Kita sering berpikir pertanyaan tentang Maulid berhenti di urusan kalender: jatuh tanggal berapa, libur atau tidak. Tapi yang sebenarnya dicari banyak orang bukan angka di kalender — melainkan alasan untuk merasa dekat lagi dengan sosok yang namanya disebut setiap hari, namun entah sejak kapan terasa jauh.
Ada pola yang berulang setiap menjelang Rabiul Awal. Grup keluarga mulai ramai kabar pengajian, spanduk terpasang di gang, dan seseorang membuka ponsel lewat tengah malam setelah shift keduanya selesai, mengetik pertanyaan yang sama: Maulid tahun ini tanggal berapa. Pertanyaannya terdengar administratif. Tapi yang mendorong jari mengetik sering kali bukan rasa ingin tahu soal penanggalan, melainkan kelelahan yang tidak punya nama — gaji yang habis sebelum tanggal tua, cicilan yang jatuh tempo berbarengan, rumah yang sunyi karena semua orang sibuk, dan hati yang sudah lama tidak menangis saat mendengar nama Rasulullah SAW disebut.
Bagi sebagian orang, Maulid menjadi satu-satunya momen dalam setahun di mana ia mengizinkan dirinya berhenti sebentar. Bukan karena ia ahli ibadah, justru sebaliknya: karena ia merasa tertinggal jauh, dan Maulid terasa seperti pintu yang masih mau terbuka untuknya. Maka menjawab pertanyaan tanggal saja, tanpa menemani keresahan di baliknya, sebenarnya belum menjawab apa-apa.
Jawaban Ringkasnya: 12 Rabiul Awal 1448 H
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Untuk tahun 1448 H, tanggal itu bertepatan dengan Selasa, 25 Agustus 2026 dalam kalender Hijriah Indonesia. Karena kalender Hijriah berjalan lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding kalender Masehi, tanggal Maulid memang bergeser maju setiap tahun — pada 1447 H ia jatuh di awal September 2025, dan pada tahun-tahun berikutnya akan terus bergerak ke bulan yang lebih awal.
Dua catatan penting supaya pembaca tidak keliru. Pertama, selisih satu hari antar-kalender adalah hal yang wajar, karena awal bulan Hijriah ditentukan lewat metode hisab dan rukyat yang penerapannya bisa sedikit berbeda; rujukan yang paling tepat untuk wilayah Indonesia tetap kalender Hijriah dan pengumuman resmi Kementerian Agama RI beserta surat keputusan hari libur nasional. Kedua, bila Anda membaca tulisan ini setelah tanggal tersebut berlalu, Maulid berikutnya (1449 H) akan jatuh di kisaran pertengahan Agustus 2027, dan tanggal pastinya menunggu penetapan resmi. Yang menarik justru ini: tanggalnya boleh lewat, tetapi pintu yang tadi disebut tidak pernah benar-benar ditutup.
Yang Lebih Pasti dari Tanggalnya: Hari Senin
Dalam kajian sirah, para ulama mencatat adanya perbedaan riwayat mengenai tanggal persis kelahiran Nabi SAW — sebagian menyebut 12 Rabiul Awal, sebagian menyebut tanggal lain di bulan yang sama. Perbedaan semacam ini lumrah dalam ilmu sejarah dan tidak menyentuh pokok keimanan. Namun ada satu keterangan yang justru datang langsung dari lisan Rasulullah SAW sendiri, dan ini jauh lebih kokoh daripada perdebatan angka.
Ketika beliau ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Terjemah makna: Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku. (HR. Muslim, dari Abu Qatadah Al-Anshari)
Perhatikan apa yang sebenarnya sedang terjadi di hadits ini. Nabi SAW tidak sedang menyebut tanggal; beliau menyebut hari. Dan cara beliau menandai hari kelahirannya bukan dengan perayaan, melainkan dengan puasa — sebuah amal yang sunyi, berulang setiap pekan, dan tidak terlihat orang lain. Di sinilah letak jawaban yang jarang dicari: kalau yang dirayakan sekali setahun terasa kurang, itu karena teladan aslinya memang tidak dirancang tahunan. Ia mingguan, bahkan harian.
Perspektif Al-Ghazali: Cinta Diukur dari Seberapa Sering Ia Diingat
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin Juz 4, pada Kitab Al-Mahabbah wa Asy-Syauq wa Al-Uns wa Ar-Ridha, menguraikan tanda-tanda cinta yang jujur. Salah satu yang beliau tekankan: cinta yang benar melahirkan dzikr — ingatan yang terus menerus kepada yang dicintai. Orang yang mencintai tidak perlu diingatkan jadwal untuk merindukan; kerinduan itu yang mencari waktunya sendiri. Mahabbah, dalam kerangka ini, bukan ledakan perasaan sesaat, melainkan kondisi hati yang terbentuk oleh pengenalan (ma'rifah) dan pembiasaan.
