.
Baca Juga
Malaikat yang Nyaris Membuat Tetangga Jadi Ahli Waris
Perspektif Imam An-Nawawi: Fikih Ukhuwah yang Konkret
Imam An-Nawawi, ketika menghimpun hadis di atas dalam Riyadhus Shalihin (pada Bab tentang menutupi aib dan menolong hajat kaum muslimin), menariknya ke ranah amal yang membumi. Bagi An-Nawawi, hadis ini adalah landasan fiqih sosial: seorang muslim tidak boleh menutup mata dari kesulitan saudaranya jika ia mampu meringankannya, sekecil apa pun bentuk bantuan itu.
Yang menarik, ulama menjelaskan bahwa “meringankan kesulitan” dalam hadis ini tidak dibatasi pada harta. Menolong bisa berupa tenaga, waktu, ilmu, doa, bahkan sekadar mendengarkan keluh kesah orang yang sedang tenggelam. Seseorang yang tidak punya uang untuk diberikan tetap bisa masuk ke dalam janji hadis ini — dengan menemani, menghibur, menunjukkan jalan, atau menyambungkan yang kesulitan kepada yang mampu. Inilah kelapangan fiqih Ahlus Sunnah: pintu kebaikan dibuka selebar-lebarnya sehingga tidak ada satu pun hamba yang punya alasan untuk berkata “aku tidak bisa berbuat apa-apa”.
Dua perspektif ini saling melengkapi. Al-Ghazali menunjukkan apa yang terjadi di dalam hati orang yang menolong; An-Nawawi menunjukkan bagaimana pertolongan itu mewujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Yang satu merawat niat, yang lain merapikan amal.
Relevansinya di Tengah Himpitan Hidup Hari Ini
Al-Qur'an sudah menegaskan prinsip ini jauh sebelum kita mengalaminya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
Terjemah makna: Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. (QS. Al-Ma'idah: 2)
Kita sering merasa harus menunggu kaya dulu, baru bisa menolong. Padahal logika hadis dan ayat ini justru terbalik: menolong adalah pintu kelapangan, bukan buahnya. Di saat rezeki terasa seret, sebagian ulama akhlak justru menganjurkan mencari orang yang lebih susah untuk dibantu — bukan karena ingin pahala instan, tetapi karena tindakan itu memutus lingkaran cinta dunia yang mencekik hati.
Ini bukan janji rezeki instan atau matematika untung-rugi. Tidak ada jaminan uang yang kamu pinjamkan sore ini kembali berlipat besok pagi. Yang dijanjikan Nabi SAW lebih halus dari itu: kelapangan dada, kemudahan urusan, dan pertolongan Allah SWT yang menyertai selama kita menyertai saudara kita. Kadang pertolongan Allah SWT datang bukan dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk hati yang tiba-tiba tenang, jalan yang tiba-tiba terbuka, atau beban yang terasa lebih ringan tanpa kita tahu sebabnya.
Dalam bahasa Ibnu 'Athaillah As-Sakandari di dalam Al-Hikam, ada makna yang selaras: pemberian Allah SWT kepadamu sering datang melalui pintu pemberianmu kepada orang lain. Tangan yang terbuka untuk memberi adalah tangan yang paling siap untuk menerima.
Mulai dari yang Terkecil
Tidak perlu menunggu momen besar. Menolong bisa dimulai dari hal yang sering kita anggap remeh: membantu tetangga mengangkat barang, menutupi kekurangan uang belanja seorang ibu di kasir, mendengarkan sahabat yang sedang runtuh tanpa menghakiminya, atau sekadar mengirim doa tulus untuk orang yang sedang diuji. Semua itu masuk dalam janji naffasa — melapangkan.
Yang Allah SWT nilai bukan besarnya bantuan, tetapi kesungguhan hati yang memilih peduli di tengah keterbatasannya sendiri. Justru pertolongan yang lahir dari orang yang sedang susah punya nilai yang berbeda di sisi-Nya, karena ia mengorbankan sesuatu yang ia sendiri butuhkan.
Maka kembali ke pertanyaan di awal: mengapa Nabi SAW memilih kata “menghilangkan kesulitan”, bukan “membalas”? Mungkin karena beliau ingin kita paham bahwa saat menolong orang lain, kita sebenarnya sedang menabung kelapangan untuk diri sendiri — di hari ketika tak ada lagi yang bisa kita andalkan selain rahmat-Nya. Kalau begitu, kesulitan siapa yang paling ingin kamu ringankan hari ini — kesulitan orang lain, atau kesulitanmu sendiri di hari Kiamat kelak?
Merawat hati yang lembut dan mudah tergerak menolong sesama butuh latihan yang istiqomah, dan salah satu jalannya adalah mendekatkan diri kepada teladan agung yang paling gemar meringankan beban orang lain. Bersama komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar melembutkan hati lewat sholawat harian dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — pelan, tanpa paksaan, sekadar merawat cinta kepada Rasulullah SAW. Klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama jika ingin menempuh langkah kecil ini bersama-sama.
Rujukan Ringkas
- QS. Al-Ma'idah: 2 tentang tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.
- Hadis riwayat Muslim tentang meringankan kesulitan seorang mukmin.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (Juz 3) tentang penyakit kikir dan cinta dunia; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin tentang menolong hajat sesama muslim; Ibnu 'Athaillah, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.