Maka wajar bila seseorang merasa hambar di malam Maulid meski hadir di majelisnya. Bukan karena ia buruk, tetapi karena hati punya hukum yang sama dengan tubuh: yang jarang dilatih akan kaku saat tiba-tiba diminta bergerak. Al-Qur'an pun mengizinkan kegembiraan atas karunia Allah SWT sebagai sesuatu yang wajar dan terpuji:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Terjemah makna: Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus: 58)
Baca Juga
Jempol yang Menekan Kirim: Adab yang Hilang di Balik Layar
Kegembiraan itu sehat selama ia menumbuhkan, bukan sekadar meramaikan. Ukurannya sederhana: sesudah acara usai, apakah ada satu kebiasaan kecil yang ikut pulang bersama kita?
Perspektif Ibnu Qayyim: Cinta yang Menjelma Jadi Amal Harian
Bila Al-Ghazali menerangi sisi batinnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberi bentuk amalnya. Dalam Jala' al-Afham fi Fadhli ash-Shalati wa as-Salam 'ala Khairil Anam — kitab yang seluruhnya beliau khususkan untuk pembahasan sholawat — beliau menghimpun fasal-fasal tentang tempat-tempat dianjurkannya bersholawat dan buah-buah yang lahir darinya bagi seorang hamba. Pesannya jelas: kecintaan kepada Nabi SAW punya saluran amal yang konkret, terukur, dan bisa dikerjakan siapa pun, termasuk orang yang ilmunya masih sedikit dan waktunya sempit.
Saluran itu adalah perintah yang Allah SWT sebutkan langsung dalam Al-Qur'an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Terjemah makna: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. (QS. Al-Ahzab: 56)
Dua pandangan ini saling melengkapi, bukan bertabrakan. Al-Ghazali menjawab pertanyaan mengapa hati terasa kering; Ibnu Qayyim menjawab pertanyaan lalu aku harus mulai dari mana. Dan jawaban keduanya bertemu di satu titik yang sangat melegakan bagi orang yang merasa dirinya berantakan: sholawat tidak menuntut syarat apa pun untuk dimulai. Tidak menunggu suci dari dosa, tidak menunggu hafalan banyak, tidak menunggu bulan Rabiul Awal.
Adab di Tengah Perbedaan, dan Relevansinya Hari Ini
Perlu disampaikan dengan jujur dan proporsional: cara memperingati Maulid termasuk wilayah yang diperbincangkan para ulama. Sebagian ulama membolehkan dan memandangnya baik — Imam As-Suyuthi bahkan menulis risalah khusus berjudul Husn al-Maqshid fi 'Amal al-Mawlid untuk menguraikan sisi kebaikannya selama isinya berupa pembacaan Al-Qur'an, sirah, sholawat, dan sedekah. Sebagian ulama lain berhati-hati terhadap bentuk perayaannya. Keduanya berargumen dengan dalil dan kaidah, dan keduanya berdiri di atas kecintaan yang sama kepada Rasulullah SAW.
Yang penting dipahami pembaca awam: perbedaan ini berada di wilayah furu', yakni cabang dan teknis amal, bukan di wilayah pokok akidah. Ia tidak mengancam keimanan siapa pun. Sikap yang paling selamat adalah mengikuti bimbingan ulama dan guru keilmuan yang dipercaya, sambil menjaga adab kepada saudara seiman yang mengambil pendapat berbeda. Yang merusak marwah dakwah bukan perbedaan itu sendiri, melainkan lisan yang merasa paling berhak atas cinta kepada Nabi SAW.
Dan di sinilah semuanya kembali ke keresahan awal tadi. Orang yang lelah oleh cicilan, konflik rumah tangga, atau pekerjaan yang tak kunjung memberi rasa cukup, sebenarnya tidak sedang butuh perdebatan. Ia butuh pegangan yang bisa dipakai besok pagi, di perjalanan, di sela kerja, dalam diam. Allah SWT mengenalkan Nabi-Nya dengan kalimat yang sangat luas cakupannya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Terjemah makna: Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat itu tidak berhenti pada satu tanggal. Ia tersedia di hari Senin yang biasa, di malam yang berat, di menit-menit menunggu antrean. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai dari jumlah yang paling kecil dan bertahan di sana.
Jadi, sesudah tanggalnya Anda ketahui — Selasa, 25 Agustus 2026 untuk 1448 H — tinggal satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kalender mana pun: setelah hari itu lewat, apakah ada satu hal kecil yang tetap Anda kerjakan karena mencintai beliau?
Perjalanan melunakkan hati seperti ini memang terasa lebih ringan bila ditempuh bersama-sama. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: sedikit tapi setiap hari, tanpa syarat, tanpa target angka untuk dipamerkan. Bergabunglah di sini bila ingin memulai dari hari ini, bukan dari Rabiul Awal tahun depan.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Ahzab: 56, QS. Yunus: 58, QS. Al-Anbiya: 107.
- Hadis: riwayat Abu Qatadah Al-Anshari tentang puasa hari Senin (HR. Muslim).
- Kitab: Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab Al-Mahabbah (Imam Al-Ghazali); Jala' al-Afham fi Fadhli ash-Shalati wa as-Salam 'ala Khairil Anam (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah); Husn al-Maqshid fi 'Amal al-Mawlid (Imam As-Suyuthi).
- Penetapan tanggal resmi mengikuti kalender Hijriah Indonesia dan pengumuman Kementerian Agama RI; pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.